تسجيل الدخول“Ardy pelanggan ini orang baru. Dia minta dilayani kamu.” Resepsionis memberikan informasi saat Ardy keluar dari ruang tunggu setelah melihat nomernya dipanggil.
“Pelanggan baru minta dilayani aku?” Mata Ardy berbinar senang.“Ya. Seperti biasa buat dia bertahan untuk tetap kembali ke panti ini.”“Kamu tahu betapa hebatnya aku mempertahankan klien untuk kalian semua.” Ardy tersenyum angkuh.Dia berjalan menuju ke ruang VIP. Sebelum tamu datang tentu sajaBaru saja Raka menginjakkan kakinya ke dalam ruang tamu rumah tinggal Rino, Luna sudah menghampirinya. “Mas Raka, kamu tahu nggak … perempuan yang tinggal di lantai dua itu.” Luna menekan suaranya seolah takut seseorang selain Raka mendengar ucapannya,”... perempuan yang lagaknya macem cowok, yang punya anting di hidungnya itu.” Raka langsung tersenyum. “Maksudmu … Sekar?” Luna menganggukkan kepalanya. “Dia pacarnya Mas Rino, kan? Kenapa Mas Raka bikin aku jadi pengganggu, sih?” Luna masih mengekor di belakang Raka, mengikuti setiap langkah lelaki yang baru saja pulang kerja itu dengan rasa kesal. “Harusnya Mas Raka kasih tau Mas Rino supaya dia jauhin aku. Bukannya selipin aku di antara mereka,” omel Luna. Raka menghentikan langkahnya. Ia mengangkat kepalanya, saat merasa sepasang mata sedang mengawasinya. Matanya bertemu dengan mata Sekar yang sedang berdiri di lantai ata
“Ardy pelanggan ini orang baru. Dia minta dilayani kamu.” Resepsionis memberikan informasi saat Ardy keluar dari ruang tunggu setelah melihat nomernya dipanggil.“Pelanggan baru minta dilayani aku?” Mata Ardy berbinar senang. “Ya. Seperti biasa buat dia bertahan untuk tetap kembali ke panti ini.” “Kamu tahu betapa hebatnya aku mempertahankan klien untuk kalian semua.” Ardy tersenyum angkuh.Dia berjalan menuju ke ruang VIP. Sebelum tamu datang tentu saja terapis sudah harus ada di dalam ruangan dan memastikan semua keperluan sudah siap.Memang ada petugas lain yang mempersiapkan kebutuhan pijat memijat, tetapi tetap tugas seorang terapis untuk mengecek semuanya terlebih dahulu.“Sempurna. Hari ini hariku sempurna!” Ardy menggosok kedua tangannya penuh kegirangan.Pemuda itu mengambil sebutir anggur dan memakannya. Dia duduk dengan santai sampai lampu tanda pelanggan akan masuk nyala. Dan ketika lampu itu menyala, Ardy
Ardy memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang berada di sebelah panti pijat tempatnya bekerja. Pria itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. ( Aku sudah sampai. Apa kamu bawa uangnya?) Pesan itu segera terbalas. ( Kamu di mana? ) Ardy menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menjawab, ( Dalam mobilio warna hitam ) Dia satu-satunya yang parkir dengan ciri mobil tersebut. Ardy memeriksa ke sekelilingnya. Selang satu menit, terlihat seorang perempuan cantik keluar dari dalam kafe. Awalnya dia tidak peduli, karena seharusnya seorang pria yang datang bertransaksi dengannya. Namun, saat perempuan itu mendekat dan mengetuk mobilnya, pria itu menatap ke arah jendela dengan seksama. Dia heran karena merasa tidak ada janji temu dengan seorang wanita. ( Rekanku sekarang di depan mobil menemuimu. Ini akan jauh lebih aman daripada kita bertemu.) Pesan itu
Ardy baru saja selesai mandi saat dia mendengar pesan masuk. Pria itu mengambil benda pipih di atas meja dan membuka pola kunci untuk membaca pesan di ponselnya. Dia mengernyitkan kening saat melihat foto yang dikirim oleh seorang ahli tersebut. “Gila! Benar-benar seperti asli,” gumamnya kagum. Dia memperbesar foto-foto itu dan dibuat kagum karenanya. “Bahkan lubang pori wajahnya pun terlihat nyata,” decaknya penuh kekaguman. Pria itu menggeser satu persatu foto yang dikirim melalui pesan di handphonenya itu. Dia menyeringai lebar melihat setiap gambar yang ada di sana. Semua foto itu adalah lembaran uang yang sangat besar. “Aku akan kaya, sangat kaya,” gumamnya kegirangan. “Mas Ardi.” Suara serak manja penuh nada protes saat tidurnya terganggu oleh suara Ardi. “Susi Sayangku.” Ardy tersenyum lembut. “Mas Ardy lagi ngapain?” Susi membuka matanya dan setengah berbaring sambil m
“Luna … siapa yang mau bunuh kamu?” Rino mulai panik. Semua kalimat yang sudah ditatanya tiba-tiba saja lenyap dari ingatannya. “Kamu … kamu bunuh orang itu. Aku liat sendiri, darahnya … ambulans.” Bola mata Luna bergerak dengan liar, jelas menunjukkan kegelisahannya. Rino menghela napas. Ia menarik paksa sudut bibirnya, memberikan senyum buat perempuan cantik di hadapannya. “Kamu salah paham. Orang itu korban tabrak lari di depan markas. Justru kami selamatkan dia.” Rino mulai mengingat kembali dialog yang sudah dirancang dan dilatihnya tadi. “Aku cari kamu selama ini, bukan buat bunuh kamu, Lun. Tapi karena ….” Lidah Rino tiba-tiba saja kaku. Kalimat yang semula lancar saja diucapkan di depan Sudar, tiba-tiba saja terasa begitu sulit buat diucapkan. “Kenapa?” tanya Luna. Ketakutan mulai menghilang dari wajahnya. Lututnya yang semula ditekuk dengan kedua tangan menahannya seolah tameng, perlahan mulai m
Raka baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat Rino melintas di hadapannya. Arman, Totok dan Sudar mengikuti di belakangnya. “Aman?” tanya Raka, sementara tangannya masih mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya.“Aman. Nyamuk pun nggak berani dekat kalo ada kita. Bener nggak boss,” celetok Sudar mencari pembenaran dari Rino.Raka tak menunggu jawaban Rino. Ia langsung duduk dengan satu kaki di atas kaki lainnya. “Rino, ada yang perlu aku tahu dari kamu. Apa kamu masih juga mengganggu Luna?” tanya Raka tanpa basa-basi.Wajah Rino langsung memucat. Lelaki itu langsung menekuk lututnya dan menatap Raka, setengah mengiba. “Boss … ampun.” Rino mengatupkan kedua tangannya, “aku tidak bermaksud buat ganggu dia. Aku cuma … aku cari dia cuma mau bicara.” Raka menepuk kursi di sisinya. “Sini! Duduk di sini! Aku punya hadiah buat kamu.” Rino langsung berdiri. Ia menatap Raka masih tak percay
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli







