LOGINArkana masih menatap Anindya, menunggu perempuan itu menjelaskan maksud pertanyaannya. Namun, Anindya justru terdiam.Tatapannya tidak beralih dari wajah Arkana, seolah sedang berusaha menemukan sesuatu yang bisa memastikan kecurigaannya."Anin," panggil Arkana akhirnya. "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan.""Kamu tidak tahu siapa Arsen?"Arkana menggeleng pelan. "Aku sudah bilang, aku tidak ingat kenapa menyebut nama itu.""Kalau begitu, kenapa kamu terlihat begitu terganggu ketika aku menanyakannya?""Aku baru sadar setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Wajar kalau aku masih bingung."Jawaban itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal, sampai-sampai Anindya hampir merasa bersalah karena terus mendesaknya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan apa yang terjadi tadi.Arkana baru saja membuka mata, dan nama pertama yang ditanyakannya adalah Arsen. Bukan nama seseorang yang dikenalnya dalam kehidupan ini. Bukan pula nama yang pernah mereka bicarakan sebelumny
Anindya memperhatikan wajah Arkana dengan saksama. Jawaban itu terdengar masuk akal. Memang itulah kejadian terakhir yang bisa dijelaskan oleh orang-orang di sekitarnya sebelum Arkana kehilangan kesadaran.Namun, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Anindya menarik napas perlahan. "Hanya itu?"Arkana mengerutkan kening. "Maksudmu?""Itu saja yang kamu ingat?""Iya."Anindya terdiam beberapa saat. Ia ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah memahami sesuatu. Mungkin Arkana memang belum sepenuhnya sadar ketika mengucapkan nama itu. Mungkin pertanyaan yang keluar dari mulutnya saat pertama kali membuka mata hanyalah sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Namun, ia tidak bisa mengabaikan nama tersebut begitu saja."Kalau begitu," ujar Anindya akhirnya, "kenapa kamu menyebut nama Arsen?"Seketika, Arkana terdiam. Tidak ada jawaban. Tatapannya yang semula tertuju kepada Anindya perlahan berubah. Ia tidak lagi terlihat sekadar lelah, melainkan seperti seseorang yang baru saja dihad
Arkana masih memandang Anindya yang menggenggam tangannya."Kita butuh bicara," kata Anindya. Lelaki itu menghela napas pelan, kemudian melirik jam dinding yang tergantung di seberang ranjang. "Apa tidak bisa besok saja?"Anindya langsung menggeleng. "Tidak."Arkana kembali menatapnya. "Anin, aku baru sadar setelah sepuluh hari tidak sadarkan diri. Aku masih lelah.""Aku tahu.""Kalau begitu, kita bicara besok saja.""Tidak, Arkana. Kita butuh bicara sekarang."Nada suara Anindya tegas. Tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat Arkana memahami bahwa kali ini perempuan itu tidak akan membiarkannya mengalihkan pembicaraan begitu saja.Arkana terdiam. Ia memperhatikan wajah Anindya, berharap menemukan sedikit keraguan yang bisa memberinya kesempatan untuk menunda percakapan tersebut. Namun, tidak ada.Anindya tetap menatapnya dengan sorot mata yang sama. Teguh. Serius. Dan jelas tidak berniat mengalah.Arkana akhirnya mengembuskan napas panjang. "Baiklah."Arkana menggeser sedikit kepala
Setelah berpamitan sekali lagi, akhirnya Tuan Adipati, Nyonya Adipati, dan Tuan Ranaditya meninggalkan kamar rawat. Dari balik pintu yang perlahan tertutup, suara Tuan Adipati masih terdengar."Besok kita datang lagi lebih pagi."Ranaditya menjawab singkat, "Lihat nanti.""Kamu ini selalu begitu."Suara mereka semakin menjauh, disusul tawa kecil Nyonya Adipati yang terdengar samar. Anindya memperhatikan pintu itu selama beberapa detik.Ketiga orang tersebut pulang dengan wajah ceria. Setidaknya, kini mereka tidak lagi harus menunggu dengan kecemasan yang sama seperti sepuluh hari terakhir.Arkana sudah sadar. Ia sudah bisa berbicara. Ia bahkan sudah mampu tersenyum kepada mereka. Namun, bagi Anindya, ada sesuatu yang masih belum selesai. Sejak Arkana membuka mata, ia hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya secara pribadi.Setiap kali ia ingin menanyakan sesuatu, selalu ada orang lain yang datang. Ketika ia hendak memastikan bagaimana perasaan Arkana, dokter masuk
Kata-kata Nyonya Adipati membuat Tuan Adipati terdiam. Kalau ada yang bisa membuat Tuan Adipati terdiam, memang orang itu hanya istrinya. Nyonya Adipati menatap suaminya dengan ekspresi yang tidak memberi banyak ruang untuk perdebatan. "Dokter juga sudah mengatakan bahwa dia perlu beristirahat. Kalau kita terus berada di sini dan mengajaknya berbicara, kapan dia bisa tidur?""Aku tidak mengajaknya berbicara terus-menerus.""Benarkah?"Tuan Adipati terdiam lagi. Di sisi lain, Ranaditya mengalihkan wajahnya, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris muncul di sudut bibirnya. Setidaknya, ada seseorang yang bisa memahami maksudnya tanpa perlu diberi kode berkali-kali."Tapi aku masih ingin menemani Arkana," ujar Tuan Adipati, kali ini dengan nada lebih pelan.Nyonya Adipati menghela napas. "Kamu bisa datang lagi besok. Arkana tidak akan pergi ke mana-mana.""Kamu bicara seolah-olah aku menghalangi dia istirahat.""Kalau begitu, ayo pulang." Perempuan itu bangkit, kemudian merapikan tasnya.
Anindya sendiri berdiri tidak jauh dari ranjang. Ia memperhatikan Arkana dengan saksama, mencoba menangkap setiap perubahan ekspresi laki-laki itu.Sesekali, Arkana menjawab pertanyaan mereka. Namun, ada saat-saat ketika ia justru diam terlalu lama, menatap satu titik tanpa mengatakan apa pun.Ketika Tuan Adipati memanggil namanya, Arkana baru kembali menoleh beberapa detik kemudian. Ranaditya pun menyadarinya."Jangan terlalu banyak bertanya dulu," katanya kepada Tuan Adipati. "Dia baru sadar. Beri dia waktu."Tuan Adipati akhirnya mengangguk. "Benar juga."Nyonya Adipati menarik kursi dan duduk di sisi lain ranjang. "Kamu tidak perlu memikirkan apa pun sekarang, Arkana. Istirahat saja. Kami semua ada di sini."Arkana menatapnya sebentar. Kemudian, ia mengangguk pelan. Anindya memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk.Anindya merasa bahagia melihat Arkana dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Ia juga bersyukur kedua kakek dan Nyonya Adipati bisa melihat sendiri
Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe
Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R
Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d







