LOGINRaka tidak melawan. Dia membiarkan mereka mendorong dan menekannya. Justru dia dibuat kagum dengan kesigapan pengawal pria itu.
Pemuda itu tidak mau berseteru dengan Anom, lagipula dalam beberapa detik saja akan ketahuan kalau sebenarnya tidak ada apa-apa dengan kliennya itu.“Cukup-cukup. Aku sudah tidak apa-apa,” ujar Anom seraya mengangkat tangannya menghentikan tindakan pengawalnya.Pria setengah baya itu menarik napas panjang lalu menatap ke arah kakinya. RasKos lama Luna ada di gang sempit. Suasana di sana masih tetap sama. Ramai. Kos yang mana berhadapan dengan kos cowok itu cukup dikenali oleh Rino.Perlahan Rino memarkir motor di ujung gang. Kemudian dia berjalan cepat mendekati pagar kos cewek.Tampak seorang cewek berdaster menyapu teras. Ia mendongak, mengerutkan dahi. “Mas siapa? Dan lagi nyari siapa?”“Aku … aku Rino, dan aku nyari Luna.” Rino menjawab singkat. Jantungnya berdetak cepat. “Luna pacarku.”“Oh, Mbak Luna? Dia memang baru datang kemarin, bawa koper. Nggak besar sih. Kamar atas sebelah kanan sendiri. Tapi nggak boleh menginap lo.”Rino mengangguk. “Makasih.”“Siapa itu tadi?” Sari muncul tiba-tiba mendekati cewek berdaster itu.“Rino. Katanya nyari Mbak Luna.”Dahi Sari berkerut. “Rino? Nyari Mbak Luna? Ngapain?”Di sisi lain, Rino yang berlari sudah menaiki tangga besi. Di ujung lorong, satu pintu terbuka sedikit. Ia mengetuk pelan.
Rino membaca nama pemilik di layar, lalu menghembuskan napas yang tadi tertahan. Kosan Tante Feli. Itu bukan nama yang asing. Itu nama ibu kos lama Luna, tempat Luna tinggal sebelum mereka bersama. Tempat yang sempat anak buahnya obrak abrik hampir setahun yang lalu. “Oh … Kos Tante Feli …” Rino mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa lega sekaligus senang Luna berada di tempat yang aman. “Syukurlah kalau dia ada di sana.”“Boss, aman … kah?” Didik menelan ludah, wajahnya memucat. “Saya kira itu nama yang lain.”Rino mengerutkan keningnya. “Nama siapa?”“Hehe …. Nggak jadi, Boss. Saya salah baca.” Didik meringis.“Aku nggak mungkin bilang kalau sempat curiga itu nama germo.” Didik membatin canggung. Ia segera mengalihkan pandangannya, seolah cemas Rino berhasil membaca pikirannya. Dengan cepat Rino menyambar kunci motornya. Setelah mengetahui lokasi terakhirnya, ia ingin sesegera mungkin menemui Luna. Tetapi Raka su
Seno menyeringai. “Film itu kan yang katanya diambil dari kisah nyata ya?”“Kalian jangan gitu dong. Nggak semua orang kan punya hati busuk kayak mereka. Boss Raka itu gentleman,” gumam Tora.Dimas mencebikkan bibirnya. “Halah. Kalau ada apa-apa kita juga nggak tahu. Sayangnya kan nggak ada bukti! Itu area blindspot.”“Iya. Sayang banget bukti nggak ada. Coba kalau ada. Si Hadi nggak mungkin dibikin babak belur gitu!” Seno menggelengkan kepalanya.Tora berpikir keras lagi. “Tapi Bos Raka kan sahabatnya Bos Rino —”“Justru itu! Siapa yang curiga? Kita juga nggak ada yang curiga tuh,” goda Dimas.Suara tawa kecil terdengar. Rino melirik dari ujung matanya. Tangannya terkepal. Mereka menggosip kotor tentang Luna.“Jangan-jangan …. Jangan-jangan Mbak Luna kabur bukan cuma gara-gara Hadi?” tuduh Seno.Tora mendekatkan tubuhnya ke Seno. “Maksud kamu apa? Apa karena dia mulai suka sama Boss Raka? Nggak! Kalian jangan f
Suasana ruang kerja terasa tegang dan canggung. Didik duduk membungkuk di depan layar monitor. Tampak jarinya bergerak liar di atas keyboard. Sesekali dia memperbaiki letak kacamatanya. Di layar terlihat baris-baris kode bergulir cepat.Rino berada di belakang Didik. Ia berdiri dengan cemas dan gelisah. Jantungnya pun berdetak lebih kencang karena tidak sabar atas hasil dari pekerjaan Didik itu.“Gimana? Belum ada hasil?” Rino bertanya tidak sabar. Ia sesekali menghembuskan napas panjang.“Nomor Mbak Luna sudah mati sejak kemarin pagi, Boss. Tapi Boss tenang aja. Akun-akunnya Mbak Luna masih bisa dilacak. Email, cloud, sama aplikasi yang tersambung ke akunnya. Kalau dia sempat login di mana pun, pasti ada log-nya.” Didik menjawab tanpa menoleh.“Berapa lama?” Rino merasakan kelegaan memenuhi rongga dadanya. Ada harapan.“Satu atau dua jam sih. Aku butuh fokus, Boss.” Kali ini Didik menoleh sebentar. Lalu pandangannya kembali ke layar mon
Bugh!“Undangan? Omong kosong! Kamu ternyata pandai membual ya? Brengsek!” Rino menendang perut Hadi lagi. “Katakan sekali lagi! Dia ngapain? Godain kamu? Kamu sinting ya? Kamu sadar nggak siapa kamu? Luna godain kamu? Buat apa? Kamu memangnya punya apa?”Hadi terdiam seketika. Ucapan Rino menyentil egonya.Rino tertawa keras. “Kalau Luna mau godain orang, kenapa nggak Raka sekalian? Kenapa harus kamu? Si bocah baru yang bahkan kuda-kudanya belum benar? Lihat dirimu! Mau bohong tuh mikir juga dong! Masih mending si Raka yang punya duit sama tampang!”Raka yang berada tidak jauh dari tempat Rino berdiri pun seketika membeku dengan mata yang melotot. “Hei … Kenapa jadi aku? Aku nggak ngapa-ngapain!”Rino tidak menjawab. Ia tetap berdiri angkuh di depan Hadi yang terlihat keras berusaha bernapas. Tidak ada respon apapun dari Rino membuat Raka memutar bola mata kesal. Ia menghela napas panjang. Kemudian dia melangkah mendekat dan menangkap lengan Rino mencoba menenangkan Rino. “Cukup, R
Bugh!Rino memukul Hadi yang ada di paviliun belakang saat pria itu sedang duduk di tepi dipan sambil memakai kaos. Pria itu mendongak dan mendapati wajah Rino yang terlihat marah.“Boss, kenapa memukulku —” Belum sempat Hadi menyelesaikan ucapannya, pukulan kedua mendarat lagi.“Tunggu, Bos!! Kenapa memukul Hadi? Eh!” Seno mencoba untuk menarik tangan Rino yang mencoba memukul Hadi lagi.“Iya, Boss! Ada apa ini?” Dimas ikut penasaran.“Kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” batin Dimas dengan cemas.Rino menunjuk sosok Hadi yang sudah berdiri dengan mata memerah. “Dia bajingan! Beraninya dia menyentuh kekasihku!”Seno tersentak kaget. Pegangan tangannya yang menahan tangan Rino pun melemah. Seketika Rino menghajar Hadi lagi. Pukulan kerasnya membuat tubuh Hadi terpental ke dinding.“Argh!” Hadi melenguh kesakitan. Ia mencoba berdiri.“Hei! Kenapa kamu lepasin?!” Raka menegur Seno yang melepaskan tangan Rino.“Bajingan kamu!” Rino menarik kerah bajunya lalu menghantam lagi dan lagi
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya







