Accueil / Romansa Pria / Mau Lagi, Om? / Bab 47 Mau Lagi, Om?

Partager

Bab 47 Mau Lagi, Om?

Auteur: My Nona
last update Date de publication: 2026-10-30 22:21:19

Sentakan panggul Burhan langsung memicu derak keras pada bak besi Jeep. Suspensi per daun di bawah kolong mobil mengayunkan seluruh bodi kendaraan.

Goyangan itu membuat keranjang bambu di sudut bak ikut berderak. Beberapa butir tomat merah yang menumpuk tinggi tergelincir, menggelinding jatuh.

Mata Dina langsung membulat panik di sela napasnya yang tercekat. Tangannya menahan dada bidang Burhan.

“O-Om ... pelan-pelan!” bisik Dina gelagapan, mendongak menatap wajah tegas Burhan yang kini rahang
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Mau Lagi, Om?   Bab 52 Mau Lagi, Om?

    Jemari Yanti meraba makin dalam ke dasar saku celana panjang Burhan. Ujung jarinya menjepit gumpalan kain tipis yang terasa licin dan agak lembap. Perlahan, ia menariknya keluar.Mata janda tiga puluh dua tahun itu seketika membelalak selebar piring. Napasnya tercekat kaku di kerongkongan.Di tangannya, terjuntai selembar celana dalam wanita berbahan kaos tipis warna merah muda cerah dengan renda kusam yang sudah agak mbrudul di pinggirannya. Ukurannya kecil, jelas tidak akan muat untuk pantat semok miliknya, dan mustahil juga kalau punya Endah.“Ya Gusti ... iki … suwal e sopo?!” Tangan Yanti gemetar hebat.Teka-teki beberapa menit lalu seketika berputar di kepalanya. Pemandangan Burhan yang telanjang dada dengan peluh membanjiri otot-otot kekarnya di udara dingin menusuk, serta wajah Dina yang merah padam dengan daster kusut acak-acakan, sampai cara jalan gadis itu yang meletat-meletot mengangkang lebar.Belum sempat Yanti mencerna semuanya, suara panggilan bapaknya mendadak terden

  • Mau Lagi, Om?   Bab 51 Mau Lagi, Om?

    Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri

  • Mau Lagi, Om?   Bab 50 Mau Lagi, Om?

    Dina menelan ludahnya susah payah. Sorot matanya sempat goyah ditatap tajam sedekat itu.Tapi sedetik kemudian, dia malah nyengir manis tanpa dosa. Tubuhnya yang sudah lepas dari kungkungan Burhan berbalik membelakangi bak Jeep. Tangannya buru-buru menarik turun ujung daster kusamnya yang basah dan kusut, menutupi paha dalamnya yang lengket.“A-Apa sih, Om. Jangan mikir kejauhan deh!” sungut Dina sambil mencibir sebal. “Ya kali bisa nikah kilat kayak beli gorengan. Juragan itu cuma mau ketemu doang nanti sore, cuma dikenalin!”Burhan menyipitkan mata. Rahangnya mengetat kaku, nggak kemakan omongan itu. “Jangan bohongin Om, Din.”“Siapa yang bohong sih, Om Burhan?” Dina malah tertawa renyah. Tangannya terangkat santai, mencubit pipi brewok Burhan tanpa rasa takut. “Mukanya tegang amat kayak mau razia polisi. Udah ah. Mending buruan ke pasar, keburu siang ini!”Burhan bergeming. Dina jelas-jelas lagi ngeles, dan Burhan bukan anak kemarin sore yang bisa dialihkan pakai cubitan manja begi

  • Mau Lagi, Om?   Bab 49 Mau Lagi, Om?

    Burhan menundukkan badannya sedikit ke depan, menempelkan dadanya yang basah oleh peluh ke punggung mungil Dina.“Kamu denger apa yang Simbah omongin sama ibu-ibu tadi?” bisik Burhan.“Hah? A-apa, Om? Dina nggak tahu.”“Nggak tahu apa nggak denger?” sergah Burhan dingin.Dina menoleh susah payah. Keningnya basah oleh keringat, napasnya masih terengah-engah. “N-nggak denger, Om. Beneran suer!”Burhan melirik sekilas ke arah luar pagar. Sosok Mbah Siti dan Bu Susi sudah benar-benar lenyap di ujung jalan setapak kebun. Suasana kembali lengang.Tanpa aba-aba, Burhan menyentakkan pinggulnya ke depan, lebih dalam dan tajam hingga batangnya menghantam telak rongga terdalam Dina.“Akhh!” Dina memekik tertahan, punggungnya refleks melengkung kaget.“Jangan bohong,” desis Burhan dingin, rahangnya mengetat rapat. “Kamu pasti denger soal Mang Maman yang nungguin kamu di rumah, kan? Nama juragan juga disebut Simbah tadi.”“Emmp ... i-itu denger dikit—ahh, Om, pelan dong! Jangan ngegas terus!” rint

  • Mau Lagi, Om?   Bab 48 Mau Lagi, Om?

    Suara langkah terseok itu kian dekat di balik pagar bambu, disusul teriakan serak yang terdengar jengkel bercampur cemas.“Dina? Din?! Aduh, kemana to cah iki!”Burhan menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke pelipis Dina yang basah oleh peluh dingin.“Itu Simbah, kan?” bisik Burhan rendah. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara otot-otot tubuhnya masih menegang mengunci posisi.Dina mengangguk samar. Tubuhnya sempat gemetar, tapi raut panik di wajahnya perlahan luntur, berganti tatapan dingin yang kosong.“Iya, biarin aja, Om,” bisik Dina lirih namun tajam. “Ayo terusin. Biar Simbah liat sekalian.”Alis Burhan bertaut rapat. Tatapannya menatap punggung Dina dengan sorot tajam tak percaya. “Jangan ngawur! Katanya kamu sayang banget sama Simbah?”“Sayang, Om.” Mata Dina berkaca-kaca, tatapannya kosong menatap karung kentang tepat di depan wajahnya. “Tapi Mbah cuma diem aja pas Bude mau jual Dina ke juragan. Pas Dina digebukin juga Mbah nggak pernah belain Dina. Dina c

  • Mau Lagi, Om?   Bab 47 Mau Lagi, Om?

    Sentakan panggul Burhan langsung memicu derak keras pada bak besi Jeep. Suspensi per daun di bawah kolong mobil mengayunkan seluruh bodi kendaraan.Goyangan itu membuat keranjang bambu di sudut bak ikut berderak. Beberapa butir tomat merah yang menumpuk tinggi tergelincir, menggelinding jatuh.Mata Dina langsung membulat panik di sela napasnya yang tercekat. Tangannya menahan dada bidang Burhan. “O-Om ... pelan-pelan!” bisik Dina gelagapan, mendongak menatap wajah tegas Burhan yang kini rahangnya mengeras pekat. “Mobilnya goyang kenceng banget! Itu tomatnya udah jatuh loh.”Burhan menggeram kasar. Sensasi jepitan liang Dina yang meradang dan sempit justru menyedot batangnya makin dalam tanpa ampun. Tapi di posisi ini, gadis di depannya masih saja sempat meributkan dagangan orang lain.“Kalau rusak, Om ganti semuanya, Din,” bisik Burhan tajam, napas panasnya menyapu hidung Dina. Tangannya mencengkeram pinggang ramping itu lekat. “Nggak usah mikirin tomat. Fokus ke sini. Bukannya tadi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status