LOGIN"Ae ...," sebelum Arvan bicara, Aeri menutup mulut laki-laki itu, sekaligus mengancam halus suaminya itu."Awas kalau makanannya kamu muntahin, bukan pipimu yang akan ku cium, tapi bibirmu." Saat mengatakannya, Aeri tersenyum dengan manisnya. Sementara Arvan merinding melihat senyum yang hanya di mulut itu.Akhirnya dengan terpaksa Arvan menelan makanan di mulutnya, tidak hanya itu. Dia juga harus memakan wortel-wortel lain yang dipotong seiras di piringnya dan ditambah wortel-wortel yang Aeri tambah.Sebagai orang luar yang terjebak di sana, Kyran sedikitnya merasa bersimpati pada Arvan. Jelas dia tahu bagaimana rasanya harus terpaksa memakan makanan yang tidak dia suka. Karena dia sendiri menyisihkan kacang panjang di tepi piringnya.Setelah tadi, Kyran kira sudah tidak akan ada lagi hal yang perlu dia lihat saat akhirnya dua orang itu makan dengan tenang. Tapi perkiraannya salah, karena tiba-tiba Arvan menaruh Tulang rawan ayam di piring Aeri. "Aku nggak suka tulang, kamu aja yang
Aeri memang tidak ingat dengan wajahnya, tapi tidak mungkin dia lupa dengan orang yang membantunya saat bertengkar dengan Rullistya di kantor saat itu. Meski hanya sebuah bantuan kecil, namun bantuan tetaplah bantuan."Kamu ke sini buat ketemu Arvan, kan?" Karena tidak mungkin juga untuk bertemu dirinya. "Sudah lama di sini? sudah makan?" Rentetan pertanyaan Aeri membuat Kyran tidak tahu harus menjawab dari mana."Aeri, dari mana saja kamu, kenapa baru pulang?" Beruntung Arvan datang. "Kamu tahu, sudah berapa lama aku nunggu kamu." Akhirnya pertanyaan itu dapat dia tanyakan ke orang yang seharusnya.Aeri menggaruk pelipisnya, menghindari tatapan Arvan yang menuntut jawabannya. "Itu ..., di jalan tadi macet."Arvan menyipitkan matanya, tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Aeri. "Semacet apa sampai dari sore tadi, kamu baru pulang sekarang?""Kemacetan sampai 5 KM jauhnya dari pusat demo." Beritahu Kyran yang tadi juga terjebak kemacetan panjang."Thanks, gentleman sudah ngejelasin."
"Nanti malam aku masak, jadi jangan makan di luar." Pesan Aeri dari sore tadi.Namun sudah mau jam 8 malam, perempuan itu belum juga pulang. Arvan yang terpaksa pulang tepat waktu hari ini hampir 3 jam kelaparan karena satu pesan darinya.Berkali-kali dia menelpon Aeri yang belum juga membaca pesan yang dia kirim. Berkali-kali juga teleponnya berakhir secara otomatis. Saat akhirnya dia memutuskan untuk memesan online saja untuk makan malam. Terdengar suara ketukan dari pintu masuk."Tahu nggak sudah berapa lama aku nunggu, kamu dari mana ...." Arvan kira orang yang mengetuk adalah Aeri, dia tidak mengira ternyata yang datang adalah orang yang tidak dia duga. "Kyran, ngapain kamu ke sini?"Wajah Kyran tidak datar seperti biasanya, tapi kusut seperti baju kotor yang tadi sudah Arvan masukan ke mesin cuci."Kamu tahu, normalnya orang yang datang bertamu disuruh masuk dulu."Arvan menyilangkan tangannya di dada, "Ku rasa kedatanganmu ke sini bukan untuk bertamu."Kyran mendengkus, dia ber
Karena demo, kemacetan mengular sepanjang perjalanan pulang Arika ke apartemen. Hampir tidak ada celah untuknya menyalip di antara mobil yang saling berdempetan."Huft." Dia menghembuskan napasnya, kesal, saat lagi-lagi harus menghentikan motornya."Halo cantik." Belum lagi dia mengalami cat calling dari penumpang mobil yang ada di sebelahnya."Mau ikut Abang, nggak, naik mobil? Kasihan neng cantik macet-macetan di luar."Arika memutar bola matanya, menghiraukan laki-laki di mobil carry yang mengganggunya itu. Saat ada sedikit celah untuk jalan, tidak ragu-ragu dia menjalankan motornya, meski untuk itu, dia harus berdempetan dengan mobil di depannya."Neng nggak usah buru-buru, macetnya masih panjang. Mending neng kenalan aja sama kita-kita." Terdengar suara cekikikan dari teman laki-laki sialan itu.Arika melirik tajam, dia terlalu malas meladenin SDM rendah yang bisanya menggoda cewek."Pul, si neng cantik kayaknya tipe cewek sombong, deh."Si Pul yang dimaksud temannya malah tertaw
"Rik, kalau Aeri nyuruh kamu pose gini, gini." Lian memperagakan pose-pose yang biasanya untuk tema foto ceria dan imut. "Please kamu tolak, usahaku bergantung sama pemotretan ini." Liam memeluk Arika dengan tatapan memelas.Bukannya bersimpati, Arika menatap jijik Lian. Jika bukan karena foto sialannya yang viral itu. Dia tidak mau Kembali jadi model pakaian. Untungnya, gaji untuk modelingnya dua kali lipat lebih banyak dari modeling sebelumnya. Setidaknya dengan gaji sebanyak itu, Arika bisa menahan sikap clingy Liam.Bagi Liam, viralnya foto Arika dan Mita sebagai model pakaiannya tidak dia duga sama sekali. Selain banyak yang bertanya siapa nama model-model cantik itu, lebih banyak yang notice brand fashionnya. Karena itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan, Liam akhirnya memutuskan untuk melakukan pemotretan pada style fashionnya yang lain. Tentunya dengan Arika dan Mita sebagai modelnya.Karena itu, pemotretan kali ini tidak boleh lebih gagal dari pemotretan sebelumnya. Apalagi ke
"Cuman lebih satu hari doang.""Waktu bersih-bersih, kamu cuman bersih rumah, tapi aku sama halaman depan dan belakang?""Kamu kan laki-laki, jelas dong bagianmu lebih banyak. Lagian aku yang masak.""Tapi aku yang cuci baju?""Lebih tepatnya yang masukin baju ke mesin cuci." Perjelas Aeri tidak mau kalah."Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu revisi ulang jadwal ini, aku nggak terima.""Eits, ingat perjanjian kita semalam, nggak boleh protes, dan kamu setuju soal itu.""Tapi ini nggak adil!""Dan aku nggak peduli, kamu sendiri yang setuju, jadi jangan banyak protes tinggal jalanin aja.""Aeri, kamu ...,""Sudah ya, aku sibuk, bye." Aeri memutuskan panggilan telepon secara sepihak.Ingin rasanya Arvan membanting benda pipih di genggamannya itu. Rasanya kepalanya semakin pusing, tidak lagi habis ini akan ada rapat yang terpaksa harus dia ikuti.Sekali lagi, Arvan membaca pembagian tugas yang dikirim Aeri. Dia menghela napas, mencoba menenangkan dirinya.Saat itu ponselnya kembali berderin
Arvan masih berusaha menutupi tubuh Aeri dengan badannya. Namun, Aeri justru mendorong Arvan ke samping.“Apa sih? Memang ada yang salah dengan pakaianku? Sudah, minggir, dong! Gerah tahu.” Perempuan itu bahkan melepas jaket yang ia pakai.“Tapi, kerudungmu?” “Mulai sekarang, aku tidak mau pakai
“Apa salahnya Frisya masuk ke kamarmu? Kalian kan sudah kenal sejak lama? Mama juga hanya menyuruhnya untuk membangunkanmu, itu saja! Karena kamu dan istrimu yang tidak tahu diri itu belum juga bangun, makanya mama menyuruh Frisya,” cecar Rullistya tanpa jeda, “lalu istrimu juga! Pagi-pagi, bukanny
Keduanya sontak menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatap Aeri tajam.“Ya, ampun! Ucapannya kasar sekali …. Kenapa bisa perempuan seperti itu menjadi bagian keluarga Candra?”“Padahal bercadar, tapi ternyata bukan perempuan baik-baik.“Percuma memakai jilbab, tapi tidak bisa menjaga mulutnya.”B
“Bagaimana saksi, sah?”Begitu penghulu mengatakannya, status Aeri berubah.Dia bukan lagi teman Arvan, melainkan istrinya.Aeri lantas menoleh pada pria di sampingnya itu yang terlihat tampan dan mengenakan setelan baju pengantin warna putih–senada dengan gaun yang digunakan Aeri saat ini.Meski t







