LOGINWanita berusia tiga puluhan itu segera mengalihkan perhatiannya dari buku di hadapannya. Senyuman langsung mengembang di bibirnya saat melihat sosok yang muncul dari pintunya. Raka membalas senyuman itu dengan canggung. Tante Nilam sangat cantik. Kulitnya putih bersih, dengan satu tahi lalat kecil di sudut matanya. Perawakannya yang langsing dan kulitnya kencang, jelas menunjukkan perawatannya yang bagus. Jika dibandingkan dengan gori … ah, Vero. Setiap pria normal, sudah pasti lebih memilih Tante cantik yang satu ini. Dia pintar merawat diri, sudah pasti pintar merawat suaminya.“Ka, ngapain lo bengong di situ, ayo masuk!” Suara cempreng Vero langsung menusuk telinga Raka. Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Raka langsung duduk di sisi Vero, berhadapan langsung dengan Tante Nilam. “Ini temanku Raka.” Vero memperkenalkan diri, “dan Raka. Kenalin, ini Tante Nilam, dia sudah kuanggap mama sendiri.” Raka mengulurkan tangannya. Nilam melirik tangan yang terulur di depannya dan tanpa r
Vero tidak langsung menjawab. Gadis itu mengusap tangannya yang berbulu. Raka yang melihatnya pun merasa geli. Otak kotornya bekerja cepat, membayangkan bagaimana bulu-bulu itu bergesekan dengan kulitnya. “Kamu kenapa sih pelihara bulu?” Raka tiba-tiba menceletuk penasaran, lupa dengan percakapan sebelumnya.“Suka saja!” Veronica membelai bulunya dengan santai. “Kan gak semua orang punya.” “Kamu minum obat hormon pria ya?” todong Raka asal.“Kamu lihat aku kayak laki apa?” Vero berkacak pinggang.Memang tubuh Veronica tidak kelihatan kekar seperti dirinya. Namun, perawakannya yang tinggi besar itu membuat sosoknya seperti laki-laki dengan bulu sensual.Untung saja rambutnya tidak pendek cepak dan bulu matanya lentik. Jika dia potong rambut pendek, habislah sudah, celana jeans dan kaos oblongnya sudah bisa membuat orang salah mengira dia laki-laki.Berpikir tentang kaos oblong dan tubuh besar Vero, Raka menatap dada gadis itu. Besar. Lebih besar dari Tante Feli, tetapi entah apa sebe
Raka terkejut, tetapi pria muda itu dengan cepat tersenyum menggoda. Dia mengangkat kaosnya dan menunjukkan kaos dalam yang dia pakainya. “Ini kaos dalam, Tante Cantik, yang dielus tadi plaster ini. Tante benar-benar sayang ya sama Raka, sampai plaster saja dianggap kulitku.” Raka mengerling menggoda.“Ah, kamu.” Tante Feli tersipu. “Tidur cantik dulu sana, jangan lupa harus charge baterai dulu untuk bayar hutang,” goda laki-laki itu lagi.Feli mendelik manja. Tadi dia sempat cemburu melihat bagaimana Raka dikerubungi oleh para wanita penghuni kostnya. Mereka semua begitu ganjen dan seperti mau menempel pada prianya. Namun, sikap Raka yang menggodanya seperti ini bahkan menagih hutang membuatnya berbunga-bunga dan kecemburuan itu, sebuah perasaan takut kalau ditinggalkan menjadi pupus.“Udah sana kuliah yang bener dulu terus berhenti dari warung,” ucapnya manja. Feli tak mau waktu Raka tersita banyak di luaran.“Yes, Tante … oh no … oh yes ….” Raka menggas motornya sambil menggoda.
Raka tertawa pelan melihat reaksi tante cantik bertubuh sexy itu. Matanya yang bulat itu terlihat seperti gadis lugu. “Bukannya tadi tante bilang kalo perempuan bisa mencapai klimaks berkali-kali?” goda Raka, “jadi … aku memang mesti nunjukin kalau laki-laki itu diciptakan kuat, bahkan bisa nemani Tante sepuluh ronde sekalipun.” Raka memberikan isyarat mata, jelas memberitahu tante kos bahwa miliknya di bawah sana masih tegak berdiri menunggunya. “Kamu … masih sakit, Raka. Tapi kok bisa sekuat ini, sih? Kamu yakin nggak papa? Robekan di perut kamu nggak bakal makin parah?” “Tante—” Raka menarik sudut bibirnya, “jangan khawatir. Aku masih sanggup kalahin tante beberapa ronde lagi.” Raka meremas pantat perempuan beranak satu itu. Remasan yang dibalas dengan jeritan manja yang menandai hasratnya yang kembali.“Rakasyaaa … ough!” Raka kembali menenggelamkan keperkasaannya ke dalam inti tubuh ibu kosnya. Miliknya yang berdenyut, langsung merasakan pelukan hangat, lembut dan basah lia
Tante Feli menatap luka itu dengan keheranan. Luka yang semula terlihat mengerikan itu seolah mengecil.“Darahmu segitu banyak. Untung saja lukanya nggak separah penampilannya,” ungkap Tante Feli. Perempuan itu menghela napas lega. Ia mengambil plester dan melekatkannya di beberapa titik luka di bagian perut Raka. Raka melirik cincin yang melingkar di jarinya. Ia benar-benar kagum. Cincin itu bukan hanya membuatnya berkharisma dengan tubuhnya dan keperkasaannya yang tanpa batas, tapi juga membuat lukanya sembuh hanya dalam waktu singkat. Raka menelan ludah. Saat tante Feli mengangkat baskom berisi air hangat dan memutar tubuhnya. Ia dapat melihat dengan jelas, perempuan itu bukan hanya tak memakai branya, tapi tidak juga celana dalamnya. “Tante … bisa tolong bukain, nggak?” Pinta Raka dengan suara manja.“Kenapa Raka?” Tante Feli kembali memutar tubuhnya, batal membawa baskom itu ke dalam kamar mandinya. “Tante udah bikin celana aku sesak,” balas Raka tanpa malu-malu, “jadi Tante
Begal itu menusuk Raka lagi saat pria itu lengah lalu mundur dengan waspada. Dia berhasil menghindari tangan yang hendak menepisnya. Keberaniannya begal jelas dibarengi dengan sedikit bela diri dan seringnya berkelahi.Raka mencengkeram setir sepeda motor dengan keras. Dia merasakan sakit yang luar biasa di perut samping sebelah kirinya. Tusukan itu tidak main-main dilakukan dua kali di saat dia baru saja menggas motornya.Raka langsung saja menoleh ke arah begal itu. Dia melihat sorot mata licik dan seringai kemenangan di wajah pria itu. Kebaikan yang diberikan untuk satu orang itu, ternyata sia-sia.“Mati kamu!” teriak begal itu dengan angkuh ketika melihat darah mengalir dari perut Raka.Begal itu mengayunkan tangannya lagi dan siap menusuk Raka lagi, tetapi sebelum tangannya hinggap di area yang diincar, tendangan pemuda desa itu lebih cepat bersarang di perut pria itu dan membuatnya melayang jauh, hingga membentur pohon besar di pinggir jalan.“Aaaarrggggh!” Pria itu melolong kes







