Share

7. Identitas Baru

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-03-27 21:01:20

Pukul tujuh malam.

Tatapan Naomi masih tertuju pada nisan putih yang berdiri tegak di hadapannya.

Nisan yang terukir namanya sendiri, Naomi Vargas. Beserta nama lain, Everly Vargas.

Aneh rasanya membaca nama sendiri di atas batu mati.

Naomi menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya bersama segala sesuatu yang tidak bisa lagi dia ucapkan.

Semua pelayat sudah pergi sejak lama. Hanya dia yang tersisa, berdiri di atas tanah basah pemakaman militer dengan mantel hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kini semakin kurus.

“Nona.”

Suara bariton itu memecah kesunyian.

Naomi tidak menoleh, tetapi dia tahu siapa yang berbicara.

Pria jangkung itu telah berdiri tiga langkah di belakangnya sejak tadi.

“Kita harus segera pergi,” lanjut Brandon, bawahan Vance Frances yang diminta untuk mengawal Naomi hari ini.

Naomi mengangguk sekali.

Wanita itu membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Brandon mengikutinya dua langkah di belakang.

Di dalam mobil, Naomi bersandar pelan ke kursinya.

Tidak ada yang akan curiga. Semuanya telah dirancang dengan sempurna.

Ayahnya, Jenderal Vance Fances, menggunakan semua koneksi yang dimilikinya untuk memastikan rencana ini berjalan mulus.

Dokumen resmi kematian, petugas medis, dan petugas pemakaman.

Bahkan dua jasad yang sekarang terkubur di dalam tanah itu telah dipersiapkan sejak jauh hari.

Tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa wanita yang dikuburkan hari ini bukanlah Naomi. Dan tentu saja bukan anak yang dikandungnya.

Mobil melaju menuju pusat kota.

Beberapa saat kemudian, Brandon menghentikan kendaraan di depan sebuah gedung perkantoran tua yang sudah lama tidak digunakan.

Bangunannya tinggi dan gelap. Hanya satu lampu kecil yang menyala di pintu masuk.

“Helikopter sudah menunggu di atas,” kata Brandon singkat.

Naomi membuka pintu mobil.

Lift mereka berhenti di lantai delapan.

Brandon melangkah maju, tetapi Naomi justru berhenti di depan pintu bertuliskan ‘Toilet Wanita’ di sebelah kanan koridor.

“Tunggu.” Naomi menoleh padanya. “Aku harus masuk ke dalam lebih dulu. Ada yang harus aku lakukan.”

Brandon mengerutkan dahi sebentar, lalu mengangguk patuh. “Saya akan menunggu di sini, Nona.”

Pintu toilet tertutup di belakang Naomi.

Di dalam ruangan berdinding keramik putih itu, Naomi berdiri di depan wastafel dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Wanita di cermin itu menatap balik, dengan rambut hitam panjang yang masih terurai rapi, mata abu-abu gelap, dan garis-garis kelelahan yang sudah lama mengukir wajahnya.

Naomi mengeluarkan gunting dari dalam tasnya.

Tanpa ragu, Naomi memotong rambut panjangnya.

Krek!

Beberapa helai pertama rambut Naomi jatuh ke wastafel.

“Aku suka rambut hitam panjangmu,” puji Raiden kala itu sambil menghirup aroma rambut Naomi. “Kau terlihat sangat cantik.”

Semakin Naomi mengingat itu, dia semakin cepat mempercepat gerakan gunting di tangannya.

Naomi memotong rambutnya pendek, jauh di atas bahu. Kemudian dia menyisir cepat rambut barunya dengan jari. Poninya yang dulu menutupi dahi juga dipotong habis.

Dari dalam tasnya, Naomi mengeluarkan satu botol cat rambut cokelat.

Dua puluh menit kemudian, wanita di cermin itu sudah tidak lagi mengenali dirinya sendiri.

Rambut cokelat pendek. Lensa kontak cokelat yang menyembunyikan manik abu-abu gelapnya.

Tidak ada kelembutan wajah yang biasa Naomi tunjukkan pada dunia. Yang tersisa hanyalah orang asing.

“Sempurna,” gumam Naomi tersenyum tipis.

Naomi memasukkan semua sisa cat, helai rambut yang berserakan, dan segala bukti yang ada ke dalam kantung plastik hitam. Dia mengikatnya rapat lalu berjalan keluar.

Brandon berbalik saat pintu terbuka. Untuk sesaat pria itu bahkan tampak tertegun.

“Bakar ini sebelum membuangnya.” Naomi menyodorkan kantung plastik itu padanya tanpa basa-basi.

“Siap, Nona.” Brandon menerima kantung itu sambil mengangguk.

Mereka melanjutkan perjalanan ke lantai teratas.

Angin malam menerpa wajah Naomi begitu pintu helipad terbuka.

Helikopter militer sudah menunggu dengan baling-baling berputar lambat, siap terbang begitu Naomi siap.

Pilot di dalamnya adalah orang kepercayaan Vance, terbang dengan alibi kunjungan kerja yang sudah diurus ayahnya jauh-jauh hari.

Naomi menaiki helikopter tanpa menoleh ke belakang.

Namun saat burung besi itu mulai mengangkat tubuhnya menjauh dari tanah Kota Lavel, Naomi tidak bisa menahan diri untuk memandang ke luar jendela.

Kota Lavel berpendar di bawahnya. Ribuan titik cahaya yang tersebar seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Kota tempat Naomi pernah tinggal sebagai istri Mayor Raiden Vargas.

Kota tempat Naomi pernah percaya bahwa pernikahannya akan berlangsung selamanya.

Namun semua itu sudah berakhir.

‘Benar,’ batin Naomi sambil menatap cahaya yang semakin mengecil itu. ‘Aku tidak bisa bercerai darimu, Raiden. Hukum militer di negeri ini tidak mengizinkannya.’

Naomi mengepalkan tangannya di atas lututnya. ‘Namun setelah semua yang kamu dan keluargamu lakukan padaku, aku tidak mungkin diam saja dan membiarkan anakku tumbuh di dalam kandang emas itu.’

‘Ini adalah satu-satunya cara untuk berpisah darimu. Satu-satunya caraku untuk bebas.’ Naomi menutup matanya sebentar. ‘Selamat tinggal, Raiden! Selamat tinggal, Naomi!’

Empat jam kemudian.

Ketika roda helikopter menyentuh tanah di Palvenia, tubuh Naomi terasa kaku karena duduk terlalu lama.

Kota perbatasan Negara Alveris itu jauh lebih gelap dari Kota Lavel. Pembangunan infrastruktur masih diusahakan di sini, supaya bisa mengejar ketertinggalan dari ibu kota yang megah.

Brandon turun lebih dulu dan mengulurkan tangan untuk membantu Naomi.

“Nona masih harus menempuh perjalanan darat selama dua jam menggunakan mobil dari sini,” ucapnya.

Angin dari baling-baling yang mulai melambat menerpa wajah Naomi. Rambutnya berkibar dan spontan dia mengangkat tangan untuk menepis rambut.

Naomi belum terbiasa dengan rambut pendeknya, sehingga wanita itu baru saja mengira bahwa dia masih memiliki rambut panjang.

“Ya,” jawab Naomi singkat. “Aku tahu.”

Brandon menatap Naomi sebentar sebelum melanjutkan, “Saya hanya bisa mengantar Nona sampai di sini. Mayor Raiden bisa curiga jika saya tidak ada di samping Jenderal Vance.”

Naomi mengerutkan dahi.

“Raiden jarang memiliki keperluan yang harus membuatnya pergi ke Markas Besar dan bertemu Papa.” Naomi berhenti sebentar. “Tapi baiklah. Aku bisa menyetir mobil sendiri dari sini.”

Naomi mengulurkan tangannya.

Brandon langsung mengerti. Dari saku mantelnya, pria itu mengeluarkan kunci mobil dengan gantungan logam sederhana dan menyerahkannya.

“Mobilnya memang sudah tua, tapi saya sudah memeriksanya dan performa mesinnya masih sangat baik, Nona Nao–”

“Nicolle.”

Brandon terdiam.

Naomi memandang Brandon lurus.

“Nicolle Phyer. Kau harus membiasakan memanggilku Nicolle. Naomi Fances, atau Vargas, sudah mati.” Sudut bibir Naomi tidak bergerak sedikit pun. “Kita baru saja datang ke pemakamannya.”

Hening sejenak.

“Siap, Nona Nicolle Phyer.”

Naomi, atau yang sekarang bernama Nicolle, mengangguk.

“Kalau begitu, Nona sudah boleh pergi sekarang.” Suara Brandon sedikit melunak. “Nona Kecil sudah menunggu di rumah.”

Nicolle menggenggam kunci mobil itu lebih erat, sebab di ujung perjalanan malam ini telah menunggu salah satu alasan dia rela mengubur nama Naomi selamanya.

Nona Kecil, putri yang baru beberapa hari lalu dia lahirkan. Darah daging Raiden yang tidak diakui.

prasidafai

Halo, mantemans. Selamat membaca buku ke-5 aku di GoodNovel. Sebelumnya aku mau disclaimer dulu, yaa ꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡ Novel ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, tempat, organisasi, dan peristiwa di dalam cerita adalah hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif untuk kepentingan narasi. Unsur kemiliteran dan kedokteran yang muncul dalam cerita tidak dimaksudkan sebagai representasi yang akurat dari prosedur atau institusi nyata. Karya ini dibuat semata-mata untuk tujuan hiburan. Soo, semoga terhibur, mantemans ꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡

| 22
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
rianur378
oke k Othor,,,aku akan menikmati nya semoga g ada drama berkepanjangan
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
lalu jasad siapa itu ?
goodnovel comment avatar
Yu Mi
akhirnyaaa ada Nona kecil ,gak sabar dah ahh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   220. Hal yang Meringankan

    “Ya.” Vance menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Lihat saja nanti di persidangan, Nao. Insting Papa jarang meleset.” Naomi terdiam. Ucapan Vance membuat satu potongan ingatan yang selama ini terkubur tiba-tiba muncul kembali. “Dia lumayan hebat di ranjang, meski memiliki wajah yang polos. Tapi sayang, sekarang kami sudah tidak bisa melakukan itu lagi,” ungkap Dante saat itu. Mata Naomi perlahan membelalak. “Jadi, wanita yang dia maksud adalah Lucy?” gumam Naomi lirih. Ruangan mendadak sunyi. Naomi memejamkan mata sejenak. Semua kepingan yang selama ini tercerai-berai perlahan mulai menyatu. Dante mengetahui identitas aslinya sebagai Naomi, padahal informasi itu hampir tidak diketahui siapa pun. Naomi mengembuskan napas panjang. “Lucy yang memberitahunya,” bisik Naomi pelan. Vance menatap putrinya tanpa menyela. Kini semuanya terasa jauh lebih masuk akal. Hampir dua minggu setelah Naomi keluar dari rumah sakit, persidangan Dante akhirnya dimulai. Naomi datang

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   219. Bicarakan Saja di Sini

    Sore itu, Raiden mengantar Tasya pulang ke rumah. Begitu mobil berhenti di halaman, Raiden turun lebih dulu. Dia membukakan pintu untuk ibunya, lalu berjalan mengantarnya sampai ke teras. “Aku harus berangkat lagi, Ma,” ujar Raiden sambil melirik mobilnya. Tasya yang sedang mencari kunci rumah menoleh. “Berangkat?” Kedua alis wanita paruh baya itu terangkat. “Bukannya kamu masih mendapat izin menjaga Nicolle?” “Masih.” Raiden mengangguk. “Tapi ada tugas pengganti di Markas Besar selama aku tidak berada di garis depan.” “Markas Besar?” “Iya.” Senyum tipis muncul di bibir Raiden. “Ada perintah langsung dari atasanku.” Raiden mengembuskan napas pelan. “Sepertinya ...” Pria itu terkekeh kecil. “Aku mulai dipercaya lagi. Kali ini tanpa bantuan siapa pun.” Tatapan Tasya melembut. Perlahan wanita paruh baya itu mengusap lengan putranya.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   218. Bayiku

    Jemari Raiden yang hangat mengusap perlahan punggung tangan Naomi yang bebas dari selang infus. “Tidak apa-apa,” jawab Raiden lembut. “Jangan terlalu dipikirkan. Kalau aku bisa kembali ke sini, berarti aku sudah mendapat izin.” “Benarkah?” Tatapan Naomi melembut. Raiden mengangguk. “Aku tidak akan meninggalkan tugasku sembarangan, Nao.” Sudut bibir Raiden terangkat tipis. Naomi tertawa pelan meski gerakan itu membuat sisi tubuhnya sedikit nyeri. “Baiklah,” jawabnya lirih. Raiden mengecup pelan punggung tangan Naomi sebelum kembali menggenggamnya. Malam itu akhirnya berlalu dengan tenang. Keesokan paginya, suara langkah kaki kecil berlari memenuhi lorong rumah sakit. “Mama!” Pintu kamar perawatan terbuka. Aveline langsung berlari menghampiri ranjang Naomi sebelum Raiden sempat mengejarnya. “P

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   217. Henti Jantung

    Suara gaduh terdengar samar di telinga Naomi.“Tekanan darah turun. Cepat, pindahkan ke ruang operasi!”“Jalur infus kedua sudah terpasang!”Kelopak mata Naomi bergerak pelan.Cahaya lampu yang menyilaukan langsung menyambut Naomi. Pandangannya masih kabur. Langit-langit putih rumah sakit bergerak perlahan di atas kepalanya.Naomi merasa tubuhnya berguncang mengikuti laju brankar yang didorong cepat di sepanjang koridor.Wajah-wajah panik para tenaga kesehatan menjadi pemandangan pertama yang berhasil ditangkap matanya.“Bu? Bu, apa Anda bisa mendengar saya?”Seorang dokter berlari di samping brankar sambil menyorotkan senter kecil ke mata Naomi.Naomi berusaha menjawab. Bibirnya sedikit terbuka. Namun rasa nyeri luar biasa langsung menjalar hingga ke rahangnya.“Ugh ....”Suara yang keluar hanya erangan pelan.“Jangan dipaksa bicara,” ujar dokter itu cepat. “Kami akan menanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   216. Raiden Memanggil

    Naomi menarik napas pendek.“Dante Emilio,” jawab Naomi.Di seberang telepon, Vance langsung terdiam.Beberapa detik kemudian terdengar suara kursi bergeser, seolah pria paruh baya itu baru saja menegakkan duduknya.“Putra pemilik RSPU yang kamu curigai sebagai dalang di balik kecelakaan Clara?” tanya Vance memastikan.“Iya, Pa,” jawab Naomi.Vance mengembuskan napas pelan.“Kalau soal itu, bersabarlah sekitar dua hari lagi,” pinta Vance.“Kenapa?” Naomi mengernyit.“Bukti terakhir sedang diverifikasi,” jawab Vance.Naomi langsung mendesah. “Bukannya tadi Papa bilang bisa menyelesaikannya sebelum aku sampai rumah? Perasaanku tidak enak, Pa. Dante sedang ada di Lavel.”“Dan ...” Naomi menggigit bibir bawahnya. “Dia sepertinya memiliki hubungan dengan Lucy.”Beberapa detik berikutnya tidak ada suara apa pun dari ujung telepon.Keheningan itu justru membuat Naomi semakin

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   215. Tukang Ngambek

    “Tante ....”Suara Naomi nyaris tidak terdengar.Melihat wanita yang selama bertahun-tahun selalu tampak tegar kini menangis tanpa mampu mengendalikan diri, dada Naomi terasa sesak.Tanpa berpikir panjang, Naomi bangkit dari kursinya. Dia perlaahan memeluk Tasya.Pelukan itu membuat Tasya sesaat membeku. Detik berikutnya, seluruh pertahanan wanita paruh baya itu runtuh.“Maaf ... maaf ....” Isaknya pecah semakin keras.Tasya membalas pelukan Naomi sambil menangis tanpa suara. Bahunya bergetar hebat. Air mata terus mengalir hingga membasahi bahu dan dada pakaian Naomi.Naomi hanya mengusap pelan punggung wanita paruh baya itu.Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kadang, tangisan adalah cara terbaik untuk mengeluarkan semua penyesalan yang terlalu lama dipendam.Naomi memejamkan mata.Selama ini Naomi selalu berpikir bahwa orang-orang yang menyakitinya harus menerima balasan dari tanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   150. Yang Seharusnya Bertemu, Akan Menemukan Jalannya

    Dokter itu melirik Naomi, seolah memastikan apakah wanita itu boleh mendengar tentang kondisi Vance atau tidak.“Dia aman,” sela Brandon meyakinkan.Dokter itu akhirnya menganggguk.“Jenderal Vance sudah melewati masa kritis.”Naomi mengembu

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   149. Naomi, Raiden, dan Lavel

    Naomi mengangkat kedua alisnya. “Pindah rumah sakit?” ulang wanita itu pelan, jelas terkejut. Tatapan Naomi langsung beralih pada Brandon, meminta penjelasan lebih lanjut. “Tidak dijelaskan alasan dan ke mana Mayor dipindahkan. Data seor

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   147. Terserah Kamu

    Naomi menatap Lucy beberapa detik tanpa berkedip.Senyum tipis di bibir wanita itu tidak berubah sedikit pun, tetapi justru itulah yang membuat Lucy perlahan kehilangan kata-kata.Koridor rumah sakit mendadak terasa sunyi.Lucy yang biasanya selalu pandai

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   145. Terbagi Dua

    Naomi perlahan menoleh.Tiga pasang mata memindai Naomi dari ujung kepala hingga ujung kaki.Naomi membalas tatapan itu satu per satu.Lucy tampak paling kacau di antara mereka. Rambut wanita itu sedikit berantakan, napasnya terengah, dan kedua matanya se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status