Beranda / Romansa / Melawan Takdir Antagonis / Wajah milik antagonis

Share

Wajah milik antagonis

Penulis: safanida
last update Tanggal publikasi: 2026-08-22 22:09:27

Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya.

Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam.

"Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.

Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru.

"Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan.

"Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini."  Sydney masih memandangi deretan barang itu.

"Banyak banget, aku sampai bingung mau pilih yang mana.” Sydney mengusap tengkuknya yang masih basah.

"Pak Abraham berpesan supaya Nona memilih yang paling disukai." 

Sydney berjalan mendekati tempat tidur.

Tangannya menyentuh lembut baju dress berwarna krem yang terasa sangat halus.

"Bahan yang embut, apa ini asli?" Dia kemudian melihat sebuah tas berwarna hitam dengan logo brand teratas yang sangat dikenalnya .

Mereka mengangguk dengan sopan. "Tentu, Nona. Semua koleksi di kamar sebelah memang milik Nona."

Sydney baru ingat di cerita salah satu kamar ada Walk-in closet dengan pintu kaca memenuhi sisi ruangan. Di dalamnya tergantung puluhan pakaian yang tersusun berdasarkan warna. Rak sepatu dipenuhi sneakers, heels, dan boots yang masih tampak baru. Meja rias marmer putih dipenuhi parfum, skincare, serta kotak perhiasan yang tertata rapi.

"Orang sekaya ini ternyata hidupnya begini." Dia sampai mengembuskan napas pelan.

"Nona kurang suka dengan pilihan kami?" tanya Ratna, pembantu itu hati-hati.

Sydney langsung menggeleng.

"Bukan gitu, aku cuma masih kagum.”

Para pembantu saling berpandangan,

salah satu dari mereka terkekeh pelan.

"Nona suka bercanda." Bi Ratna buru-buru menyenggol dengan sukunya, mengingatkan kalau itu kurang sopan.

"Iya ... mungkin." Sydney ikut tersenyum canggung. Mereka sedikit tertegun karena respon berbeda dari biasanya. Namun pembantu yang lebih muda mengangkat satu set pakaian berwarna putih dan biru muda.

"Nona, bagaimana kalau memakai ini? Jadwal hari ini hanya ke perusahaan."

Sydney mengernyit. "Perusahaan? Aku lupa sama kegiatan hari ini."

"Iya, Nona. Bukannya hari ini mulai magang?"

Sydney baru teringat. Hari ini dia akan lebih sering bertemu Nara.Jantungnya kembali berdegup sedikit lebih cepat.

Ratna kembali bertanya, "Nona kurang suka warna putih?" Dia kembali meletakkan dengan pelan.

"Bukan. Aku pakai yang ini aja dan sama tas itu.” Sydney menunjuk salah satu tas sekaligus menerima pakaian itu dari tangan Ratna. Kemeja polos dan celana panjang.

"Kalau untuk aksesori, Nona ingin memakai jam ini atau yang emas?" Ratna menunjuk dengan sopan di bantu membuka satu persatu oleh pembantu yang lebih muda.

Sydney langsung mengangkat kedua tangannya, mereka berhenti bergerak.

"Aku cuma magang, kan?Harus semewah ini."

Ruangan mendadak hening. Ratna yang paling tua tersenyum tipis.

"Nona biasanya justru meminta kami menyiapkan lebih banyak pilihan."

Sydney terkekeh canggung.

"Mulai sekarang... yang sederhana aja. Silahkan kalian keluar nanti aku keburu telat." Mereka saling berpandangan, namun tetap mengangguk dan pergi dengan sopan.

Setelah selesai dengan persiapannya Sydney segera turun dari kamarnya. Meskipun dia merasa malas tapi berharap alur hari ini sedikit baik untuknya. Sedangkan Abraham memperhatikan penampilan putrinya dari ujung kepala sampai kaki.

"Kamu ga pakai heels?"

"Hari pertama magang. Aku cuma pengen nyaman." Sydney ikut melihat sepatunya sendiri.

"Biasanya kamu paling keras kepala soal penampilan." Abraham tersenyum kecil melihat sikap yang berbeda. Seolah ada harapan untuk lebih baik sejak dia merasa sering memanjakan nya 

"Ayah, kan, orang juga bisa berubah.” Sydney ikut terkekeh pelan.

"Hari ini kamu berangkat sama Nara." Abraham mengusap pundak Sydney dengan lembut.

Sydney menoleh cepat.

"Hah? Ayah… kan aku bisa berangkat sendiri ngapain harus sama Nara," Sydney menghembuskan nafas kesal.

"Dia yang akan membimbing mu. Jadi lebih efisien kalau kalian berangkat bersama.” Abraham menepuk pundak Sydney pelan, seperti menyalurkan keyakinan kepada anaknya.

“Lagian ini juga salah satu keinginan kamu. Kenapa sekarang menolak dengan keras." 

"Dia, udah datang?" Jantung Sydney kembali berdetak lebih cepat.

“Kebetulan dia baru aja sampai.”

Abraham memandang mobil BMW hitam yang memasuki halaman rumah. mengangguk ke arah halaman.

Nara keluar dengan tenang menggunakan setelan jas abu gelap yang dikenakannya terlihat rapi. Mendengar langkah kaki Sydney, Nara mengangkat kepala.

"Pagi Nara." Sydney menyapa dengan senyum. Nara hanya membalas mengangguk. 

Nara membuka pintu mobil samping supir.

"Silakan masuk."

Sampai di dalam Sydney baru sadar dengan sikapnya seakan di luar kendali.

Dalam cerita hari pertama magang dimulai dengan pertengkaran mereka. Permintaan ini Nara menolak. Sydney sengaja datang terlambat, lalu menyalahkan Nara di depan semua karyawan. Sekarang semuanya berbeda.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Hanya suara mesin dan lalu lintas yang terdengar. Sydney diam-diam melirik pria di sampingnya.

Wajahnya tetap datar dan tatapannya lurus ke depan. Seolah tidak ada yang menarik untuk diperhatikan.

“Kenapa dia ga menolak? Apa alur terjadi lebih cepat.” Batin Sydney masih memperhatikan Nara.

"Kamu gugup?" tanya Nara menyadari gelagatnya. Pertanyaan yang singkat itu membuat Sydney buru-buru membenarkan posisi duduknya.

"Namanya juga hari pertama." Sydney tersenyum canggung.

"Takut melakukan kesalahan?" Nara melirik Sydney dari kaca.

“Ga usah banyak tanya fokus aja tuh, lagi nyetir juga. Kalo terjadi tabrakan hebat gimana coba." Sydney menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Bagus. Orang yang merasa dirinya ga mungkin salah biasanya justru paling sering membuat masalah.” 

Sydney mengernyit.

"Maksud kamu aku sering buat kesalahan."

Sudut bibir Nara terangkat, menunjukkan senyum sinis. "Itu nanti kita lihat."

Mobil perlahan berhenti beberapa meter sebelum memasuki area perusahaan. Dari jauh gedung tinggi berlapis kaca berdiri megah di hadapan mereka. Logo perusahaan terpampang besar di bagian depan.

“Silahkan turun dan jalan kaki sampai di tujuan.” Nara membuka kunci pintu. Namun suara itu seperti usiran keras untuk dirinya.

“Kalo ga ikhlas ngomong dong ga usah kek gini. Percuma tau ga jemput tapi ga sampai tujuan.” Sydney melepas seatbelt dengan kasar. Namun Nara tetap diam meninggalkan Sydney berdiri sendiri. Jalan ini cukup sepi menuju kantor hanya terlihat beberapa karyawan yang berlalu lalang setelah turun dari kendaraan umum.

Memasuki gedung perusahaan dia segera menuju ruangan Nara yang ada di lantai atas di dampingi oleh salah satu karyawan. Pintu lift terbuka kebetulan berpapasan Nara dari arah lain. Dia bisa mengikuti dari belakang. 

"Sydney mulai hari ini… aku ga peduli kamu anak Pak Abraham atau bukan. Selama magang, aku memperlakukan semua orang sama.” Nara membuka pintu terpampang nametag gelarnya CEO Golden Barbo.

Saat langkah Sydney memasuki ruangan pandangan langsung bertemu dengan Kei yang sudah berdiri di dekat meja. Dia tersenyum lebar menyambut kedatangannya. Namun suasana ini dengan cepat berubah menjadi hening.

“Kenapa dia ada di sini?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Melawan Takdir Antagonis    Perjodohan Nara dengan Sydney

    “Kalau Gea benar-benar hamil anak Zayn, terus aku harus gimana?” Sydney bergumam pelan sambil memeluk lututnya. Dia duduk sendiri di pool area, pandangannya terpaku pada permukaan air yang tenang. Hari ini terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Kepalanya terasa penuh karena setiap jawaban justru membawa pertanyaan baru. “Aku bahkan nggak tahu harus pergi ke mana kalau semua orang di cerita ini mulai berubah.” Dia mengangkat wajah ketika angin malam menyentuh rambutnya. “Aku nggak bisa terus menghindari mereka.” Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap pantulan dirinya di permukaan kolam. “Tapi kalau aku mendekat, semuanya malah semakin rumit. Siapa yang bisa membantu aku tetap aman.” Dia terdiam cukup lama lalu dia mengacak rambutnya karena frustasi. “Ini makin nggak ada solusi yang ada aku malah pusing … paling bener aku pulang ke asal kalo Gea hamil anak Zayn seenggaknya aku masih hidup.” “Mbak Sydney tadi ada yang datang cuma nitip

  • Melawan Takdir Antagonis    Cerita menolak berakhir

    Sejak kejadian di danau, Sydney merasa ada sesuatu yang berubah dalam sikap Nara. Tatapannya terasa lebih sering mengikuti setiap gerak-geriknya. Bahkan setelah dokter mengizinkannya pulang, Nara masih beberapa kali menanyakan kondisinya. “Kamu kenapa liatin aku terus kayak gitu?” Sydney merapikan tali tas di bahunya sambil menatap Nara tidak jauh. Nara memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku cuma memastikan kamu benar-benar udah pulih,” jawab Nara datar. Tatapannya turun sebentar ke wajah Sydney sebelum kembali menatap lurus ke depan. “Setelah apa yang terjadi di danau, menurutku wajar kalau aku memperhatikan kondisimu.” Nara menekan tombol lift. Sydney mengernyit mendengar jawaban itu. Perkataan Nara mengingatkannya pada kejadian di tepi danau, terutama kesadaran asli Sydney mengambil alih tubuh kembali. “Aku udah bilang waktu itu, kalau aku bicara aneh anggap aja aku sedang nggak sadar.” Sydney mengangkat telunjuk seolah sedang memberikan peringatan. Nara hanya me

  • Melawan Takdir Antagonis    Tertukar kembali

    “Nara!” Teriak Sydney tidak sempat meraih apapun. Nara melihat Sydney tenggelam semakin dalam melangkah cepat kearah bibir danau. “Pegang tangan aku,” teriak Nara berusaha meraih tangan Sydney sesekali bisa muncul ke permukaan. Tangannya bergerak mencari permukaan, tetapi tubuhnya terasa berat dan nafasnya mulai tersendat. Dari atas, suara Nara terdengar samar memanggil namanya tidak lama bayangan tubuhnya ikut menyusul ke dalam air. Satu tangan meraih pinggang Sydney dan menarik tubuhnya ke atas dengan kuat menuju tepian. “Sydney,” panggil Nara masih dengan nafas terengah-engah. “Sydney, kamu dengar aku, kan.” Nara menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan kesadarannya masih ada. Kelopak mata Sydney bergerak sedikit. Nara menatap wajahnya menunggu kesadaran benar-benar pulih, kemudian memeriksa napasnya yang nyaris tidak terdengar. Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat jelas di wajah dinginnya ketika dia menyadari Sydney tidak kunjung bernapas dengan normal. “Sial.

  • Melawan Takdir Antagonis    Bagian Yang Tidak tertulis

    “Kamu benar-benar nggak ingat aku?” Kalimat Elvan masih terngiang di kepala Sydney bahkan setelah malam berganti. "Sebenarnya kamu tuh siapa?" Sydney menghembuskan napas panjang. Dia sudah mencoba mengingat semua bagian cerita yang pernah dibacanya. Nama-nama karakter utama, karakter pendukung, bahkan tokoh yang hanya muncul sebentar. Tidak ada Elvan. Semakin dia mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa penuh. Langkahnya terhenti menuju pintu masuk ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. "Nara sama Kei berangkat bareng. Seharusnya aku yang ada di posisi Kei," gumam Sydney, memperhatikan Nara turun dari kursi pengemudi disusul Kei keluar dari samping. Keduanya berjalan berdampingan menuju gedung. Tidak ada percakapan yang bisa didengarnya. Kei hanya sesekali menoleh kepada Nara. "Kalau Elvan memang bukan bagian dari cerita. Kemungkinan ada bagian yang diubah.” Sydney mengerutkan kening. “Barusan yang aku lihat juga bagian dari alur yang diubah?" Sydney menatap Nar

  • Melawan Takdir Antagonis    Bertemu nama dalam mimpi

    Sydney tersentak bangun. Dia menatap sekeliling dengan mata yang masih berkunang. Tirai panjang bergerak pelan terkena hembusan angin dari jendela sedikit terbuka. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya langsung meraba bagian tubuh yang tadi terkena tembakan. Tidak ada bekas luka ataupun darah yang mengalir. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Ah … cuma mimpi?” Sydney menelan ludah. Ruangan ini mungkin sepi tapi di luar terdengar samar aktivitas membuat sedikit lega. Tangannya masih gemetar. “Gila ... mimpi apaan tadi,” Sydney menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun suara tembakan dalam mimpinya masih terasa terlalu nyata. “Kenapa rasanya nyata banget … cukup Sydney itu cuma mimpi,” gumamnya. Sydney menggeleng cepat. Wajah sosok yang berdiri di ujung lorong itu terus terbayang. Sydney merasa diri cukup tenang, dia buru-buru berdiri lalu menatap sofa tempat dirinya berbaring. “Ini kan, ruangan kerja Nara. Jangan bilang aku pings

  • Melawan Takdir Antagonis    Kematian peran antagonis

    Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status