เข้าสู่ระบบSydney menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Seharusnya dia tidak perlu khawatir soal pertemuan ini, tapi tetap saja dia sedikit takut. Saat pintu terbuka pelan menampilkan koridor rumah itu begitu sunyi. Hingga suara langkah kakinya terdengar jelas di antara dinding yang menjulang tinggi.
"Ini cuma pertemuan biasa. Harusnya ga seburuk itu," batin Sydney menenangkan diri, di ujung kepalanya kembali berdenyut dengan cemas tangannya meraih handrail sebagai tumpuan.
Kilasan ingatan bermunculan begitu saja. Meja makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup krim, steak, dan roti panggang memenuhi ruangan. Ayah Sydney duduk di kursi paling ujung sambil membuka beberapa berkas. Di sebelahnya duduk Nara sambil memainkannya gelas berisi air.
“Nona, maaf, tadi saya berniat untuk ke atas. Bapak meminta anda turun,” ucap pembantu rumah sambil menunduk sopan. Spontan Sydney menegakkan tubuhnya lagi.
“Makasih, tapi jangan panggil nona itu membuat ku canggung, mulai hari ini panggil aja mbak.” Sydney tersenyum sopan lalu melanjutkan jalannya.
"Sydney," panggil ayahnya. Sydney berjalan mendekat tanpa semangat. Bahkan posisi meja persis seperti ingatannya.
Sydney menarik kursi dengan suara gesekan yang cukup keras.“Keliatan ada hal yang cukup serius deh.”Sydney menarik kursi berhadapan dengan Nara.
Ayah Sydney menutup laptop di depannya. "Sydney ga mungkin kamu lupa kalo besok bakalan magang di perusahaan Nara."
"Ayah serius?” Sydney langsung mengangkat kepala sekaligus bingung. Dia tidak merasa pernah bilang seperti itu.
"Iya, kamu yang minta untuk lebih mendalami prodi yang sedang dijalankan." Abraham menatap Nara dan Sydney secara bergantian.
"Aku ga mau. Kenapa harus di perusahaan dia?" Sydney menatap malas Nara yang tersenyum tipis.
"Ini bukan pilihan.Karena kamu masih harus banyak belajar,” ucap Abraham dengan tegas menolak Sydney untuk protes.
“Kenapa dari dia?”Sydney mendecak pelan.Tatapannya diam-diam terus mengarah pada Nara. Pria itu tetap terlihat tenang, seolah penolakan Sydney bukan masalah besar.
Nara menggeser gelas kosong di depannya dengan ujung jari, lalu melirik sekilas ke arah pembantu yang membawa air sekaligus mengisi ulang minuman. Gerakan sederhana itu membuat kepala Sydney tercekat. Dia mengingat kejadian setelah ini. Dia yang buru-buru berdiri dari kursinya.
"Nara dari pada air putih aku ambilin minuman kesukaan kamu.” Tanpa menunggu jawaban, dia berlari ke dapur. Tangannya sibuk memilih minuman, bahkan mengganti gelas beberapa kali sampai merasa tampilannya sempurna.
"Buat kamu." Sydney kembali membawa segelas jus dingin, lalu meletakkannya tepat di depan Nara.
"Makasih." Nara mengangguk tipis. Belum sempat gelas itu disentuh, Kei datang dari arah dapur membawa secangkir kopi hangat.
"Ini kopi untuk kamu, kayaknya hari ini belum sempat minum kopi aku buat sendiri.” Kei tersenyum lebar ke arah Nara. Tatapan Nara langsung beralih. Tangannya lebih dulu menerima kopi itu. Sedangkan jus yang disiapkan Sydney tetap utuh di atas meja.
Mengingat hal itu membuat Sydney beberapa kali menoleh mencari keberadaan Kei. Tidak lama kemudian Kei muncul dari arah dapur. Semuanya terjadi sama persis. Cangkir putih yang diletakkan tepat di depan Nara. Sydney membenci tatapan Nara langsung beralih pada kopi itu.
"Makasih, Kei." Kalimat itu benar-benar keluar dari mulut Nara. Namun sekarang, Sydney memilih tetap duduk. Dia hanya menjadi penonton dari cerita yang pernah dibacanya sendiri.
Kei sempat melirik Sydney beberapa kali. Ekspresinya berubah bingung. Biasanya Sydney pasti sudah melontarkan komentar pedas atau mencari alasan untuk memancing keributan. Namun malam ini, perempuan itu justru terlalu tenang.
“Kamu suka ga sama kopinya?” Kei menatap Nara dengan senyum lebar.
"Ada yang salah?” Nara perlahan meletakkan cangkir di atas meja menimbulkan bunyi . Suara kecil itu membuat Sydney refleks mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.
"Ga ada aku cuma heran kenapa dia belum pulang? Kupikir urusan kamu di sini udah selesai.” Sydney menatap tidak nyaman seakan Kei terus membuntuti.
Kei tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Belum, tadi pak Abraham minta aku ikut makan malam dulu sebelum pulang."
"Kalau gitu aku minta sekarang kamu pulang.” Sydney menggeser gelas masih kosong. Dia merasa sedikit haus setelah mengusir Kei secara halus.
Kei mengepalkan jemarinya pelan. "Tapi Pak Abraham yang nyuruh aku tetap di sini."
"Itu urusan nanti." Sydney menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Sekarang aku yang nyuruh kamu pulang. Aku ga suka orang asing terlalu lama ada di rumah ini.”
“Ternyata mengusir tamu memang semudah itu bagimu.” Nara berdiri dari duduknya kemudian mengambil jas di sampirkan di kursi.
“Kamu pulang aja sekalian.” ucap Sydney dengan ketus lalu meneguk air putih.
“Udah Nara, kita pulang aja.” Kei menggenggam tangan Nara dengan lembut.
“Kei, Nara, kenapa udah mau pulang?” sahut Abraham yang baru muncul dari lorong menuju ruang makan. Tatapannya bergantian melihat ketiganya, lalu berhenti pada kursi yang masih dipenuhi makanan.
“Duduk dulu, Kei. Belum ada yang selesai makan. Belum ada yang selesai makan.” Abraham memberi isyarat dengan tangannya. Kei kembali ragu, pandangannya beralih kepada Nara. Nara hanya mengangguk kecil, memberi tanda agar Kei mengikuti ucapan Abraham. Perlahan Kei kembali menarik kursinya.
Sydney mengepalkan jemarinya di bawah meja. Sekeras apapun alurnya tetap sama. Dia berdiri dari duduknya tubuh Sydney limbung. Dia berusaha berpegangan pada sandaran kursi, tetapi kehilangan tenaga.pusing kembali menghantam kepalanya membuat langkahnya tersandung. Ini bukan ingatan muncul kembali atau ini efek dari pengubah alur?
Belum sempat tubuh Sydney benar-benar jatuh ke lantai, Nara lebih dulu menangkapnya. Satu tangan menopang punggungnya, sementara tangan lain menahan bagian belakang lututnya. Kelopak matanya terbuka setengah, napasnya terdengar berat.
“Nara… kepala aku pusing,” ucap Sydney lirih, dia meremas kemeja Nara.
“Bawa dia ke kamarnya di lorong sebelah kanan, sementara bawa aja ke sana.” Panik Abraham membuka ponsel buru-buru menelpon dokter.
Nara mendorong pintu kamar menggunakan bahunya, lalu berjalan menuju tempat tidur dengan Sydney yang masih berada dalam gendongannya Dia membungkukkan tubuh perlahan. Satu lengannya tetap menopang punggung Sydney, sementara tangan satunya menahan bagian belakang kepalanya agar tidak terbentur dengan gerakannya tenang dan hati-hati.
Sydney mengerang pelan. Alisnya berkerut, seolah masih melawan rasa sakit di kepalanya.
"Napasnya udah mulai normal?" tanya Abraham yang baru masuk ke kamar.
Nara mengangguk singkat. "Udah lumayan mungkin dia butuh istirahat."
"Kepalanya terbentur lagi?" Abraham menatap khawatir.
"Ga Pak Abraham kayaknya aman."
Abraham mengembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya sendiri.
"Anak itu bikin Ayah khawatir."
Nara tetap menatap Sydney yang masih memejam. "Dia memang pingsan. Tapi… terlalu berbeda."
Abraham mengernyit. "Berbeda gimana?"
"Biasanya dia ga akan membiarkan siapa pun menyentuhnya." Nara mengalihkan pandangan sebentar ke arah Abraham.
"Atau mungkin ada hal lain."
"Jangan mulai menebak-nebak dulu. Kita tunggu dokter datang." Abraham menghela napas pelan.
Nara tidak menjawab. Tatapannya kembali jatuh pada wajah Sydney yang tampak jauh lebih tenang daripada yang pernah dia kenal. Entah kenapa, semakin lama dia memperhatikan perempuan itu, semakin kuat perasaan bahwa ada sesuatu yang berubah. Bukan sekadar sikap atau cara bicaranya, melainkan sosok yang berada di balik tatapan mata itu.
Satu persatu mulai keluar dari kamar menyisakan Sydney yang masih memejamkan mata, perlahan menghembuskan napas panjang. Dia tidak benar-benar tertidur. Sejak tadi dia mendengar seluruh percakapan Nara dan Abraham.
"Dia mulai curiga, bukannya bagus kalau dia tau biar aku bisa cepat pulang ke dunia asli,” batinnya sambil menatap langit kamar sedangkan tangannya mengepal di balik selimut.
Namun, ada satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. "Kalau aku terus mengubah cerita, siapa yang akan berubah lebih dulu? Mereka atau aku?”
Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t
Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."
Sydney menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Seharusnya dia tidak perlu khawatir soal pertemuan ini, tapi tetap saja dia sedikit takut. Saat pintu terbuka pelan menampilkan koridor rumah itu begitu sunyi. Hingga suara langkah kakinya terdengar jelas di antara dinding yang menjulang tinggi."Ini cuma pertemuan biasa. Harusnya ga seburuk itu," batin Sydney menenangkan diri, di ujung kepalanya kembali berdenyut dengan cemas tangannya meraih handrail sebagai tumpuan.Kilasan ingatan bermunculan begitu saja. Meja makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup krim, steak, dan roti panggang memenuhi ruangan. Ayah Sydney duduk di kursi paling ujung sambil membuka beberapa berkas. Di sebelahnya duduk Nara sambil memainkannya gelas berisi air.“Nona, maaf, tadi saya berniat untuk ke atas. Bapak meminta anda turun,” ucap pembantu rumah sambil menunduk sopan. Spontan Sydney menegakkan tubuhnya lagi.“Makasih, tapi jangan panggil nona itu membuat ku canggung, mulai har
“Ini bukan rumah sakit,” ucap Sydney seperti lebih berbicara pada dirinya sendiri.Kei mengernyit. “Ya jelas bukan. Kamu ada di kamar kamu sendiri.“Kamar aku?Aku masuk ke cerita ini.” Sydney menggigit ujung ibu jarinya. Semua terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi rasanya terlalu asing untuk menjadi hidupnya sendiri. Kei buru-buru menarik tangannya, bahkan sedikit menyakitkan karena kekuatan yang diberikan terlalu besar.“Aduh! Jangan sembarangan nyentuh dong! Kamu jelas sengaja kasar sama aku kan.” Sydney menghentakkan genggaman Kei dengan kasar, tatapan mata yang tadinya bingung berubah menjadi marah. “Kamu kenapa sih, Aku cuma khawatir kamu menyakitkan dirimu sendiri.” Kei mundur dengan langkah bingung.Sydney menyeringai dengan nada sinis, meskipun dalam hatinya dia tidak benar-benar marah. Dia merasa harus bertindak sesuai dengan karakter Sydney yang dia kenal dari cerita. “Kamu pasti senang liat aku seperti ini kan? Pingsan dan tidak ingat apa-apa, jadi kamu bisa melakukan a
“Makasih pak.” Satu lembar uang lima puluh ribu dia serahkan.Letta menatap jalan basah di gang menuju rumah Zayn. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Kotak kue yang sempat tertinggal dia ambil kembali. Hujan belum benar-benar reda, tapi dia tetap berjalan cepat. Hari ini mungkin akan menjadi momen yang ditunggu mengingat ini ulang tahun Zayn. Hadiah sudah disiapkan dengan matang dan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di balik itu ada harapan yang masih dia genggam.“Kan jadi basah.” Letta mengusap baju dan ujung rambutnya begitu sampai di halaman rumah milik Zayn. “Tapi rotinya aman sih.” Dia mengeluarkan roti dari kardus kemudian memasang lilin dan menghidupkan api dengan hati-hati.“Semoga kamu suka,” gumamnya pelan. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Namun tidak ada sahutan, dia memutuskan melangkah masuk dengan pintu sudah sedikit terbuka. Langkahnya membeku melihat Zayn mencium perempuan lain di depan matanya. Pandangannya turun







