Share

Bab 96

Author: Skyy
last update publish date: 2026-09-07 22:17:41

Pertarungan sengit masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan berakhir. Bagas terus menyerang meskipun tubuhnya telah dipenuhi luka, seolah-olah rasa sakit itu sudah tidak mampu mempengaruhi pikirannya dan membuatnya bertarung semakin nekat.

Setelah mendengar peringatan Tegar, Revan sebenarnya bisa saja memilih mundur dan menghindari benturan langsung. Namun, dia justru mengencangkan genggaman pada Pedang Tiga Bayangan dan kembali menyambut serangan Bagas secara frontal.

“Anak ini benar-benar ker
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 190

    Begitu Revan berdiri di arena, Arvin juga segera melompat naik. Keduanya mengambil posisi di sisi berlawanan. Tidak ada yang langsung bergerak. Mereka hanya saling memandang, seolah sedang mencoba membaca kekuatan lawan masing-masing sebelum pertarungan benar-benar dimulai.Beberapa saat berlalu sebelum Arvin membuka suara. "Kau memang sangat kuat. Tingkat kultivasiku berada di atasmu, tetapi kalau kita benar-benar bertarung, aku tidak yakin peluangku untuk menang akan besar."Itu merupakan kali pertama Arvin berbicara langsung kepada Revan.Revan menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Aku juga bisa merasakan kalau kau bukan lawan biasa."Sejak awal, Arvin memberinya kesan yang berbeda. Pria itu terlihat tenang, lembut, bahkan nyaris tidak menunjukkan keberadaan yang mencolok di antara para peserta. Namun justru itulah yang membuat Revan semakin waspada.Tanpa diketahui siapa pun, kultivasi Arvin ternyata sudah mencapai tingkat kedelapan Fase Roh. Fluktuasi energi spiritua

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 189

    Revan turun dari arena dengan langkah santai. Pertarungan barusan bahkan tidak cukup untuk membuat napasnya berubah, apalagi menimbulkan tekanan berarti baginya. Dengan kekuatan yang sekarang dimilikinya, meskipun kultivasinya belum mencapai tingkat kesembilan Fase Roh, Naren sama sekali tidak mampu menjadi ancaman.Begitu Revan menginjakkan kaki di luar arena, Bram langsung menghampirinya. Wajahnya dipenuhi senyum lebar, bahkan nada suaranya terdengar jauh lebih antusias daripada biasanya. "Revan, tadi itu hebat sekali. Kau bahkan berhasil mengalahkan Naren! Kalau begini, posisi tiga besar sudah pasti menjadi milikmu."Bram benar-benar gembira. Dia memang tahu Revan sangat kuat, tetapi kemampuan yang baru saja diperlihatkan pria itu tetap membuatnya terkejut. Naren yang selama ini dikenal sebagai salah satu kandidat terkuat ternyata bahkan tidak mampu bertahan lama di hadapan Revan.Masuk tiga besar berarti mendapatkan hak atas sebuah gua kultivasi pribadi. Bagi para murid junior, ha

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 188

    Ketika perbedaan tingkat kultivasi saja tidak mampu membuat Revan berada dalam posisi tertekan, kekuatan tempur pria itu jelas sudah melampaui apa yang seharusnya dimiliki seorang kultivator tingkat ketujuh Fase Roh."Hehe, keduanya memang luar biasa. Sayangnya, kalau berbicara soal bakat, Revan masih berada di atas Naren." Bayu tersenyum sambil mengamati pertarungan dari kejauhan. Kekaguman terlihat jelas dalam tatapannya.Naren mampu melawan kultivator yang tingkat kultivasinya lebih tinggi. Namun Revan justru berhasil menekan Naren yang berada satu tingkat di atasnya, bahkan membuat lawannya tidak mampu melakukan perlawanan berarti.Perbedaan itulah yang menjadi bukti paling jelas.Dwiki tidak ikut berkomentar. Dia hanya berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, wajahnya tenang seperti tidak ada sesuatu yang mampu menggoyahkan perhatiannya.Harsa juga tetap diam. Seperti biasa, wajahnya serius dan hampir tidak pernah memperlihatkan senyum.Di arena, Revan tidak memberi Nare

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 187

    "Apa yang dia lakukan?"Salah seorang murid di luar arena mengernyit kebingungan.Bukan hanya dia. Sebagian besar penonton juga tidak memahami alasan Naren terus berlari mengitari arena tanpa melancarkan serangan.Di antara kerumunan, Livia dan Arvin turut mengamati pertandingan tersebut dengan saksama.Sebelum Revan muncul, Naren dikenal sebagai kandidat terkuat kedua dalam seleksi murid. Karena itu, keduanya selalu menganggap Naren sebagai pesaing utama mereka.Kemunculan Revan mengubah keadaan. Kini, selain Naren, muncul satu pesaing baru yang menurut mereka jauh lebih berbahaya."Jadi kau berniat melakukan serangan mendadak?" Revan mengikuti pergerakan Naren dengan tatapan tenang. Setelah memahami pola gerak lawannya, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau memang itu rencanamu, sebaiknya kau urungkan."Naren sama sekali tidak terpengaruh. Beberapa tarikan napas kemudian, kecepatannya mencapai batas maksimal. Dari posisi berbeda, lima belati tiba-tiba melesat menuju Revan.Kelima b

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 186

    Revan mengangguk pelan. Menurutnya, lelaki tua berambut putih itu memang cukup pandai memenangkan hati para murid.Harsa kemudian maju untuk mengambil alih jalannya kompetisi. "Berikutnya, kita akan melakukan pengundian untuk menentukan pasangan pada babak ketiga. Kalian bebas memilih apakah ingin terus bertanding atau berhenti setelah menerima hadiah 100 besar."Bagi banyak murid, keputusan itu sebenarnya cukup mudah.Setelah mendapatkan hadiah 100 besar, mereka tidak melihat alasan untuk terus mempertaruhkan diri. Sebagian besar sadar bahwa kemampuan mereka terbatas dan peluang untuk mendapatkan peringkat lebih tinggi sangat kecil.Pada akhirnya, hanya 80 orang yang memilih tetap bertarung dalam kompetisi peringkat.Pengundian kembali berlangsung.Seperti babak-babak sebelumnya, nama yang terpilih akan dipanggil untuk memasuki arena dan menentukan pemenangnya melalui pertarungan.Setengah jam berlalu sebelum nama Revan akhirnya terdengar. Entah ini kebetulan atau memang sudah menjad

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 185

    Bayu, Harsa, Dwiki, Viona, dan yang lainnya saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.Di atas arena, kondisi Dito sudah semakin buruk. Tubuhnya hampir kehilangan tenaga dan kedua kakinya bahkan tidak mampu menopang tubuh dengan baik. Dia ingin menjatuhkan diri dan langsung mengakui kekalahan. Namun,Revan tetap tidak memberinya kesempatan. Satu tangan mencengkeram leher Dito, mengangkat tubuhnya sedikit dari tanah. Tangan lainnya kembali bergerak.Plak!Tamparan keras menghantam wajah Dito.“ARGH!” Dito menjerit kesakitan.Pertarungan terus berlanjut. Namun, sejak awal sampai saat itu, Dito tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Dia hanya mampu bertahan sambil menerima pukulan demi pukulan dari Revan.Bayu akhirnya terbatuk pelan. “Ehem... Bukankah anak ini agak terlalu kasar?”Dia melirik Harsa di sampingnya.Harsa mengangguk dengan wajah serius. “Memang agak berlebihan.”Menurutnya, Revan sudah kelewat jauh. Dito yang menjadi lawannya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status