ANMELDEN“Bagaimana … kamu sudah mau menyerahkan hak asuh anakmu ke aku. Tenang saja … aku tidak akan menghalangi dirimu untuk bertemu anak-anak.” Laksono, mantan suami Sofi tersenyum penuh kemenangan.Semalam, setelah Sofi menemukan bukti luar biasa mengenai pertemuan Reza dan Ardy, perempuan itu tertawa tiada habisnya. Di satu sisi dia mengutuk kebodohannya yang percaya pada tukang gombal, di sisi lain dia senang karena ternyata Reza pun melakukan aib yang sama. Sofi merasa geli, lucu sekaligus jijik. Bagaimana bisa mantan sekretaris itu selalu meniru dirinya dalam hal laki-laki. Dulu merebut Laksono dan sekarang main dengan Ardy. Ternyata hasil perburuan pengacaranya pun bukan omong kosong belaka. Pria yang membelanya itu menunjukkan bukti-bukti kalau Reza pun bukan perempuan baik-baik seperti yang disombongkan oleh Laksono. Berkat bantuan Raka pula, Sofi mendapatkan bukti yang menguatkan penyelidikan pengacara. Bukti paling gong, karena pengirim fot
Mata Sofi mengerjap tak percaya. Di dalam ruangan Vip itu dia melihat bagaimana sepasang anak muda sedang bergumul mesra, seolah pertarungan di kamar kecil itu tak pernah memuaskan mereka.Meskipun pria itu memunggunginya dan asyik menikmati dada gadis muda itu, tetapi Sofi bisa mengenalinya dengan baik. Tato di punggung laki-laki itu, jelas dia adalah Ardy. “Hot juga si Ardy,” gumam Raka tanpa sadar. Sofi yang mendengarnya pun semakin tegang. Ardy memang jago di tempat tidur dan dia sering merasakan kehebatan laki-laki itu. Dipikirya semua kelembutan dan prilaku khusus itu hanya untuk dirinya. Namun, kenyataannya Ardy adalah pria hidung belang yang menggunakan kharisma dan ketampanannya untuk menaklukan para wanita sekaligus membuat mereka tak pelit memberikan segalanya. Raka menyadari kalau Sofi sudah dipuncak amarah akibat kekecewaan di hatinya. Dan dia tidak mau perempuan itu sampai bersikap anarkis. Sebelum janda cantik
Nana menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia khawatir ada Ardy yang melihatnya. Tangan gadis itu begitu dingin dirasakan oleh Raka. “Nana, kalau kamu merasa tidak nyaman, sebaiknya kita masuk ke dalam saja.” Raka bisa merasakan kegelisahan gadis itu. “Tapi di dalam ada-” Nana menggigit bibirnya. Dia takut kalau Ardy melihat dirinya bersama Raka dan keadaan menjadi buruk. Dia khawatir kekasihnya itu justru akan menuduhnya berselingkuh.“Tapi … aku tidak berbuat salah apapun. Aku tidak perlu takut, kan?” Gadis itu menatap ke arah Raka dengan wajah ragu.“Kamu takut Ardy di dalam mengetahui kita berdua?” Raka dengan cepat memahami perasaan gadis itu. “Dia ada di lantai berapa?” “Satu.” “Kalau begitu kita akan ke lantai dua.” Raka lalu menggandeng tangan Nana dan membawanya masuk. Dia bisa merasakan betapa tegangnya tubuh Nana saat melangkah masuk kembali ke lokasi karaoke mewah itu. Namun, Raka menggunakan tubuhnya
“Mbak kenapa … apa pacarnya yang di dalam?” bisik seorang gadis sambil menatapnya dengan rasa kasihan. Tangan Nana langsung mengambang di udara. Nana ingin menangis keras, tetapi gadis itu menahannya. Dia tidak mau orang-orang menggosipkan dirinya. Dia tidak suka dengan tatapan kasihan yang ditujukan padanya. Bagaimana jika seandainya Ardy dan Susi keluar, lalu mereka semua akan memandang lebih rendah padanya dan berkata, “Kasihan, pantas diselingkuhi karena gendut.”Nana tidak mau mendengar ucapan -ucapan itu. Dia langsung menundukan kepalanya dan pergi dari kamar kecil itu, tak ada lagi keinginan untuk melabarak.Rasa sakit di hatinya tak dapat dia bendung lagi. Gadis itu berjalan dengan cepat menuju ke ruang karaoke dan membereskan barang-barangnya. Nana memutuskan untuk pergi, tetapi harapan kalau apa yang dia lihat dan dengar itu salah, membuat gadis itu tanpa sadar kembali menuju ke kamar kecil dan berdiri di barisan paling belak
Nana senang sekali karena hari ini Ardy mau menerima ajakannya untuk kencan. Meskipun mereka tidak berdua saja, karena Susi sahabat Nana pun ikut, tetap gadis itu tetap merasa bahagia. Di dalam ruangan yang hanya ada mereka bertiga, Nana bernyanyi riang. Suaranya yang merdu membuat lagu apapun yang dinyanyikan terdengar enak di dengar. “Mas Ardy, mau Nana nyanyi lagu apa?” tanya gadis gemuk itu dengan sukacita. “Apa saja yang kamu suka, Na.” Ardy mengambil segelas bir dan menegaknya. Dia melirik ke arah Susi yang duduk dengan rok pendek di samping kanannya. Pria itu menelan ludah saat kekasih gelapnya itu membungkuk mengambil cemilan dan memperlihatkan buah dada yang membusung.“Mas mau Susi menyanyi?” tanya Nana dengan polos tak paham arti lirikan kekasihnya.“Aku gak bisa nyanyi sebagus kamu, Na.” Susi tertawa dengan manja. Dia lalu menaikan satu paha ke paha lainnya, sehingga rok mini pun semakin terangkat.“Iya,
Shakira masih mengingat kala sore itu ia menandatangani surat nikah di kantor catatan sipil. Semua serba sederhana, seperti sengaja disembunyikan oleh Ryu dari entah siapa. “Pernikahan kita … sederhana saja, ya. Daripada buat bayar dekorasi, sewa hall dan tetek bengeknya, mending kita pakai buat jalan-jalan. Bulan madu keliling dunia.” Shakira membulatkan matanya. “Keliling dunia?” Lelaki muda itu mengangkat tubuh Shakira. Senyum bahagia terlihat jelas di wajah tampannya. “Aku cuma ingin habiskan waktu berdua sama kamu, Kira.” Ryu Danuar mendekatkan wajahnya. Perlahan ia menurunkan tubuh Shakira hingga kedua kakinya kembali menapak di lantai kamarnya kembali. Lelaki jangkung itu memiringkan kepalanya. Ia mendekatkan bibirnya dan perlahan menghapus jarak di antara mereka dengan sebuah kecupan. Perasaan itu begitu indah, penuh debaran seperti membuai kedua
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







