ВойтиMaaf ya, mantemans. Dua hari ini jadwal tayangnya belum bisa seoptimal biasanya karena aku sedang kurang enak badan. Tapi aku akan tetap usahakan update setiap hari. jangan lupa komen, like , vote GEM, dan bintang limanya ya kakak. terima kasih (◍•ᴗ•◍)
Alex menoleh. Pria itu langsung menegang.“Mayor Raiden,” sapa Alex spontan memberi sikap hormat.Raiden dengan santai merangkul bahu Alex.“Kau tadi bilang apa, Kapten Alex?” ulang Raiden, kali ini penuh penekanan.Alex, alih-alih menciut, justru tersenyum lebar.“Berbuat mesum.” Alex menjawabnya tanpa ragu. “Saya pernah memergoki Mayor di ruangan waktu itu bersama Dokter Nicolle. Tadi pagi pun, Mayor dan Dokter terlalu terang-terangan di depan semua orang. Saya bisa mengerti, tapi orang lain tidak, Mayor.”Nicolle menghela napas panjang sambil mengalihkan pandangannya sesaat. “Jenderal Viktor juga melihat Mayor dan Dokter. Saya tidak mau Mayor mendapatkan masalah lagi,” tambah Alex sedikit khawatir.Ucapan itu membuat Nicolle langsung menoleh cepat.Namun sebelum Nicolle sempat mencerna sepenuhnya, Raiden sudah lebih dulu membekap mulut Alex dengan tangannya.“Mmff–!” Suara Alex teredam.Nicolle membelalak.“Masalah?” ulang Nicolle tidak percaya, tatapannya berpindah dari Alex ke R
“Siap, Jenderal,” sahut Raiden.Viktor hanya mengangguk tipis, lalu berbalik. Pria paruh baya itu langsung melangkah keluar dari zona medis.Sebelum mengikuti Viktor, Raiden sempat melirik Nicolle. Tatapan itu hanya berlangsung singkat, tetapi cukup untuk membuat dada Nicolle kembali menegang.Tanpa berkata apa-apa lagi, Raiden berbalik dan mengikuti Viktor dari belakang.Baru setelah punggung mereka benar-benar hilang di tikungan, Nicolle mengembuskan napas panjang penuh kelegaan.“Dokter Nicolle!” Olivia sudah ada di sampingnya bahkan sebelum Nicolle sempat mengumpulkan dirinya kembali.Perawat itu berdiri dengan clipboard di dada dan senyum lebar yang sangat kontras dengan situasi pascaserangan saat ini.“Bukannya Mayor Raiden sebentar lagi akan menikah?” lanjut Olivia tanpa basa-basi. “Dokter Nicolle tidak boleh–”“Tidak boleh apa?” potong Nicolle cepat sambil menyugar rambut ke belakang telinga. “Saya tidak melakukan apa-apa.”“Sebenarnya, kalau Dokter melakukan apa-apa pun tidak
“Lihat baik-baik,” tambah Raiden. Nicolle menunduk. Dua cincin kecil yang berkilauan itu tergeletak di telapak tangannya. Sementara Raiden memperhatikan setiap perubahan pada raut wajah wanita itu dengan lekat. Matahari yang mulai naik membuat segalanya tampak lebih jelas, termasuk ekspresi Nicolle. Mustahil Nicolle tidak mengenali benda itu. Hanya saja, beberapa saat yang lalu dia melihatnya dari kejauhan, di bawah cahaya redup. Wajar jika Nicolle salah mengira itu sebagai cincin pertunangan Raiden dan Lucy. Namun sekarang, setelah cincin itu berada di telapak tangan dan tepat di depan matanya, Nicolle tidak mungkin salah lagi. Dengan ukuran ‘N & R’ yang begitu membekas di hatinya. Jantung Nicolle berdebar keras. Tangannya yang memegang cincin gemetar. ‘Kenapa Raiden memakai cincin pernikahan kami, saat dia akan menikah dengan Lucy?’ tanya Nicolle dalam hati sambil mengernyitkan dahi. ‘Meski hanya dijadikan liontin, tetap saja ini aneh.’ Nicolle pikir, cincin itu sudah lama
Pintu mobil baru saja terbuka ketika Nicolle sudah lebih dulu turun.“Terima kasih tumpangannya, Mayor,” ucap Nicolle singkat tanpa menoleh. “Saya harus langsung ke zona medis.”Raiden terdiam di dalam mobil, membiarkan tatapannya mengikuti punggung wanita yang menjauh ke arah bangunan klinik.Raiden menghela napas.Setelah memastikan wanita itu benar-benar masuk ke dalam, pria itu mengeluarkan buku catatan kecil dari saku celana. Penanya bergerak tanpa ragu.[Empat, Dokter Nicolle punya putri yang usianya kurang lebih sama, jika seandainya Everly lahir.]Raiden menutup buku itu dan mengembalikannya ke tempat semula.Di sisi lain, Nicolle langsung tenggelam dalam kesibukan begitu memasuki zona medis.Aroma antiseptik yang tajam langsung menyambutnya.“Dokter Nicolle, akhirnya Anda datang.”Henry berdiri di dekat meja administrasi dengan beberapa
Raiden mengembuskan napas pelan.Udara malam yang dingin keluar bersama embusan itu, seolah membawa pergi sebagian ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka.Pria itu memejamkan mata sesaat, rahangnya yang semula mengeras perlahan mengendur. Saat kembali membuka mata, tatapannya tidak lagi setajam tadi.“Saya minta maaf, Dokter,” sesal Raiden. “Cara saya memang salah.”Nicolle menatap Raiden sambil mengangkat salah satu alisnya.“Sebagai permintaan maaf,” lanjutnya sambil menatap Nicolle lurus, “saya akan membantu Dokter.”“Membantu?” ulang Nicolle penuh curiga sambil menyilangkan tangan di depan dada. “Atau mengganggu lagi?”Raiden sedikit mengangkat kedua sudut bibirnya.“Ada minimarket yang buka sampai malam. Lima belas menit dari sini.” Tatapan Raiden sekilas mengarah ke pintu rumah. “Saya bisa mengantar Dokter ke sana untuk membeli bahan pancakes selai stroberi.”Nicolle sesaat membek
Nicolle menoleh pada Mia dan memberikan kode supaya wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin Mia kembali membocorkan hal lain pada Raiden tanpa disadari. Mia menoleh sekilas ke arah Raiden, lalu kembali pada Nicolle. “S-saya permisi.” Mia segera berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Pintu utama tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Nicolle dan Raiden yang masih berdiri berhadapan di halaman rumah. Tidak ada jalan lagi untuk menyangkal. Nicolle menghela napas perlahan, mengatur segalanya di dalam dada sebelum akhirnya mengangkat dagu. “Aveline adalah putri saya,” jawab Nicolle akhirnya. Nicolle memang tidak ingin Raiden tahu soal Aveline, tetapi jika sudah seperti ini, dia tidak mungkin tidak mengakui Aveline. Rahang Raiden mengeras. Tatapan Raiden bergeser dari Nicolle ke arah pintu yang baru saja tertutup, lalu kembali ke wajah wanita di dep
Ada yang berbeda dari rumah Raiden saat ini. Raiden sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia tidur nyenyak. Bunyi dering telepon membelah keheningan kamar. Raiden membuka matanya. Cahaya pagi yang baru saja mener
Aveline melambai dari balik pintu kelas sampai tubuh kecilnya tidak terlihat lagi di antara kerumunan anak-anak lain. Nicolle berdiri di luar pagar sebentar, memastikan Aveline sudah masuk ke kelas, sebelum akhirnya berbalik ke mobilnya. Di dalam mobil, Nicolle melir
“Iris Cooper, B.A.,” jawab wanita itu sambil menyibakkan rambutnya ke belakang bahu. Deretan gelang emas di pergelangan tangannya bergerincing pelan. Cahaya matahari siang memantul pada logam kuning itu, membuat kilauannya semakin mencolok. Dua huruf t
Beberapa detik pertama, tidak ada yang bersuara. Di kejauhan, tawa anak-anak yang belum pulang masih terdengar samar. Nicolle tidak langsung menjawab. Wanita itu masih menatap Iris dengan tenang, tetapi kali ini lebih dingin dari sebelumnya. Sudah sejak lama, Nicolle tidak menyukai perkumpulan







