ANMELDEN"Selamat pagi."Suara bariton Caleb yang berat menyambut Aurelia begitu kelopak matanya terbuka. Pria itu sudah memosisikan tubuhnya bertumpu pada siku, menatap Aurelia dari atas dengan intensitas yang tak berkurang sedikit pun dari semalam.Jantung itu berulah lagi. Aurelia berharap Caleb tidak mendengarnya. Caleb sudah mandi. Wanginya sangat merusak akal sehat. Dan apa-apaan ini? Kenapa Caleb tidak pakai atasan? Mau pamer otot?Sial! Dia tampan sekali pagi ini. "Tidurmu nyenyak?"Aurelia menarik selimut lebih tinggi, menutupi dadanya. "Ya, lumayan." Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyoroti garis rahang Caleb yang tegas. Tangannya gatal ingin menyentuhnya. Bagaimana bisa ia tetap tampan seperti dulu meski puluhan tahun sudah berlalu!"Senang mendengarnya.""Aku harus melihat Maxi," ujar Aurelia, berusaha mengabaikan lengan kokoh Caleb yang masih melingkar protektif di pinggangnya."Maxi masih tidur," balas Caleb datar. Jemarinya bergerak menyingkirkan anak rambut d
"Kau pikir pura-pura tidur bisa menghapus fakta bahwa kau bergetar saat kusentuh?"Bisikan tajam Caleb menghantam tengkuk Aurelia, meruntuhkan seluruh pertahanan yang baru saja coba dibangunnya. Aurelia membuka mata lebar-lebar di balik kegelapan. Ia tidak bergerak sedikit pun, membiarkan tubuhnya tetap membelakangi pria itu."Tidur, Caleb," tegur Aurelia dingin, suaranya berusaha dipacu agar tidak gemetar. Kenyataannya, sentuhan pria itu- sekecil apa pun, selalu berhasil membuat tubuhnya bereaksi. Caleb justru mengikis jarak, merebahkan tubuhnya melintang tepat di samping Aurelia. Lengan kokohnya melingkar mantap di pinggang wanita itu, menarik punggung ramping Aurelia hingga menempel erat pada dada bidangnya.Aurelia bergerak gelisah, berusaha melepas ikatan tangan itu. "Lepaskan.""Bicara padaku tanpa bersembunyi," perintah Caleb datar. Ibu jarinya merayap naik, mengusap pinggang Aurelia di balik gaunnya yang longgar. "Apa kau sungguh akan menerima bantuan pria itu untuk kau
"Jangan memaksakan diri jika kakimu sudah tidak sanggup menapak."Suara berat Caleb memecah keheningan kamar utama yang temaram. Aurelia meringis pelan, meremas pinggiran gaunnya saat rasa nyeri yang tajam menusuk tumit. Tadi, saat ia terburu-buru menaiki anak tangga kayu setelah dari dapur, hak tinggi stiletto-nya tersangkut pada selimut tipis Maxi yang menjuntai dari lantai dua. Pijakannya meleset, pergelangan kakinya terputar hebat, dan tubuhnya hampir terjerembab ke belakang sebelum lengan kokoh Caleb melingkar cepat di pinggangnya.Tanpa Nenek Moren dan Maya di rumah ini, koridor dan setiap sudut ruangan terasa jauh lebih tenang. Namun, keberadaan Caleb yang mendominasi justru membuat udara di dalam kamar terasa makin sempit dan menghimpit."Aku hanya terkilir sedikit, Caleb. Lepaskan," bisik Aurelia, mencoba mendorong dada bidang pria itu.Caleb mengabaikan protes tersebut. Pria itu mengangkat tubuh Aurelia tanpa usaha berarti, membawanya melangkah menuju tempat tidur beru
"Aku tidak melihat alasan kenapa Aurelia harus menerima dana dari luar saat Hamilton Group punya divisi investasi sendiri." Caleb menatap Nathaeil dengan penuh intimidasi."Tapi aset dan keputusan bisnis Reid Corp jauh lebih fleksibel tanpa campur tangan keluarga besarmu, Caleb," sahut Nathaneil tenang, membalas tatapan mengintimidasi itu tanpa gentar sedikit pun. "Aurelia butuh kebebasan karya, bukan?"Aurelia bangkit dari kursinya dengan wajah memerah tahan amarah. Ia tidak bisa mentolerir cara kedua pria ini berdebat seolah dirinya adalah objek perlombaan."Cukup!" pangkas Aurelia keras, menepis pelan tangan Caleb di kursinya. "Ini studioku, dan ini urusan bisnisku! Jangan bertindak seolah kalian berhak menentukan apa yang terbaik untukku!"Caleb berbalik menatap Aurelia. Datar, tanpa ekspresi, namun urat di lehernya menegang. "Kau mau menerima tawaran dari pria yang secara terbuka mengincar posisi di sampingmu?""Aku menerima kesempatan untuk berdiri di atas kakiku sendiri!"
Aurelia tiba di studio. Melihat kedatangannya, Nathaneil menyambutnya dengan senyum ramah."Aku tidak tahu sepupumu Mora bekerja dengan Caleb."Kening Nathaneil sejenak berkerut untuk mencerna ucapan tersebut."Mora.""Oh." Barulah Nathaneil paham. "Aku tidak tahu. Dia menyulitkanmu."Aurelia menghempaskan tubuhnya di kursi. "Tidak. Aku hanya merasa dunia ini sempit. Keduanya terlihat berteman baik.""Kau cemburu," goda Nathaneil, seraya menarik kursi di depan Aurelia. Aurelia berdecak, lalu menghembuskan napas panjang seraya memendarkan pandangan ke studio miliknya. Mimpi dan harapannya."Ada apa? Caramu bernapas seolah beban dunia ada di pundakmu."Aurelia menggigit bibirnya. Ia butuh teman cerita. Tapi Nathaneil bukan orangnya, meski ia tahu pria di hadapanny ini sangat baik dan bijak."Kau tidak bekerja?" Lihat, Nathaneil peka sekali bukan? Melihat Aurelia tidak nyaman dengan pertanyaannya, dia segera mengalihkan topik."Aku mengambil cuti," gumamnya. Tepatnya, Caleb lah yang men
"Jangan mengusir mereka hanya agar kau terlihat seperti pahlawan di mataku, Caleb."Aurelia menepis pelan jemari Caleb yang berada di tengkuknya. Suasana kamar yang semula temaram dan hangat mendadak membeku. Ia melangkah mundur dua pijakan, sengaja menciptakan jarak fisik di antara mereka.Caleb menatapnya tenang. Tidak ada riak amarah di wajah tegas itu. "Aku tidak sedang berakting menjadi pahlawan, Aurelia. Ini soal keamanan tempat tinggal kita.""Mereka keluargamu," cetus Aurelia tajam."Dan kau istriku. Maxi anakku," balas Caleb dingin dan mutlak. "Nenek baru saja mengatakan pada Maxi bahwa jika kita berpisah, dia harus ikut ke mansion utama agar jadi anak yang hebat. Menurutmu aku harus membiarkan racun seperti itu bergulir setiap hari?"Aurelia terperanjat. Kata-kata itu menghantam dadanya kencang. Rasa protektifnya sebagai seorang ibu seketika terbakar. Nalurinya membenci kenyataan bahwa putranya mulai disusupi intrik dewasa."Dia baru tujuh tahun," bisik Aurelia, suaran
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku







