เข้าสู่ระบบUap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya.
Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.
Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru.
"Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan.
"Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu.
"Banyak banget, aku sampai bingung mau pilih yang mana.” Sydney mengusap tengkuknya yang masih basah.
"Pak Abraham berpesan supaya Nona memilih yang paling disukai."
Sydney berjalan mendekati tempat tidur.
Tangannya menyentuh lembut baju dress berwarna krem yang terasa sangat halus."Bahan yang embut, apa ini asli?" Dia kemudian melihat sebuah tas berwarna hitam dengan logo brand teratas yang sangat dikenalnya .
Mereka mengangguk dengan sopan. "Tentu, Nona. Semua koleksi di kamar sebelah memang milik Nona."
Sydney baru ingat di cerita salah satu kamar ada Walk-in closet dengan pintu kaca memenuhi sisi ruangan. Di dalamnya tergantung puluhan pakaian yang tersusun berdasarkan warna. Rak sepatu dipenuhi sneakers, heels, dan boots yang masih tampak baru. Meja rias marmer putih dipenuhi parfum, skincare, serta kotak perhiasan yang tertata rapi.
"Orang sekaya ini ternyata hidupnya begini." Dia sampai mengembuskan napas pelan.
"Nona kurang suka dengan pilihan kami?" tanya Ratna, pembantu itu hati-hati.
Sydney langsung menggeleng.
"Bukan gitu, aku cuma masih kagum.”Para pembantu saling berpandangan,
salah satu dari mereka terkekeh pelan. "Nona suka bercanda." Bi Ratna buru-buru menyenggol dengan sukunya, mengingatkan kalau itu kurang sopan."Iya ... mungkin." Sydney ikut tersenyum canggung. Mereka sedikit tertegun karena respon berbeda dari biasanya. Namun pembantu yang lebih muda mengangkat satu set pakaian berwarna putih dan biru muda.
"Nona, bagaimana kalau memakai ini? Jadwal hari ini hanya ke perusahaan."
Sydney mengernyit. "Perusahaan? Aku lupa sama kegiatan hari ini."
"Iya, Nona. Bukannya hari ini mulai magang?"
Sydney baru teringat. Hari ini dia akan lebih sering bertemu Nara.Jantungnya kembali berdegup sedikit lebih cepat.
Ratna kembali bertanya, "Nona kurang suka warna putih?" Dia kembali meletakkan dengan pelan.
"Bukan. Aku pakai yang ini aja dan sama tas itu.” Sydney menunjuk salah satu tas sekaligus menerima pakaian itu dari tangan Ratna. Kemeja polos dan celana panjang.
"Kalau untuk aksesori, Nona ingin memakai jam ini atau yang emas?" Ratna menunjuk dengan sopan di bantu membuka satu persatu oleh pembantu yang lebih muda.
Sydney langsung mengangkat kedua tangannya, mereka berhenti bergerak.
"Aku cuma magang, kan?Harus semewah ini."Ruangan mendadak hening. Ratna yang paling tua tersenyum tipis.
"Nona biasanya justru meminta kami menyiapkan lebih banyak pilihan."Sydney terkekeh canggung.
"Mulai sekarang... yang sederhana aja. Silahkan kalian keluar nanti aku keburu telat." Mereka saling berpandangan, namun tetap mengangguk dan pergi dengan sopan.Setelah selesai dengan persiapannya Sydney segera turun dari kamarnya. Meskipun dia merasa malas tapi berharap alur hari ini sedikit baik untuknya. Sedangkan Abraham memperhatikan penampilan putrinya dari ujung kepala sampai kaki.
"Kamu ga pakai heels?"
"Hari pertama magang. Aku cuma pengen nyaman." Sydney ikut melihat sepatunya sendiri.
"Biasanya kamu paling keras kepala soal penampilan." Abraham tersenyum kecil melihat sikap yang berbeda. Seolah ada harapan untuk lebih baik sejak dia merasa sering memanjakan nya
"Ayah, kan, orang juga bisa berubah.” Sydney ikut terkekeh pelan.
"Hari ini kamu berangkat sama Nara." Abraham mengusap pundak Sydney dengan lembut.
Sydney menoleh cepat.
"Hah? Ayah… kan aku bisa berangkat sendiri ngapain harus sama Nara," Sydney menghembuskan nafas kesal."Dia yang akan membimbing mu. Jadi lebih efisien kalau kalian berangkat bersama.” Abraham menepuk pundak Sydney pelan, seperti menyalurkan keyakinan kepada anaknya.
“Lagian ini juga salah satu keinginan kamu. Kenapa sekarang menolak dengan keras."
"Dia, udah datang?" Jantung Sydney kembali berdetak lebih cepat.
“Kebetulan dia baru aja sampai.”
Abraham memandang mobil BMW hitam yang memasuki halaman rumah. mengangguk ke arah halaman.Nara keluar dengan tenang menggunakan setelan jas abu gelap yang dikenakannya terlihat rapi. Mendengar langkah kaki Sydney, Nara mengangkat kepala.
"Pagi Nara." Sydney menyapa dengan senyum. Nara hanya membalas mengangguk.
Nara membuka pintu mobil samping supir.
"Silakan masuk."Sampai di dalam Sydney baru sadar dengan sikapnya seakan di luar kendali.
Dalam cerita hari pertama magang dimulai dengan pertengkaran mereka. Permintaan ini Nara menolak. Sydney sengaja datang terlambat, lalu menyalahkan Nara di depan semua karyawan. Sekarang semuanya berbeda.Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Hanya suara mesin dan lalu lintas yang terdengar. Sydney diam-diam melirik pria di sampingnya.
Wajahnya tetap datar dan tatapannya lurus ke depan. Seolah tidak ada yang menarik untuk diperhatikan.“Kenapa dia ga menolak? Apa alur terjadi lebih cepat.” Batin Sydney masih memperhatikan Nara.
"Kamu gugup?" tanya Nara menyadari gelagatnya. Pertanyaan yang singkat itu membuat Sydney buru-buru membenarkan posisi duduknya.
"Namanya juga hari pertama." Sydney tersenyum canggung.
"Takut melakukan kesalahan?" Nara melirik Sydney dari kaca.
“Ga usah banyak tanya fokus aja tuh, lagi nyetir juga. Kalo terjadi tabrakan hebat gimana coba." Sydney menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Bagus. Orang yang merasa dirinya ga mungkin salah biasanya justru paling sering membuat masalah.”
Sydney mengernyit.
"Maksud kamu aku sering buat kesalahan."Sudut bibir Nara terangkat, menunjukkan senyum sinis. "Itu nanti kita lihat."
Mobil perlahan berhenti beberapa meter sebelum memasuki area perusahaan. Dari jauh gedung tinggi berlapis kaca berdiri megah di hadapan mereka. Logo perusahaan terpampang besar di bagian depan.
“Silahkan turun dan jalan kaki sampai di tujuan.” Nara membuka kunci pintu. Namun suara itu seperti usiran keras untuk dirinya.
“Kalo ga ikhlas ngomong dong ga usah kek gini. Percuma tau ga jemput tapi ga sampai tujuan.” Sydney melepas seatbelt dengan kasar. Namun Nara tetap diam meninggalkan Sydney berdiri sendiri. Jalan ini cukup sepi menuju kantor hanya terlihat beberapa karyawan yang berlalu lalang setelah turun dari kendaraan umum.
Memasuki gedung perusahaan dia segera menuju ruangan Nara yang ada di lantai atas di dampingi oleh salah satu karyawan. Pintu lift terbuka kebetulan berpapasan Nara dari arah lain. Dia bisa mengikuti dari belakang.
"Sydney mulai hari ini… aku ga peduli kamu anak Pak Abraham atau bukan. Selama magang, aku memperlakukan semua orang sama.” Nara membuka pintu terpampang nametag gelarnya CEO Golden Barbo.
Saat langkah Sydney memasuki ruangan pandangan langsung bertemu dengan Kei yang sudah berdiri di dekat meja. Dia tersenyum lebar menyambut kedatangannya. Namun suasana ini dengan cepat berubah menjadi hening.
“Kenapa dia ada di sini?”
Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t
Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."
Sydney menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Seharusnya dia tidak perlu khawatir soal pertemuan ini, tapi tetap saja dia sedikit takut. Saat pintu terbuka pelan menampilkan koridor rumah itu begitu sunyi. Hingga suara langkah kakinya terdengar jelas di antara dinding yang menjulang tinggi."Ini cuma pertemuan biasa. Harusnya ga seburuk itu," batin Sydney menenangkan diri, di ujung kepalanya kembali berdenyut dengan cemas tangannya meraih handrail sebagai tumpuan.Kilasan ingatan bermunculan begitu saja. Meja makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup krim, steak, dan roti panggang memenuhi ruangan. Ayah Sydney duduk di kursi paling ujung sambil membuka beberapa berkas. Di sebelahnya duduk Nara sambil memainkannya gelas berisi air.“Nona, maaf, tadi saya berniat untuk ke atas. Bapak meminta anda turun,” ucap pembantu rumah sambil menunduk sopan. Spontan Sydney menegakkan tubuhnya lagi.“Makasih, tapi jangan panggil nona itu membuat ku canggung, mulai har
“Ini bukan rumah sakit,” ucap Sydney seperti lebih berbicara pada dirinya sendiri.Kei mengernyit. “Ya jelas bukan. Kamu ada di kamar kamu sendiri.“Kamar aku?Aku masuk ke cerita ini.” Sydney menggigit ujung ibu jarinya. Semua terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi rasanya terlalu asing untuk menjadi hidupnya sendiri. Kei buru-buru menarik tangannya, bahkan sedikit menyakitkan karena kekuatan yang diberikan terlalu besar.“Aduh! Jangan sembarangan nyentuh dong! Kamu jelas sengaja kasar sama aku kan.” Sydney menghentakkan genggaman Kei dengan kasar, tatapan mata yang tadinya bingung berubah menjadi marah. “Kamu kenapa sih, Aku cuma khawatir kamu menyakitkan dirimu sendiri.” Kei mundur dengan langkah bingung.Sydney menyeringai dengan nada sinis, meskipun dalam hatinya dia tidak benar-benar marah. Dia merasa harus bertindak sesuai dengan karakter Sydney yang dia kenal dari cerita. “Kamu pasti senang liat aku seperti ini kan? Pingsan dan tidak ingat apa-apa, jadi kamu bisa melakukan a
“Makasih pak.” Satu lembar uang lima puluh ribu dia serahkan.Letta menatap jalan basah di gang menuju rumah Zayn. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Kotak kue yang sempat tertinggal dia ambil kembali. Hujan belum benar-benar reda, tapi dia tetap berjalan cepat. Hari ini mungkin akan menjadi momen yang ditunggu mengingat ini ulang tahun Zayn. Hadiah sudah disiapkan dengan matang dan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di balik itu ada harapan yang masih dia genggam.“Kan jadi basah.” Letta mengusap baju dan ujung rambutnya begitu sampai di halaman rumah milik Zayn. “Tapi rotinya aman sih.” Dia mengeluarkan roti dari kardus kemudian memasang lilin dan menghidupkan api dengan hati-hati.“Semoga kamu suka,” gumamnya pelan. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Namun tidak ada sahutan, dia memutuskan melangkah masuk dengan pintu sudah sedikit terbuka. Langkahnya membeku melihat Zayn mencium perempuan lain di depan matanya. Pandangannya turun







