Pagi itu Nanang mencari sarapan di sekitar rumah tempatnya menginap. Rumah itu terletak di tepi jalan, tapi bukan rute angkot. Di ruas jalan itu, pada mulanya adalah wilayah perumahan untuk kalangan menengah. Derasnya arus wisatawan yang datang ke Bandung saat weekend, membuat banyak kawasan perumahan menjadi kawasan bisnis. Tak terkecuali di jalan kecil tersebut. Hampir semua rumah di situ sudah beralih fungsi, ada yang menjadi homestay, kafe, rumah makan, butik busana, toko sepatu dan tas untuk wanita, klinik medis 24 jam, salon, bahkan ada yang sudah menyewakan seluruh rumahnya untuk menjadi kantor bank dan minimarket.Nanang pulang dengan membawa dua bungkus nasi kuning dan beberapa kue serabi.“Wah, di sebelah mana yang jualan makanan ini, Nang?” tanya Maryam.“Jauh Teh, tadi aku jalan kaki ke luar dari wilayah ini, akhirnya nemu penjual nasi kuning gerobakan, dan serabi juga gerobakan. Kayaknya di jalan ini mah, nggak ada warteg atau warung ampera, yang ada kafe sama restoran,
Malam itu Maryam banyak mengobrol dengan emaknya. Dia berada di sebuah kamar, dalam rumah yang sudah disediakan oleh Marco untuk tempat tinggal dan tempat usaha. Marco sendiri harus kembali ke rumah sakit setelah makan malam bareng Maryam. Keluarga besarnya kumpul di rumah sakit, menunggui Pak Waluya Wiratama, kakeknya Marco, yang sudah kritis di ruang ICU. Sedangkan Nanang tidur di kamar yang satu lagi, ada di lantai dua rumah itu.“Nok, besok pagi emak pulang ke Cirebon, ya? Sira kan, sudah aman, sudah sehat juga, sudah ketemu lagi dengan suami, jadi emak juga ora kuatir lagi sama kamu.” tutur Juwariyah.“Emak nggak betah di sini?”“Bukan nggak betah, tapi emak kan, ninggalin adikmu. Nur dititipkan di rumah bibinya, tapi kasihan dia kalau terlalu lama ditinggal. Emak juga sudah pengin jualan lagi. Kalau kelamaan libur, nanti pelanggan hilang.”Adik bungsu Maryam yang bernama Nurjanah masih sekolah di SMK. Dia terkadang menginap di rumah bibinya, yang punya anak perempuan satu sekola
Marco tiba di hotel tempat keluarga Maryam menginap. Maryam merasa kedatangan Marco sembari membawa kemarahan.Heru menatap Marco dengan sorot mata kesal. “Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan orang lain!” ujar Heru.“Saya nggak ada urusan dengan Anda!” sahut Marco, lantas beralih pada Maryam, “apa yang kamu kerjakan di sini?”“Bang, tolong jangan salah paham, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan dia.” Maryam melirik ke arah Heru, “mereka mau mengajak bicara, daripada ngobrol di kamar lebih baik aku yang datang ke lobi. Tapi aku cuma sekadar bicara ....”“Ayo balik ke kamar!” ujar Marco.Bu Farida bersuara, “Kamu siapa? Datang-datang malah memotong pembicaraan kami dengan Maryam!”“Saya suaminya Maryam, dan saya tidak izinkan istri saya lanjut bicara dengan Anda. Dia masih sakit, butuh istirahat!”Bu Farida saling pandang dengan Heru. Namun, Bu Farida yang terbiasa memerintah orang lain, tidak terima jika permintaannya diabaikan.“Maryam, tunggu sebentar! Saya hanya ingin kamu bicar
Seorang petugas hotel memberi tahu bahwa ada tamu untuk Maryam. Setelah mengembalikan ponsel pada Nanang, Maryam berjalan ke luar kamar, dipapah oleh adiknya. Di lobi hotel, Maryam melihat keluarga Bu Farida ada di situ.“Bagaimana Anda bisa tahu saya ada di sini?”“Saya mengikuti mobil yang membawa kamu,” jawab Heru, “maaf, terpaksa saya lakukan, karena anak saya terus saja menangis, pengin bertemu denganmu.”“Bunda!” Si kecil Sarah melepaskan diri dari gendongan Bi Rumsih, dia berlari ke arah Maryam, lantas memeluk kakinya. Maryam meringis karena tangan mungil Sarah menekan bagian kaki yang terluka. Walau luka itu sudah dijahit oleh dokter, namun masih terasa ngilu.Heru lekas mengambil anak itu, dan menggendongnya walau Sarah terus merengek memanggil-manggil orang yang dia kira bundanya. Petugas hotel yang melihat adegan itu, mengira ada pasangan suami istri sedang bertengkar, si istri memilih tidur di hotel, lantas disusul oleh suami dan mertua, karena sang anak ingin bersama mama
Gadis kecil itu naik ke pangkuan Maryam. “Bi Rumsih, tolong ambil Sarah dari pangkuan saya, kaki saya masih sakit.”Sarah menangis ketika Bi Rumsih menggendongnya. “Mau sama Bunda, huhuhu ....”Heru menatap Maryam, “Kamu mau pulang ke mana?”“Ke tempat saya.” jawab pria muda yang masih berdiri di dekat Maryam. Heru mengira pria itu adalah suami Maryam. Heru berucap, “Maryam masih butuh pengobatan dan terapi yang cukup panjang, biayanya juga lumayan. Kalau misalnya nanti Maryam butuh dana pengobatan, jangan sungkan menghubungi saya.” Heru meletakkan kartu namanya di pangkuan Maryam.“Terima kasih.” ucap Maryam, lantas memberikan kartu nama itu pada pria muda di sampingnya. Pria muda itu memasukkan kartu nama Heru ke saku bajunya.Heru agak heran melihat reaksi pria itu. Biasanya seorang suami akan merasa kesal, cemburu, dan emosi jika ada pria lain yang memberi perhatian pada istrinya. Akan tetapi pria muda itu malah tampak biasa saja.“Ehm, maaf Maryam, kalau boleh tahu, dia ini si
Heru masih menatap Maryam yang sedang berbicara dengan seorang wanita separuh baya. Sementara pria muda yang datang bersama wanita separuh baya itu, berdiri di dekat Maryam sembari merangkul bahu Maryam. Sepertinya Maryam sudah cukup kepayahan berdiri, karena kakinya masih sakit, maka dia kembali duduk di kursi roda. Wanita separuh baya itu menciumi Maryam, bahkan pria muda itu juga mencium kepala Maryam yang tertutup jilbab.Bu Farida sudah selesai diinterogasi oleh penyidik. Sejak awal pengacaranya sudah wanti-wanti agar Bu Farida tidak ngotot merasa paling benar sendiri. Karena kenyataannya Bu Farida memang salah, ketika pihak RS mengirim pesan bahwa ada kesalahan identifikasi pasien, Bu Farida tidak mengantarkan pasien yang dibawanya, untuk dikembalikan ke RS. Bahkan Bu Farida terkesan menghindar dengan cara meninggalkan rumahnya, sambil membawa Maryam.Di hadapan penyidik, dan pengacara dari para pelapor, Bu Farida memohon maaf. Dia tidak bermaksud untuk menyekap Maryam, apalagi