LOGINRaka resmi tinggal di rumahnya sendiri. Dia ditemani oleh Tukimin, yang ditinggalkan Vero untuk membantunya membersihkan dan menjaga rumah.
Setelah berkumpul bersama untuk merayakan rumah barunya, Raka sibuk mempersiapkan pembukaan agent penyaluran penjaga keamanan.Kasus tante Felly tidak menghentikan semangatnya untuk membuka usaha. Dia sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang pijat dan kali ini pemuda itu harus berjuang mencari uangDia sebagai ketua, RiBugh!“Undangan? Omong kosong! Kamu ternyata pandai membual ya? Brengsek!” Rino menendang perut Hadi lagi. “Katakan sekali lagi! Dia ngapain? Godain kamu? Kamu sinting ya? Kamu sadar nggak siapa kamu? Luna godain kamu? Buat apa? Kamu memangnya punya apa?”Hadi terdiam seketika. Ucapan Rino menyentil egonya.Rino tertawa keras. “Kalau Luna mau godain orang, kenapa nggak Raka sekalian? Kenapa harus kamu? Si bocah baru yang bahkan kuda-kudanya belum benar? Lihat dirimu! Mau bohong tuh mikir juga dong! Masih mending si Raka yang punya duit sama tampang!”Raka yang berada tidak jauh dari tempat Rino berdiri pun seketika membeku dengan mata yang melotot. “Hei … Kenapa jadi aku? Aku nggak ngapa-ngapain!”Rino tidak menjawab. Ia tetap berdiri angkuh di depan Hadi yang terlihat keras berusaha bernapas. Tidak ada respon apapun dari Rino membuat Raka memutar bola mata kesal. Ia menghela napas panjang. Kemudian dia melangkah mendekat dan menangkap lengan Rino mencoba menenangkan Rino. “Cukup, R
Bugh!Rino memukul Hadi yang ada di paviliun belakang saat pria itu sedang duduk di tepi dipan sambil memakai kaos. Pria itu mendongak dan mendapati wajah Rino yang terlihat marah.“Boss, kenapa memukulku —” Belum sempat Hadi menyelesaikan ucapannya, pukulan kedua mendarat lagi.“Tunggu, Bos!! Kenapa memukul Hadi? Eh!” Seno mencoba untuk menarik tangan Rino yang mencoba memukul Hadi lagi.“Iya, Boss! Ada apa ini?” Dimas ikut penasaran.“Kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” batin Dimas dengan cemas.Rino menunjuk sosok Hadi yang sudah berdiri dengan mata memerah. “Dia bajingan! Beraninya dia menyentuh kekasihku!”Seno tersentak kaget. Pegangan tangannya yang menahan tangan Rino pun melemah. Seketika Rino menghajar Hadi lagi. Pukulan kerasnya membuat tubuh Hadi terpental ke dinding.“Argh!” Hadi melenguh kesakitan. Ia mencoba berdiri.“Hei! Kenapa kamu lepasin?!” Raka menegur Seno yang melepaskan tangan Rino.“Bajingan kamu!” Rino menarik kerah bajunya lalu menghantam lagi dan lagi
Raka memejamkan mata sejenak. "Terus kamu pulang minum-minum kayak orang gila begini? Itu namanya pengecut yang berlindung di balik tidak sadarkan diri karena tidak punya nyali. Kalau kamu jadi laki-laki harusnya kamu yang kuat! Jangan hanya karena satu perempuan saja, kamu sudah kayak mau mati begini!"Ucapan Raka menghantam ulu hati Rino. Ia pun mendongakkan kepala. Perlahan matanya menyala sesaat, tapi amarahnya padam kembali. Tubuhnya kembali lesu tidak bersemangat. “Mungkin … aku memang pengecut, Raka. Aku sangat takut. Aku takut banget kehilangan Luna.” Rino menjambak rambutnya pelan. Wajahnya memerah hendak menangis. “Kamu nggak akan ngerti karena kamu nggak ada di posisiku!”“Memangnya siapa yang mau jadi orang bodoh kayak kamu? Ogah banget!” Raka mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Ia menarik napas panjang kemudian berjongkok di depan Rino. “Dengar, Rino. Aku ngerti kamu sayang dia. Tapi kamu bukan cuma pacar Luna. Ada banyak orang
“Tidak terkunci?” Raka mengerjapkan mata berulang kali.Pintu depan itu tidak terkunci. Tangan Raka mendorongnya dan begitu dia masuk ke dalam rumah, dia disambut bau alkohol yang menyengat. Sontak saja matanya melotot.“Apa-apaan ini?” Raka mengibaskan tangannya depan hidung. Mendapati bau alkohol yang menyengat membuat perutnya bergejolak. “Kenapa bisa sekacau ini?” tanyanya penasaran.Mata Raka bergerak liar ke seluruh ruangan. Ruang tengah itu tampak seperti habis terkena badai puting beliung. Botol-botol kosong berserakan di lantai, satu pecah di dekat kaki sofa. Asbak penuh dengan puntung rokok.Hingga mata Raka mendapati sosok Rino tergeletak di karpet dengan kemeja kusut. Lebih gilanya lagi, di satu tangan Rino itu masih memeluk botol yang isinya tersisa seperempat. Ditambah dengan ponsel yang tergeletak di tangannya yang satunya lagi.Raka berdiri membeku. Rahangnya mengeras seketika dengan dada yang dipenuhi amarah bes
Raka yang duduk di sudut seberang mempertajam pendengarannya, menyimak setiap detail penjelasan yang meluncur dari mulut para wartawan tersebut."Lantai satu tempat kita duduk sekarang ini adalah area lobi utama dan restoran komersial yang dikelola oleh investor swasta luar," jelas Riri merinci sambil menghitung dengan jarinya. "Terus, naik ke lantai dua, itu sepenuhnya area pusat kebugaran dan spa eksklusif. Kalau lantai tiga, khusus bioskop mini privat. Nah, baru di lantai empat dan lima, itu wilayah kekuasaan mutlak Bu Maya, tempat karaoke mewah dan klub malam beroperasi.""Oh ... begitu ya," gumam Gufron manggut-manggut paham, mencatat dalam ingatannya. "Berarti lantai paling atas itu ruang kantor pribadi Bu Maya juga?""Betul sekali," sahut wartawan ketiga yang tadinya diam saja. "Lantai lima itu selain ada hall karaoke VIP, juga jadi pusat administrasi dan ruang kerja pribadi Bu Maya. Tempat itu ketat banget penjagaannya, bahkan wartawan kayak kita jarang bisa tembus ke sana ka
Di sisi lain. Suasana di lobi utama gedung hiburan lima tingkat di Jalan Rayuan Pulau Kelapa itu tampak bergemerlap. Lampu kristal gantung berukuran besar memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer yang licin mengkilap, sementara alunan musik instrumental bernada santai berputar lembut dari pengeras suara sudut ruangan.Di tengah keramaian staf, pengunjung berjas rapi dan lalu - lalang para manajer, dua sosok pria duduk terpisah namun saling mengawasi dalam senyap.Di sudut dekat pilar marmer besar, Raka duduk menyilangkan kaki dengan santai di atas kursi sofa beludru berwarna abu - abu gelap. Ia mengenakan pakaian yang sangat sederhana, hanya kemeja lengan panjang polos tanpa atribut formal dan celana bahan biasa. Di tangan kanannya, selembar koran harian terbentang lebar, menutupi sebagian wajahnya. Namun, di balik tepi atas koran tersebut, sepasang mata Raka yang tajam mengawasi setiap jengkal pergerakan di lobi dengan tingkat kewaspadaan setingkat militer.Dari tempat dud
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







