Share

Bab 90

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-11-03 21:48:06

Tangan kanan Arya mendorong daun pintu kayu mahoni itu hingga terbuka lebar.

​Pria itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Victor malam itu tanpa keraguan sedikit pun.

​Aroma cerutu sisa perdebatan mereka sore tadi masih menggenang tajam di sudut ruangan.

​Arya berjalan lurus menghampiri meja kerja sang ayah mertua dengan langkah tegap.

​Prak!

​Arya melemparkan map berwarna biru ke atas permukaan meja kayu tersebut.

​Benda itu meluncur dan berhenti tepat di depan gelas minuman Victor.

​"Buka m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 91

    Tangisan Profesor Linda membasahi kemeja katun yang menempel di dada Arya.​Di bawah cahaya lampu ruang kerja yang temaram, Arya membiarkan ibu mertuanya itu terisak meluapkan emosinya. Tangan kanan pria itu terangkat, mengelus rambut panjang Linda secara perlahan.​"Tenanglah, Ma," bisik Arya datar tanpa membalas pelukan wanita itu.​Linda semakin mengeratkan lengannya di pinggang sang menantu. Bahu wanita paruh baya itu bergetar hebat menahan keharuan.​"Dengarkan jaminanku baik-baik," lanjut Arya menundukkan wajahnya di dekat telinga direktur klinik tersebut. "Selama Mama patuh dan berdiri tepat di belakangku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh posisimu."​Jari Arya mencengkeram lembut tengkuk Linda, memaksanya mendongak. "Bahkan Victor sekalipun tidak akan berani melengserkanmu dari takhta itu," tekan Arya penuh dominasi.​Jaminan perlindungan itu langsung menghancurkan sisa-sisa pertahanan mental Linda malam itu. Wanita itu menatap wajah Arya dengan mata yang memer

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 90

    Tangan kanan Arya mendorong daun pintu kayu mahoni itu hingga terbuka lebar.​Pria itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Victor malam itu tanpa keraguan sedikit pun.​Aroma cerutu sisa perdebatan mereka sore tadi masih menggenang tajam di sudut ruangan.​Arya berjalan lurus menghampiri meja kerja sang ayah mertua dengan langkah tegap.​Prak!​Arya melemparkan map berwarna biru ke atas permukaan meja kayu tersebut.​Benda itu meluncur dan berhenti tepat di depan gelas minuman Victor.​"Buka map itu, Pa," ucap Arya datar tanpa basa-basi.​Victor meletakkan penanya dan menarik map biru tersebut.​Pria tua itu membuka halamannya dan menatap deretan angka di sana.​Mata Victor seketika terbelalak lebar melihat nominal dan tanda tangan Dokter Hartono di atas materai.​"Lima puluh persen?" gumam Victor dengan suara tertahan.​Dia mendongak menatap wajah menantunya dengan saksama.​"Kamu menekan Hartono hingga dia menyerahkan asetnya dengan potongan harga lima puluh persen?"​"Sesuai perin

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 89

    Stik golf logam berayun sangat kencang membelah udara pagi.​Besi pemukul itu menghantam bola putih di atas rumput hijau dengan bunyi pantulan yang nyaring.​Bola kecil itu melayang melengkung di udara dan mendarat mulus di dekat lubang kesembilan.​Dokter Hartono menurunkan stik golfnya dengan tawa berderai yang sangat keras. Pria paruh baya berperut buncit itu baru saja mencetak pukulan sempurna di padang rumput klub eksklusif pinggiran kota.​"Pukulan yang hebat, Dokter Hartono," puji salah satu rekan bisnisnya.​"Tentu saja," balas Hartono angkuh. "Mari kita kembali ke area loker dan minum bir dingin."​Dia menyerahkan stik golfnya kepada kedi dan berjalan memimpin rombongan.​Langkah Hartono mendadak terhenti saat dia baru saja memasuki area loker kayu yang sepi.​Seorang gadis muda berpakaian kerja elegan mencegat jalannya. Gadis berkacamata hitam itu berdiri bersedekap menutupi akses lorong utama.​"Siapa kamu? Menyingkir dari jalanku," usir Hartono mengibaskan tangannya kesal.

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 88

    Pintu berbahan kayu mahoni itu tertutup rapat dari arah dalam.​Aroma tajam daun tembakau dan asap cerutu langsung menyengat indra penciuman Arya.​Victor melangkah perlahan menyusuri karpet tebal ruang kerjanya yang luas.​Tongkat peraknya berketuk pelan di lantai marmer sebelum pria tua itu duduk di kursi kebesarannya.​"Duduk, Arya," perintah Victor sambil menunjuk sebuah kursi kulit tepat di seberang mejanya.​Arya menarik kursi tersebut tanpa bersuara sedikit pun.​Dia mendaratkan pinggulnya dan menatap ayah mertuanya tanpa berkedip.​"Kamu punya nyali yang sangat besar pagi ini," buka Victor dengan suara berat.​"Kamu berani membalas setiap seranganku di depan istri dan anak-anakku saat makan siang tadi."​Pria tua itu mengembuskan asap cerutu tebal ke udara ruang kerja yang temaram.​"Aku hanya mengatakan fakta lapangan mengenai Sonia, Pa," balas Arya tenang. "Tidak ada niat menyerang."​Victor tertawa pelan.​Suara tawanya terdengar kering dan sangat meremehkan.​"Tapi aku ini

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 87

    Victor meletakkan gelas kristal kosongnya ke atas meja kayu.​Suara benturan kaca itu mengakhiri perbincangan menegangkan di ruang kerja tersebut.​Pria tua itu berdiri dari kursinya dan meraih tongkat peraknya.​"Panggil semua orang," perintah Victor dengan nada tinggi. "Kita makan siang bersama di ruang utama sekarang juga."​Arya bangkit berdiri dan berjalan mengikuti langkah ayah mertuanya keluar dari ruangan.​Keduanya menyusuri lorong marmer menuju ruang makan keluarga yang berada di sayap kiri rumah.​Meja makan utama berbahan kayu jati panjang itu telah dipenuhi berbagai macam hidangan panas.​Ada sup iga sapi, ayam panggang, dan potongan daging stik berukuran besar di tengah meja.​Namun, suasana di dalam ruangan itu kini terasa sangat kaku layaknya medan perang psikologis.​Victor menarik kursi dan duduk di posisi paling ujung.​Pria tua itu menempati kursi utama sebagai penguasa rumah tanpa terbantahkan.​Mata tajam Victor menatap satu per satu wajah keluarganya yang mulai

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 86

    Mobil mewah hitam itu berhenti mulus di pelataran rumah utama.​Suasana di dalam kabin mobil terasa sangat mencekam sejak mereka beranjak dari bandara. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara di sepanjang perjalanan.​Victor turun lebih dulu didampingi para pengawalnya. Pria tua itu melangkah masuk menyusuri lantai marmer ruang tengah dengan ketukan tongkat yang sangat konstan.​Tuk. Tuk.​Langkah kaki Victor terhenti tepat di tengah ruangan.​Dia memutar separuh tubuhnya, menoleh menatap istri dan kedua anak perempuannya yang baru saja menyusul masuk dari pintu depan.​"Kalian bertiga," perintah Victor dengan nada suara berat tanpa memberikan ruang bantahan. "Segera kembali ke kamar kalian masing-masing sekarang juga."​Linda, Sonia, dan Manda seketika menelan ludah.​"Tapi Pa, kamu baru saja menempuh penerbangan panjang. Biar Mama siapkan teh hangat dulu ke ruang depan," bujuk Linda mencoba mencairkan ketegangan.​"Aku bilang naik, Linda," potong Victor dingin menatap ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status