ログインHalo, mantemans. Selamat membaca buku ke-5 aku di GoodNovel. Sebelumnya aku mau disclaimer dulu, yaa ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡ Novel ini merupakan karya fiksi. Seluruh tokoh, tempat, organisasi, dan peristiwa di dalam cerita adalah hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif untuk kepentingan narasi. Unsur kemiliteran dan kedokteran yang muncul dalam cerita tidak dimaksudkan sebagai representasi yang akurat dari prosedur atau institusi nyata. Karya ini dibuat semata-mata untuk tujuan hiburan. Soo, semoga terhibur, mantemans ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡
Pukul tujuh malam. Tatapan Naomi masih tertuju pada nisan putih yang berdiri tegak di hadapannya. Nisan yang terukir namanya sendiri, Naomi Vargas. Beserta nama lain, Everly Vargas. Aneh rasanya membaca nama sendiri di atas batu mati. Naomi menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya bersama segala sesuatu yang tidak bisa lagi dia ucapkan. Semua pelayat sudah pergi sejak lama. Hanya dia yang tersisa, berdiri di atas tanah basah pemakaman militer dengan mantel hitam yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kini semakin kurus. “Nona.” Suara bariton itu memecah kesunyian. Naomi tidak menoleh, tetapi dia tahu siapa yang berbicara. Pria jangkung itu telah berdiri tiga langkah di belakangnya sejak tadi. “Kita harus segera pergi,” lanjut Brandon, bawahan Vance Frances yang diminta untuk mengawal Naomi hari ini. Naomi mengangguk sekali. Wanita itu membalikkan badan dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Brandon mengikutinya dua langkah di belakang. Di dalam mobil, Na
Raiden berjalan menaiki tiga anak tangga menuju pintu utama. Dia sempat berhenti di gagang pintu, mendadak ragu untuk masuk. Biasanya, Naomi akan berdiri di balik pintu utama setiap kali Raiden pulang. Wanita itu akan tersenyum lembut, lalu mengatakan sesuatu. “Raiden? Kau pulang lebih cepat hari ini? Atau mungkin …. “Jangan duduk dulu. Cuci tanganmu, Sayang. Makan malam hampir siap.” Namun kali ini Raiden tidak melihat siapa pun di sana. Raiden melepas dasinya sambil berjalan ke ruang tamu. Aroma cokelat manis yang selalu identik dengan kehadiran Naomi di rumah ini, kini tidak tercium lagi. Raiden menyapu pandangannya ke sekeliling rumah dengan raut wajah datar. Tidak ada air mata di wajahnya, tetapi dada pria itu terasa kosong, seperti lubang besar yang tidak bisa diisi apa pun. Raiden pernah berpikir bahwa dia sudah tidak lagi mencintai Naomi. Sejak hari dia mengetahui bahwa Naomi mengandung anak pria lain, hatinya terasa mati. Perasaan yang dulu hangat beruba
“Mama, Sera, jangan bicara seperti itu pada Kak Naomi.” Lucy mencoba melerai. “Kak Naomi sudah sangat baik padaku.”Lucy mengalihkan tatapannya pada Naomi.“Kak Naomi, maaf jadi seperti ini. Aku sebenarnya tidak berniat memberitahu soal tamu laki-laki Kak Naomi, hanya saja waktu itu aku mengigau dan keceplosan memberitahu Kak Raiden,” lanjut Lucy dengan mata berkaca-kaca.“Tidak perlu meminta maaf pada Naomi, Lucy,” tegur Raiden lembut. “Memang sudah seharusnya kau memberitahuku, bahwa istri yang aku nikahi ini, bukan lagi wanita yang dulu aku cintai.”Fitnah keji Lucy menyebar dengan cepat hingga ke telinga para istri perwira.Saat ada kegiatan khusus istri perwira, Naomi tidak lagi mendapat sambutan hangat dari mereka.“Ya, begitulah wanita licik. Dia selingkuh dengan pria lain hingga hamil, dan memanfaatkan statusnya sebagai istri Mayor Raiden. Kita semua tahu, perceraian dalam keluarga militer hampir mustahil dikabulkan,” bisik salah satu istri perwira.Mereka berbisik dengan suar
Lucy mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Naomi. Senyum gadis yang berusia tiga tahun lebih muda dari Naomi itu begitu lebar dan cerah.Namun Naomi tidak tergerak untuk menyambut uluran tangannya. Tatapan Naomi kembali ke manik cokelat Raiden.“Bagaimana dengan aku?” tanya Naomi menahan tangis.“Apa maksudmu?” Raiden mengernyitkan dahi. “Biarkan Lucy masuk lebih dulu. Kita bicara di dalam.”“Kenapa? Kau malu kalau tetangga tahu kau membawa seorang gadis yang bukan keluarga, tinggal di sini?” cetus Naomi seraya mengangkat kedua alisnya.“Naomi!” tegur Raiden, matanya menyalang penuh amarah. “Kantor sudah setuju. Untuk apa aku malu?”“Bagaimana dengan aku?” Naomi mengulang pertanyaannya. “Apa aku setuju Lucy tinggal di sini?”Raiden tertegun.Sementara mata Lucy menjadi berkaca-kaca. Dia sedikit terisak.Saat Naomi melihat Lucy yang sedang menahan tangis, sesuatu dalam dadanya terasa tidak nyaman. Lucy punya mata dan raut wajah yang mengundang iba saat gadis itu menangis.Bah
“Apa anak perempuan tidak perlu dijaga, Ma? Apa Raiden juga berpikir seperti Mama?” tanya Naomi lagi sambil menatap ibu mertuanya tidak percaya.“Apa maksudmu?” Tasya justru balik bertanya dan menatap Naomi dengan tatapan yang sama. “Kau sedang menyalahkan Mama dan Raiden? Kau yang tidak hati-hati sampai terpleset di kamar mandi!”“Mama yang bicara seolah anak perempuan tidak perlu dijaga dan diperhatikan. Dan asal Mama tahu, aku terpleset karena aku sudah mulai kesulitan membersihkan kamar mandi. Aku sudah minta tolong Raiden, tetapi dia terlalu sibuk bekerja.”Tasya menatap tajam Naomi.“Sekarang Mama paham kenapa Raiden mengabaikan kamu. Kamu tidak pernah mau salah dan selalu membolak-balikkan perkataan orang tua!” tegur Tasya dengan napas yang mulai memburu.Tasya mengambil tasnya di atas nakas dan melanjutkan, “Kamu itu istri seorang abdi negara, Naomi! Raiden baru saja diangkat menjadi Mayor, tentu saja dia sibuk mengabdi pada negara. Itu risiko yang harus kamu tanggung sejak ka
Upacara pemakaman militer akhirnya dilakukan dengan khidmat. Tidak pernah terbayangkan dalam 25 tahun hidupnya, Naomi akan datang ke upacara pemakamannya sendiri. Raiden mendapatkan banyak ucapan belasungkawa dari para perwira. Baik yang mengucapkannya secara langsung, lewat karangan bunga duka, atau pun keduanya. “Kami turut berduka cita, Mayor Raiden.” “Ada karangan bunga duka yang baru datang dari Jenderal Viktor, Mayor.” Air mata Naomi menetes saat tatapannya mengikuti Raiden. Pikirannya kembali ke masa lalu. Hubungan Naomi dan Raiden awalnya sangat manis. Mereka sudah saling mencintai sejak Naomi masih kuliah. Begitu Naomi lulus, Raiden langsung menikahinya. “Aku tidak mau kau keburu diambil orang,” ucap Raiden sambil menyentil manja ujung hidung Naomi. Satu setengah tahun pernikahan yang sangat membahagiakan, meski anak tidak kunjung hadir di antara mereka. Sampai tugas negara memanggil Raiden untuk pergi ke medan perang. Raiden pergi hanya enam bulan, tetapi dia menja







