Share

Bab 68

Author: Miarosa
last update publish date: 2026-06-02 23:57:10

Mata Felix terbelalak horor, tidak memercayai akal sehatnya sendiri. Manusia itu berubah menjadi seekor serigala raksasa yang mengerikan.

​Dengan tangan gemetar, Felix beralih memutar rekaman CCTV kedua dari lokasi peternakan pinggiran kota. Rekaman kali ini jauh lebih jelas karena sorotan lampu peternakan. Di sana, pembantaian sedang terjadi.

Makhluk serigala raksasa itu sedang bertarung dengan brutal dan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun.

​Namun, kejutan yang sesungguhnya menghantam Fe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 68

    Mata Felix terbelalak horor, tidak memercayai akal sehatnya sendiri. Manusia itu berubah menjadi seekor serigala raksasa yang mengerikan. ​Dengan tangan gemetar, Felix beralih memutar rekaman CCTV kedua dari lokasi peternakan pinggiran kota. Rekaman kali ini jauh lebih jelas karena sorotan lampu peternakan. Di sana, pembantaian sedang terjadi. Makhluk serigala raksasa itu sedang bertarung dengan brutal dan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun. ​Namun, kejutan yang sesungguhnya menghantam Felix ketika kamera menangkap siluet seorang pria tinggi tegap yang melangkah maju ke tengah medan pertempuran. Pria itu mengibaskan mantel hitamnya yang sangat familier di mata Felix. ​Felix mematung darahnya seketika terasa membeku. Sebelum otaknya mampu memproses kehadiran sang miliarder terkenal Starfield di tempat itu, monitor menampilkan pemandangan yang menghancurkan seluruh logika manusianya. Sepasang mata Morrigan berkilat keemasan di bawah cahaya lampu dan dalam satu sentakan brutal,

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 67

    Morrigan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Setelah beberapa menit bergelut dengan pikirannya sendiri, ia bangkit berdiri. Ia melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor senyap menuju kamar perawatan khusus tim medis internal di ujung lantai penthouse.​Pintu kayu itu terbuka perlahan tanpa suara. Di dalam ruangan yang berbau antiseptik tajam, Silas tampak terbaring di atas ranjang medis dengan berbagai kabel monitor melekat di tubuhnya. Perban putih masih membungkus rapi dada dan lengan kanannya. Silas membuka matanya perlahan ketika mendengar pintu berderit terbuka. Napasnya masih terdengar pendek dan berat.​Morrigan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi besi di samping ranjang. "Bagaimana keadaanmu, Silas?"​Silas mencoba mengulas senyum tipis, meskipun gurat rasa sakit tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Saya masih bernapas, Alpha."​Silas kemudian mengalihkan pandangannya pada Morrigan. Sebagai tangan kanan yan

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 66

    "Rumor sudah menyebar ke seluruh pack. Anda dan Silas hampir tewas di hutan Frostfall kemarin. Semua itu terjadi hanya karena Anda buta dan egois demi menyelamatkan seorang wanita manusia biasa yang lemah! Apakah itu tindakan pantas bagi seorang Alpha tertinggi?!"​Rahang Morrigan mengeras dan urat-urat di lehernya tampak menegang. "Ravenna adalah urusanku. Siapa pun yang berani mengancam apa yang menjadi milikku akan kuhancurkan. Itu adalah hukum pack kita!"​"Hukum kita adalah menjaga kemurnian dan kekuatan pack, Alpha!"Perdebatan kian memanas saat Jaxon berteriak lebih lantang dan memancing gumaman persetujuan dari anggota klan di belakangnya. "Hukum alam kita mengatakan seorang Alpha sejati hanya akan tunduk pada mate bond darah murni, tapi Anda justru mengabaikan takdir pack dan memperbudak diri Anda di bawah kaki seorang manusia biasa yang tidak memiliki kontribusi apa pun bagi kekuatan Blackmoon!"​"Jaga bicaramu, Jaxon!" bentak Morrigan.Ia selangkah maju ke depan hingga au

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 65

    Suasana di lantai utama penthouse terasa begitu sunyi dan mencekam. Lampu gantung kristal tetap memancarkan cahaya hangat yang keemasan, tetapi bagi Morrigan Raventhorn, kehangatan itu tidak lebih dari sekadar ilusi optik yang menipu mata.​Sang Alpha berdiri di dekat pintu kaca besar yang mengarah ke balkon, memandangi hamparan lampu kota yang berpendar di balik kabut. Mantel hitamnya tersampir longgar di bahu tegapnya.Pikirannya sepenuhnya tersita oleh wanita yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang berseprai sutra di belakangnya.​"Morrigan," panggil sebuah suara lembut yang sangat familier.​Morrigan berbalik perlahan. Di sana, Ravenna sedang menatapnya. Wanita itu mengenakan gaun tidur satin putih dan rambutnya yang hitam tergerai indah.​"Mengapa kamu terus berdiri di sana? Kemarilah, duduk di sampingku," ucap Ravenna sembari menepuk sisi ranjang yang kosong. ​Morrigan melangkah mendekat. Langkah kakinya berat, seolah-olah setiap jengkal lantai kayu itu menahan pergerakannya

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 64

    Di pinggiran kota Starfield yang selalu diselimuti kabut tebal, sebuah bar tua bernama The Rusty Fang tampak remang-remang. Tempat itu adalah salah satu titik kumpul tersembunyi bagi para petarung dan prajurit kasta rendah dari pack Blackmoon. Bau alkohol murah, asap rokok, dan aroma ketegangan menguar pekat di udara.​Di sudut ruangan yang paling gelap, sesosok pria bermantel hitam dengan topi yang diturunkan rendah sedang mengocok segelas wiski. Pria itu adalah Darian yang telah kembali ke kota. Sepasang matanya yang tajam berkilat licik ketika melihat beberapa anggota muda Blackmoon duduk berkumpul di meja panjang tak jauh dari tempatnya.​Darian sengaja meletakkan gelasnya dengan dentingan keras dan memancing perhatian. "Sungguh ironis," mulainya dengan suara berat yang sengaja dikeraskan dan cukup untuk membuat obrolan di meja sebelah terhenti. "Pack terkuat di Starfield sekarang dipimpin oleh seorang pria yang rela merangkak di lumpur jurang demi seekor domba lemah."​Beberap

  • Mate Terlarang Sang Alpha   Bab 63

    Suasana di taman gantung itu mendadak hening. Senyum kepolosan di wajah Ravenna perlahan-lahan memudar dan digantikan oleh ekspresi datar yang amat dingin. ​"Luar biasa," ucap Ravenna. "Aku sudah meniru dengan sangat sempurna, tapi intuisi seorang wanita tua ternyata sekeras batu." ​"Kamu monster!" Marva bangkit berdiri dan tubuh tuanya gemetar karena amarah dan rasa takut yang berbaur menjadi satu. "Aku akan memanggil Morrigan! Aku akan memberitahunya bahwa kamu telah mengelabui seluruh isi rumah ini!" ​Marva berbalik untuk melangkah pergi, namun sebelum ia sempat melangkah, gelombang hawa dingin yang luar biasa pekat mendadak berembus dari belakangnya. Udara di sekitar taman gantung itu bergulung, memancarkan pendaran cahaya ungu temaram yang tak kasatmata bagi manusia di luar area tersebut. ​Sihir dari Batu Gerhana Abadi dilepaskan tipis oleh Ravenna dan mengunci pergerakan udara di sekitar mereka hingga suara desiran angin pun mendadak lenyap. Marva terengah, dadan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status