LOGINEl Patron tertegun. Tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya jika si wanita tawanan akan berani menyebut namanya begitu saja.
Dan sorot mata wanita itu. El Patron menemukan ada yang berbeda di sana. Tajam, berbahaya, mematikan. Namun begitu, tatapan wanita itu tetap memikat di saat yang bersamaan. El Patron melepaskan rambut si wanita tawanan dan menghempaskan kepala wanita itu begitu saja. "Kau sungguh berani, Diablita. Sebelum ini kau menyebutku Pandejo. Dan sekarang kau berani menyebut namaku. Apa kau sudah bosan hidup, Little Bit*h?" Wanita tawanan itu balas menatap tanpa gentar. Ia lalu tersenyum mengejek. "Kamu tidak akan membiarkanku mati meski kamu ingin, Mateo. Bukankah ... kamu membutuhkanku untuk mendapatkan banyak uang?" Mateo bergeming. Ia menatap wanita tawanan dengan sorot mata tajam. "Kau harus menjagaku tetap mulus tanpa cela sedikitpun jika ingin mendapat harga tinggi di acara lelang nanti. Bukankah begitu, Ma Te O?" Rahang El Patron mengeras. Ia dibuat kehabisan kata-kata hanya dengan beberapa kalimat yang diucapkan oleh si wanita tawanan itu. Tak ingin mengakui kekalahan, El Patron atau pria yang memiliki nama asli Mateo itu akhirnya memilih menjauh. Ia lalu kembali ke sofa dan mulai menyalakan cerutunya kembali, seolah tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja terjadi. "Dengar, Diablita. Aku tidak peduli dengan asal-usul maupun identitasmu. Kau adalah tawananku. Dan sebentar lagi kau akan menjadi budak bagi seseorang yang memenangkan lelang atasmu. Jadi sebaiknya katakan siapa namamu agar mudah dikenali. Siapa tahu, orang yang akan membelimu adalah orang yang kamu kenal. Itu jauh lebih baik daripada kamu dibeli oleh orang asing yang tidak kamu kenal." Si wanita tawanan mendengus. Ia lalu berkata, "Bagaimana jika kau saja yang memberiku nama? Bukankah itu terdengar lebih baik?" Mateo menatap tajam wanita di hadapannya itu. Sungguh, ia mulai kesal dengan semua yang dikatakan oleh wanita tawanan ini. Akan tetapi, sebisa mungkin Mateo menahan diri. "Ternyata kau yang diam jauh lebih baik daripada kau yang membuka mulut," desis Mateo. "Kalau kau tidak mau mengatakan siapa namamu, maka aku akan menjualmu dengan nama Diablita," lanjutnya. Si wanita tawanan tersenyum. Merasa lucu dengan tingkah pria yang katanya pemimpin kartel terbesar di Meksiko tersebut. "Tidak masalah. Diablita berarti setan kecil. Sangat pantas jika yang menjualku adalah dirimu ... yang seorang ... Diablo (setan)." Brak! "Atau ...." Si wanita tawanan cepat-cepat melanjutkan ucapannya demi mendengar meja kecil di samping El Patron digebrag dengan keras. Rupanya Mateo sudah kehilangan kesabarannya. "Bagaimana jika kamu menamaiku La Reina? Dengan begitu aku akan memanggilku El Rei." Mateo mendengus. La Reina berarti Ratu, sedangkan El Rei bermakna Raja. Wanita tawanan ini terlalu berani. Pikirnya. "Aku memang El Rey, Diablita. Tapi kau tidak pantas menjadi La Reina," desisnya. Wanita tawanan itu tersenyum puas. Ia kegirangan karena berhasil mempermainkan emosi Mateo. "Memangnya kenapa? Bukankah itu sangat bagus? Aku cantik dan seksi. Sangat pantas disebut La Reina. Dan kau ... harus kuakui kau sungguh gagah dan tampan. Dan kau memang pantas menjadi seorang El Rey. Bukankah kita sangat serasi, Mi Rey (rajaku)?" Wanita tawanan itu terus berucap dan menggoda. Rahang Mateo mengeras. Ia menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tajam sebelum akhirnya tersenyum menyeringai. Ia tahu jika wanita di hadapannya itu sedang mempermainkannya. "Baiklah jika itu maumu. Aku akan memberimu nama yang pantas untukmu. Mulai hari ini namamu adalah Diablita. Hingga tuanmu yang baru yang memberimu sebuah nama, maka identitasmu tetaplah Diablita. Jadi berdoalah agar kelak Tuanmu bukan orang yang kejam dengan orientasi seksual menyimpang. Jika tidak, mungkin kau akan masuk ke dalam neraka yang menyiksa," kata Mateo. Pemimpin tertinggi La Mendoza itu kembali menghisap cerutu yang sudah dinyalakannya sebelum memanggil anak buahnya. "Santiago, masuklah!" teriak Mateo. Hanya butuh beberapa detik untuk Santiago kembali ke hadapan El Patron. Pria itu berdiri di hadapan pemimpinnya dan siap menerima perintah selanjutnya. "Bawa Diablita ini ke tempat lelang. Suruh beberapa anak buahmu untuk mendandaninya. Jaga dia dengan nyawamu. Kau paham apa artinya?" "Sie, El Patron. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sebagai taruhannya. Jika dia melarikan diri, maka aku harus mati untuk menebus kesalahanku," jawab Santiago tegas . Mateo mengangguk puas. Ia lalu menatap kembali Diablita. "Kau dengar itu, Diablita? Jika kau tidak ingin nyawa seseorang melayang sia-sia karena ulahmu, maka jangan coba-coba melarikan diri ataupun berbuat onar," kata El Patron. "Dan kau, Santiago. Bawalah berapa pun anak buah yang kau butuhkan untuk menemanimu. Karena kita tidak tahu apa yang jal*ng ini rencanakan di balik sikap tenangnya selama ini," lanjutnya. Wanita tawanan itu memutar bola matanya malas. Ia sama sekali tidak ingin menanggapi apa yang diucapkan oleh El Patron. Bahkan jika dia hanya dijaga dengan penjagaan ala kadarnya pun, si wanita tawanan tidak akan melarikan diri. Karena rencana si wanita tawanan bukanlah melarikan diri, melainkan memenangkan lelang dengan harga tertinggi.Tak ada yang bisa dilakukan oleh wanita tawanan selain menurut. Meski kesal, tapi ia melepaskan dua helai kain terakhir yang menutup tubuhnya di hadapan si penata rias tanpa ragu sedikitpun. Wanita tawanan itu berjalan melenggok, lalu memutar tubuhnya di hadapan penata rias. Ia memamerkan tubuh polosnya itu dengan penuh percaya diri. "Apa kau puas sekarang?" tanyanya kemudian. Si penata rias tidak menjawab. Hal itu sukses membuat wanita tawanan merasa jengah, lalu segera mengenakan dua keping kain yang bahkan tidak menutupi apapun dari tubuhnya itu. Tadinya wanita tawanan itu pikir ia akan dibawa dengan keadaan yang hampir te lan jang itu. Namun, ternyata si penata rias mengulurkan sebuah mantel beludru berwarna hitam kepadanya. "Pakai ini. Seseorang akan memintanya ketika kau akan naik ke ring," kata si penata rias. Wanita tawanan menatap tak percaya. Akan tetapi, sesaat kemudian sebuah ide muncul di benaknya begitu saja. Wanita tawanan itu mengambil lipstik di meja rias, lalu
Wanita tawanan itu dibawa ke sebuah bar terbesar di kawasan Avenida Revolution, tempat dimana lelang akan digelar malam ini. Terletak di kota Tijuana yang berbatasan langsung dengan kota San Diego, California, Avenida Revolution menjadi tempat paling strategis untuk melakukan berbagai transaksi termasuk transaksi bisnis di dunia bawah tanah.Skyline, hotel sekaligus bar dengan bangunan gedung yang menjulang tinggi nampak berdiri angkuh dengan gemerlap dan kesibukannya. Jika diperhatikan sekilas, bangunan ini hanyalah bangunan biasa sebagai perwujudan dari peradaban modern yang maju dengan tingkat kesibukan tinggi.Namun, dibalik kemewahan yang tersaji, Skyline adalah tempat di mana orang-orang melakukan apa saja demi bertahan hidup. Apa saja. Karena di balik kemewahan yang terlihat mempesona itu, Skyline di malam hari berubah menjadi tempat paling menakutkan bagi orang-orang biasa, tapi menjadi surganya orang-orang dunia bawah tanah.Sebuah aula luas di area groon floor Skyline adala
El Patron tertegun. Tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya jika si wanita tawanan akan berani menyebut namanya begitu saja. Dan sorot mata wanita itu. El Patron menemukan ada yang berbeda di sana. Tajam, berbahaya, mematikan. Namun begitu, tatapan wanita itu tetap memikat di saat yang bersamaan. El Patron melepaskan rambut si wanita tawanan dan menghempaskan kepala wanita itu begitu saja. "Kau sungguh berani, Diablita. Sebelum ini kau menyebutku Pandejo. Dan sekarang kau berani menyebut namaku. Apa kau sudah bosan hidup, Little Bit*h?" Wanita tawanan itu balas menatap tanpa gentar. Ia lalu tersenyum mengejek. "Kamu tidak akan membiarkanku mati meski kamu ingin, Mateo. Bukankah ... kamu membutuhkanku untuk mendapatkan banyak uang?" Mateo bergeming. Ia menatap wanita tawanan dengan sorot mata tajam. "Kau harus menjagaku tetap mulus tanpa cela sedikitpun jika ingin mendapat harga tinggi di acara lelang nanti. Bukankah begitu, Ma Te O?" Rahang El Patron mengeras. Ia
Si wanita tawanan mengangkat kepalanya. Ia menatap pimpinan kartel itu tanpa rasa takut sedikitpun dalam diam.Tatapan si wanita tawanan bertemu dengan tatapan tajam si pria, tapi tatapan si pria tidak membuat si wanita merasa gentar. Wanita itu balas menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.Si pria yang tak lain adalah El Patron itu tersenyum, merasa tertarik dengan keberanian si wanita tawanan."Apa kau tahu siapa aku?" tanyanya, mencoba memancing si wanita agar mau membuka mulut.Akan tetapi, si wanita tetap bergeming. El Patron menghela napas. Ia mengambil sebatang cerutu lalu membakarnya dan menghisapnya. Asap putih keluar dari mulut El Patron ketika ia menghembuskan napasnya ke udara."Aku bukan orang yang sabar, Diablita. Tapi, kali ini aku akan menahan diri agar tidak merusak barang daganganku, yaitu ... dirimu. Jadi untuk kali ini aku akan membiarkan sikap aroganmu itu. Kau harus tahu siapa aku meski aku tidak tahu siapa kamu. Anak buahku menyebutku El Patron, sedangkan o
Kota Tijuana menjadi tujuan para pengawal membawa wanita tawanan itu. Iring-iringan sebanyak tiga mobil dengan masing-masing berisi empat orang anak buah bersenjata disiapkan untuk mengawal wanita tawanan yang akan di lelang malam nanti.Akan tetapi, sebelum wanita tawanan di bawa ke tempat pelelangan, El Patron memerintahkan agar pengawal membawa wanita itu ke villa mewahnya yang terletak hanya sekitar sepuluh menit dari tempat lelang.Para pengawal yang membawa wanita tawanan itu saling lirik demi melihat betapa patuh dan tenangnya si wanita tanpa ada drama menangis atau mencoba melarikan diri seperti wanita-wanita lain yang pernah mereka tangkap sebelumnya."Apa kau tau akan dibawa kemana dirimu?" Seorang pengawal yang berada satu mobil dengan si wanita bertanya, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi hanya berisi keheningan saja.Wanita tawanan itu melirik tanpa minat kepada pengawal yang bertanya, lalu tersenyum kecil dan kembali menatap pada jalanan yang sedang mereka lewati
Sebulan kemudian ...Di sebuah ruang rumah sakit dengan penjagaan super ketat, seorang wanita menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin kamar mandi.Luka-luka di wajahnya sudah menghilang sepenuhnya. Sementara luka-luka yang lain di seluruh tubuh juga sudah hilang tak berbekas. Wajah dan seluruh tubuhnya kini sudah kembali mulus seperti sebelumnya.Wanita itu tersenyum puas setelah memperhatikan seluruh bagian tubuhnya dengan seksama."Kekuatan uang memang luar biasa," gumamnya sambil mengagumi tubuh serta wajahnya sendiri di cermin."Tapi rambutku perlu sedikit dirapikan," katanya sambil mengacak rambutnya sendiri."Ck, aku perlu ke salon. Tapi bagaimana caranya?"Wanita itu mendengus kesal. Andai dirinya bukan tawanan, tentu ia sudah pergi ke salon saat itu juga. Memikirkan kenyataan yang sedang dihadapi membuat sorot mata wanita itu tiba-tiba menajam. Kejadian sebulan lalu, yang membuat hidupnya berubah dari seorang putri mafia kaya raya menjadi tawanan kembali terngiang.







