Compartir

Bab 53

Autor: Skyy
last update Fecha de publicación: 2026-08-27 20:09:25

"Kami bertemu ketika aku membeli Teratai Darah Abadi."

Jawaban Revan terdengar begitu sederhana hingga membuat beberapa tetua saling berpandangan. Tidak satu pun dari mereka benar-benar mempercayainya. Mereka mengenal Tegar dengan baik.

Tidak mungkin hanya karena membeli Teratai Darah Abadi seseorang bisa menjalin hubungan dengan Kepala Balai Perdagangan Harta Langka? Jika semudah itu, mereka rela mengantri setiap hari hanya demi membeli satu tanaman spiritual.

Namun, tidak ada yang berani teru
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 160

    “Bocah, siapa sangka kau ternyata seorang menantu yang tinggal serumah dengan keluarga istrimu.” Dito menyeringai mengejek. “Kalau begitu, bukankah seharusnya kau tetap di rumah dan mengurus istrimu? Untuk apa repot-repot datang ke sini?”Empat orang yang berdiri di belakang Dito sebenarnya ingin ikut mencemooh. Namun, begitu melihat tatapan Revan yang dingin, mereka langsung menelan kembali kata-kata yang sudah berada di ujung lidah.Dito boleh saja berani tertawa karena memiliki sandaran. Mereka tidak memiliki keberanian yang sama.Pengurus Perguruan Sangkara yang berdiri di hadapan mereka justru mencibir. “Jadi kau memang seorang menantu yang tinggal di rumah keluarga istrimu.”Tatapannya terhadap Revan berubah semakin merendahkan. “Orang yang hidup dari seorang wanita seharusnya menerima hukuman lebih berat. Aku akan mematahkan salah satu lenganmu sebagai pelajaran. Setelah ini, ingat baik-baik aturan Perguruan Sangkara dan jangan membuat masalah lagi.”Pengurus itu pernah mendeng

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 159

    Para penghuni Paviliun Kecil itu bukan orang biasa. Namun, setelah melihat bagaimana kedua orang itu bertarung, mereka bahkan tidak berani mengeluh ketika tempat tinggal mereka ikut rusak.Mereka hanya bisa menjauh sambil menelan rasa takut, Mereka sadar, siapa pun yang melihat pertarungan tersebut pasti menyadari bahwa dirinya tidak mungkin menjadi lawan salah satu dari mereka.Keributan yang semakin besar akhirnya menarik perhatian para pengurus dan tetua Perguruan Sangkara. Ketika mereka tiba dan melihat Paviliun Kecil Nomor 9 telah hancur, bahkan kerusakan sudah merambat hingga Paviliun Kecil Nomor 8, wajah mereka seketika menjadi gelap.“Berhenti!”Suara keras menggema bersamaan dengan ledakan aura seorang ahli Fase Surga. Dalam sekejap, angin dahsyat terbentuk di antara Revan dan Naren, memaksa keduanya terpisah. Mereka masing-masing mundur lebih dari sepuluh langkah sebelum akhirnya berhasil menghentikan tubuh dan menstabilkan kaki.Seorang pengurus perguruan segera melangkah k

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 158

    Di luar halaman, para penonton yang sejak tadi menyaksikan pertarungan dari kejauhan sontak berubah tegang. Mereka secara naluriah mundur beberapa langkah ketika merasakan aura Naren yang semakin menekan. Berada sedikit lebih dekat saja, sudah cukup untuk membuat mereka terseret ke dalam pertarungan.“Nak, kau berhasil memaksaku mengerahkan seluruh kekuatanku. Kau seharusnya bangga!” Suara Naren terdengar dingin.Begitu kalimat itu selesai, tubuhnya melesat seperti cahaya. Dalam sekejap mata, dia sudah berada tepat di depan Revan.“Sial! Cepat sekali!” Revan terkejut ketika menyadari tinju Naren sudah berada di depan wajahnya. Dia segera mengangkat tangan untuk menahan serangan tersebut.DUG!Tinju dan lengannya bertabrakan keras.Tubuh Revan terdorong mundur dua langkah sebelum akhirnya kembali stabil.Kekuatan Naren meningkat drastis. Dibandingkan sebelumnya, daya serangnya setidaknya bertambah sekitar tiga puluh persen.Revan belum sempat membalas ketika Naren kembali bergerak. Ka

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 157

    Di sisi lain, Naren memang memiliki kekuatan yang setara dengan kultivator tingkat kesembilan Fase Roh. Dengan kata lain, pertarungan ini pada dasarnya seperti Revan sedang menghadapi seorang lawan tingkat kesembilan.Namun, tidak sedikit pun rasa gentar terlihat di mata Revan. Sebaliknya, sorot matanya justru menunjukkan sedikit kegembiraan.Naren juga menyadarinya. Dia mengerutkan kening ketika merasakan aura Revan yang jauh lebih kuat daripada yang seharusnya dimiliki kultivator tingkat keenam. “Menarik…”Semangat bertarung mulai muncul di matanya. “Nak, aku akan memberimu tiga jurus. Mari kita mulai.”Revan menatapnya santai. “Itu yang kau katakan sendiri.”Begitu suara itu jatuh, sosok Revan langsung lenyap dari tempatnya. Dalam sekejap, dia sudah muncul di hadapan Naren. Tinju Revan melesat seperti kilat dan langsung menghantam ke arah lawannya.“Cepat sekali!” gumam Naren, ia sedikit terkejut.Kecepatan Revan berada di luar perkiraannya, tetapi Naren jelas bukan lawan yang muda

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 156

    Naren berjalan paling belakang dengan langkah santai dan senyum tipis di wajahnya, di matanya semua yang terjadi di depannya hanyalah tontonan menarik.Bram berusaha menghadang, tetapi kekuatannya tidak memungkinkan dia menghentikan mereka.Di dalam ruangan, Revan akhirnya membuka mata.Seperti yang sudah dia duga, Dito memang tidak berniat membiarkan masalah kemarin selesai begitu saja. Bagi seorang tuan muda yang sejak kecil terbiasa hidup dalam keluarga besar dan dimanjakan oleh banyak orang, kehilangan muka seperti itu tentu sulit diterima.Revan bangkit dan melangkah keluar. Begitu tiba di halaman, pandangannya langsung tertuju kepada Dito beserta empat pengikutnya yang masih menyimpan luka. Namun, kali ini ada dua orang asing di antara mereka.Salah satunya memiliki wajah tampan dan pembawaan yang terlihat tenang serta elegan.Revan hanya perlu melihat sekilas untuk memahami situasinya. Orang itu jelas bukan datang untuk bertamu. Dia adalah bantuan yang dicari Dito.Dito menyeri

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 155

    Setelah semuanya duduk, Naren mengangkat cangkir dan menyeruput tehnya dengan santai.“Jadi, sebenarnya ada urusan apa sampai kau datang mencariku?” Senyum tipis muncul di wajahnya. “Jangan bilang kau ingin aku membalas dendammu?”Dia meletakkan cangkir perlahan. “Pemuda itu memang cukup kuat.”Sejak masuk tadi, ekspresi Dito tidak pernah benar-benar melunak. Mendengar sindiran tersebut, dia langsung menatap Naren. “Kalau dia mudah dihadapi, aku tidak akan datang mencarimu.”Nada suaranya tetap dingin. “Jadi, berhentilah menyindir. Aku membutuhkan bantuanmu untuk memberinya pelajaran.”Dito kemudian mengajukan tawaran. “Sebagai gantinya, aku akan memberimu Persik Penguat Raga.”Mata Naren langsung berbinar. “Kau serius?”Keempat orang yang dibawa Dito juga sontak menunjukkan perubahan pada wajah mereka.Persik Penguat Raga bukanlah benda biasa. Itu merupakan harta alam yang sangat langka dan berharga. Keluarga Sinaga telah menjaga sebuah Pohon Persik Kuno selama beberapa generasi, dan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status