เข้าสู่ระบบ
"Luna," gumaman dari suara barito itu mengisi keheningan ruangan, "aku tahu kamu belum tidur."
Aku masih diam mendengar suaranya dan tidak ada niatan untuk terjaga meski tahu tindakan yang kulakukan tidak sopan. Aku tetap terpejam nyaman di ranjang rumah sakit.Dia itu suamiku, itu yang suster katakan saat aku sadar dari koma karena kecelakaan. Yang meski aku coba untuk mengingat sekuat tenaga tetap saja tidak ada sedikit pun kenangan yang muncul."Kita bakal pulang besok sehabis makan siang. Tadi dokter ke sini ngasih tahu pas kamu ke toilet." Tama melanjutkan kalimatnya.Rumah? Aku mencoba mencari di dalam ingatanku tapi tidak ada yang kutemui soal rumah yang dia sebut. Tempat macam apa itu? Dan bagaimana nasibku di rumah itu esok?Mereka bilang karena aku amnesia jadi wajar jika aku tidak bisa mengingat apa pun. Sejak tersadar dua minggu yang lalu dengan pergelangan tangan kananku yang patah, aku memang melupakan semuanya. Satu pun tidak ada yang aku ingat. Mereka bahkan memberi tahu siapa aku. Aku Deftia Aluna Irfandi.Saat aku membuka mata tatapan tajam dari bola mata cokelat itu menghunus kearahku tanpa henti. Dia bagai elang yang mengawasi mangsanya agar tidak kabur dari jarak pandangnya. Dan dia adalah Dytama Caka Irfandi, suamiku.Sebenarnya aku tidak percaya jika aku sudah menikah. Mereka tidak berusaha menjelaskan apa pun padaku hanya memberitahu apa yang terjadi dan berharap aku mempercayai kalimat mereka. Dan Tama sendiri tidak terlihat seperti selayaknya suami. Dia memang mengurusku, mempersiapkan segala sesuatu yang aku butuhkan tapi sorot matanya tidak ada kehangatan sama sekali. Aura yang dia miliki teramat gelap.Aku mengetahui jika dia seorang pengusaha dua minggu setelah aku sadar. Beberapa kali dia izin keluar untuk menyelesaikan pekerjaanya dan lebih seringnya dia membawa kliennya untuk meeting di sini dengan dalih sekalian menjengukku.
Melihat bagaimana kepribadian Tama yang dalam sehari mengajakku mengobrol saja bisa dihitung jari membuatku memutar otak cepat. Bagaimana bisa kami menjadi suami istri? Tidak ada sisi lembut darinya yang membuatku jatuh cinta karena dia tidak lembut sama sekali. Dan memikirkan soal akan kembali ke rumah membuatku merinding seketika. Aku tidak mungkin tahan hidup berdampingan dengan manusia macam Tama."B-berarti aku tetap harus pulang, kan? Kalau aku nginap di sini buat beberapa hari lagi, boleh?" tatapannya yang intens dan suara nafasnya yang teratur membuatku sesak. Dia seperti memberi tekanan yang tidak terlihat.Tama memperhatikanku dari samping tempat tidur. Dia mengulurkan tangannya untuk membelai lembut rambut cokelatku yang panjang dan membuatku tersentak karena terkejut. Dia mengabaikan tingkahku dan tetap melanjutkan sentuhannya sampai berhenti di tulang selangkaku. Usap lembutnya membuatku bergerak tidak nyaman. Gimana bisa dia bersikap santai saat aku tidak nyaman?Dia menatapku, membuatku menciut seketika."Kita udah terlalu lama di rumah sakit. Dokter kasih saran supaya kamu dirawat di rumah agar kamu cepat pulih dan ingatan kamu cepat kembali. Rumah kita pasti bisa bikin ingatan kamu kembali," nadanya tegas dan datar tanda dia tidak ingin dibantah. Dan aku tanpa daya menatapnya memohon dengan sangat lewat mata, "Ditambah telalu lama di rumah sakit nggak baik buat kesehatan bayinya."
Bayi?Konspirasi alam macam apa ini? Aku terbangun di rumah sakit dalam kondisi amnesia. Tidak mengenal siapa pun dan hanya dipaksa untuk percaya jika aku sudah menikah dan memiliki suami. Lantas sekarang tambahan informasi barusan soal aku yang tengah mengandung?
Rasa khawatirku semakin bertambah. Jika seperti ini bagaimana caranya aku bisa terbebas dari seorang Dytama?***Aku melihat wajahnya dan seperti biasa dia tidak memiliki emosi yang dia perlihatkan pada orang lain. Dia masih menatapku datar seperti tidak terjadi apa pun."Kamu tahu soal bayi ini dari sebelum kecelakaan?"Matanya berkedip, "aku juga baru tahu kemarin setelah kamu sampai di sini."Dia tidak menjelaskan lagi. Selalu seperti itu tidak pernah dan tidak akan ada penjelasan lebih lanjut seperti yang aku harapkan. Jawaban singkatnya malah membuatku semakin resah.Mengetahui ada nyawa lain yang hidup di perutku membuat perasaanku menghangat seketika. Setidaknya aku tidak sendirian ada dia yang menemaniku. Dan sepertinya kehadiran bayi ini tidak mengusik Tama sama sekali karena dia tidak bicara macam-macam soal kelanjutan nasib bayi ini."Apa kita ada rencana punya anak?" Aku bertanya. Memastikan jika hal-hal buruk tidak akan terjadi untuk kedepannya. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa masalah."Karena kamu sudah susah payah mempertahakan bayi ini. Jadi aku bakal ngehargain usaha kamu."Jawaban macam apa itu? Aku tidak berharap dia juga senang dengan kehadiran bayi ini tapi bukan itu juga jawaban yang ingin aku dengar.Tama mulai menyiapkan makananku dan meyakinkaku untuk menghabiskan menu yang tersedia. Hari terakhir dan makanan terakhir sebelum aku kembali ke tempat yang katanya rumah."Habis makan kita langsung pulang. Kamu ganti baju dulu nanti aku tunggu di luar."Suara ketukan pintu membuat aku dan Tama menoleh. Supir pribadi Tama datang dengan membawa koper. Membuatku mengerutkan kening heran, "Cuma ganti baju kenapa harus bawa koper? Satu baju aja kan cukup?"Tama menatap aneh kearahku, "Kamu paling nggak suka kalau baju kamu dipilihin orang lain. Kamu punya style tersendiri katamu." Tama mengucapkan kalimat tersebut tapi dengan kesan mencemooh. Tangannya memberi isyarat agar koper yang dibawa segera di dekatkan kepadaku."Kemarin waktu pemeriksaan, penyidik menemukan makanan thailand di mobil kamu," ujarnya."Pas kecelakaan?" Aku menatap kearahnya, "memang aku pergi ke tempat yang jauh ya?" tanyaku."Kamu?" Dia balik bertanya dengan tatapan tidak terbaca. Kenapa selalu seperti itu. Memang apa sulitnya sih menjawab pertanyaanku yang simpel dan tidak bermutu ini?Tama menarik koper tadi mendekat ke arahku, "Cepat ganti baju. Kita harus pergi dari sini satu jam lagi," nada suaranya terdengar dingin. Meski tidak pernah bersahabat tapi kali ini terdengar seperti dia amat menjaga jarak.Untuk beberapa alasan aku sangat antusias untuk membuka koper itu. Aku ingin tahu bagaimana aku yang sesungguhnya meski lewat pakaian yang ada, setidaknya aku punya sedikit informasi. Tapi yang membuatku bingung adalah semua pakaian yang ada di dalam koper sama sekali aneh. Baju satin dengan potongan pendek atau bisa disebut lingerie? Entahlah. Semuanya hanya baju dengan bahan yang amat kurang untuk digunakan. Tidak menarik untuk dikenakan meski keluaran dari brand ternama."Apa ini?" Aku mengangkat salah satu dress teratas. Kemudian melemparkannya kembali saat tahu dress macam apa itu."Bajumu," ujar Tama melirik kearahku.Aku pakai baju model begini?Kepalaku sakit saat aku mulai membongkar koper. Lima pasang heels dengan hak lancip yang tingginya lebih dari 3 cm, blouse dengan potongan dada yang rendah, serta rok jins mini, dan beberapa gaun pesta. Meski penuh tapi tidak ada yang bisa digunakan."Kamu yakin ini punya aku?" tanyaku frustasi.Tama hanya menatapku dengan raut wajah tidak terbaca, "Cepat ganti. Aku tunggu di luar," katanya tanpa menggubris protesanku. Sebenarnya aku ini orang yang seperti apa?Siang datang tanpa banyak perubahan, tapi kejadian pagi itu tidak benar-benar pergi dari benak Aluna. Wanita itu sudah berusaha menjalani hari seperti biasa. Ia menyapu halaman, menjemur pakaian, menyiapkan makan siang. Gerakannya rapi, teratur, seperti orang yang tahu persis apa yang harus dilakukan agar hari tidak berantakan. Namun sesekali, pikirannya melompat kembali ke halaman sebelah, ke kardus yang oleng, ke suara jatuh yang keras, ke tangis singkat yang terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang.Ia menegur dirinya sendiri dalam hati.Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu lama.Tapi tetap saja, rasa itu masih tinggal.Triplets kini sudah bermain di ruang tengah. Sesekali mereka melirik ke jendela, memastikan truk pindahan masih ada. Kadang mereka bertanya, “Mama, Tante Mira lagi ngapain?” atau “Mama, nanti boleh main ke sana?” Aluna menjawab singkat, mencoba menjaga antusiasme mereka tetap terkendali.“Nanti, ya," selalu menjadi jawabannya.
Pagi itu, rumah sebelah tidak seperti biasanya.Sejak matahari belum sepenuhnya naik, suara mesin sudah terdengar. Truk besar berhenti tepat di depan pagar, menutup sebagian jalan kecil yang biasanya lengang. Kardus-kardus diturunkan satu per satu, disusun asal di teras. Ada suara orang berbicara cepat, saling memanggil nama, dan bunyi pintu dibuka-tutup berulang kali.Triplets sudah berdiri di balik pagar sejak suara pertama terdengar.Mereka belum mandi. Rambut masih acak, kaus tidur kusut, tapi mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu. Tangan kecil mencengkeram besi pagar, wajah mereka menempel terlalu dekat, seolah jarak beberapa meter itu masih kurang.“Mama, itu siapa?”“Mama, rumahnya sekarang ada orang ya?”“Mama, mereka pindah beneran?”Sejak mulai masuk sekolah dan mendengar teman-teman memanggil ibu mereka dengan sebutan mama, triplets pun sempat protes dan ingin mengganti panggilannya.Awalnya Aluna menolak keras, karena dia sudah nyaman
Setelah makan malam, rumah perlahan berubah. Riuh yang tadi memenuhi ruang mulai mengendap dan menyisakan suara-suara kecil yang akrab. Triplets duduk di lantai ruang tengah, mainan mereka kini tersusun setengah rapi, setengah ditinggalkan. Energi mereka belum habis sepenuhnya, tapi lelah yang mendera mulai mengalahkan antusiasme.Tama membantu membereskan meja makan. Gerakannya sedikit kikuk, seperti seseorang yang masih mencari posisi di ruang yang seharusnya miliknya. Aluna mencuci piring di wastafel, air mengalir stabil, menciptakan irama lembut yang menenangkan.Mereka bekerja berdampingan tanpa banyak bicara.Biasanya, Tama akan kembali ke ponselnya. Membalas pesan. Mengecek surel. Menyusun ulang jadwal esok hari. Tapi malam itu, ponsel tetap di saku jaketnya. Diam. Seolah dunia luar bisa menunggu.Ia melirik Aluna dari sudut mata. Wajah itu terlihat tenang, tapi terlalu teratur untuk benar-benar santai. Setiap gerakan seperti sudah dihafal amat sangat efisien,
Sore itu, Tama langsung buru-buru menutup laptopnya sebelum matahari benar-benar turun.Bukan karena pekerjaannya selesai. Justru karena masih ada terlalu banyak yang belum beres dan itu menjadi penyebab ia memilih untuk berhenti.Layar hitam di depannya memantulkan wajahnya sendiri. Mata yang lelah, rahang yang tegang serta garis halus di dahi yang semakin sulit disamarkan. Ia duduk diam beberapa detik, mendengarkan suara pendingin ruangan yang berdengung konstan, seolah kantor ini bernapas sendiri tanpa perlu kehadirannya.Ponselnya bergetar di meja.Satu panggilan masuk.Tama melirik layar sekilas. Nomor yang sangat ia kenal. Biasanya, ia akan langsung mengangkat. Biasanya, ia juga tidak pernah membiarkan satu panggilan pun terlewat. CEO tidak punya kemewahan untuk menghilang, begitu prinsip yang selama ini ia pegang, bahkan ketika tubuhnya sudah meminta jeda.Hanya saja sore itu, ia memutuskan untuk membalikkan ponsel. Memilih untuk tidak mau peduli.Layar padam.Getaran berhenti.
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Tama tidak berangkat pagi. Biasanya, ketika matahari baru menembus sela tirai, ia sudah berdiri di depan cermin dengan jas yang rapi dan dasi yang sudah terikat sempurna. Tapi kali ini berbeda. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menekan nomor sekretarisnya. Memberi tahu bahwa hari ini dia tidak akan pergi ke kantor.“Bilang aja saya WFH hari ini,” katanya tegas tapi tenang.Nada suaranya tegas khas seorang pemimpin, tapi di dalamnya ada kelembutan yang jarang muncul belakangan ini. Setelah menutup telepon, Tama menatap sosok istrinya yang masih berbaring.Aluna membuka mata perlahan. Wajahnya pucat, lemah, tapi masih berusaha tersenyum. Pandangan matanya sedikit kabur, seolah masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Biasanya, di jam seperti ini, suaminya sudah terburu-buru merapikan dasi, memeriksa laporan di laptop, atau menjawab panggilan dari klien luar negeri. Tapi pagi itu, pr
Pukul 09.20, Aluna sudah berkeringat.Ia sempat duduk sebentar di tepi tempat tidur, tapi pandangannya langsung jatuh pada keranjang cucian di pojok kamar—penuh hingga hampir meluber.“Ya ampun…” desahnya lagi.Ia tahu bisa menundanya, tapi tidak tahan melihat tumpukan itu. Jadi, ia berdiri lagi, menyeret keranjang ke kamar mandi.Baju kecil, seragam playgroup, celana rumah, saputangan, semuanya masuk ke mesin cuci.Sementara mesin berputar, ia menata rak handuk, menyapu lantai kamar mandi, lalu mengelap cermin.Tak ada jeda. Tak ada waktu duduk.Pukul 10.10, saat akhirnya ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia baru sadar wajahnya pucat. Rambut yang tadi diikat kini lepas sebagian, menempel di pelipis basah oleh keringat.“Kayak orang habis olahraga,” gumamnya pelan, mencoba tersenyum pada diri sendiri.Namun, senyum itu cepat pudar ketika pandangannya berkunang sejenak.Ia bersandar pada wastafel, menutup mata







