Inicio / Romansa / Melawan Takdir Antagonis / Nama yang bukan miliknya

Compartir

Melawan Takdir Antagonis
Melawan Takdir Antagonis
Autor: safanida

Nama yang bukan miliknya

Autor: safanida
last update Fecha de publicación: 2026-08-22 22:05:09

“Makasih pak.” Satu lembar uang lima puluh ribu dia serahkan.

Letta menatap jalan basah di gang menuju rumah Zayn. Lampu kendaraan memantul di aspal yang licin. Kotak kue yang sempat tertinggal dia ambil kembali. Hujan belum benar-benar reda, tapi dia tetap berjalan cepat. Hari ini mungkin akan menjadi momen yang ditunggu mengingat ini ulang tahun Zayn. Hadiah sudah disiapkan dengan matang dan detak jantungnya yang kian tak beraturan. Di balik itu ada harapan yang masih dia genggam.

“Kan jadi basah.” Letta mengusap baju dan ujung rambutnya begitu sampai di halaman rumah milik Zayn. 

“Tapi rotinya aman sih.” Dia mengeluarkan roti dari kardus kemudian memasang lilin dan menghidupkan api dengan hati-hati.

“Semoga kamu suka,” gumamnya pelan. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat untuk mengetuk. Namun tidak ada sahutan, dia memutuskan melangkah masuk dengan pintu sudah sedikit terbuka. 

Langkahnya membeku melihat Zayn mencium perempuan lain di depan matanya. Pandangannya turun ke meja di depan mereka. Roti ulang tahun berserakan. Beberapa minuman terbuka. Seolah perayaan itu memang sudah dimulai tanpa dirinya.

“Zayn…” suaranya lirih. Hadiah di genggamannya jatuh ke lantai.

Suara benda itu menyadarkan keberadaannya.

Zayn menoleh dengan wajah panik. “Letta, ini bukan…”

“Apa?” ucapnya pelan. “Mau bilang apa lagi?”

“Kamu salah paham.” Zayn melangkah mendekat.

“Salah paham?” ulang Letta. “Aku lihat sendiri.”

“Tadi aku cuma nemenin dia. Ga lebih,” sahut Gea menyangkal kejadian tadi.

“Ciuman itu juga nemenin?” Letta menatap lurus. Gea tersenyum tipis, terlihat puas dapat merebut Zayn darinya.

“Letta, dengar dulu… ” Zayn meraih tangan Letta dengan lembut. Namun Letta menepis kuat.

“Ga usah.” 

Tanpa memberi kesempatan Zayn menyangkal kejadian tadi, Letta berlari secepat mungkin meninggalkan rumah itu.

Langkahnya semakin cepat sehingga jalan basah membuatnya hampir tersandung.

“Letta, berhenti!” suara Zayn terdengar semakin dekat

Persimpangan jalan terdapat cahaya mobil menyambar dari samping dengan kllakson memecah udara. Letta menoleh.

“Zayn!”

Tubuhnya terserempet hingga terpental beberapa meter. Tasnya terhempas, barang-barang berserakan. Novel yang belum selesai dia baca melayang tinggi sebelum jatuh ke aspal yang basah.

Zayn berlari mendekat berlutut di samping Letta, dengan hati-hati mengangkat kepala yang sudah dipenuhi darah yang mengalir ke atas pangkuan.

“Kamu dengar aku? Letta!”

Letta masih sadar. Denyut sakit di kepala terasa kuat. “Zayn… selamatkan aku. Tolong,” suaranya hampir tak terdengar.

Buku tadi jatuh terbuka pada halaman acak.Pandangan Letta terpaku pada halaman itu.

“Ambulans! Cepat!” suara Zayn terdengar panik. Namun suara itu semakin jauh berganti dengan gelap perlahan menutup.

Dan bersamaan dengan itu, dia merasa dirinya terseret masuk ke dalam dunia lain.

Suara keras menghantam kepalanya dan perlahan orang-orang mulai berdatangan mengerumuni tubuh yang terbaring di area lapangan basket.

Letta mengerjapkan mata perlahan. Pandangannya buram. Kepalanya berdenyut.

“Eh… Pelan aja bangunnya.” 

Dia mencoba duduk dibantu Kei dengan memegang bagian kepala yang terasa sakit.

“Aku dimana?” Melihat sekeliling yang berbeda.

“Kamu di rumah. Tadi aku liat kamu pingsan di area lapangan?” ucap Kei buru-buru menjelaskan dengan menundukkan kepala.

Lapangan?

Dia menatap sekelilingyang pertama ia lihat bukan langit-langit kamarnya yang biasa, melainkan plafon tinggi dengan cahaya hangat tersembunyi di sela list putih bersih. Udara di ruangan itu dingin dan wangi, bukan bau hujan atau aspal basah.

“Zayn…” namanya lolos tanpa sadar. Ingatan tentang lampu mobil dan suara klakson menghantam kepala kembali. Dia spontan menyingkirkan selimut dari dan turun dari kasur. Namun gerakan berhenti saat telapak kakinya menyentuh karpet empuk. Bukan lantai dingin yang biasa ia rasakan setiap pagi. 

Letta menunduk.

Dia menyadari itu bukan kakinya.

Kulitnya lebih cerah. Jemarinya lebih ramping dan terlihat terawat. Tidak ada bekas luka sedikitpun.

Dia menoleh ke cermin besar di dinding. Bayangannya terlihat pucat, tapi pakaiannya berbeda. Bukan baju yang ia kenakan tadi malam.

“Ini bukan aku,” bisiknya pelan, suaranya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.

“Itu kamu. Kamu ga amnesia kan Sydney?” ucap Kei memberanikan diri.

“Namaku Sydney?” ulangnya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Melawan Takdir Antagonis    Perjodohan Nara dengan Sydney

    “Kalau Gea benar-benar hamil anak Zayn, terus aku harus gimana?” Sydney bergumam pelan sambil memeluk lututnya. Dia duduk sendiri di pool area, pandangannya terpaku pada permukaan air yang tenang. Hari ini terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Kepalanya terasa penuh karena setiap jawaban justru membawa pertanyaan baru. “Aku bahkan nggak tahu harus pergi ke mana kalau semua orang di cerita ini mulai berubah.” Dia mengangkat wajah ketika angin malam menyentuh rambutnya. “Aku nggak bisa terus menghindari mereka.” Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap pantulan dirinya di permukaan kolam. “Tapi kalau aku mendekat, semuanya malah semakin rumit. Siapa yang bisa membantu aku tetap aman.” Dia terdiam cukup lama lalu dia mengacak rambutnya karena frustasi. “Ini makin nggak ada solusi yang ada aku malah pusing … paling bener aku pulang ke asal kalo Gea hamil anak Zayn seenggaknya aku masih hidup.” “Mbak Sydney tadi ada yang datang cuma nitip

  • Melawan Takdir Antagonis    Cerita menolak berakhir

    Sejak kejadian di danau, Sydney merasa ada sesuatu yang berubah dalam sikap Nara. Tatapannya terasa lebih sering mengikuti setiap gerak-geriknya. Bahkan setelah dokter mengizinkannya pulang, Nara masih beberapa kali menanyakan kondisinya. “Kamu kenapa liatin aku terus kayak gitu?” Sydney merapikan tali tas di bahunya sambil menatap Nara tidak jauh. Nara memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku cuma memastikan kamu benar-benar udah pulih,” jawab Nara datar. Tatapannya turun sebentar ke wajah Sydney sebelum kembali menatap lurus ke depan. “Setelah apa yang terjadi di danau, menurutku wajar kalau aku memperhatikan kondisimu.” Nara menekan tombol lift. Sydney mengernyit mendengar jawaban itu. Perkataan Nara mengingatkannya pada kejadian di tepi danau, terutama kesadaran asli Sydney mengambil alih tubuh kembali. “Aku udah bilang waktu itu, kalau aku bicara aneh anggap aja aku sedang nggak sadar.” Sydney mengangkat telunjuk seolah sedang memberikan peringatan. Nara hanya me

  • Melawan Takdir Antagonis    Tertukar kembali

    “Nara!” Teriak Sydney tidak sempat meraih apapun. Nara melihat Sydney tenggelam semakin dalam melangkah cepat kearah bibir danau. “Pegang tangan aku,” teriak Nara berusaha meraih tangan Sydney sesekali bisa muncul ke permukaan. Tangannya bergerak mencari permukaan, tetapi tubuhnya terasa berat dan nafasnya mulai tersendat. Dari atas, suara Nara terdengar samar memanggil namanya tidak lama bayangan tubuhnya ikut menyusul ke dalam air. Satu tangan meraih pinggang Sydney dan menarik tubuhnya ke atas dengan kuat menuju tepian. “Sydney,” panggil Nara masih dengan nafas terengah-engah. “Sydney, kamu dengar aku, kan.” Nara menepuk pipinya beberapa kali untuk memastikan kesadarannya masih ada. Kelopak mata Sydney bergerak sedikit. Nara menatap wajahnya menunggu kesadaran benar-benar pulih, kemudian memeriksa napasnya yang nyaris tidak terdengar. Untuk pertama kalinya, keraguan terlihat jelas di wajah dinginnya ketika dia menyadari Sydney tidak kunjung bernapas dengan normal. “Sial.

  • Melawan Takdir Antagonis    Bagian Yang Tidak tertulis

    “Kamu benar-benar nggak ingat aku?” Kalimat Elvan masih terngiang di kepala Sydney bahkan setelah malam berganti. "Sebenarnya kamu tuh siapa?" Sydney menghembuskan napas panjang. Dia sudah mencoba mengingat semua bagian cerita yang pernah dibacanya. Nama-nama karakter utama, karakter pendukung, bahkan tokoh yang hanya muncul sebentar. Tidak ada Elvan. Semakin dia mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa penuh. Langkahnya terhenti menuju pintu masuk ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. "Nara sama Kei berangkat bareng. Seharusnya aku yang ada di posisi Kei," gumam Sydney, memperhatikan Nara turun dari kursi pengemudi disusul Kei keluar dari samping. Keduanya berjalan berdampingan menuju gedung. Tidak ada percakapan yang bisa didengarnya. Kei hanya sesekali menoleh kepada Nara. "Kalau Elvan memang bukan bagian dari cerita. Kemungkinan ada bagian yang diubah.” Sydney mengerutkan kening. “Barusan yang aku lihat juga bagian dari alur yang diubah?" Sydney menatap Nar

  • Melawan Takdir Antagonis    Bertemu nama dalam mimpi

    Sydney tersentak bangun. Dia menatap sekeliling dengan mata yang masih berkunang. Tirai panjang bergerak pelan terkena hembusan angin dari jendela sedikit terbuka. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Tangannya langsung meraba bagian tubuh yang tadi terkena tembakan. Tidak ada bekas luka ataupun darah yang mengalir. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Ah … cuma mimpi?” Sydney menelan ludah. Ruangan ini mungkin sepi tapi di luar terdengar samar aktivitas membuat sedikit lega. Tangannya masih gemetar. “Gila ... mimpi apaan tadi,” Sydney menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Namun suara tembakan dalam mimpinya masih terasa terlalu nyata. “Kenapa rasanya nyata banget … cukup Sydney itu cuma mimpi,” gumamnya. Sydney menggeleng cepat. Wajah sosok yang berdiri di ujung lorong itu terus terbayang. Sydney merasa diri cukup tenang, dia buru-buru berdiri lalu menatap sofa tempat dirinya berbaring. “Ini kan, ruangan kerja Nara. Jangan bilang aku pings

  • Melawan Takdir Antagonis    Kematian peran antagonis

    Sydney menghela nafas lega, karena ditempatkan sebagai sekretaris Marketing Director. Dia harga berusaha agar tidak menyela pembicaraan, mencari perhatian, bahkan sengaja menjaga jarak dari Nara dan Kei. Hanya ingin fokus dengan tumpukan berkas di atas meja. Ada jadwal meeting, proposal kerja sama, laporan campaign, dan dokumen internal marketing tersusun di hadapannya. Sydney membuka kalender kerja di komputer.“Meeting dengan klien jam sebelas, evaluasi campaign jam satu, lalu briefing tim jam tiga,” gumamnya sambil mencatat beberapa agenda ke tab. Semua harus diperiksa sebelum diserahkan kepada Marketing Director.“Sydney, ini materi presentasi untuk meeting sore. Pak Direktur minta semuanya sudah siap sebelum jam dua.” Seorang staf marketing datang membawa map, lalu meletakkan di atas meja.“Baik. Aku periksa nanti setelah laporan jadwal meeting.” Sydney berdiri menggenggam tab di tangan.“Kamu bisa kan? aku tinggal dulu kalo butuh bantuan panggil aja.” Staf mengetuk berkas yang t

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status