首頁 / Male Adult / Mau Berapa Ronde? / Bab 8. Main Aman Aja

分享

Bab 8. Main Aman Aja

last update publish date: 2026-06-18 20:33:10

Malam yang dingin, restoran yang sepi dari pengunjung, para karyawan pun dengan segera membereskan restoran, berharap bisa segera pulang.

Raka bekerja sebagai kasir bersama dengan Lira. Pekerjaan menghitung uang bukanlah hal yang susah untuk Raka.

“Ka, malam ini kamu ada acara?” bisik Lira dengan tubuh yang sangat dekat dengan Raka.

“Tidak ada.” Napas Raka tercekat ketika merasakan salah satu melon besar Lira menempel di lengannya.

Setelah menjamah, meremas dan merasakan nikmatnya milik tante F
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 8. Main Aman Aja

    Malam yang dingin, restoran yang sepi dari pengunjung, para karyawan pun dengan segera membereskan restoran, berharap bisa segera pulang.Raka bekerja sebagai kasir bersama dengan Lira. Pekerjaan menghitung uang bukanlah hal yang susah untuk Raka.“Ka, malam ini kamu ada acara?” bisik Lira dengan tubuh yang sangat dekat dengan Raka.“Tidak ada.” Napas Raka tercekat ketika merasakan salah satu melon besar Lira menempel di lengannya.Setelah menjamah, meremas dan merasakan nikmatnya milik tante Feli, Raka lebih mudah membayangkan isi dalaman dari melon besar milik Lira. Pasti rasanya empuk dan nikmat sekali. Tidak terasa celana dalamnya menjadi semakin sesak.“Anterin aku pulang ya,” rajuk Lira manja.“Memangnya kamu tidak bawa motor.” Panas dingin rasanya, saat bagian tubuh Lira yang kenyal itu semakin menempel di kulitnya.“Lagi di service, kemarin habis mogok. Tadi aku pakai kojek, loh ke sini.”Raka menoleh ke arah Lira, menemukan wajah gadis itu sangat dekat dengannya. Duh, ingin s

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 7. Mau Berapa Ronde?

    Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin tubuh sexy yang luar biasa legit ini," batinnya. "Tante … emangnya Tante udah lama nggak main?" tanya Raka tanpa basa-basi. "Suami Tante kemana? Kok selama Raka nge kos, nggak pernah keliatan, sih? Jangan-jangan …." "Hayoo … kamu mikir apa?" Feli mencubit puting Raka dengan gemas. "Suami Tante udah meninggal lima tahun lalu. Dia ninggalin beberapa rumah buat Tante. Lalu … kakak ipar Tante yang kerja di kilang minyak, nikahin Tante buat ambil alih tanggung jawab adiknya. Tapi dia jarang banget pulang.” "Oh …. Kirain Tante udah nggak punya suami." Raka tertawa pelan mengetahui pikirannya yang keliru. "Pantas aja, rumah kos ini besar. Pasti banyak pengeluarannya. Tapi kilang minyak, past

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 6. Kusimpan Perjakamu

    Raka masih merasa sangat canggung. Dia melihat mata ibu kos cantiknya itu melotot. Perasaan dikagumi itu membuatnya menjadi bangga.Batangnya memang terlihat membesar seperti tubuhnya. Dia menjadi semakin percaya diri melihat kilau kekaguman dan hasrat di mata sang ibu kos. Raka lebih terkejut lagi saat merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Darahnya langsung berdesir hebat dan tubuhnya bergetar merasakan sensasi baru itu.Perempuan itu benar-benar tak mau buang-buang waktu. Dipegangnya benda berotot yang berdiri menantang itu. Raka melihat tangan ibu kosnya pun tak bisa menutupi satu bagian tubuhnya itu secara penuh.Pria itu mendesah saat merasakan gerakan mengusap ke atas dan ke bawah yang dilakukan perempuan cantik dan matang itu. Wanita itu jelas sangat ahli dan terlatih melakukan itu.Raka yang merasakan napasnya makin memburu. Dia sering memegang miliknya sendiri saat berfantasi, tetapi rasanya sangat berbeda saat seorang wanita yang

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 5. Sini, Tante Ajarin.

    “Aku mau kamu jadi simpananku.” Raka mengira ia salah dengar. Tapi tante Feli mengucap kalimat yang sama, dengan sangat jelas. Dia tak menyangka kalau perempuan yang biasanya judes itu bisa mengucapkan kalimat seperti yang diimpikannya. Pemuda itu masih tercengang dengan hati yang bersorak.Melihat Raka terdiam, Tante Feli semakin gemas. “Kamu bukan anak kecil, Raka. Kamu ngerti apa yang aku maksud.” Wanita itu meraih tangan Raka tanpa malu-malu. “Ikut aku!” perintahnya. Mau tak mau, Raka berdiri dan mengikuti langkah ibu kos cantiknya. Berada selangkah di belakangnya, membuat jantung Raka berdebar lebih kencang. Bukan karena takut, tapi karena fantasinya yang semakin menggila memikirkan permintaan gila ibu kosnya tadi.Tante Feli berhenti di depan pintu kamarnya. Tangannya memutar kenop dan mendorongnya hingga terbuka. Tanpa basa-basi, ia menarik tangan Raka mengikutinya masuk. Ruangan beraroma mentol itu mempunyai sebuah ranjang klasik dari jati merah. Bukan hanya itu, semua pe

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 4. Perubahan Besar

    Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya sudah ditempa latihan keras bertahun-tahun. Kulitnya menjadi bersih dan lebih cerah. Dan lebih dari semua itu, bagian tubuhnya di bawah sana. Bagaimana mungkin bisa bertumbuh hanya dalam waktu semalam! Apa mungkin semua ini cuma mimpi? Tidak! Jika ia mengingat semuanya. Keanehan ini dimulai sejak ia menemukan cincin aneh di gudang. Cincin dalam kotak kayu dengan grafir tulisan aneh di bagian dalamnya. “Raka! Kamu ngapain di dalam? Pindah tidur apa mati?” Suara nyaring dan ketus itu sangat jelas di telinganya. Raka segera meraih handuk dan melingkarkan di pinggang untuk menutup sebagian tubuhnya sebelum membuka pintu kamar mandi. Tante Feli yang berdiri di depan kamar mandi, langsung m

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 3. Cincin Aneh

    Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tulisan dalam bahasa asing. “Cincin siapa ini?” batin Raka, “kenapa disimpan di sini? Dianggap sampah? Tapi kenapa di rak paling atas, tempat yang nggak terjangkau. Tapi ....” Raka mengamati logam itu dengan seksama. Tidak ada hal yang aneh selain grafir di bagian dalamnya. Bahkan ada garis tipis berwarna kekuningan yang memperindah tampilan cincin itu. Model yang terlalu biasa, bahkan terlalu sederhana. Lelaki muda itu tanpa ragu, menyematkan benda itu di jarinya. “Semua yang ada di gudang, sudah nggak diperlukan oleh Tante Feli. Berarti … benda ini juga, kan?” Senyuman langsung muncul di bibirnya. Matanya menatap benda mungil yang melingkar di jari manisnya. Raka menyapu seisi ruangan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status