Se connecterMemasuki dunia pernikahan nyatanya tidak semudah yang aku kira. Tapi, bukan berarti aku menyerah saat orang-orang sekitar melabeliku sebagai sosok istri yang tidak becus. Aku memiliki cara sendiri untuk menunjukkan jika becus tidaknya seorang istri tidak bergantung pada ucapan miring mereka. Aku yang menjalani pernikahan ini. Akulah ratunya!
Voir plus"Aninda Diva binti Junaidi, aku bebaskan engkau, kau bukan istriku lagi mulai saat ini!" ucap laki-laki itu sambil mengenakan bajunya. Beberapa saat yang lalu, mereka baru saja menghabiskan malam pertama mereka.
"Apa maksudmu mas? kamu menceraikan aku?" ucap Anin. Wanita itu bangkit dari tempat tidur sambil melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya."Perkataanku sudah jelas, aku tidak perlu mengulanginya lagi!" jawab pria itu sambil trus memakai pakaiannya dengan lengkap, kemudian hendak berlalu menuju pintu kamar."Tunggu mas Evan! aaww!" Anin mengaduh karena rasa sakit di bagian intimnya. Tentu saja, itu sangat wajar karena dia baru saja melakukannya pertama kali dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.Laki-laki yang di panggil Evan itu berbalik, dilihatnya istri yang baru saja di ceraikannnya itu. Kemudian pandanganya beralih ketempat tidur yang baru saja menjadi saksi penyatuan mereka. Meskipun samar, dia bisa melihat bercak merah di atas seprei berwarna putih itu."Ternyata kamu masih perawan juga, kupikir kau rela menggandaikan kesucianmu demi uang," Evan berkata dengan sinis."Apa maksudmu mas, kenapa kamu berkata begitu? kenapa tiba-tiba kau ceraikan aku tanpa alasan dan itu kau lakukan setelah kau menggauliku?" Anin memberondong laki-laki di hadapannya dengan banyak pertanyaan."Jangan pura-pura tidak tahu, jangan sok polos. Aku tahu semua rencanamu dan aku ikuti permainanmu dengan menikahimu, kau tidak akan mendapatkan yang kamu inginkan. Akulah yang akhirnya mempermainkan dirimu disini, apa itu menyakitkan? diceraikan saat malam pertama, sudah seperti judul cerita bukan hahaha." Evan tertawa, namun seperti tawa yang penuh dengan kesedihan."Apa maksudmu mas?" ucap Anin dengan wajah menghiba.Dengan kesal Evan mencengkeram pipi Aninda dengan jari-jari tangan kanannya."Jangan perlihatkan muka sok polosmu itu padaku! itu menjijikan!" bentak Evan kemudian menghempaskan wajah wanita yang baru dinikahi kemudian di ceraikannnya barusan."Apa salahku mas?" tanya Anin lagi, dia masih penasaran kenapa suaminya begitu saja dengan mudah mentalaknya.Padahal sebelumnya laki-laki itu yang begitu tergesa-gesa menikahinya, hingga dia tidak sabar menunggu menyelesaikan semua surat menyurat dan lebih memilih menikah secara agama dulu, baru akan mencatatnya di KAU di kemudian hari."Apa ini sudah kau rencanakan mas, hingga kau memilih untuk menikahiku secara agama sehingga dengan mudahnya kau akan menceraikan diriku?""Memang kau wanita yang pintar, selalu bisa membaca situasi tanpa diberitahu.""Kenapa kau lakukan ini mas? apa salahku padamu?" cicit Anin disela isakkannya."Apa salahmu kau bilang? kau salah karena sudah mempermainkan perasaanku! Aku begitu mencintaimu, aku mencintaimu tanpa memandang statusmu, aku tulus padamu. Bahkan saat mamaku tidak merestui hubungan kita aku tetap memilihmu, aku berusaha membujuknya untuk bisa menerimamu. Tapi saat mama sudah merestui kita, baru kutahu ternyata kau wanita yang hanya menginginkan hartaku. Kau ingin menjadi kaya dengan cara instan? menikahi laki-laki kaya, dasar wanita murahan!"Ucapan-ucapan yang meluncur dari mulut Evan begitu tajam, menusuk jantung Anin. Wanita itu meremas selimut yang menutupi tubuhnya untuk meredam emosinya. Dia memang wanita yang tidak memiliki apa-apa, bahkan tidak memiliki siapapun di dunia ini. Tapi dia bukan wanita yang seperti dituduhkan laki-laki yang ada di hadapannya itu."Kenapa kamu bisa menuduhku dengan tuduhan sekejam itu mas? aku tidak seperti itu," lirihnya."Apa kamu masih akan mengelak jika aku menunjukkan bukti padamu, hah!" bentak Evan dengan emosi.Dia begitu muak melihat wajah Anin yang berurai air mata dan terlihat polos itu. Diambilnya smartphone miliknya dari dalam sakunya kemudian memutar video yang hanya beberapa detik. Didalam video itu terlihat Anin sedang berbicara dengan seorang laki-laki, yang diketahui Evan sebagai teman kerja Anin."Kamu menikah dengannya karena menginginkan hartanya kan?" tanya laki-laki itu dalam video."Ya! aku menginginkan hartanya. Kamu puas dengan jawabanku?" jawab Anin."Bukti sejelas ini kamu masih mau mengelak?" cecar Evan."Itu cuma sepotong mas, kamu tidak tahu apa yang kami bicarakan. Bagaimana bisa kamu menyimpulkan sesuatu hanya dengan melihat video berdurasi satu menit?""Tidak usah membela diri, mungkin dalam video fullnya kalian berencana untuk menguras hartaku sedikit demi sedikit. Kalian kan teman kerja, mungkin saja kalian sebenarnya terlibat hubungankan," Evan melemparkan sebuah tuduhan."Tega kamu mas, sejak tadi kau terus saja menjatuhkan harga diriku.""Apa kamu punya harga diri? berapa? aku akan bayar!" ucap Evan dengan sombong."Uangmu itu tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan mas, ingat kata-kataku ini!" ucap Anin dengan mengusap air matanya.Dia sudah lelah berdebat dan membela diri dihadapan laki-laki yang bergelar suaminya beberapa saat lalu. Dia lelah di hina dan direndahkan sejak tadi."Kalau uang tidak bisa membeli kebahagiaan kau tidak akan pernah menginginkannya. Dasar wanita munafik!" ejek Evan.Anin memilih untuk diam, jika dia trus berbicara dia yakin akan trus mendapatkan hinaan dari laki-laki yang sedang di penuhi oleh emosi ini."Kamu pasti tidak mungkin kan tiba-tiba pulang ke tempat tinggalmu sebelumnya. Tinggallah disini sesuka hatimu, anggap saja sebagai bayaran sudah melayaniku malam ini," ucap Evan sambil berlalu meninggalkan Anin yang makin hancur hatinya.Mendengar ucapan Evan barusan, rasanya hati Anin seperti diremas-remas. Laki-laki yang dicintainya, dikaguminya dan dia pikir akan membahagiakannya ternyata melukainya dan menghinanya hingga titik terendah."Kau akan menyesalinya nanti mas!" lirih Anin dengan berurai air mata dan membiarkan laki-laki yang sudah mengambil kesuciannya kemudian mencampakkannya itu pergi meninggalkannya.***Evan meninggalkan rumah yang baru saja ditempati bersama Anin dengan hati yang hancur. Dia dengan sombongnya mengatakan sudah mengalahkan wanita yang baru saja dinikahinya kemudian di ceraikannnya kembali itu, tapi sesungguh dia sudah kalah. Dia menyakiti wanita itu tapi hatinya jauh lebih sakit.Evan begitu mencintainya, memujanya, wajah yang polos dan selalu tersenyum itu sudah mencuri hatinya sejak pertemuan pertama mereka. Dia tidak peduli berasal dari mana wanita itu, tidak peduli asal usulnya, yang ada di hatinya hanya kekaguman dan cinta. Namun apa yang dia dapatkan, setelah dengan susah payah menaklukkan mamanya dan mendapatkan restu malah dia mengetahui fakta bahwa wanita yang dicintainya hanya menginginkan hartanya. Video pendek itu sudah membuat marah dan membuatkan mata hatinya.Dan dia memilih untuk segera menikahnya secara agama, saat sedang mengurus ijin menikah dia mengatakan jika itu butuh waktu tidak sebentar. Harus ke RT, RW, keluarga, kecamatan, KUA dan dia tidak mau menggunakan kekuasaan untuk mendapatkan semua syarat itu dengan instan. Dia mengatakan untuk menikah secara agama, kemudian akan mendaftarnya lain waktu.Semua berjalan lancar karena orang-orang yang mengenal Anin dan mengenalnya percaya padanya. Dan setelah pernikahan mereka sah, Evan membawa Anin ke rumah baru mereka kemudian mengambil kesuciannya dan mencampakkannya begitu saja. Bukankah itu sangat menyakitkan bagi wanita, itu yang dia pikirkan.Evan berfikir sudah menang dengan menyakiti wanita itu, tapi nyatanya dia jauh lebih sakit. Membuat orang yang dicintainya menderita itu hal paling menyakitkan, saat benci dan cinta menjadi satu itu sungguh menyesakkan."Kenapa aku tidak bisa membencimu saja, Anin! Kenapa?" pekiknya sambil memukul kemudi mobilnya.Luka sedalam cinta, makin dalam cinta makin dalam jika terluka (Evan)🍁🍁🍁."Kalau menurut Neng mah ya biarin aja dia nikah. Dengan satu catatan, kuliahnya tahun depan harus beres. Eh Mas, ngomong-ngomong calonnya si Ana ini anak mana? Kuliah atau kerja?"Keingintahuanku berlipat ganda karena hal ini baru kali ini kusaksikan sendiri. Ana memang tipe anak yang suka membantah, tapi ia tetap patuh pada perkataan ibu. Jika sekarang Ana sudah tidak mendengarkan ibu, entah situasi apa yang sebenarnya terjadi disana. "Kata Ibu sih udah kerja, cuma ya itu, Ibu berat aja kalau sampai kuliah Ana ngga beres." Aku terdiam dan kemudian berkata,"Ya udah kalau kaya gitu nikahin aja. Tapi seperti kata Neng tadi. Kuliah harus beres. Entah nikahnya ditunda sampai Ana lulus. Atau nikah sekarang tapi ya tetap kuliah. Tapi Mas, maap nih ya Neng nanya. Tapi Ana ngga gimana-gimana 'kan? Maksudnya gimana ya, kan kalo nikah ngedadak itu orang mikirnya karena udah terjadi sesuatu gitu, Mas." Mas Yandri menghela nafas."Mas juga nanya itu tadi ke Ibu. Kata Ibu sih, Ana bilang ga k
"Neng, liat nih, mantan Mas ngirim pertemanan di sosmed." Aku yang sedang duduk di sebelah Mas Yandri dan menonton drama favoritku pun mengangkat wajah. "Mantan yang mana Mas? Mantan Mas 'kan banyak, Neng ga hapal satu-satu."Mas Yandri menyodorkan ponselnya padaku. "Ini si Mega," ucapnya Aku melihat foto sosok seorang wanita dengan latar belakang pemandangan alam di profilnya. "Oh itu," ucapku pendek. "Diterima atau ngga usah ya, Neng?" Aku menoleh menatap Mas Yandri. "Mas, kira-kira dong kalo nanya!" Aku menghembuskan nafas dan meliriknya tajam."Kalau Mas berniat mancing reaksi Neng dengan bertanya seperti itu, Sorry to Say ya mas, neng biasa aja. Mas pikir Neng akan terharu? Wah, aku terharu karena suamiku terbuka banget, sampe mantannya ngirim pertemanan juga aku dikasih tau. Gitu kan?"Mas Yandri nyengir. "Lain lagi kalau niat Mas ngasi tau ke Neng biar Neng sekedar tau dan ga mikir macem-macem. Kalau gitu ya Neng balikin ke Mas. Terserah Mas aja. Mau diterima boleh, ng
Semakin membesar kandunganku semakin berkurang juga penyiksaan mual muntah yang aku alami. Sekarang aku bisa makan apapun tanpa harus khawatir akan keluar lagi. Rumah baru kami sudah dalam proses akhir finishing. Sebenarnya sudah bisa ditempati jika kami mau. Namun, Mas Yandri menunda karena ia ingin semuanya sudah benar-benar siap saat kami pindah nanti. Hari ini Mas Yandri libur, dan kami sedang merencanakan di mana aku akan melahirkan. "Neng, mau pulang ke Mama atau ke Ibu? Biar pas nanti udah lahiran, ada yang bantu-bantu kamu." Aku terdiam sejenak dan meminum susu sampai habis. "Nggalah Mas, Neng disini aja sama Mas. Kalau masalah bantu-bantu setelah melahirkan, kan nanti biasanya dari rumah bersalin suka ada yang dateng ke rumah untuk ngasi tau cara ngerawat bayi baru lahir. Untuk kerjaan rumah juga bisa nyari orang buat bantuin Neng. Yang dateng pagi pulang sore gitu Mas." Mas Yandri terlihat keberatan dengan keinginanku. "Mas, Neng itu seorang istri. Ga ada dalam kamus
Aku sedang duduk dan memakan gorengan di warung Bu Indah saat Bu Jejen dan gengnya mendekat. Begitu melihatku, mereka bertiga sempat menghentikan langkah. Aku pikir mereka akan membalikkan badan, nyatanya mereka tetap mendekat. Ada sesuatu yang harus kuperiksa, dan aku bertekad untuk mendapatkan jawabannya hari ini juga. "Eh ada Bu Jejen, Bu Mumun dan Bu Romlah. Tumben baru keliatan nih." Aku tersenyum ke arah mereka.Bu Jejen mendelik dan mencebikkan bibirnya. "Halah, kamu itu yang jarang keluar rumah! Jelas aja baru ngeliat kita-kita!" "Eh Bu Jejen, mau tau ngga?" ucapku dengan nada yang membuat penasaran."Apaan?! Kamu mah senengnya main tebak-tebakan mulu! Tinggal cerita aja apa susahnya sih?!" "Saya dapet kiriman paket dari mama saya loh. Isinya makanan, banyak banget."Selama berbicara, aku mengamati tingkah Bu Mumun dan Bu Romlah. Mereka berdua hanya diam menyimak sembari memakan gorengan. "Makanan apaan? Kamu tuh kalo cerita-cerita tentang makanan, mending bawain sekalia
Beberapa hari ini keadaan di rumah cukup pengap. Bukan, bukan karena suhu di kota ini yang memang panas. Aku juga tidak mengerti, apa penyebabnya. Seperti ada yang berbeda dari biasanya. Aku pikir hanya aku saja yang merasakan hal itu, nyatanya Mas Yandri juga. "Neng, kok kayanya hawa di rumah ngga
Setelah makan malam, aku dan mas Yandri menghabiskan waktu berdua di depan televisi dengan gelas kopi ditangan masing-masing. Mas Yandri memberitahuku jika weekend minggu depan akan ada acara serah terima jabatan dari kepala cabang yang lama. Aku diminta hadir untuk menemaninya dalam acara tersebut.
Aku membersihkan taman sesaat setelah mas Yandri berangkat kerja. Mataku tidak sengaja melihat ke arah rumah depan. Beberapa ibu-ibu sudah duduk didepan pagar tepat disisi jalan dengan menggunakan bangku panjang yang entah mereka bawa dari mana. Tidak lama terdengar suara tukang sayur. Rupanya ibu
"Seperti yang sudah kubilang. Pernikahan adalah proses pembelajaran seumur hidup. Akan selalu ada hal baru yang dipelajari setiap harinya." - Neng Rere***Aku melemparkan pandang ke sudut ruangan dimana terdapat koper dan dus-dus bertumpuk. Isinya sebagian besar adalah pakaianku dan Mas Yandri. Se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.