로그인Detak jantung Nicolle tiba-tiba melompat satu ketukan. Langkahnya terhenti.
Kalimat terakhir pria itu berputar di kepalanya. ‘Tempat yang lebih privat?’ ulang Nicolle dalam hati. Entah kenapa frasa sesederhana itu terasa seperti menyulut sesuatu yang seharusnya sudah lama Nicolle padamkan. Memeriksa Raiden, terlebih lagi lukanya, di tempat yang tertutup dan memiliki privasi adalah prosedur medis biasa. Namun jantung NiDalam sekali lihat, Nicolle langsung tahu luka mana yang baru dan mana yang sudah lama mengering menjadi bekas yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Tepat di sisi kanan punggung pria itu, sedikit di bawah tulang belikat, ada bekas luka tembak lama yang sangat dikenalnya. Bekas luka itu seperti membuka pintu masa lalu. Sejenak, Nicolle tidak lagi berada di ruang pengap dengan kipas tua yang berdecit. Ingatannya melompat pada tahun-tahun saat dirinya masih menjadi Naomi, seorang istri yang menunggu kabar suaminya pulang dari medan tugas dengan dada penuh cemas. Malam ketika Raiden tertembak di punggung, Naomi bahkan tidak sanggup menyentuh makanan selama beberapa hari. Setiap kali nasi tersaji di meja, yang muncul justru bayangan pria itu terbaring pucat dengan balutan perban dan aroma antiseptik yang menusuk. ‘Konyol!’ Nicolle hampir
Detak jantung Nicolle tiba-tiba melompat satu ketukan. Langkahnya terhenti. Kalimat terakhir pria itu berputar di kepalanya. ‘Tempat yang lebih privat?’ ulang Nicolle dalam hati. Entah kenapa frasa sesederhana itu terasa seperti menyulut sesuatu yang seharusnya sudah lama Nicolle padamkan. Memeriksa Raiden, terlebih lagi lukanya, di tempat yang tertutup dan memiliki privasi adalah prosedur medis biasa. Namun jantung Nicolle tidak mau mendengar argumen itu. Raiden menyadari tidak ada suara langkah di belakangnya. Dia berhenti dan menoleh. Nicolle berdiri dua meter darinya. Bola mata wanita itu masih bergerak liar. “Dokter Nicolle, Anda baik-baik saja?” Suara rendah itu menarik Nicolle kembali ke kenyataan. Wanita itu berkedip cepat, seolah baru saja tersadar dari sesuatu yang bahkan tidak ingin dia akui pada dirinya sendiri.
Malam di pedalaman Palvenia tidak seperti malam di tempat lain. Tidak ada lampu jalan yang menyala, maupun suara kendaraan yang berseliweran atau warung yang masih buka. Hanya ada gelap yang terlalu pekat, diselingi cahaya sorot dari pos-pos militer darurat yang berdiri di beberapa titik. Nicolle menempelkan dahi pelan ke kaca jendela minibus. Di luar, jalan bergelombang dan retak di sana-sini. Beberapa bangunan tampak roboh sebagian. Sesekali, siluet warga terlihat berjalan cepat di pinggir jalan. Nicolle mengencangkan genggamannya pada ponsel di pangkuannya. Foto yang dikirim Raiden tadi siang tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk menggambarkan semua ini. “Ini bahkan lebih buruk dari yang kubayangkan,” gumam Nicolle. Di sampingnya, Olivia duduk tegak dengan kedua tangan saling menggenggam erat di atas tasnya. Wajah p
Sejenak, Nicolle hanya menatap Dante sedikit terkejut. Namun dengan cepat wajahnya kembali datar. “Ya, Tuan Dante,” jawab Nicolle pada akhirnya. Dante mendesah kesal mendengar Nicolle memanggilnya dengan sebutan Tuan, seakan menjelaskan batas yang jelas bahwa kini wanita itu tidak sedang melihatnya sebagai seorang teman. Alih-alih hubungannya dengan Nicolle berkembang, Dante justru harus menerima bahwa hubungan mereka menjadi mundur karena satu kesalahan fatal, memaksa Nicolle pergi ke pedalaman dengan membeberkan ancaman Direksi. “Aku tidak mengerti, Nicolle,” tukas Dante sambil menggeleng. “Tadi siang kamu sangat marah padaku karena memaksamu pergi. Tapi sore ini tiba-tiba kamu memutuskan untuk pergi?” Nicolle menangkap gerakan kecil di sudut matanya. Aveline yang masih berada dalam gendongan Mia, menatap Dante dengan dahi berkerut. Gadis kecil itu tidak terbiasa melihat Dante seperti ini. Pu
Tok. Tok. Tok. Nicolle mengetuk pintu ruangan Henry. “Masuk.” Nicolle mendorong pintu di depannya. Di dalam ruangan Henry, Nicolle melihat Aveline yang sudah bangun dari tidurnya. Kini Aveline tengah duduk di pangkuan Henry, sedang asyik membolak-balik stetoskop mainan yang diambil dari meja sang dokter. “Mama!” Aveline langsung mendongak dengan mata berbinar. “Kata Kakek Doktel, aku bisa memasukkan nama Kakek Doktel ke tugas pohon kelualga sebagai kakekku!" Nicolle mematung. Kedua alisnya perlahan naik. Sementara Henry justru tertawa hangat. Raut wajah yang sangat jarang Nicolle lihat di wajah pria paruh baya itu selama bertahun-tahun bekerja bersamanya. “Kakek?” ulang Nicolle, memastikan pendengarannya tidak salah. Aveline mengangguk tanpa ragu. “Mama punya waktu?” tanya Aveline tiba-
Pintu toilet ruang residen terkunci dari dalam. Nicolle tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di kloset yang tertutup sambil membungkukan tubuh hingga kedua sikunya bertumpu pada paha. Wanita itu meremas gemas rambutnya dengan kedua tangan. Napasnya masih memburu. ‘Kenapa tidak ada yang bisa mengerti posisiku saat ini?!’ batin Nicolle berteriak. Nicolle mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Bayangan wajah Dante, tatapan sendu yang penuh penyesalan itu, tidak mau pergi begitu saja. “Tidak lulus dokter spesialis dan sulit bekerja?” gumam Nicolle pelan, hampir berbisik. Nicolle tertawa pahit dengan mata memerah. “Begitu pun tidak apa-apa.” Nicolle menggeleng kecil. “Aku bisa membuka klinik sendiri, daripada aku harus meninggalkan Aveline.” Nicolle terdengar yakin. N
“Iris Cooper, B.A.,” jawab wanita itu sambil menyibakkan rambutnya ke belakang bahu. Deretan gelang emas di pergelangan tangannya bergerincing pelan. Cahaya matahari siang memantul pada logam kuning itu, membuat kilauannya semakin mencolok. Dua huruf t
“Selama Kak Raiden di sana, aku dan Mama yang akan mengurus semua berkasnya,” lanjut Lucy dengan riang. “Kakak tidak perlu khawatir sama sekali.” Raiden menarik napas pendek. “Oke, Lucy,” sahut Raiden singkat. Panggilan video itu berakhir beberapa saat
“Mobil layanan dereknya sudah sampai mana?” tanya Raiden sambil menutup kap mesin mobil. Raiden menyeka telapak tangannya sekali, lalu berbalik menatap Nicolle. Nicolle membuka layar ponselnya. Titik biru di peta bergerak pelan menyusuri jalan yang tidak jauh dari po
Beberapa detik pertama, tidak ada yang bersuara. Di kejauhan, tawa anak-anak yang belum pulang masih terdengar samar. Nicolle tidak langsung menjawab. Wanita itu masih menatap Iris dengan tenang, tetapi kali ini lebih dingin dari sebelumnya. Sudah sejak lama, Nicolle tidak menyukai perkumpulan







