MasukMendengar itu, Arthur tersenyum miring. Tampak mencemooh.
“Memangnya dirimu pikir kau siapa?” ucap Arthur, dingin dan menusuk. “Jangan terlalu tinggi menilai dirimu.”
Senyum Diana membeku sejenak. Ia memaksakan kembali senyum normalnya.
Seharusnya ia tidak terkejut. Sepengetahuannya dan semua orang di buku, “Diana” yang asli tidak paham soal medis sama sekali. Selain itu, dengan jaminan apa Arthur bisa memercayainya begitu saja?
Namun, sekarang, ia punya langkah yang jelas dalam misinya untuk mengambil hati sang pangeran.
Ia akan menyembuhkan Arthur.
Dengan begitu, Arthur akan memberinya pengakuan dan perlindungan. Baik itu dari keluarga Sinclair ataupun dari kematian.
“Yang Mulia,” Diana mencoba lagi. “Jika Yang Mulia mengizinkan, saya bisa membuktikannya.”
Arthur akhirnya bertanya datar, “Apa yang bisa kau berikan jika gagal membuktikan kalimatmu?”
Diana tak ragu. Ia menatap Arthur lurus, mata birunya mantap, suaranya stabil.
“Nyawa saya.”
Arthur tidak bereaksi banyak. Namun, sepasang mata biru dingin itu sejenak tampak tidak percaya.
Hening sejenak. Namun Diana tetap memandang Arthur dengan tegas.
“Bagaimana, Yang Mulia–”
“Pergi.” Usai mengatakan itu, Arthur kembali berbalik dan melangkah menjauh. “Jangan sampai aku berubah pikiran untuk mengusirmu dengan caraku sendiri.”
“Yang Mulia, dengarkan saya terlebih dahulu–”
Ia belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika sesuatu berkilat di udara.
TRANG!
Sebuah belati kecil jatuh tepat di depan kakinya.
Diana tersentak, segera menoleh pada Arthur yang kini duduk tenang di kursinya, seolah melempar belati ke seorang wanita adalah hal wajar dilakukan sebelum sarapan.
“Apa jaminannya bahwa kau pihak yang bisa dipercaya?” tanya Arthur datar. “Nyawamu. Benar?”
Diana menatap belati itu dingin.
Dia ingin dirinya menumpahkan darah sebagai bukti kesetiaan? Pria ini… benar-benar antagonis tanpa hati.
Pelan, ia meraih belati itu. Kilat logamnya memantul di iris biru Diana.
Ia mengangkat wajah, menatap Arthur lurus. Tatapan mereka bertemu–dua mata biru yang sama tajam namun berbeda dunia.
“Jika aku menumpahkan darah sekarang,” ucap Diana tegar, “Yang Mulia benar-benar akan mempercayaiku?”
Arthur tidak menjawab.
Ia hanya menatap. Datarnya tatapan itu adalah jawaban ‘iya’ yang paling jelas.
Diana menarik napas panjang.
Ia melihat pergelangan tangannya sendiri, lalu melihat belati itu.
Beberapa tetes darah saja. Itu harga yang murah untuk memastikan dia tetap hidup di masa depan.
Ia mencengkeram gagang belati erat-erat.
Menutup mata.
Ujung belati mulai menyentuh kulit tipis di pergelangan tangannya.
Namun tepat saat bilah logam itu akan menekan lebih dalam—
TRANG!!!
Sebuah benda lain—logam juga—melayang entah dari mana dan menghantam belati itu dengan keras hingga senjata tersebut terpental dari tangan Diana.
Belati Diana jatuh menghantam lantai, memantul sebelum terguling dan berhenti beberapa jengkal darinya.
Diana terkejut, terdiam, dan matanya membesar.
Ditatapnya Arthur yang tampak tidak acuh, seolah Diana sama sekali tidak akan melakukan sesuatu untuk melukai dirinya sendiri.
Arthur memasukkan kedua tangannya ke balik jubah tipisnya yang basah, lalu berdiri tanpa menatapnya.
“Aku tidak ada waktu,” ucapnya datar. “Lain kali saja.”
Tanpa menunggu respons, pria itu langsung melangkah keluar area pemandian, meninggalkan Diana mematung di tempat dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Diana mengedip beberapa kali, masih berusaha memahami apa sebenarnya yang terjadi barusan.
Dirinya disuruh membuktikan kesetiaan dengan darah, lalu pria itu pergi begitu saja?
Diana menggerutu dalam hati. Rasanya ingin sekali ia berteriak sepuasnya.
“Sebenarnya apa yang pria itu inginkan?” gumamnya kesal. “Kenapa sifatnya buruk sekali?!”
Sayangnya, ia hanya bisa menghela napas panjang untuk membuang frustrasinya.
Tubuhnya terasa panas oleh rasa kesal yang menumpuk, tetapi ia buru-buru menarik kedua sudut bibirnya ke atas, memaksa diri untuk kembali tersenyum.
Mau tidak mau, ia harus bersabar.
Tetap tenang, Diana. Kau butuh laki-laki gila itu tetap hidup.
Dengan langkah cepat, Diana menyusul Arthur. Dari kejauhan ia melihat pria itu berjalan menuju lorong panjang yang mengarah ke ruang kerja.
Jubahnya yang basah menyisakan jejak air di lantai, namun Arthur seolah tidak memedulikannya.
Diana mempercepat langkah, namun sebelum ia bisa berada cukup dekat—
“Yang Mulia.”
Seorang kasim muncul dari tikungan lorong dan membungkuk sopan sambil menawarkan sepucuk surat padanya.
“Ada surat untuk Anda.”
“Oh,” Diana langsung menerima surat itu dan mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Kasim itu mundur beberapa langkah sebelum berbalik pergi.
Diana membuka gulungan suratnya begitu pria itu pergi, namun ekspresinya berubah masam hanya dalam hitungan detik. Keningnya mengerut dalam.
“Apa-apaan ini?” desisnya tajam.
Surat itu berisi daftar barang. Tidak main-main, jumlahnya sangat banyak–bahkan cenderung tidak masuk akal.
Semuanya adalah permintaan keluarga Sinclair untuk persiapan “kunjungan penghormatan terakhir”.
Sekilas Diana merasa ingin merobek surat itu menjadi ribuan potongan kecil.
“Tidak tahu malu…” gumamnya. “Membuang ‘Diana’, lalu masih berusaha menguras keuntungan dari tubuh ini. Menjijikkan!”
"Berhentilah menangis, Embun. Aku tidak menyalahkanmu," ucap Diana dengan nada suara yang sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja lolos dari upaya pembunuhan.Diana menyodorkan sebuah sapu tangan sutra bersih ke arah pelayan setianya itu. Embun mendongak dengan mata sembab, wajahnya memerah karena panik dan duka. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia menerima sapu tangan itu dan segera menyeka air matanya."Berdirilah. Jika kau terus berlutut di sana, kau hanya akan mengotori pakaianmu dengan sisa susu beracun itu," lanjut Diana.Embun bangkit perlahan, kakinya terasa lemas. Ia berdiri dengan kepala tertunduk, memilin sapu tangan di jemarinya dengan perasaan bersalah yang luar biasa. Diana menatap genangan susu di lantai marmer itu dengan pandangan yang dingin dan analitis."Sekarang, jawab aku dengan jujur," Diana memulai interogasinya dengan suara rendah namun tajam. "Apa ada orang lain di dapur saat kau membuatkan aku susu itu? Pikirkan baik-baik.
Diana duduk dengan tenang di kursi kayu jati yang diletakkan tepat di samping ranjang besar milik Arthur. Jemarinya yang ramping bergerak perlahan, mengaduk sup obat di dalam mangkuk keramik kecil dengan gerakan ritmis yang konstan.Arthur, Sang Kaisar Norvenia yang biasanya tampak perkasa, kini berbaring dengan posisi yang diatur sedemikian rupa agar tampak seperti seorang pesakitan yang benar-benar tak berdaya. Lilitan perban di kening dan kakinya masih terpasang rapi—meskipun Diana tahu persis bahwa "luka parah" itu hanyalah tameng untuk menghindari kejaran para selir."Minum ini," ucap Diana pendek. Ia menyendokkan cairan kental berwarna gelap itu dan menyodorkannya ke arah bibir Arthur.Arthur menghirup aroma uap yang menguar dari sendok tersebut. Seketika, keningnya berkerut dalam, dan ia memalingkan wajahnya sedikit. "Baunya sangat menusuk, Diana. Bukankah luka-lukaku hanya di area luar? Mengapa aku harus meminum sup obat yang aromanya seperti empedu ini?"Diana menaikkan ali
Langkah kaki Denada di atas hamparan salju yang membeku terdengar seperti rintihan halus yang pecah di bawah beban berat hatinya. Perjalanan kembali dari Istana Isabella terasa jauh lebih panjang daripada saat ia berangkat. Di sekelilingnya, udara musim dingin Kekaisaran Delore begitu menusuk, seolah berusaha membekukan setiap jengkal kulit yang terekspos. Namun, rasa dingin itu tidak sebanding dengan kegaduhan yang sedang berkecamuk di dalam benaknya.Ucapan Isabella di meja teh tadi masih terngiang-ngiang, berputar seperti pusaran angin puyuh yang tak mau berhenti."Berhasil membuat pria itu jatuh cinta pada Anda... Dukungan militer klan Rumi akan menjadi pedang yang paling mematikan jika ia mengayunkannya demi cinta."Denada mencengkeram kain hanfu sutranya dari balik jubah mantel dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Itu gila, batinnya dengan napas yang mulai memburu. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan hal sekeji itu? Menggunakan perasaan seseorang—perasaan tu
Denada melangkah menyusuri selasar panjang yang menghubungkan paviliun utama dengan kediaman Isabella. Jubah mantelnya yang berwarna kelabu kebiruan menyapu lantai marmer dengan suara seretan halus yang ritmis. Di belakangnya, Cucu berjalan dengan kepala tertunduk, membawa kotak obat kecil yang berisi ramuan pemulih luka. Dan tepat di samping mereka, berdiri sosok yang kini seolah menjadi bayangan tak terpisahkan dari Denada, Althaf Rumi. Althaf melangkah dengan ketegasan yang tak tergoyahkan. Zirah ringannya berkilauan meski cahaya matahari terhalang kabut, dan tangan kanannya selalu siaga di dekat gagang pedang. Sejak kejadian di ruang kerja tempo hari, Alon seolah memberikan instruksi mutlak agar ksatria ini menjadi pengawal pribadi Denada. Denada sering mencuri pandang ke arah pria di sampingnya itu, bertanya-tengah dalam hati, apakah Alon benar-benar ingin melindunginya karena rasa "cinta" obsesifnya yang palsu, ataukah Althaf sebenarnya adalah mata-mata paling berbahaya
Diana melangkah keluar dari lingkaran tirai peraduan Arthur. Aroma obat-obatan yang tajam masih menempel di ujung hidungnya, bercampur dengan aroma dupa krisan yang menenangkan. Namun, belum sempat ia melintasi ambang pintu untuk menuju selasar istana, sebuah tarikan lembut namun erat menahan pergelangan tangannya. Diana berhenti dan menoleh perlahan. Di atas ranjang, Sang Kaisar yang baru saja bersandiwara menderita luka parah meskipun keningnya memang benar-benar terluka itu kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang penuh dengan tuntutan perhatian yang kekanakan di balik topeng wibawanya. "Kau juga ingin pergi?" tanya Arthur. Suaranya rendah, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus merajuk lebih jauh atau tetap pada skenario "sakit parah"-nya. Diana menatap tangan Arthur yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap wajah suaminya itu dengan tatapan datar yang menusuk. "Bukankah sakit Yang Mulia cukup parah? Menurut diagnosa tabib tadi, And
Diana melangkah dengan martabat seorang Permaisuri yang tak tergoyahkan. Meskipun perutnya yang besar membuatnya harus berjalan lebih lambat dan hati-hati, aura otoritas yang dipancarkannya justru semakin tajam. Di halaman depan istana, pemandangan yang tidak biasa tersaji. Belasan selir dari berbagai tingkatan sudah berlutut gemetar di atas lantai marmer yang keras. Wajah mereka tertunduk dalam, tangan-tangan mereka saling bertaut erat, dan isak tangis kecil terdengar samar di antara desau angin.Diana mengerutkan keningnya dalam-dalam. Matanya menyapu barisan wanita-wanita cantik yang kini tampak seperti pesakitan itu. Perasaan jengkel mulai merayap di dadanya. Drama apa lagi yang diciptakan pria itu hari ini? batinnya ketus. Tanpa memberikan sepatah kata pun pada para selir yang ketakutan itu, Diana melanjutkan langkahnya masuk ke dalam istana, diikuti oleh Embun yang selalu sigap di belakangnya.Begitu memasuki ruang peraduan Kaisar, aroma obat-obatan herbal yang sangat menyen
“Apa yang kau lakukan di sini?”Suara Arthur terdengar datar, dingin, dengan kening yang terlipat sedikit. Nada itu cukup untuk membuat para pelayan yang berada di sekitar halaman menunduk lebih dalam, sementara udara pagi yang semula terasa ringan mendadak menegang tanpa alasa
Kereta kuda baru saja berhenti sempurna di halaman Istana Putra Mahkota ketika seorang pelayan berlari tergesa dari arah dalam istana. Napasnya tampak sedikit terengah, namun ia tetap menjaga sikapnya dengan membungkuk dalam di hadapan kereta.“Yang Mulia Putri Mahkota,” ucapny
“Yang Mulia?”Suara Diana terdengar ragu ketika semua orang di restoran itu tengah membungkuk dalam-dalam, menyambut kedatangan Putra Mahkota. Ia berdiri kaku di tempatnya, menatap sosok Arthur yang berdiri tegap di hadapan meja makan, seolah kehadirannya bukan sesuatu yang mengusik suasana sama s
Pagi itu, halaman depan Istana Putra Mahkota tampak jauh lebih ramai dibanding hari-hari biasanya. Sejak matahari baru saja naik dan sinarnya menimpa atap-atap bangunan istana, para pelayan sudah lalu-lalang dengan langkah cepat dan wajah penuh konsentrasi. Beberapa di antara







