เข้าสู่ระบบyang kemarin menang seru-seruan bab 143 (pengumamn di bab 147) yang belum dua kasih nomornya 2 orang lagi. Kuy ditunggu sampai besok ya.
Hamish keluar dari kamar dalam keadaan segar, bugar, dan tentu saja bahagia. Segala resah, letih, dan amarahanya lenyap tak bersisa.Sementara di dalam kamar, Kalea meringkuk. Tertidur lelap, lelah. Sungguh sebuah keadaan yang kontradiktif.“May,” panggil Hamish. Melihat asisten rumah tangganya yang sedang membersihkan perabot.“Ya, Tuan.”“Anak-anak belum bangun?”“Belum, Tuan. Eh, salah. Maksudnya belum semuanya, Tuan. Teman-temannya Nala belum bangun, EL juga belum. Tapi Nala sudah. Tadi saya lihat lagi di kebun belakang, kasih makan kelincinya.”Hamish mengangguk, lalu bergegas mencari putrinya.Dan benar, Shaynala sedang berjongkok di bawah pohon tanjung yang sedang berbunga banyak. Wangi bunganya semerbak, sudah tercium bahkan dari beberapa meter.Di bawah pohon sana, Shaynala tak sendirian. Gadis itu ditemani dua ekor kelinci abu-abu besar yang sudah dirawat dari dua tahun lalu. Ia terlihat asyik memberikan sayuran pada dua kelincinya itu.Hamish tersenyum. Akhirnya, ia bisa ke
Hamish bersandar di bathtub dan ia biarkan Kalea memijit kepala serta pundaknya. Ah, rasanya segala pusing dan kepenatan sirna sudah. Jika telah seperti ini, ia merasa dunia dan seisinya ada dalam genggamannya.Tak ada yang lebih membahagiakannya selain bisa selalu pulang ke rumah yang di dalamnya ada istri dan anak-anak yang dicintainya. Pulang dengan sambutan penuh cinta dan kasih.“Aku pria paling beruntung di dunia,” ucap Hamish dengan mata terpejam. Merasakan nikmatnya sentuhan tangan Kalea.“Beruntung?” tanya Kalea.“Hmm. Aku punya kamu. Punya Nala. Punya ELvano. Hidupku lengkap. Sempurna. Penuh.”Kalea tersenyum, lalu mengecup pucuk kepala Hamish.“Aku masih merasa bahwa ini mimpi karena semuanya terlalu indah. Aku tiga puluh tahun lalu sepertinya tak pernah sedikit pun terbayang akan menjalani hidup sesempurna ini. Punya istri, punya anak-anak. Punya keluarga sendiri. Bagiku, ini kehidupan yang sangat mewah. Apalagi untukku yang seorang pendosa ini.”“Semua orang pernah menjad
Semua orang kini memenuhi kantor polisi setempat. Ling Ling dan kawan-kawan dimintai keterangan perihal kematian Gwen.Baik Ling Ling ataupun yang lain tak ada yang bisa berkata-kata terlalu banyak. Semuanya syok. Tak mengira jika Gwen akan mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara mengerikan pula.Mereka juga tak ada yang nafsu makan karena melihat langsung dengan mata kepala sendiri bagaimana akhir hidup Gwen. Semua terbayang-bayang. Baik ketika Gwen yang berlari-lari sambil meminta tolong tanpa henti seperti dikejar sesuatu, lalu ketika Gwen berteriak-teriak di tengah jalan tol sebelum akhirnya tubuhnya berkeping-keping.Martha bahkan saat ini dilarikan ke rumah sakit gara-gara terus menerus pingsan saking terguncangnya melihat pemandangan semengerikan itu. Apalagi sebelumnya mereka sempat berinteraksi dekat. Semua seperti mimpi buruk.Stephen menjadi yang paling sibuk. Mondar-mandir memeriksa kondisi orang tuanya juga kawan-kawan yang lain. Memastikan agar mereka tetap fit dan kuat
Hamish menemukan Arsen dan Nathan tengah duduk-duduk di bangku di tepi jalan yang sepi. Nathan menangis tersedu-sedu dengan Arsen yang merangkul bahunya.Pria itu langsung turun dan menghampiri keduanya. Menatap kakak beradik itu berganti-gantian.“Ya Tuhan,” ucap Hamish. Berkacak pinggang sambil berdecak. Iba. Melihat anak-anak harus terlantar di tepi jalan malam buta. Padahal keduanya masih punya orang tua lengkap.“Om,” sapa Arsen, lalu menyikut adiknya agar ikut menyapa.“Kalian tak apa?” tanya Hamish.Arsen pun menggeleng. Sementara Nathan masih sesenggukan.Anak itu masih ketakutan. Selain itu, dia sangat sedih karena harus terdampar di jalanan padahal matanya sangat ngantuk.“Masuklah ke mobil. Pulang ke rumahku,” ucap Hamish.Arsen mengangguk, lalu mengajak Nathan untuk mengikuti Hamish.“Sementara, tinggallah di rumahku. Nanti akan kuminta orang tuamu datang menjemput,” sambung Hamish.Arsen mengangguk dan berterima kasih.“Apa orang tuamu masih tak bisa dihubungi sama sekali?
“Nat, ayo kemas baju-bajumu,” bisik Arsen pada Nathan, adik lelakinya.“Kita mau kemana, Bang?”“Kita pergi ke rumah teman abang. Ayo!”Setelah menelepon Wiliiam, Arsen bergegas memasukkan beberapa barang dan buku-buku ke dalam ransel besar. Dan kini, ia membantu sang adik untuk turut bersiap-siap.“Apa Papa nanti tak akan marah kita pergi, Bang?”“Persetan dengan dia! Kita tersiksa kita mati pun dia tak akan peduli! Yang dipedulikannya hanya karier dia saja. Kalau dia peduli, aku baru pulang dari rumah sakit pun tak akan ditelantarkan. Dia juga tak akan memecat semua ART di rumah. Kita dipaksa hidup sendiri. Dasar brengsek!” Arsen terengah-engah saat mengeluarkan semua unek-unek tentang ayahnya.“Tak perlu bawa banyak-banyak. Yang penting malam ini kita pergi dari sini dulu!” Arsen segera menyuruh adiknya memakai ransel sendiri. Kemudian, ia membawa adiknya keluar dari kamar.Keduanya berjalan cepat, mengendap-endap. Menuruni tangga menuju lantai satu rumah dengan setengah berlari, t
Suara berdesing gergaji mesin memenuhi seantero rumah Hamish. Semua orang menahan napas, menunggu detik-detik pria itu hendak memotong daun pintu. Termasuk Kalea yang menatap suaminya dengan rasa cemas.Kalea hanya bisa membiarkan. Jika sudah mode seperti itu, Hamish tak bisa diganggu gugat lagi. Jika sudah berkehendak dengan yakin, maka dia akan melakukannya tanpa tapi.Ia hanya berharap Shaynala baik-baik saja di dalam sana dan hubungan ayah serta anak itu bisa segera kembali membaik.Hamish mulai mengarahkan ujung gergaji ke pintu. Pikirannya sudah kemana-mana. Tak tenang. Dia tak punya pilihan lain selain membuka paksa pintu demi memastikan kondisi putrinya baik-baik saja.Dan saat ujung mata gergaji tinggal seinci lagi menyentuh daun pintu, di saat itu pula suara kunci terdengar diputar. Tak lama, daun pun menguak terbuka.Shaynala muncul dengan wajah pucat juga kuyu. Kedua bahunya jatuh dengan sorot mata yang hampa.“Nalaaa!” William berseru begitu juga Kalea.Sementara Hamish,
Kalea mau tak mau datang mendekat. Kepalanya menunduk dengan jari jemari saling bertaut.“Angkat wajahmu!” perintah Hamish.Kalea mendongak, tetapi tak berani menatap mata pria itu. Apalagi dalam jarak sedekat itu.“Apa kamu selalu seperti itu jika sedang marah?” tanya Hamish.“Seperti apa?” tanya
Kalea mengikuti perintah Hamish. Ia kerjakan seluruh pakerjaannya di hari itu dan segera bersiap-siap menunggu jam satu.Gadis itu memakai dress biru selutut pemberian Hamish. Rambutnya disisir rapi, sengaja diurai dengan jepitan manis tersemat. Wajahnya ia pulas dengan bedak tipis juga liptint che
“Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“
“Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m







