LOGINSi wanita tawanan mengangkat kepalanya. Ia menatap pimpinan kartel itu tanpa rasa takut sedikitpun dalam diam.
Tatapan si wanita tawanan bertemu dengan tatapan tajam si pria, tapi tatapan si pria tidak membuat si wanita merasa gentar. Wanita itu balas menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Si pria yang tak lain adalah El Patron itu tersenyum, merasa tertarik dengan keberanian si wanita tawanan. "Apa kau tahu siapa aku?" tanyanya, mencoba memancing si wanita agar mau membuka mulut. Akan tetapi, si wanita tetap bergeming. El Patron menghela napas. Ia mengambil sebatang cerutu lalu membakarnya dan menghisapnya. Asap putih keluar dari mulut El Patron ketika ia menghembuskan napasnya ke udara. "Aku bukan orang yang sabar, Diablita. Tapi, kali ini aku akan menahan diri agar tidak merusak barang daganganku, yaitu ... dirimu. Jadi untuk kali ini aku akan membiarkan sikap aroganmu itu. Kau harus tahu siapa aku meski aku tidak tahu siapa kamu. Anak buahku menyebutku El Patron, sedangkan orang-orang di seluruh kartel menyebutku El Lobo. Dan aku, Mateo Aguilar Mendoza, pemimpin tertinggi sekaligus pemilik La Mendoza, kartel terbesar di negeri ini." El Patron menjeda kalimatnya. Ia kembali memusatkan perhatian kepada wanita di hadapannya itu hanya untuk mengetahui reaksinya. Namun, wanita di hadapannya itu tidak bereaksi sama sekali. El Patron mendengus. Rasanya sia-sia saja dirinya sudah berbicara sebanyak itu, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. "Apa kau tahu gosip yang sedang beredar di seluruh kartel saat ini?" Kali ini El Patron mengajukan pertanyaan retoris. Ia ingin tahu percakapan seperti apa yang bisa membuat wanita tawanan itu bereaksi hingga mau membuka mulutnya. Sedang si wanita tawanan masih tetap pada posisinya yang hanya menatapnya saja. "Don Carlos ... " Pupil mata si wanita tawanan membesar untuk sepersekian detik mendengar nama ayahnya disebut. Hanya sepersekian detik, tapi hal itu tidak luput dari perhatian El Patron. Dan itu sudah cukup bagi El Patron untuk mengetahui hal apa yang bisa membuat pertahanan si wanita tawanan goyah. "Yang dikenal sangat setia kepada mendiang istrinya, ternyata tidak seperti yang terlihat. Ia sama seperti para pemimpin kartel yang lain yang tidak cukup hanya dengan satu wanita saja. Dan yang lebih mengejutkan, Don Carlos takluk kepada wanita sepertimu. Yang usianya lebih pantas jika kamu menjadi anaknya." Pupil si wanita semakin melebar mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh El Patron. Membuat pemimpin kartel itu bersiul dalam hati. Si wanita tawanan akan bereaksi jika dirinya membicarakan Don Carlos. "Ck, jadi kau sungguh menyukai Pak Tua itu, Diablita? Usianya sudah empat puluh lima tahun. Dia juga bukan pemimpin kartel besar meski keberadaannya tidak bisa dianggap remeh. Jika kau mau, dengan wajah cantik dan tubuh seksimu itu kau bisa saja memikat pimpinan kartel yang usianya jauh lebih muda serta mempunyai kekuasaan yang lebih besar. Kenapa kau sangat bodoh, Diablita?" Tangan si wanita mengepal di kedua sisi tubuhnya. Pun dengan sorot mata yang menajam dengan rahang yang mengeras. Wanita tawanan itu terprovokasi, membuat El Patron semakin bersemangat agar wanita tawanan itu semakin menunjukkan emosinya. "Jadi, katakan padaku apa kau memang lebih menyukai pria tua untuk menyalurkan hasratmu? Apa pria seperti Don Carlos adalah seleramu? Jika begitu, maka di lelang nanti aku akan merekomendasikanmu pada Gustavo. Pria tua yang suka wanita-wanita muda sama seperti Don Carlos." "Don Carlos adalah pria terhormat, Pandejo! Dia tidak bisa disamakan dengan pria badjingan seperti Gustavo ataupun dirimu!" Habis sudah kesabaran si wanita tawanan. Emosinya meledak demi mendengar nama sang ayah direndahkan. Hampir saja ia kelepasan dan melempar pria di hadapannya itu dengan vas bunga yang ada di dekatnya jika tidak mendengar tepuk tangan serta kalimat yang diucapkan El Patron selanjutnya. "Bagus sekali! Jika aku tahu bahwa hanya dengan menyebut satu nama Don Carlos saja sudah bisa membuatmu membuka mulut, maka aku akan melakukannya lebih awal." Si wanita tawanan tertegun ketika menyadari kesalahannya sendiri. Bodoh! Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati. El Patron mematikan cerutunya dan meletakkannya di meja. Ia lalu berdiri dan berjalan mendekati si wanita tawanan dengan langkah pelan mengintimidasi. Tangannya terulur ke belakang kepala si wanita tawanan. Dengan sekali gerakan ia menarik rambut si wanita hingga membuat kepala si wanita tawanan mendongak. "Agh!" Refleks si wanita tawanan berteriak demi merasakan rasa sakit di kepalanya. Ia mengangkat tangan, memegangi rambutnya yang ditarik paksa oleh El Patron. Namun, El Patron tentu tidak mau melepasnya begitu saja. Tarikan di rambut si wanita tawanan justru semakin menguat dengan wajah El Patron yang semakin mendekat. "Jangan coba-coba memberontak, Diablita! Karena aku bisa menghancurkanmu hanya dalam satu kali gerakan saja. Cukup main-mainnya, dan katakan siapa kau sebenarnya!" El Patron mendesis tepat di depan wajah si wanuta tawanan. Namun, bukannya takut, si wanita tawanan justru tersenyum menyeringai. "Apa identitasku sangat penting hingga kau begitu penasaran ... Mateo? Bukankah sejak awal, kau sudah memanggilku dengan panggilan ... Diablita?"Tak ada yang bisa dilakukan oleh wanita tawanan selain menurut. Meski kesal, tapi ia melepaskan dua helai kain terakhir yang menutup tubuhnya di hadapan si penata rias tanpa ragu sedikitpun. Wanita tawanan itu berjalan melenggok, lalu memutar tubuhnya di hadapan penata rias. Ia memamerkan tubuh polosnya itu dengan penuh percaya diri. "Apa kau puas sekarang?" tanyanya kemudian. Si penata rias tidak menjawab. Hal itu sukses membuat wanita tawanan merasa jengah, lalu segera mengenakan dua keping kain yang bahkan tidak menutupi apapun dari tubuhnya itu. Tadinya wanita tawanan itu pikir ia akan dibawa dengan keadaan yang hampir te lan jang itu. Namun, ternyata si penata rias mengulurkan sebuah mantel beludru berwarna hitam kepadanya. "Pakai ini. Seseorang akan memintanya ketika kau akan naik ke ring," kata si penata rias. Wanita tawanan menatap tak percaya. Akan tetapi, sesaat kemudian sebuah ide muncul di benaknya begitu saja. Wanita tawanan itu mengambil lipstik di meja rias, lalu
Wanita tawanan itu dibawa ke sebuah bar terbesar di kawasan Avenida Revolution, tempat dimana lelang akan digelar malam ini. Terletak di kota Tijuana yang berbatasan langsung dengan kota San Diego, California, Avenida Revolution menjadi tempat paling strategis untuk melakukan berbagai transaksi termasuk transaksi bisnis di dunia bawah tanah.Skyline, hotel sekaligus bar dengan bangunan gedung yang menjulang tinggi nampak berdiri angkuh dengan gemerlap dan kesibukannya. Jika diperhatikan sekilas, bangunan ini hanyalah bangunan biasa sebagai perwujudan dari peradaban modern yang maju dengan tingkat kesibukan tinggi.Namun, dibalik kemewahan yang tersaji, Skyline adalah tempat di mana orang-orang melakukan apa saja demi bertahan hidup. Apa saja. Karena di balik kemewahan yang terlihat mempesona itu, Skyline di malam hari berubah menjadi tempat paling menakutkan bagi orang-orang biasa, tapi menjadi surganya orang-orang dunia bawah tanah.Sebuah aula luas di area groon floor Skyline adala
El Patron tertegun. Tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya jika si wanita tawanan akan berani menyebut namanya begitu saja. Dan sorot mata wanita itu. El Patron menemukan ada yang berbeda di sana. Tajam, berbahaya, mematikan. Namun begitu, tatapan wanita itu tetap memikat di saat yang bersamaan. El Patron melepaskan rambut si wanita tawanan dan menghempaskan kepala wanita itu begitu saja. "Kau sungguh berani, Diablita. Sebelum ini kau menyebutku Pandejo. Dan sekarang kau berani menyebut namaku. Apa kau sudah bosan hidup, Little Bit*h?" Wanita tawanan itu balas menatap tanpa gentar. Ia lalu tersenyum mengejek. "Kamu tidak akan membiarkanku mati meski kamu ingin, Mateo. Bukankah ... kamu membutuhkanku untuk mendapatkan banyak uang?" Mateo bergeming. Ia menatap wanita tawanan dengan sorot mata tajam. "Kau harus menjagaku tetap mulus tanpa cela sedikitpun jika ingin mendapat harga tinggi di acara lelang nanti. Bukankah begitu, Ma Te O?" Rahang El Patron mengeras. Ia
Si wanita tawanan mengangkat kepalanya. Ia menatap pimpinan kartel itu tanpa rasa takut sedikitpun dalam diam.Tatapan si wanita tawanan bertemu dengan tatapan tajam si pria, tapi tatapan si pria tidak membuat si wanita merasa gentar. Wanita itu balas menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.Si pria yang tak lain adalah El Patron itu tersenyum, merasa tertarik dengan keberanian si wanita tawanan."Apa kau tahu siapa aku?" tanyanya, mencoba memancing si wanita agar mau membuka mulut.Akan tetapi, si wanita tetap bergeming. El Patron menghela napas. Ia mengambil sebatang cerutu lalu membakarnya dan menghisapnya. Asap putih keluar dari mulut El Patron ketika ia menghembuskan napasnya ke udara."Aku bukan orang yang sabar, Diablita. Tapi, kali ini aku akan menahan diri agar tidak merusak barang daganganku, yaitu ... dirimu. Jadi untuk kali ini aku akan membiarkan sikap aroganmu itu. Kau harus tahu siapa aku meski aku tidak tahu siapa kamu. Anak buahku menyebutku El Patron, sedangkan o
Kota Tijuana menjadi tujuan para pengawal membawa wanita tawanan itu. Iring-iringan sebanyak tiga mobil dengan masing-masing berisi empat orang anak buah bersenjata disiapkan untuk mengawal wanita tawanan yang akan di lelang malam nanti.Akan tetapi, sebelum wanita tawanan di bawa ke tempat pelelangan, El Patron memerintahkan agar pengawal membawa wanita itu ke villa mewahnya yang terletak hanya sekitar sepuluh menit dari tempat lelang.Para pengawal yang membawa wanita tawanan itu saling lirik demi melihat betapa patuh dan tenangnya si wanita tanpa ada drama menangis atau mencoba melarikan diri seperti wanita-wanita lain yang pernah mereka tangkap sebelumnya."Apa kau tau akan dibawa kemana dirimu?" Seorang pengawal yang berada satu mobil dengan si wanita bertanya, mencoba mencairkan suasana yang sejak tadi hanya berisi keheningan saja.Wanita tawanan itu melirik tanpa minat kepada pengawal yang bertanya, lalu tersenyum kecil dan kembali menatap pada jalanan yang sedang mereka lewati
Sebulan kemudian ...Di sebuah ruang rumah sakit dengan penjagaan super ketat, seorang wanita menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin kamar mandi.Luka-luka di wajahnya sudah menghilang sepenuhnya. Sementara luka-luka yang lain di seluruh tubuh juga sudah hilang tak berbekas. Wajah dan seluruh tubuhnya kini sudah kembali mulus seperti sebelumnya.Wanita itu tersenyum puas setelah memperhatikan seluruh bagian tubuhnya dengan seksama."Kekuatan uang memang luar biasa," gumamnya sambil mengagumi tubuh serta wajahnya sendiri di cermin."Tapi rambutku perlu sedikit dirapikan," katanya sambil mengacak rambutnya sendiri."Ck, aku perlu ke salon. Tapi bagaimana caranya?"Wanita itu mendengus kesal. Andai dirinya bukan tawanan, tentu ia sudah pergi ke salon saat itu juga. Memikirkan kenyataan yang sedang dihadapi membuat sorot mata wanita itu tiba-tiba menajam. Kejadian sebulan lalu, yang membuat hidupnya berubah dari seorang putri mafia kaya raya menjadi tawanan kembali terngiang.







