LOGIN“Mas … jangan Mas.” Dinda menghalangi langkah Raka untuk masuk ke dalam ruang kerja pemilik klinik terapi itu. “Tante Nilam masih nggak bisa diganggu.’
Raka mengerutkan kening, tak tahu harus bagaimana menghadapi perempuan yang jelas menghalanginya itu.“Din … aku harus bicara sama Tante Nilam. Penting. Ini antara hidup dan mati.” Raka tak mau kalah.“Tante tadi berpesan, siapapun nggak boleh masuk,” ucap Dinda, “aku nggak bisa biarin kamu—”Sepasang taShakira mengangkat kepalanya. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya melemas. Bagaimana jika orang itu berniat membunuhnya? Tubuh Shakira bergetar hebat.“Sudah bangun rupanya.” Suara itu terdengar asing.“Siapa kamu?” Shakira mencoba bertanya. “Kenapa kamu melakukan ini padaku?”Tak ada jawaban. Sebaliknya, terdengar suara kertas yang dibuka. Shakira menajamkan telinganya.“Aku punya sesuatu untukmu. Tanda tangani berkas ini.”Shakira mengerutkan kening. “Apa maksudmu? Berkas apa? Aku tidak mau ditipu!”Orang itu melepaskan ikatan tangan Shakira. “Surat penyerahan harta. Semua yang kamu miliki. Perusahaan, aset, saham harus diserahkan semuanya. Tanda tangani ini di bawah, dan semua ini selesai malam ini juga.”Dengan cepat Shakira membuka penutup matanya. Seketika tubuhnya membeku. Pria itu mengenakan topeng di sebagian wajahnya. Suaranya juga asing di telinga Shakira.“Sudah bi
Kesadaran Shakira kembali perlahan. Ia berkedip. Tetapi, tetap gelap gulita. Tak ada yang berubah. Meski dia mencobanya berulang kali. Ada sesuatu yang menutupi matanya.“Mataku ditutup kain. Aku tidak bisa melihat. Di mana ini?” tanya Shakira.Ia mencoba menggerakkan tangannya. Tangannya terikat. Pergelangan tangannya terikat di belakang punggung kursi. Terasa talinya yang kasar menggesek kulit setiap kali dia mencoba melepaskan diri. Kakinya juga terikat. Masing-masing ke kaki kursi.“Bahkan tangan dan kakiku terikat? Ya Tuhan! Bagaimana ini?” Shakira menggumam panik.Bau di sekelilingnya asing. Debu, karat, dan bau jamur di dinding. Tidak ada suara apapun. Seolah tempat itu berada di tempat yang jauh dari pusat keramaian. “Halo?” Suaranya terdengar bergetar. “Ada orang?”Tidak ada jawaban. Suaranya menggema di ruangan itu.“Sugeng? Beni? Ruslan?” Shakira memanggil tiga nama pe
Pria itu membalas dengan sikutan ke wajah. Ruslan menangkis sebagian, merasakan perih di pelipis. Tampak Tuslan membalas dengan tendangan keras yang membuat lawannya terjengkang jauh dari mobil.Sementara itu Sugeng masih terjebak adu pukul dengan lawannya. Beni datang membantu setelah berhasil melumpuhkan lawannya sendiri.Mereka berdua mengepung pria ketiga dari dua sisi. Namun, di tengah kepungan itu, terdengar suara pintu mobil hitam terbuka lagi.Beni menoleh cepat. “Ruslan!”Ruslan yang baru saja bangkit dari aspal ikut menoleh ke arah suara itu. Dari dalam mobil hitam keluar satu orang lagi. Ia berdiri diam sejenak sebelum tatapannya terkunci lurus ke mobil Shakira. Perlahan dia melangkah menuju mobil.Sugeng merinding. “Dia target utamanya?”Beni menyeka keringat dan darah yang bercampur di dahinya. “Yang itu?”Sugeng mengangguk sekali. “Jangan biarkan dia mendekati mobil!”Ketiganya berusaha bergerak se
Sugeng tak bergerak, tangannya diam di atas kemudi. Ia gelisah.“Keluar.”Tak ada jawaban dari dalam. Pria itu mundur, memberi isyarat singkat pada dua rekannya. Beni membuka pintu lebih dulu.“Beni!” Sugeng menoleh cepat.“Saya akan mengulur waktu,” kata Beni.Ruslan menyusul membuka pintunya sendiri. “Aku ikut.”Sugeng menghela napas berat. Ia ikut turun. “Jangan biarkan mereka mendekati Nyonya!”Ketiga pengawal Shakira turun. Mereka berdiri berjajar di depan kap mobil, membentuk tembok manusia. Shakira tetap di dalam debgan jantungnya berdegup kencang.Beni menatap tajam tiga orang di hadapannya. “Siapa kalian?”Sunyi senyap. Hanya deru napas dan desis angin malam yang menjawab.Pria paling depan bergerak maju tanpa aba-aba. Beni mengangkat tangan.“Berhenti!” Beni mencoba untuk bernegosiasi.Langkah pria itu tak m
Hening melenggang. Mobil terus melaju. Beberapa ratus meter kemudian, kawasan sepi itu kembali terhubung dengan jalan yang lebih besar.Sugeng melihat lampu-lampu dari kejauhan. “Ada jalan utama.”Beni menghembuskan napas lega. “Kita bisa meminta bantuan.”Namun, sebelum mereka sempat merasa lega, mobil hitam di belakang kembali mempercepat lajunya. Mobil hitam itu mendekat dengan cepat.“Pegangan!” Sugeng kembali menginjak pedal gas. Mobil pun Shakira melesat.Namun, kendaraan di belakang juga terus mengejar. Sugeng terus fokus pada jalan.Di kejauhan terlihat sebuah perempatan besar. Lampu lalu lintas menyala.Sugeng menghela napas lega. “Kita bisa melewati perempatan.”Mobil semakin mendekat. Namun, tepat ketika mereka hampir mencapai persimpangan, lampu berubah merah.Sugeng berusaha menginjak rem. Perlahan mobil melambat.Beni menoleh ke belakang. Mobil hitam itu masih mengejar. Bedanya me
Lampu masih merah. Mobil Shakira mendekati garis persimpangan. Lampu lalu lintas masih merah.Di belakang mereka, mobil hitam itu kian dekat. Hingga terdengar suara mesin yang semakin keras.Sugeng melirik kaca spion. Mobil di belakang menambah kecepatan.“Dia mau memaksa kita maju?” gumam Sugeng.“Kalau kita berhenti, dia bisa menabrak kita,” kata Beni.Sugeng bersiap Begitu lampu berubah hijau, Sugeng menginjak pedal gas dengan cepat. Mobil Shakira melesat melewati perempatan. Mobil hitam itu masih mengejar.Sugeng melirik kaca spion dan menggelengkan kepala pelan. “Tidak mungkin…”Beni ikut menoleh. “Apa?”“Dia masih mengejar,” sahut Sugeng.Beni memperhatikan mobil hitam tersebut. Lampu depannya semakin terang, semakin dekat.“Siapa sebenarnya mereka?” tanya Beni.Sugeng menggeleng. “Aku tidak tahu.”Shakira menatap ke belakang melalui kaca jendela. “Apakah kalian mengenal
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya







