공유

222. Jangan Sentuh Aku!

작가: prasidafai
last update 게시일: 2026-06-30 15:10:06
Plak!

Tamparan kedua mendarat lebih keras di pipi Sera yang sebelah kanan.

Kepala wanita itu langsung tertoleh ke samping. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya.

Koridor apartemen mendadak sunyi.

Napas Sera mulai memburu. Perlahan dia menoleh kembali ke arah Tasya.

Sorot mata Sera berubah tajam, dipenuhi kebencian yang selama ini tersimpan.

“Ucapanmu sudah kelewatan, Sera!” Tasya masih berdiri dengan dada yang naik turun.

Tanpa diduga, Sera mendorong tubuh Tasya sekuat tenaga.

prasidafai

Viktor ✓, Lucy ✓, Dante ✓, Sera ✓, cuma Tasya dan Clara yang sempat tobat. Kenapa gak dikasih karma? Sebenarnya dikasih yaa. Walaupun Naomi memaafkan Clara dan Tasya, keduanya dapat karma. Clara ketabrak, koma, dan pendidikan kaosnya jadi gagal. Tasya fisiknya gak kenapa2, tapi batinnya pasti tersiksa luar biasa melihat putrinya jadi begitu. Mantemans, nanti kalau cerita ini sudah tamat dan aku belum ada cerita baru, silakan baca cerita²ku yang lain yaaa. Untuk saat ini sih aku sedang diskusi cerita baru dengan editor, belum tahu tayang kapan. Biar gak ketinggalan info follooow saja akun medsos aku yaaa. Di Faceeeebook, tiktoook, instagraaaaam, yutup, semuanya pakai username yang sama kok: prasidafai ꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡

| 10
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
prasidafai
siapppp ꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡
goodnovel comment avatar
Yu Mi
kl bisa secepatnya y Thor,jangan lama2 up ceritanya hihihi, semangattt thorr
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   228. Satu Kali Lagi

    Tasya perlahan menghentikan gerakan tangannya. Pisau yang sedari tadi digunakan untuk mengiris lemon diletakkan pelan di atas talenan. Suara kecil dari logam yang menyentuh kayu terdengar begitu jelas di tengah dapur yang mendadak sunyi. Wanita paruh baya itu berbalik. Wajahnya dipenuhi penyesalan. Mata Tasya yang mulai memerah menatap Naomi cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. “Sejak sebelum kita bertemu di pemakaman dan melihat Dante,” ucap Tasya lirih, “Mama sebenarnya sudah menyadari kalau kamu adalah Naomi.” Naomi membeku. Bibirnya sedikit terbuka. Jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Tasya menundukkan kepala sesaat. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Itu sebabnya, waktu itu Mama memaksamu mengantar Mama pulang,” lanjut Tasya sambil menggenggam kedua tangan Naomi yang mulai dingin. Naomi menatap wajah wanita paruh baya itu tanpa berkedip. “Mama sengaja memasak ayam kukus lemon …” Tasya tersenyum pahit. “Makanan kesukaanmu.” Naomi m

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   227. Misi Raiden Setelah Menikah

    Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   226. Pesta Sehari Penuh

    Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   225. Jauh Lebih Indah

    Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   224. Sangat Terlambat

    “Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   223. Dibanding Aku

    “Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   85. N & R

    “Aku perlu tahu ke mana mereka membuang barang-barang Naomi,” jawab Raiden. Ketegasan di dalam suara Raiden membuat Lucy seketika menegang. Lorong yang tadi dipenuhi emosi kini berubah menjadi ruang yang lebih dingin. Raiden menatap layar ponsel, jemar

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   83. Seperti Naomi

    “Jawab aku, Lucy!” desak Raiden. Raiden berdiri di ambang pintu. Rahangnya mengeras seperti batu. Sementara sorot mata Raiden tidak berpaling dari Lucy, menembus wanita yang masih berdiri kaku beberapa langkah di hadapannya itu. Lucy menelan ludah. Jemari wanita itu tanpa sadar meremas ujung

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   74. Benci Dibalas Benci

    “Naomi ….” Kesadaran Nicolle merangkak kembali perlahan. “Naomi ….” Suara itu lagi. Nicolle membuka mata. Namun hanya ada gelap di hadapannya. Listrik masih padam. Keringat membasahi tengkuk dan punggung Nicolle, tetapi tubuhnya kini terbaring nyaman di atas ranjang lipat. “Naomi ….”

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   73. Mantan Dokter Nicolle

    Nyala lilin kecil di atas meja kayu bergetar pelan, memantulkan bayangan yang menari di dinding rumah singgah. Di luar, hujan masih turun tanpa belas kasihan. Nicolle dan Raiden kini duduk berdampingan di sofa panjang yang sempit, hanya dipisahkan oleh ja

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status