แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Jintan Hitam
Tania tak bisa berkata apa-apa, dadanya terasa sesak karena amarah, lalu bergegas lari keluar.

Kerumunan orang yang menyaksikan di luar telah lenyap. Firman bersama beberapa pengawal juga telah meninggalkan area tersebut.

Ronald berdiri di samping mobil hitam mewahnya, pandangannya menunduk dan ekspresinya tampak acuh tak acuh.

Tania mengerahkan seluruh kekuatan untuk berbicara kepadanya, urat-urat di lehernya menegang karena rapuh, "Ronald, kenapa kau hanya berdiri di luar? Bukannya kita sudah sepakat untuk bercerai? Ayo, cepat masuk!"

"Tania, kaulah yang sudah memohon padaku untuk menikahimu, apa kau sudah lupa ingatan?" Dia mendongak, tatapannya tajam dan intens. "Kau sendiri yang sudah memelukku dan mengatakan bahwa meskipun aku tidak mencintaimu, asalkan kau bisa berada di sisiku dan melihatku, kau akan rela menungguku seumur hidupmu."

"Itu sudah tidak berlaku lagi!" Dadanya naik-turun dengan hebat, suaranya terdengar serak. "Semuanya sudah tidak berlaku lagi!"

Rasa sakit yang tumpul seakan menghujam hatinya, seolah-olah tergores oleh luka robek yang terbuka dan mengalirkan darah tanpa henti.

Sejauh yang Tania ingat, dia selalu mengikuti pria itu ke mana-mana.

Ronald enam tahun lebih tua darinya, dan para orang tua mengajarinya untuk memanggil dengan sebutan kakak.

Tania tidak pernah memanggil Ronald dengan sebutan kakak, dia hanya memanggil dengan nama lengkapnya. Ketika sedang bermain, dia akan memanggilnya dengan “Ronald”.

Sebagai pewaris Keluarga Adian, Ronald memiliki beban yang sangat berat. Meskipun masih muda, dia sudah bersikap dewasa dan tenang, dia sangat jenius, dan tipe "anak tetangga idaman" yang selalu dibicarakan para orang tua.

Tania selalu bisa mendatanginya saat tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya, ketika bertengkar dengan orang tuanya, ketika kekurangan uang, atau bahkan ketika dia mendapat masalah serius sekalipun.

Selama masa remaja, dia adalah gadis pemberontak di dalam keluarga, dia suka berdebat dan melarikan diri untuk pergi ke luar negeri sendirian.

Ronald akan menemukannya, lalu membawanya melakukan berbagai hal yang menarik.

Selama berada di luar negeri, keduanya sering berbaring di dek kapal pesiar sambil menatap langit yang luas, merasakan angin laut, dan juga mendengarkan deburan ombak. Dia mengajukan banyak pertanyaan kekanak-kanakan, aneh, atau bahkan gelap yang tak terhitung jumlahnya ... bahkan sampai dia sendiri pun lelah mendengarnya.

Pria itu sangat sabar dan teliti, menemaninya berbicara tentang segala hal yang ingin dia bicarakan. Suaranya yang dalam terdengar selembut lautan, dan pelukannya terasa hangat menyelimuti diri.

Dia berpikir Ronald adalah murid terbaik yang sepenuhnya fokus pada pendidikan, persis seperti yang dibilang para orang tua.

Namun selama waktu itu, pria itu akan selalu ada untuknya berbagi suka dan duka. Balap mobil, kapal pesiar, petualangan di alam liar, terjun payung, hingga menembak ... Ronald mengajarinya semua hal itu.

Di sepanjang masa kecil, masa remaja, dan juga masa mudanya.

Ronald selalu menjadi orang yang paling dia kagumi.

Dia percaya telah melihat sisi Ronald yang belum pernah dilihat orang lain.

Dia juga percaya bahwa mereka berdua sosok yang saling melengkapi bagi satu sama lain.

Jadi, dia pernah berkata akan rela menunggu pria itu seumur hidup.

Namun sekarang, pria itu telah berubah.

Orang-orang saja telah berubah, jadi kenapa dia harus tetap pada janjinya?

“Ronald.” Dia memanggil nama pria itu dengan sungguh-sungguh dan bergumam pelan, “Semalam, apa kau mencariku? Apa kau pernah mengkhawatirkanku?”

Ronald menatapnya lekat, tatapan tanpa amarah, hanya sebuah ketenangan yang dingin. “Kau mendorong Riska, lalu kabur tanpa meminta maaf, aku juga tidak bisa menghubungi teleponmu. Kau masih berharap aku datang mencarimu? Tania, kau itu sudah berumur dua puluh empat tahun, bukan anak empat tahun lagi.”

“Kau pikir aku yang mendorong Riska? Kau pikir aku akan tega mendorong orang cacat? Apakah itu caramu memandangku selama ini?” Suaranya hampir tak terdengar, gelombang ketidakberdayaan seakan menyelimuti dirinya.

“Lalu, kau ingin aku berpikir bagaimana? Riska itu memiliki harga diri yang tinggi, apa mungkin dia akan sengaja berpura-pura jatuh di tempat ramai hingga kaki palsunya terlepas? Apakah itu masuk akal?” Ronald berusaha mengendalikan amarahnya. “Aku tahu kau tidak sengaja mendorongnya. Kau hanya sedang kehilangan kendali, bertindak gegabah, dan hanya ingin melampiaskan emosi.”

Tania membuka bibirnya, dan menghela napas pelan. Dia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan, dan tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut.

“Iya, benar. Aku memang sekejam dan seegois itu. Kalau begitu, cepat ceraikan aku! Kantor ini akan buka kembali jam dua siang, aku akan terus berada di sini. Aku jamin kau akan bisa bercerai dengan perempuan kejam dan egois ini hari ini!”

Ronald menatapnya tajam, dan amarahnya yang terpendam akhirnya meledak. Sisa akal sehatnya mengatakan bahwa dia tidak bisa bicara sekarang.

Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Tania dan menariknya ke dalam mobil.

“Lepaskan aku!” Kekuatannya seperti domba yang akan disembelih di hadapan pria itu.

Pintu mobil tertutup rapat.

Tania melihat anak itu yang sedang tenang mengerjakan tugas sekolahnya di dalam mobil.

Pada saat itu, sisa akal sehat terakhir di otaknya benar-benar runtuh. Wajahnya memerah, dan matanya menatap tajam ke arah Ronald. “Kau ini bukan manusia, ya? Berani sekali kau membuatku melihat anak ini. Aku akan membunuhnya sekarang juga, kau percaya?”

Anak itu seolah tidak bisa menyadari kemarahan orang dewasa dan kata-kata yang penuh emosi itu, dia hanya terus mengerjakan tugasnya dengan tenang.

Ronald memejamkan mata sejenak, lalu saat membukanya, napasnya terdengar berat. "Kau ingin bercerai, baik. Tapi jangan dengan kondisi seperti ini. Apa kau ingin semua orang bergosip kalau Keluarga Adian sudah menganiayamu?"

Tania menundukkan kepala, amarahnya yang meluap-luap kini seolah mencair menjadi genangan air es yang tak dipedulikan oleh siapa pun.

Bahkan sekarang, pria itu lebih peduli pada reputasi Keluarga Adian.

Dia mendengar Ronald dengan tenang memberi instruksi kepada sopir untuk mengemudi, lalu menyuruh Firman menelepon Bi Yuni, pelayan di rumah, untuk menyiapkan obat disinfektan dan pakaian Tania.

Bi Yuni sempat tertegun sejenak. "Tapi di rumah sudah tidak ada lagi pakaian Nyonya."

Tatapan Ronald membeku, lalu tertuju padanya.

Tania berkata, "Aku sudah menyuruh temanku memindahkan barang-barangku keluar."

Dia menyuruh sopir berhenti, lalu senyum paksa tersungging di bibirnya yang kering saat menatap Ronald. "Aku akan berpakaian ... pantas untuk status Keluarga Adian-mu itu saat kita bercerai."

Sebelumnya, sehebat apa pun mereka berdebat, hal ini tidak pernah terjadi.

Sesuatu tampaknya telah berubah.

“Terserah.” Nada suara Ronald terdengar datar, ada sedikit ejekan terpancar di sorot matanya. “Kalau kau turun sekarang, kira-kira apa yang akan menjadi berita utama acara gosip besok?”

Tania melirik mobil-mobil yang mengikuti di belakang mereka melalui kaca spion. Media memiliki berbagai cara untuk mengarang cerita dan menjerumuskan seseorang ke dalam sasaran kritik publik.

Tentu saja, Ronald peduli dengan reputasi Keluarga Adian, bukan dirinya.

Setengah jam kemudian, Tania mengikutinya kembali ke rumah yang mereka tinggali selama ini.

Rumah pernikahan mereka berada di komplek perumahan di luar Jalan Lingkar Dalam Kota. Mereka hanya tinggal di sana untuk malam pernikahan mereka saja. Keesokan harinya, Ronald pindah sendiri ke apartemen mewah di daerah pusat kota yang ramai.

Tania tak sanggup berpisah dari suaminya itu, jadi dia mengikuti pria itu ke sana, meskipun dia sebenarnya lebih menyukai kebebasan dan ketenangan di kompleks perumahan mereka.

Sejak pindah ke sana, Ronald selalu pulang terlambat karena lembur bekerja, kadang-kadang sampai tidak pulang sama sekali. Bahkan saat berhubungan intim pun, Tania yang selalu mengambil inisiatif.

Sosok Ronald berwatak pendiam dan rasional, jadi dia sudah terbiasa dengan hal itu. Terkadang ketika pria itu menunjukkan sedikit kelembutan padanya, itu sudah cukup untuk membuat Tania tergila-gila.

“Asisten akan segera membawakan pakaian ke sini,” katanya, lalu masuk ke ruang kerja. Anak itu mengikuti dari belakang, dan keduanya tampak seperti ayah dan anak kandung.

Dia menatap punggung kedua sosok itu, yang satu besar dan yang satunya kecil, lalu matanya tiba-tiba terasa perih.

Tak lama kemudian, asisten membawakan pakaiannya, dengan didampingi oleh Riska.

Riska menjelaskan terlebih dahulu, “Aku datang untuk menjemput Lian.”

Tania mengambil pakaian itu, dan menggunakan hak terakhirnya sebagai nyonya rumah. “Aku tidak suka ada wanita asing masuk ke rumahku.”

Wajah Riska memerah, tetapi hanya sesaat. Kemudian, dia segera pulih dengan cepat. “Pak Adrian, tolong bawakan anak itu keluar.” Dia menyerahkan beberapa foto. “Foto-fotonya sudah dicetak. Sekalian tolong berikan juga foto-foto ini padanya. Terima kasih.”

Saat Adrian mengambil foto-foto itu, tumpukan foto tanpa sengaja terjatuh ke lantai.

Beberapa foto mendarat di kaki Tania.

Dalam foto-foto tersebut, Ronald tampak beberapa tahun lebih muda, dia terlihat mengenakan kemeja putih, dan tatapannya sedang tertunduk fokus menatap bayi yang dibungkus kain.

Ketenangan dan sikap acuh tak acuhnya selama ini seolah telah hilang, digantikan oleh kelembutan yang tak tertahankan di sorot matanya.

Mungkinkah seorang pria yang begitu rasional dan selalu dingin itu akan memperlakukan seorang anak yang tidak ada hubungan darah dengan dirinya sebagai anaknya sendiri, hanya karena anak itu lahir dari wanita yang dicintainya?

Bagaimana mungkin?

Foto itu memberi Tania jawabannya.

Anak itu berusia enam tahun, sedangkan dia dan Ronald baru menikah selama empat tahun .…

Suara berdengung tajam di telinga seketika menyerang otaknya. Tiba-tiba tubuhnya gemetar, dia ingin menangis tetapi tidak mampu mengeluarkan air mata. Dia bahkan mengalami mual, dan perasaan sesak napas hampir menguasai seluruh kesadarannya.

Potongan-potongan kenangan langsung membanjiri pikirannya.

Selama empat tahun ini, mengapa dia selalu pulang sangat malam? Mengapa dia selalu begitu sibuk? Mengapa dia tidak pernah menginginkan anak?

Mengingat kembali kejadian barusan saat dia berlagak tidak membiarkan Riska masuk, wanita itu mungkin sedang mencibir di dalam hatinya.

Betapa bodohnya dia! Dia ternyata berpegang teguh pada pernikahan yang hampa selama ini, namun hatinya masih terus penuh dengan harapan. Tidak ada yang lebih bodoh dari dirinya di dunia ini.

Untungnya, dia akan segera terbebas.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 50

    Bagaimana mungkin dia bisa tertangkap semudah itu, dan kebetulan juga dalangnya terungkap sebagai tokoh besar industri teknologi yang kemungkinan besar akan memenangkan juara pertama dalam pemungutan suara?Tiba-tiba, dia teringat apa yang didengarnya di klub waktu itu. Ronald telah membeli robot itu untuk Riska, dan tujuannya adalah untuk membantu Riska menang. Mungkinkah ini juga salah satu pengaturannya?Jika sebelumnya, Tania tidak akan pernah memercayai hal ini. Tetapi sekarang, di matanya, Ronald tidak memiliki prinsip lagi jika berhubungan dengan Riska.Tania tiba-tiba merasa sangat bersyukur karena saat itu profesor menyuruhnya untuk mengirimkan karya dengan nama Line, namun dia telah mengubah namanya untuk menghindari pelacakan Keluarga Adian.Jika dia menggunakan nama Line, maka Ronald mungkin akan mengatur drama serupa untuk membantu Riska memenangkan tempat pertama.Di ponselnya, ada pesan lain dari Yulia.Isinya adalah tangkapan layar dari status WhatsApp.Unggahan Riska y

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 49

    "Baguslah." Nenek menutup telepon, lalu menatap Tania. "Lihat, dia masih peduli padamu. Kalian hanya perlu berkomunikasi dengan baik."Dia menundukkan pandangannya dan akhirnya tidak mengatakan apa-apa.Tania dan Nenek Dina langsung pergi ke rumah sakit.Kakek berbaring tenang di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat dan kusam, bibirnya kering dan putih, kelopak matanya terkulai lemas, kerutan tipis muncul di sudut matanya. Bahkan napasnya sangat lemah hingga dadanya hampir tidak terlihat naik dan turun, hanya hembusan napas tipis dari hidungnya yang membuktikan dia masih hidup.Nenek memasuki kamar rawat, air mata langsung menetes hanya dengan sekali pandang saja. Dia terhuyung dan jatuh bersandar ke tempat tidur.Tania segera menopangnya. "Nenek, jangan khawatir. Dokter bilang kakek masih punya kesempatan untuk sembuh."Meskipun peluang sembuh itu sangat kecil, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.Nenek menggelengkan kepala, matanya memerah. "Kenapa bisa jadi begini? Aku sakit, b

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 48

    Sambil berbicara, air mata sudah mengalir di wajah Nenek Dina seperti kayu kering, "Pasti telah terjadi sesuatu, kan? Tania, jangan berbohong lagi, beri tahu Nenek seberapa serius kondisi kakekmu."Pada detik berikutnya, Tania sudah tidak bisa menahannya lagi dan langsung menangis. Dadanya bergetar, dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan memeluk neneknya, "Nek, masih ada aku. Kakek hanya perlu memulihkan diri. Nenek juga harus istirahat yang baik. Ayo, kita kembali ya? Aku sudah membawakan bubur kesukaan Nenek."“Kalau kau tidak mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakekmu hari ini, Nenek tidak akan kembali.” Bibir nenek bergetar. "Pasti sudah terjadi sesuatu yang serius padanya. Saat aku sakit, dia selalu merawat dan menjagaku. Tapi saat dia sakit, aku bahkan tidak bisa memandangnya. Ini tidak adil baginya dan juga tidak adil bagiku."Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Nenek ...."Dia juga tidak tega."Tania, katakan saja. Apa pun itu, Nenek bisa menangg

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 47

    "Nenek yang menyuruhku," jawab Tania jujur.Langkah pria itu terhenti, matanya yang hitam menatap Tania, nada suaranya terdengar dingin, "Kau tidak perlu datang lagi."Setelah mengatakan itu, dia duduk untuk mulai makan.Tania mengambil foto dan mengirimkannya kepada nenek, lalu berbalik untuk pergi.Ronald mendongak. "Kau tidak makan?""Tidak." Dia tidak ingin makan di ruangan ini. Entah apa yang baru saja mereka berdua lakukan di dalam tadi, Tania merasa sangat jijik.Ronald berbicara lagi, "Duduk dan makanlah sedikit. Kalau tidak, nanti gula darahmu turun lagi."Langkah Tania terhenti. Gula darahnya pernah turun disebabkan oleh diet ketat untuk menari.Sekarang dia sudah tidak lagi berdiet, tentu saja dia tidak akan lagi mengalami gula darah rendah.Tania menoleh dan menatapnya. "Aku sudah makan.""Tania, kau sibuk apa akhir-akhir ini?" Dia bertanya dengan santai, pandangan matanya menunduk.Tania meliriknya sekilas, "Grup tari ...."Ronald mendongak dan menatap ke arah luar jendela

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 46

    Setelah Tania secara terbuka mengungkapkan perasaannya kepada Ronald, Yulia justru berbalik memusuhinya, karena Yulia sendiri juga menyukai Ronald.Dia berpikir foto itu mungkin sudah beredar di seluruh lingkaran mereka, dan semua orang sudah melihatnya.Tetapi, itu sudah tidak penting lagi baginya. Setelah perceraian, semua orang ini akan menghilang dari dunianya.Dia lalu mematikan ponselnya tanpa membalas.Pagi itu, Tania menghabiskan seluruh pagi di laboratorium, sibuk dengan berbagai instrumen presisi bersama rekan-rekannya.Tim mereka saat ini sedang meneliti penginderaan humanoid yang bertujuan untuk memberikan robot "sensasi rasa" seperti tangan manusia, hingga mencapai persepsi daya sentuh tingkat mikron. Diharapkan robot itu mampu merasakan tekstur kelembutan kain sutra, kertas, dan telur tanpa menghancurkannya.Pada siang hari, dia kembali ke rumah itu. Baru kemudian, dia menyadari bahwa niat nenek sebenarnya bukanlah memanggilnya kembali untuk makan siang, tetapi untuk meny

  • Mencairnya Hati Suami CEO yang Dingin   Bab 45

    Tania menatap Bi Yuni sejenak, lalu berkata, "Bawa dia ke kamar."Meninggalkannya tanpa pengawasan di ruang tamu tidak akan terlihat baik jika nenek sampai melihatnya.Masukkan dia ke kamar dan tutup pintunya. Dia akan merapikan dirinya sendiri saat bangun besok.Bi Yuni mengira kalau Tania sendiri yang akan merawatnya, jadi dia dan pelayan lain hanya membawa Ronald ke kamar tidur.Mereka menempatkannya di ujung tempat tidur.Setelah keduanya pergi, pintu langsung ditutup.Tania berdiri di samping pria itu, melihat bekas lipstik di kerah bajunya, lalu mendorongnya ke karpet. Dia sendiri langsung membersihkan diri, mematikan lampu, dan pergi tidur.Setelah tertidur, Tania merasakan sesosok tubuh hangat menempel erat padanya.Dia terbangun saat fajar, dan pria di kamar itu sudah tidak ada lagi.Robot milik Tania sudah selesai, dan dia akan mengirimkannya ke lokasi pameran hari ini.Saat hendak pergi, nenek memanggilnya, "Nanti makan siang di rumah ya."Tania tidak ingin berdebat denganny

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status