Share

Tubuh yang lain

Author: safanida
last update publish date: 2026-08-22 22:08:57

“Ini bukan rumah sakit,” ucap Sydney seperti lebih berbicara pada dirinya sendiri.

Kei mengernyit. “Ya jelas bukan. Kamu ada di kamar kamu sendiri.

“Kamar aku?Aku masuk ke cerita ini.” Sydney menggigit ujung ibu jarinya. Semua terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi rasanya terlalu asing untuk menjadi hidupnya sendiri. Kei buru-buru menarik tangannya, bahkan sedikit menyakitkan karena kekuatan yang diberikan terlalu besar.

 

“Aduh! Jangan sembarangan nyentuh dong! Kamu jelas sengaja kasar sama aku kan.” Sydney menghentakkan genggaman Kei dengan kasar, tatapan mata yang tadinya bingung berubah menjadi marah. 

“Kamu kenapa sih, Aku cuma khawatir kamu menyakitkan dirimu sendiri.” Kei mundur dengan langkah bingung.

Sydney menyeringai dengan nada sinis, meskipun dalam hatinya dia tidak benar-benar marah. Dia merasa harus bertindak sesuai dengan karakter Sydney yang dia kenal dari cerita. 

“Kamu pasti senang liat aku seperti ini kan? Pingsan dan tidak ingat apa-apa, jadi kamu bisa melakukan apa saja padaku!” sahut Sydney dengan suara yang lebih tinggi, menutupi rasa bingung yang menyelimuti dirinya. 

 

“Aku cuma nolongin kamu doang, ga ada maksud lain.” Kei meremas jemarinya menyembunyikan getaran takut, suaranya memecah keheningan yang sempat tercipta.

“Jangan bohong! Alasan kamu ga akan mengubah cara pandang aku ke kamu.” Sentak Sydney memotong jarak. Kei reflek mundur sampai punggungnya menyentuh permukaan lemari. Dia tahu Kei sebenarnya tidak salah, tapi karakter Sydney yang ditempati seharusnya tidak akan mempercayai siapapun.

 

Sekilas ingatan Sydney berputar di kepala dengan momen terpotong membuat kepalanya berputar. Dia memijat pelipisnya, mata yang biasanya tajam kini terlihat bingung antara karakter yang dimainkan dan dirinya sendiri. Di cermin, wajah yang muncul benar-benar asing, terlihat sempurna. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam mata itu.

 

“Itu karena aku temanmu. Udah pasti aku ingin ada saat kamu senang atau susah!” ucap Kei buru-buru melihat Sydney kembali bingung. Sydney berpaling dengan cepat, matanya menatap Kei dengan sinis.

“Kamu menyebut dirimu teman. Apa kamu sudah mulai merencanakan sesuatu untukku?”

 

Kei terdiam, kepalanya semakin menunduk seakan tatapan Sydney bisa membunuhnya.

“Kamu itu pembohong,” ucap Sydney pelan tapi penuh dengan tekanan. “Semua yang kamu lakukan hanya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Iya kan?” Sydney mengambil napas dalam-dalam, coba menahan getaran di tubuhnya. Suasana ruangan ini terasa semakin berat dan sulit untuk dihirup. Hanya diisi dengan bunyi napas mereka yang tidak teratur. 

 

“Semua itu salah! Aku ga ada rencana apapun.”  Keduanya terdiam saling menatap hingga terdengar suara ketukan yang kuat di pintu kamar, membuat kedua wanita itu terkejut kaget. Suara pria yang terdengar dari luar terdengar tegas dan membuat dada Sydney terasa semakin sesak.

 

“Siapa di luar?” tanya Kei dengan suara yang sedikit bergetar.

 

“ini aku, Nara,” suara itu terdengar jelas dan tegas. “Apa aku boleh masuk?”

Kei segera memalingkan wajahnya ke arah Sydney, seperti bertanya persetujuannya. Tapi Sydney malah menggigit bagian bawah bibirnya. Nama itu mampu membuatnya takut.

“Masuk,” balas Sydney, meski dengan suara lebih pelan daripada yang dia harapkan. Dia mengamati knop pintu yang berputar pelan, tiap gerakan seperti peringatan untuknya.

Seorang pria tinggi masuk dengan langkah pelan. Tampilan Nara sudah berbeda dari beberapa menit yang lalu. Warna hitam rambutnya sangat rapi, jas abu senyawa yang dipakainya tampak mahal dan sempurna tidak ada satu lipatan pun. Matanya langsung menatap Sydney, tajam tapi misterius. 

Nara menaikan alisnya melihat Sydney berusaha menghindar dari tatapannya.

"Kamu keliatan baru melihat mahluk gaib."

Sydney menoleh pelan menatap Nara dengan mata mengejap berusaha tetap terlihat normal. Dia memegang dadanya mulai merasa jantungnya jantungnya berdegup lebih keras seperti euforia yang sudah lama. Ada hal apa dengan ingatan tubuh ini. Dia membenci hal ini dengan  perasaan yang bukan miliknya.

“Tadi aku dengar keributan di luar.” Tatapan Nara beralih pada Kei yang berdiri tegang di dekat tempat tidur.

“Aku harap kamu ga salah paham. Aku  sama Sydney cuma …. ” Sydney memotong cepat sebelum Kei menjelaskan lebih lanjut.

“Dia membuatku pusing.” Sydney memijat pelipisnya meyakinkan penyebab dari Kei. Kei membelalak tidak percaya sekaligus bingung. Bukankah terlihat ribut dari tadi dia jelas penyebab bukan dirinya.

Nara memandang mereka bergantian sebelum berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat suasana kamar terasa makin sempit. Sydney buru-buru memberi tanda berhenti dengan mengangkat tangan.

“Kepalamu masih sakit?” tanyanya datar. Namun tatapan matanya memastikan keadaan Sydney. 

 

“Hah? sakit?” ulang Sydney tidak percaya dengan perhatian Nara. Nara terdiam beberapa detik, memperhatikan wajahnya dengan teliti seolah sedang mencari sesuatu.

“Aku baik-baik aja kok,” ucap Sydney terbata karena matanya sempat bertemu dengan mata hitam bercampur coklat itu.

“Kamu berubah,” ucapnya pelan. Kalimat itu membuat tengkuk Sydney meremang.

Apa dia sadar? Tidak mungkin. Sydney buru-buru memalingkan wajah dan bersedekap. Dia menggigit ujung jarinya dengan khawatir, takut dia akan mati lebih cepat karena tau dalam tubuh Sydney bukan asli melainkan orang lain.

“Kalau cuma mau bilang gitu, lebih baik keluar.”

Kei terlihat semakin cemas melihat ketegangan tercipta di antara mereka. “Sydney, jangan bicara seperti itu. Mungkin dia mau menebus kesalahan tadi.”

“Ga perlu.” Sydney menatap Ke dengan sinis. Dia butuh pembelaan saat seperti ini. Namun Nara justru terkekeh pelan. Anehnya, tawa itu tidak terdengar hangat sama sekali.

“Bagus dong, Aku kesini cuma memastikan kamu belum mati,” katanya santai sambil memasukkan tangan ke saku celana.

Kei langsung menatap tajam. “Nara!” 

Sydney ikut terpancing emosi, meskipun sebagian dirinya tahu pria ini memang dingin sejak awal.

“Sayang sekali aku masih hidup ya?” balas Sydney sinis, matanya menatap Nara dengan tajam. Dia menganggap ucapan Nara sebagai peringatan atau ancaman.

Ruangan kembali sunyi. Nara menatapnya cukup lama hingga Sydney merasa seolah seluruh pikirannya sedang dibaca paksa. Lalu pria itu tersenyum sinis seolah ucapnya tidak pernah salah.

“Kebetulan malam ini ada pertemuan keluarga,” ucap Nara sambil melihat jam di tangan kirinya menjelaskan kedatangan aslinya. Mata Sydney melotot kaget, dia merasa alur cerita ini terlalu cepat.

“Ayahmu meminta kamu turun,” lanjut Nara berbalik untuk pergi. 

“Aku tidak tertarik,” celetuk Sydney menatap punggung Nara yang hampir hilang di balik pintu.

“Itu bukan permintaan.” Nara hanya menatap sekilas lalu berbalik menuju pintu seolah tidak peduli dengan penolakan itu. 

“Oh,yaa….” Langkah Nara berhenti.

Tatapannya justru tertuju pada Kei.

“Kadang orang berubah lebih cepat dari yang kita kira.” Tatapannya justru tertuju pada Kei, lalu menatap sekilas Sydney.

Kei mengernyit. “Maksudmu?”

Nara tersenyum tipis. “Cuma saran, jangan terlalu yakin kalau kamu sudah mengenal seseorang sepenuhnya.”

“Udah belum yapping nya? ga usah kelamaan disini,” Sahut Sydney sembari duduk di pinggir kasur.

Nara tetap membuka pintu. “Tapi biasanya masalah dimulai saat seseorang menganggap tidak ada yang berubah, padahal semuanya sudah berbeda.”

Kei memutar bola matanya. “Aku ga paham sama omonganmu.”

“Bagus, aku ga perlu menjelaskan lebih panjang.” 

Nara melangkah keluar dengan tenang. Pintu tertutup pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Melawan Takdir Antagonis    Kematian peran antagonis

    Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t

  • Melawan Takdir Antagonis    Wajah milik antagonis

    Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."

  • Melawan Takdir Antagonis    Alur yang mulai berubah

    Sydney menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Seharusnya dia tidak perlu khawatir soal pertemuan ini, tapi tetap saja dia sedikit takut. Saat pintu terbuka pelan menampilkan koridor rumah itu begitu sunyi. Hingga suara langkah kakinya terdengar jelas di antara dinding yang menjulang tinggi."Ini cuma pertemuan biasa. Harusnya ga seburuk itu," batin Sydney menenangkan diri, di ujung kepalanya kembali berdenyut dengan cemas tangannya meraih handrail sebagai tumpuan.Kilasan ingatan bermunculan begitu saja. Meja makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup krim, steak, dan roti panggang memenuhi ruangan. Ayah Sydney duduk di kursi paling ujung sambil membuka beberapa berkas. Di sebelahnya duduk Nara sambil memainkannya gelas berisi air.“Nona, maaf, tadi saya berniat untuk ke atas. Bapak meminta anda turun,” ucap pembantu rumah sambil menunduk sopan. Spontan Sydney menegakkan tubuhnya lagi.“Makasih, tapi jangan panggil nona itu membuat ku canggung, mulai har

  • Melawan Takdir Antagonis    Tubuh yang lain

    “Ini bukan rumah sakit,” ucap Sydney seperti lebih berbicara pada dirinya sendiri.Kei mengernyit. “Ya jelas bukan. Kamu ada di kamar kamu sendiri.“Kamar aku?Aku masuk ke cerita ini.” Sydney menggigit ujung ibu jarinya. Semua terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi rasanya terlalu asing untuk menjadi hidupnya sendiri. Kei buru-buru menarik tangannya, bahkan sedikit menyakitkan karena kekuatan yang diberikan terlalu besar.“Aduh! Jangan sembarangan nyentuh dong! Kamu jelas sengaja kasar sama aku kan.” Sydney menghentakkan genggaman Kei dengan kasar, tatapan mata yang tadinya bingung berubah menjadi marah. “Kamu kenapa sih, Aku cuma khawatir kamu menyakitkan dirimu sendiri.” Kei mundur dengan langkah bingung.Sydney menyeringai dengan nada sinis, meskipun dalam hatinya dia tidak benar-benar marah. Dia merasa harus bertindak sesuai dengan karakter Sydney yang dia kenal dari cerita. “Kamu pasti senang liat aku seperti ini kan? Pingsan dan tidak ingat apa-apa, jadi kamu bisa melakukan a

  • Melawan Takdir Antagonis    Nama yang bukan miliknya

    “Makasih pak.” Satu lembar uang lima puluh ribu dia serahkan.Letta menatap jalan basah di gang menuju rumah Zayn. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Kotak kue yang sempat tertinggal dia ambil kembali. Hujan belum benar-benar reda, tapi dia tetap berjalan cepat. Hari ini mungkin akan menjadi momen yang ditunggu mengingat ini ulang tahun Zayn. Hadiah sudah disiapkan dengan matang dan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di balik itu ada harapan yang masih dia genggam.“Kan jadi basah.” Letta mengusap baju dan ujung rambutnya begitu sampai di halaman rumah milik Zayn. “Tapi rotinya aman sih.” Dia mengeluarkan roti dari kardus kemudian memasang lilin dan menghidupkan api dengan hati-hati.“Semoga kamu suka,” gumamnya pelan. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Namun tidak ada sahutan, dia memutuskan melangkah masuk dengan pintu sudah sedikit terbuka. Langkahnya membeku melihat Zayn mencium perempuan lain di depan matanya. Pandangannya turun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status