Masuk"Dari mana saja kau malam-malam begini, Caleb?"Aurelia berdiri di ambang pintu begitu mendengar mobil suaminya.Caleb menghentikan langkahnya tepat di hadapannya. Ia menyunggingkan senyum tipis, meredam kilat amarah yang baru saja ia tumpahkan di ruang kerja Nenek Moren."Hanya ada sedikit urusan bisnis yang harus kubereskan," jawab Caleb rendah.Pria itu mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa memberi ruang bagi Aurelia untuk bertanya lebih jauh, Caleb melingkarkan lengan kokohnya di pinggang sang istri. Ia menuntun Aurelia berjalan menuju sofa utama, mendudukkan wanita itu di sisinya tanpa melepaskan dekapan hangatnya.Layar laptop di atas meja kaca di hadapan mereka masih menyala terang. Beberapa berkas sketsa dan draf tata ruang studio foto lama terhampar berantakan di samping gawai tersebut.Caleb menunduk, mendaratkan dagunya di bahu mulus Aurelia. "Apa yang sedang kau kerjakan sampai belum tidur jam segini?""Aku baru saja meninjau ulang draf dari Nathaneil,"
Langkah kaki Caleb menggema berat di sepanjang koridor bernuansa klasik. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu jati ruang kerja pribadi Nenek Moren.Di dalam ruangan, Nenek Moren sedang duduk di balik meja kerja mewahnya. Di sampingnya, Maya duduk sambil berbincang serius. Kedua wanita itu tersentak saat melihat Caleb berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin dan rahang yang tertaut rapat."Caleb?" sapa Nenek Moren, menyembunyikan keterkejutannya dengan tegakan tubuh yang makin anggun. "Ada angin apa kau datang malam-malam begini tanpa memberitahu Nenek?"Maya mencoba menyunggingkan senyum manisnya. "Caleb, kami baru saja membahas draf investasi—""Keluar, Maya," pangkas Caleb. Suaranya rendah, sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri."Tapi Caleb, kami sedang—""Aku bilang keluar!" bentak Caleb, gema suaranya menggelegar menekan seluruh isi ruangan.Wajah Maya seketika pucat pasi. Tanpa berani membantah lagi, ia buru-buru merapikan berkasnya dan mela
"Pekerjaanmu di Royal Magazine selesai mulai hari ini."Kalimat tegas itu menyambut Aurelia begitu ia menginjakkan kaki di ruang kerja Alex. Alex berdiri di dekat jendela kaca besar, memegang cangkir kopi dengan raut wajah sangat kaku. Di atas meja kerjanya, belasan eksemplar edisi terbaru Royal Magazine tergeletak berantakan dengan cetakan halaman utama yang ternoda berita miring.Aurelia membeku di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam. "Alex, berita bocornya draf eksklusif wawancara Sterling Group itu bukan dariku. Seseorang menyusup dan meretas komputer kerjaku. Kau tahu aku bahkan tidak terlibat dalam hal ini!"Alex berbalik, menatap Aurelia dengan tatapan penuh rasa bersalah namun tak berdaya. "Aku tahu bukan kau pelakunya, Aurelia. Tapi seluruh dewan komisaris majalah sudah memegang bukti log alamat IP dari komputermu. Nyonya Hamilton menggunakan insiden ini untuk menekan saham Royal Media."Aurelia mengepalkan tangannya di samping tubuh. Rasa panas membakar dadanya. Ia
Aurelia bangun dan menemukan hanya dirinya yang berada di ranjang. Dia tersenyum. Selama beberapa hari di sini, ia mulai terbiasa dengan sentuhan Caleb. Dan tidak ia pungkiri, ia menyukainya dan menikmatinya!Bahkan saat ia turun ke dapur dan menemukan Caleb sedang memasak.'Ya Tuhan, melihat punggungnya saja, aku tak bisa menghentikan kegilaan jantungku.'Kini Aurelia harus mengakui bahwa selama ini, hanya ada Caleb di hatinya, sejak dulu, dan sekarang."Hai," sapaan Caleb membuatnya tersentak.Aurelia tersenyum. Caleb membalas senyumnya. Ugh! Dia sangat tampan dan seksi."Kemarilah, aku memasak sop jamur."Aurelia mendekat, Caleb langsung mendaratkan satu kecupan singkat di kening. Aurelia secara otomatis melingkarkan tangan di pinggang ramping suaminya."Coba cicipi," Caleb mengarahkan sendok ke mulutnya.Aurelia membuka mulut. "Enak." Pujinya tulus. "Aku tidak tahu kau suka masak.""Aku hanya suka memasak untukmu."Jawaban Caleb langsung dihadiahi Aurelia dengan cubitan kecil di
Cahaya matahari pagi menerobos tipis melalui celah tirai kamar.Aurelia perlahan mengerjapkan matanya. Rasa hangat dan sedikit pegal menyapa tubuhnya saat ia mulai mengumpulkan kesadaran. Begitu manik matanya terbuka sempurna dan menatap ke sekeliling, napasnya seketika tertahan.Gaun malamnya tergeletak di atas karpet, kemeja Caleb tersampir melenceng di ujung ranjang, dan pakaian dalam mereka berserakan tak beraturan di lantai kayu. Remukan sprei dan keintiman malam tadi mendadak berputar cepat di kepalanya seperti gulungan film.Semburat merah padam langsung membakar seluruh wajah hingga menjalar ke lehernya. Aurelia refleks menarik selimut tebal hingga menutupi dada dan separuh wajahnya."Sudah bangun, Hmm?"Suara berat nan serak khas bangun tidur itu membuat Aurelia makin merapatkan selimutnya. Di sampingnya, Caleb berbaring miring bertumpu pada satu tangannya. Pria itu polos dada, menatap Aurelia dengan pendar mata hangat dan sunggingan senyum tipis yang teramat tampan."
"Ayah, lihat! Kepitingnya sembunyi di dalam pasir!"Pekikan riang Maxi menggema membuat keduanya dengan enggan melepas ciuman mereka. Bocah kecil mengayunkan tangan, memanggil Aurelia dan Caleb agar bergabung denganya.Caleb terkekeh pelan, melepaskan celana kain mewahnya dan menggantinya dengan celana santai melipat kemeja putihnya hingga ke siku. Tanpa ragu, ia berlutut di atas pasir basah, ikut menggali pasir bersama putra kecilnya.Aurelia menoleh pada Noer. "Kau boleh istirahat, Noer."Wanita itu tersenyum dan mengangguk.Aurelia duduk di atas hisapan kain terpal tak jauh dari mereka, memperhatikan interaksi keduanya dengan binar mata yang hangat. Tidak ada raut kaku atau aura dominan yang biasa Caleb tampilkan di depan media. Di hadapan Maxi, pria itu murni seorang ayah yang sabar dan penuh kasih."Bawa ember kecilmu kemari, Max. Kita tangkap kepitingnya sebelum terbawa ombak lagi," panggil Caleb, menoleh pada Maxi dengan senyum lebar yang sangat jarang terlihat.Maxi berl
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi







