LOGINTangisan Profesor Linda membasahi kemeja katun yang menempel di dada Arya.Di bawah cahaya lampu ruang kerja yang temaram, Arya membiarkan ibu mertuanya itu terisak meluapkan emosinya. Tangan kanan pria itu terangkat, mengelus rambut panjang Linda secara perlahan."Tenanglah, Ma," bisik Arya datar tanpa membalas pelukan wanita itu.Linda semakin mengeratkan lengannya di pinggang sang menantu. Bahu wanita paruh baya itu bergetar hebat menahan keharuan."Dengarkan jaminanku baik-baik," lanjut Arya menundukkan wajahnya di dekat telinga direktur klinik tersebut. "Selama Mama patuh dan berdiri tepat di belakangku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh posisimu."Jari Arya mencengkeram lembut tengkuk Linda, memaksanya mendongak. "Bahkan Victor sekalipun tidak akan berani melengserkanmu dari takhta itu," tekan Arya penuh dominasi.Jaminan perlindungan itu langsung menghancurkan sisa-sisa pertahanan mental Linda malam itu. Wanita itu menatap wajah Arya dengan mata yang memer
Tangan kanan Arya mendorong daun pintu kayu mahoni itu hingga terbuka lebar.Pria itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Victor malam itu tanpa keraguan sedikit pun.Aroma cerutu sisa perdebatan mereka sore tadi masih menggenang tajam di sudut ruangan.Arya berjalan lurus menghampiri meja kerja sang ayah mertua dengan langkah tegap.Prak!Arya melemparkan map berwarna biru ke atas permukaan meja kayu tersebut.Benda itu meluncur dan berhenti tepat di depan gelas minuman Victor."Buka map itu, Pa," ucap Arya datar tanpa basa-basi.Victor meletakkan penanya dan menarik map biru tersebut.Pria tua itu membuka halamannya dan menatap deretan angka di sana.Mata Victor seketika terbelalak lebar melihat nominal dan tanda tangan Dokter Hartono di atas materai."Lima puluh persen?" gumam Victor dengan suara tertahan.Dia mendongak menatap wajah menantunya dengan saksama."Kamu menekan Hartono hingga dia menyerahkan asetnya dengan potongan harga lima puluh persen?""Sesuai perin
Stik golf logam berayun sangat kencang membelah udara pagi.Besi pemukul itu menghantam bola putih di atas rumput hijau dengan bunyi pantulan yang nyaring.Bola kecil itu melayang melengkung di udara dan mendarat mulus di dekat lubang kesembilan.Dokter Hartono menurunkan stik golfnya dengan tawa berderai yang sangat keras. Pria paruh baya berperut buncit itu baru saja mencetak pukulan sempurna di padang rumput klub eksklusif pinggiran kota."Pukulan yang hebat, Dokter Hartono," puji salah satu rekan bisnisnya."Tentu saja," balas Hartono angkuh. "Mari kita kembali ke area loker dan minum bir dingin."Dia menyerahkan stik golfnya kepada kedi dan berjalan memimpin rombongan.Langkah Hartono mendadak terhenti saat dia baru saja memasuki area loker kayu yang sepi.Seorang gadis muda berpakaian kerja elegan mencegat jalannya. Gadis berkacamata hitam itu berdiri bersedekap menutupi akses lorong utama."Siapa kamu? Menyingkir dari jalanku," usir Hartono mengibaskan tangannya kesal.
Pintu berbahan kayu mahoni itu tertutup rapat dari arah dalam.Aroma tajam daun tembakau dan asap cerutu langsung menyengat indra penciuman Arya.Victor melangkah perlahan menyusuri karpet tebal ruang kerjanya yang luas.Tongkat peraknya berketuk pelan di lantai marmer sebelum pria tua itu duduk di kursi kebesarannya."Duduk, Arya," perintah Victor sambil menunjuk sebuah kursi kulit tepat di seberang mejanya.Arya menarik kursi tersebut tanpa bersuara sedikit pun.Dia mendaratkan pinggulnya dan menatap ayah mertuanya tanpa berkedip."Kamu punya nyali yang sangat besar pagi ini," buka Victor dengan suara berat."Kamu berani membalas setiap seranganku di depan istri dan anak-anakku saat makan siang tadi."Pria tua itu mengembuskan asap cerutu tebal ke udara ruang kerja yang temaram."Aku hanya mengatakan fakta lapangan mengenai Sonia, Pa," balas Arya tenang. "Tidak ada niat menyerang."Victor tertawa pelan.Suara tawanya terdengar kering dan sangat meremehkan."Tapi aku ini
Victor meletakkan gelas kristal kosongnya ke atas meja kayu.Suara benturan kaca itu mengakhiri perbincangan menegangkan di ruang kerja tersebut.Pria tua itu berdiri dari kursinya dan meraih tongkat peraknya."Panggil semua orang," perintah Victor dengan nada tinggi. "Kita makan siang bersama di ruang utama sekarang juga."Arya bangkit berdiri dan berjalan mengikuti langkah ayah mertuanya keluar dari ruangan.Keduanya menyusuri lorong marmer menuju ruang makan keluarga yang berada di sayap kiri rumah.Meja makan utama berbahan kayu jati panjang itu telah dipenuhi berbagai macam hidangan panas.Ada sup iga sapi, ayam panggang, dan potongan daging stik berukuran besar di tengah meja.Namun, suasana di dalam ruangan itu kini terasa sangat kaku layaknya medan perang psikologis.Victor menarik kursi dan duduk di posisi paling ujung.Pria tua itu menempati kursi utama sebagai penguasa rumah tanpa terbantahkan.Mata tajam Victor menatap satu per satu wajah keluarganya yang mulai
Mobil mewah hitam itu berhenti mulus di pelataran rumah utama.Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat mencekam sejak mereka beranjak dari bandara. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara di sepanjang perjalanan.Victor turun lebih dulu didampingi para pengawalnya. Pria tua itu melangkah masuk menyusuri lantai marmer ruang tengah dengan ketukan tongkat yang sangat konstan.Tuk. Tuk.Langkah kaki Victor terhenti tepat di tengah ruangan.Dia memutar separuh tubuhnya, menoleh menatap istri dan kedua anak perempuannya yang baru saja menyusul masuk dari pintu depan."Kalian bertiga," perintah Victor dengan nada suara berat tanpa memberikan ruang bantahan. "Segera kembali ke kamar kalian masing-masing sekarang juga."Linda, Sonia, dan Manda seketika menelan ludah."Tapi Pa, kamu baru saja menempuh penerbangan panjang. Biar Mama siapkan teh hangat dulu ke ruang depan," bujuk Linda mencoba mencairkan ketegangan."Aku bilang naik, Linda," potong Victor dingin menatap ta







