Inicio / Mafia / Menaklukkan El Patron / 3. Bertemu El Patron

Compartir

3. Bertemu El Patron

Autor: Hans Mafaza
last update Fecha de publicación: 2026-02-16 10:14:59

Kota Tijuana menjadi tujuan para pengawal membawa wanita tawanan itu. Iring-iringan sebanyak tiga mobil dengan masing-masing berisi empat orang anak buah bersenjata disiapkan untuk mengawal wanita tawanan yang akan di lelang malam nanti.

Akan tetapi, sebelum wanita tawanan di bawa ke tempat pelelangan, El Patron memerintahkan agar pengawal membawa wanita itu ke villa mewahnya yang terletak hanya sekitar sepuluh menit dari tempat lelang.

Para pengawal yang membawa wanita tawanan itu saling lirik demi melihat betapa patuh dan tenangnya si wanita tanpa ada drama menangis atau mencoba melarikan diri seperti wanita-wanita lain yang pernah mereka tangkap sebelumnya.

"Apa kau tau akan dibawa kemana dirimu?" Seorang pengawal yang berada satu mobil dengan si wanita bertanya, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi hanya berisi keheningan saja.

Wanita tawanan itu melirik tanpa minat kepada pengawal yang bertanya, lalu tersenyum kecil dan kembali menatap pada jalanan yang sedang mereka lewati. Sikapnya yang cuek dan tidak peduli itu membuat para pengawal hanya mampu saling lirik tanpa bisa berbuat sesuatu.

Sekesal apapun para pengawal, mereka tetap tidak bisa melampiaskannya karena wanita tawanan ini adalah barang berharga milik pimpinan mereka.

"Sudahlah, Pablo. Jangan mengganggunya. Dia sama sekali tidak tertarik pada pria sepertimu. Mungkin, di matanya kamu hanya lalat yang tidak layak untuk di ajak bicara," kata seorang teman pengawal yang lain menimpali.

"Estupido! Aku hanya mencoba ramah padanya. Tapi sepertinya, wanita ini memang terlalu angkuh dan sombong."

"Calm down, Man. Dia cantik. Sah-sah saja jika dia angkuh dan sombong. Apalagi dia adalah wanitanya Don Carlos sebelum tertangkap."

Pengawal yang di panggil Pablo itu mendengus. Ia lalu memalingkan wajah tanpa mau menanggapi ucapan temannya tadi.

"Diamlah kalian! Kita sudah sampai di vila El Patron. Syukuri saja karena wanita ini sangat patuh dan tidak berbuat ulah. Setidaknya kita tidak perlu repot meringkusnya tanpa meninggalkan jejak luka karena harus menyakitinya," kata seorang pengawal yang duduk di jok mobil bagian depan bersama si sopir.

Pengawal itu menoleh ke belakang, menatap wanita yang sejak ditangkap dulu memang tidak pernah melawan sama sekali tersebut.

"Aku tidak tahu apa rencanamu yang sebenarnya, Nona. Tapi ingatlah! El Patron bukan orang yang bisa kamu kelabuhi hanya dengan diammu itu. Pengawasan terhadapmu akan tetap diperketat sampai kau terjual di lelang nanti," katanya.

Lagi. Wanita itu hanya menatap tanpa minat kepada pengawal yang berbicara kepadanya. Namun, ada sedikit rasa salut di hatinya atas sikap si pengawal yang memanggilnya "Nona" tadi. Setidaknya pengawal itu tahu bagaimana cara menghormati wanita dengan benar.

Mobil berhenti di halaman sebuah bangunan vila modern yang luas. Dan wanita tawanan dibawa masuk dengan didampingi oleh pengawal yang memanggilnya nona tadi.

Mereka masuk ke dalam vila hanya berdua saja, seolah akses keluar masuk di vila memang dibatasi hanya untuk orang-orang tertentu saja. Sedangkan para pengawal yang lain menunggu di luar, berbaur dengan para pengawal dan anak buah yang lain yang menyebar di berbagai sudut di luar vila tersebut.

Si pengawal melepaskan borgol dari tangan wanita tawanan, lalu mendorongnya dengan lembut agar masuk ke bagian vila yang lebih dalam.

"Masuklah! El Patron sudah menunggu kedatanganmu," katanya.

Si wanita tawanan maju selangkah. Dan tanpa menoleh ke arah pengawal, wanita itu berkata, "Gracias, Caballero."

Mendengar itu membuat si pengawal tertegun hingga mematung di tempat. Ini adalah kali pertama si wanita tawanan itu mau berbicara. Dan kalimat pertama yang diucapkan justru kalimat terima kasih yang ditujukan padanya.

Panggilan "caballero" yang dikatakan wanita tadi juga membuat si pengawal sedikit merasa syok dan tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

Caballero yang bermakna gentleman dalam bahasa Spanyol, merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan di Meksiko. Suatu kehormatan bagi pengawal karena di anggap gentleman oleh wanita misterius yang sangat cantik itu.

Bibir pengawal itu berkedut. Hampir-hampir seulas senyum tersungging di bibirnya jika ia tidak menyadari kehadiran El Patron di tempat itu.

"Bagaimana, Santiago? Apa wanita ini menyulitkanmu dan yang lain?" El Patron bertanya ketika ia baru memasuki ruangan.

Pimpinan kartel terbesar di Meksiko itu hanya mengenakan bathrobe dengan rambut masih setengah basah ketika memasuki ruangan. Sangat terlihat jika El Patron baru saja selesai mandi.

"Tidak. Dia sama sekali tidak merepotkan," jawab pengawal yang baru diketahui oleh si wanita tawanan jika namanya adalah Santiago tersebut.

"Bagus. Kau boleh pergi," kata El Patron.

Santiago mengangguk, lalu menunduk hormat sebelum akhirnya melangkah pergi. Kini yang tersisa di dalam ruangan itu hanya wanita tawanan dan El Patron itu sendiri.

Wanita tawanan berdiri sambil menunduk. Ia menunduk bukan karena takut. Melainkan sedang memperhatikan kakinya sendiri yang terus mengetuk lantai dengan ujung heelsnya yang runcing.

El Patron berjalan menuju sofa yang ada di depan si wanita, lalu duduk dengan menyilang kaki dan tangan yang dibiarkan merebah di sandaran sofa. Ia memperhatikan wanita tawanan itu dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan menilai.

"Jadi, apa kau sengaja tidak ingin membuka mulutmu untuk berbicara ... atau kau sebenarnya memang ... bisu?"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (8)
goodnovel comment avatar
Iin Huang
mungkin dia cuma cari aman maka ny diam aja. blm berani bicara
goodnovel comment avatar
ida sari
bukan ga mau berontak sih tp lebih ke cari aman aja sih ya pikir wanita tawanan itu. lagian mau berontak juga percuma.. wah ga nyangka ya Santiago mendengar kata terima kasih dr wanita tawanan itu .. diam lebih baik pikir nya ..
goodnovel comment avatar
Marimar Chan
sebenarnya gak bisu cuma males ngomong wkkwk
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Menaklukkan El Patron   25.

    Mateo memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam. Jelas terlihat jika ia sedang berusaha meredam emosi dengan apa yang dilakukannya saat ini."Berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak perlu kau pikirkan, Diablita. Sudah kukatakan bahwa anak buahku yang akan mengurusnya." Mateo berbicara dengan suara rendah penuh penekanan.Suara Mateo yang seperti itu membuat Camila menoleh ke arahnya. Ia menatap pria itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kedua bahunya tanda tidak mau lagi peduli."Ya, ya, baiklah. Urusan ini memang bukan urusanku. Lagipula ini hanya berkaitan dengan bisnismu dan bukan bisnisku. Tapi, Mateo .... Aku tidak mau jika kelak bisnismu terganggu hanya karena kelalaian yang terjadi hari ini. Sebagai budakmu, aku tidak ingin hidup menderita karena memiliki tuan yang miskin suatu hari nanti," katanya.Mendengar kata-katanya itu membuat Mateo kembali mencengkram rahang Camila."Kenapa tidak memanggilku Mi Senor seperti dulu, hm? Apa kau merasa pantas men

  • Menaklukkan El Patron   24.

    Mateo tidak berbicara sepatah katapun. Pria itu memusatkan seluruh perhatiannya pada sepatu yang telah menarik perhatian Camila. "Kau, ambil sepatu itu dan periksa!" kata Mateo kepada salah satu anak buahnya yang sudah berdiri di dekatnya entah sejak kapan. "Si." Tanpa membuang waktu, anak buah itu mendekat lalu berusaha mengambil sepatu tanpa kesulitan yang berarti. Ia lalu menyerahkan sepatu itu kepada Mateo setelah berhasil mendapatkannya. Mateo menerima sepatu itu dan memeriksanya sekilas sebelum menunjukkan sepatu itu tepat di depan wajah Camila. "Ini yang kau anggap mencurigakan? Hanya sepatu jelek yang sudah tak layak pakai dan pantas dibuang," kata Mateo. Pria itu kemudian melempar sepatu begitu saja setelah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan menurutnya. "Tapi ...." Camila ingin mengatakan pendapatnya tetapi Mateo sudah lebih dulu mengangkat tangan. Ia membuat gestur agar Camila diam hingga membuat Camila mendengus karena kesal. Setelahnya, Mateo berb

  • Menaklukkan El Patron   23.

    Dor! Suara tembakan terdengar lagi sebelum Camila tersadar dari keterkejutannya. "Apa-apaan ini," desisnya. Wanita itu segera menyingkir dan bersembunyi di sela-sela tumpukan kontainer yang sempit. Ia semakin merapatkan tubuhnya ketika terdengar suara langkah kaki yang berlari mendekat. "Chert! Etot Meksikanets pod"yekhal tak bystro!" "Zatknis'! Samoye gravnoye-nam nuzhno nemedlenno otsyuda ubrat'sya. Bystro!" Kening Camila mengernyit mendengar percakapan dalam bahasa asing itu. Meski tidak paham makna kata yang mereka ucapkan, tapi Camila tahu jika itu adalah bahasa Rusia. Satu-satunya kata yang Camila tahu hanyalah kata bystro yang mereka ucapkan. Bystro berarti cepat, sedangkan selebihnya wanita itu tidak mengerti sama sekali. Namun, satu kata tersebut sudah cukup bagi Camila untuk memahami situasinya. Jika ia tidak salah tebak, maka orang-orang itu tengah berusaha melarikan diri dari tempat tersebut. Camila mengintip dari tempat persembunyiannya ketika orang yan

  • Menaklukkan El Patron   22.

    Camila menghempas tangan Mateo yang masih memegangi pergelangan tangannya. Ia lalu menarik kembali kakinya dan mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat. "Dasar gi la," gumam wanita itu. "Dengar, Diablita. Aku sedang tidak ada waktu bermain-main denganmu. Jadi patuhlah dan jangan berbuat ulah. Mengerti?" Mateo berbicara dengan penuh penekanan tapi Camila sama sekali tidak peduli. Ia justru melipat tangan di depan dada. Wanita itu tidak menjawab serta enggan menatap Mateo hingga membuat pria itu semakin dikuasai emosi karena merasa diabaikan. Dengan satu gerakan cepat, tangan Mateo meraih bagian belakang kepala Camila, menarik rambutnya kuat dan memaksa Camila menoleh dengan kepala mendongak. "Argh!" pekik Camila sambil memegangi tangan Mateo yang menjambak rambutnya. "Kau benar-benar tidak tahu diuntung, Diablita. Tunggu sampai urusanku selesai dan kau akan tahu bagaimana aku menghukummu," kata Mateo. Ia lalu menghempaskan kepala Camila dengan kuat hingga kepala wanit

  • Menaklukkan El Patron   21.

    Camila yang tidak siap dengan tindakan Mateo refleks mengalungkan tangannya ke leher pria itu guna mencari pegangan. "Apalagi yang akan kau lakukan kali ini, Mi Senor?" tanya Camila tanpa melepaskan rangkulannya di leher Mateo. "Diamlah atau aku akan menyeretmu hingga mobil." Camila mencebik tak suka. Namun, ia tetap patuh dan membiarkan Mateo menggendongnya ala brydal. Bahkan ia tetap diam saat melihat Santiago mengikutinya bersama beberapa anak buah Mateo yang lain. Camila didudukkan di kursi penumpang bagian belakang setelah sampai di mobil, dengan Mateo yang menyusul duduk di sebelahnya. Sedangkan Santiago yang mengikuti mereka sejak tadi bertugas sebagai sopir dan duduk di depan sendirian. "Katakan pada Paulo untuk pergi ke Jalisco bersama beberapa anak buahnya mengantarkan pesanan. Ingatkan dia agar tetap waspada karena barang yang akan dibawanya bernilai lebih dari satu juta dolar. Dia boleh membawa berapapun anak buah yang dia mau. Urusan di sini, biarkan Pablo yang m

  • Menaklukkan El Patron   20.

    Santiago menunduk dan mengangguk patuh. Ia menyingkir dari depan pintu agar tidak menghalangi langkah Mateo. "Dan ingat! Jangan pernah meninggalkan wanita itu meski hanya sedetik. Mengerti?" lanjut Mateo setelah mendadak menghentikan langkah tepat di sebelah Santiago. "Si, El Patron," jawab Santiago. Mateo menepuk pundak Santiago dua kali sebelum benar-benar melangkah meninggalkan kamar hotel. Setelah Mateo pergi, barulah Santiago masuk ke dalam kamar bersama seorang dokter wanita yang datang bersamanya tadi. Camila terlihat membersihkan wajahnya dari jejak air mata ketika Santiago dan dokter itu datang menghampirinya. Wanita itu lalu tersenyum meski senyumnya tidak sampai ke matanya. "Apa kau anak buah yang ditugaskan untuk menjagaku, Caballero?" Santiago mengangguk. "Cukup panggil aku Santiago saja, Nona," katanya. "Jadi namamu Santiago? Baiklah, aku akan memanggilmu dengan namamu. Dan kau bisa memanggilku Alma. Ah, ya. Apa dia adalah dokter yang ditugaskan untuk me

  • Menaklukkan El Patron   5. Diablita Vs Diablo atau La Reina Vs El Rey?

    El Patron tertegun. Tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya jika si wanita tawanan akan berani menyebut namanya begitu saja. Dan sorot mata wanita itu. El Patron menemukan ada yang berbeda di sana. Tajam, berbahaya, mematikan. Namun begitu, tatapan wanita itu tetap memikat di saat yang bersam

  • Menaklukkan El Patron   4. Mateo Aguilar Mendoza

    Si wanita tawanan mengangkat kepalanya. Ia menatap pimpinan kartel itu tanpa rasa takut sedikitpun dalam diam. Tatapan si wanita tawanan bertemu dengan tatapan tajam si pria, tapi tatapan si pria tidak membuat si wanita merasa gentar. Wanita itu balas menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.

  • Menaklukkan El Patron   2. Menuju Lelang

    Sebulan kemudian ...Di sebuah ruang rumah sakit dengan penjagaan super ketat, seorang wanita menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin kamar mandi.Luka-luka di wajahnya sudah menghilang sepenuhnya. Sementara luka-luka yang lain di seluruh tubuh juga sudah hilang tak berbekas. Wajah dan se

  • Menaklukkan El Patron   1. Tawanan

    Plak"Katakan siapa namamu, j*lang!""Kau benar-benar keras kepala! Katakan siapa namamu jika tidak ingin aku semakin menyiksamu."Tamparan serta umpatan itu menggema di gudang bawah tanah tempat dimana seorang wanita di sekap dan di siksa.Sebelah mata wanita itu sudah bengkak hingga tidak mampu l

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status