เข้าสู่ระบบ
“Makasih pak.” Satu lembar uang lima puluh ribu dia serahkan.
Letta menatap jalan basah di gang menuju rumah Zayn. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Kotak kue yang sempat tertinggal dia ambil kembali. Hujan belum benar-benar reda, tapi dia tetap berjalan cepat. Hari ini mungkin akan menjadi momen yang ditunggu mengingat ini ulang tahun Zayn. Hadiah sudah disiapkan dengan matang dan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di balik itu ada harapan yang masih dia genggam.
“Kan jadi basah.” Letta mengusap baju dan ujung rambutnya begitu sampai di halaman rumah milik Zayn.
“Tapi rotinya aman sih.” Dia mengeluarkan roti dari kardus kemudian memasang lilin dan menghidupkan api dengan hati-hati.
“Semoga kamu suka,” gumamnya pelan. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Namun tidak ada sahutan, dia memutuskan melangkah masuk dengan pintu sudah sedikit terbuka.
Langkahnya membeku melihat Zayn mencium perempuan lain di depan matanya. Pandangannya turun ke meja di depan mereka. Roti ulang tahun berserakan. Beberapa minuman terbuka. Seolah perayaan itu memang sudah dimulai tanpa dirinya.
“Zayn…” suaranya lirih. Hadiah di genggamannya jatuh ke lantai.
Suara benda itu menyadarkan keberadaannya.Zayn menoleh dengan wajah panik. “Letta, ini bukan…”
“Apa?” ucapnya pelan. “Mau bilang apa lagi?”
“Kamu salah paham.” Zayn melangkah mendekat.
“Salah paham?” ulang Letta. “Aku lihat sendiri.”
“Tadi aku cuma nemenin dia. Ga lebih,” sahut Gea menyangkal kejadian tadi.
“Ciuman itu juga nemenin?” Letta menatap lurus. Gea tersenyum tipis, terlihat puas dapat merebut Zayn darinya.
“Letta, dengar dulu… ” Zayn meraih tangan Letta dengan lembut. Namun Letta menepis kuat.
“Ga usah.”
Tanpa memberi kesempatan Zayn menyangkal kejadian tadi, Letta berlari secepat mungkin meninggalkan rumah itu.
Langkahnya semakin cepat sehingga jalan basah membuatnya hampir tersandung.“Letta, berhenti!” suara Zayn terdengar semakin dekat
Persimpangan jalan terdapat cahaya mobil menyambar dari samping dengan kllakson memecah udara. Letta menoleh.
“Zayn!”
Tubuhnya terserempet hingga terpental beberapa meter. Tasnya terhempas, barang-barang berserakan. Novel yang belum selesai dia baca melayang tinggi sebelum jatuh ke aspal yang basah.
Zayn berlari mendekat berlutut di samping Letta, dengan hati-hati mengangkat kepala yang sudah dipenuhi darah yang mengalir ke atas pangkuan.
“Kamu dengar aku? Letta!”
Letta masih sadar. Denyut sakit di kepala terasa kuat. “Zayn… selamatkan aku. Tolong,” suaranya hampir tak terdengar.
Buku tadi jatuh terbuka pada halaman acak.Pandangan Letta terpaku pada halaman itu.
“Ambulans! Cepat!” suara Zayn terdengar panik. Namun suara itu semakin jauh berganti dengan gelap perlahan menutup.
Dan bersamaan dengan itu, dia merasa dirinya terseret masuk ke dalam dunia lain.
Suara keras menghantam kepalanya dan perlahan orang-orang mulai berdatangan mengerumuni tubuh yang terbaring di area lapangan basket.Letta mengerjapkan mata perlahan. Pandangannya buram. Kepalanya berdenyut.
“Eh… Pelan aja bangunnya.”
Dia mencoba duduk dibantu Kei dengan memegang bagian kepala yang terasa sakit.
“Aku dimana?” Melihat sekeliling yang berbeda.
“Kamu di rumah. Tadi aku liat kamu pingsan di area lapangan?” ucap Kei buru-buru menjelaskan dengan menundukkan kepala.
Lapangan?
Dia menatap sekelilingyang pertama ia lihat bukan langit-langit kamarnya yang biasa, melainkan plafon tinggi dengan cahaya hangat tersembunyi di sela list putih bersih. Udara di ruangan itu dingin dan wangi, bukan bau hujan atau aspal basah.“Zayn…” namanya lolos tanpa sadar. Ingatan tentang lampu mobil dan suara klakson menghantam kepala kembali. Dia spontan menyingkirkan selimut dari dan turun dari kasur. Namun gerakan berhenti saat telapak kakinya menyentuh karpet empuk. Bukan lantai dingin yang biasa ia rasakan setiap pagi.
Letta menunduk.
Dia menyadari itu bukan kakinya. Kulitnya lebih cerah. Jemarinya lebih ramping dan terlihat terawat. Tidak ada bekas luka sedikitpun.Dia menoleh ke cermin besar di dinding. Bayangannya terlihat pucat, tapi pakaiannya berbeda. Bukan baju yang ia kenakan tadi malam.
“Ini bukan aku,” bisiknya pelan, suaranya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.
“Itu kamu. Kamu ga amnesia kan Sydney?” ucap Kei memberanikan diri.
“Namaku Sydney?” ulangnya.
Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t
Uap hangat masih memenuhi kamar mandi saat Sydney mematikan keran shower. Dia mengusap embun yang menempel di cermin besar di depannya. Pantulan wajah itu membuat sedikit tersentak, lalu terdiam terdiam."Aku masih belum terbiasa.” Dia menghela napas panjang, lalu meraih handuk putih tebal yang tergantung di samping wastafel. Setelah membungkus rambut dan tubuhnya, Sydney menggeser pintu bergeser pelan.Langkahnya langsung terhenti. Sydney berkedip beberapa kali karena kaget ada dua orang pembantu sudah berdiri rapi di dalam kamar. Di atas tempat tidur terbentang beberapa set pakaian dari berbagai merek ternama. Di sampingnya berjejer tas kulit, sepatu hak tinggi, perhiasan sederhana, hingga jam tangan yang masih berada di dalam kotak beludru."Ini semuanya disiapin buat aku." Sydney menatap wajah mereka bergantian. Salah satu dari mereka tersenyum sopan."Selamat pagi, Nona Sydney. Kami sudah menyiapkan pakaian untuk kegiatan hari ini." Sydney masih memandangi deretan barang itu."
Sydney menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamarnya. Seharusnya dia tidak perlu khawatir soal pertemuan ini, tapi tetap saja dia sedikit takut. Saat pintu terbuka pelan menampilkan koridor rumah itu begitu sunyi. Hingga suara langkah kakinya terdengar jelas di antara dinding yang menjulang tinggi."Ini cuma pertemuan biasa. Harusnya ga seburuk itu," batin Sydney menenangkan diri, di ujung kepalanya kembali berdenyut dengan cemas tangannya meraih handrail sebagai tumpuan.Kilasan ingatan bermunculan begitu saja. Meja makan keluarga sudah dipenuhi berbagai hidangan. Aroma sup krim, steak, dan roti panggang memenuhi ruangan. Ayah Sydney duduk di kursi paling ujung sambil membuka beberapa berkas. Di sebelahnya duduk Nara sambil memainkannya gelas berisi air.“Nona, maaf, tadi saya berniat untuk ke atas. Bapak meminta anda turun,” ucap pembantu rumah sambil menunduk sopan. Spontan Sydney menegakkan tubuhnya lagi.“Makasih, tapi jangan panggil nona itu membuat ku canggung, mulai har
“Ini bukan rumah sakit,” ucap Sydney seperti lebih berbicara pada dirinya sendiri.Kei mengernyit. “Ya jelas bukan. Kamu ada di kamar kamu sendiri.“Kamar aku?Aku masuk ke cerita ini.” Sydney menggigit ujung ibu jarinya. Semua terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi rasanya terlalu asing untuk menjadi hidupnya sendiri. Kei buru-buru menarik tangannya, bahkan sedikit menyakitkan karena kekuatan yang diberikan terlalu besar.“Aduh! Jangan sembarangan nyentuh dong! Kamu jelas sengaja kasar sama aku kan.” Sydney menghentakkan genggaman Kei dengan kasar, tatapan mata yang tadinya bingung berubah menjadi marah. “Kamu kenapa sih, Aku cuma khawatir kamu menyakitkan dirimu sendiri.” Kei mundur dengan langkah bingung.Sydney menyeringai dengan nada sinis, meskipun dalam hatinya dia tidak benar-benar marah. Dia merasa harus bertindak sesuai dengan karakter Sydney yang dia kenal dari cerita. “Kamu pasti senang liat aku seperti ini kan? Pingsan dan tidak ingat apa-apa, jadi kamu bisa melakukan a
“Makasih pak.” Satu lembar uang lima puluh ribu dia serahkan.Letta menatap jalan basah di gang menuju rumah Zayn. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Kotak kue yang sempat tertinggal dia ambil kembali. Hujan belum benar-benar reda, tapi dia tetap berjalan cepat. Hari ini mungkin akan menjadi momen yang ditunggu mengingat ini ulang tahun Zayn. Hadiah sudah disiapkan dengan matang dan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di balik itu ada harapan yang masih dia genggam.“Kan jadi basah.” Letta mengusap baju dan ujung rambutnya begitu sampai di halaman rumah milik Zayn. “Tapi rotinya aman sih.” Dia mengeluarkan roti dari kardus kemudian memasang lilin dan menghidupkan api dengan hati-hati.“Semoga kamu suka,” gumamnya pelan. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Namun tidak ada sahutan, dia memutuskan melangkah masuk dengan pintu sudah sedikit terbuka. Langkahnya membeku melihat Zayn mencium perempuan lain di depan matanya. Pandangannya turun







