LOGINDiana melipat surat itu kasar dan menyimpannya di balik pakaian.
Sejujurnya, Diana pribadi tidak ingin peduli pada tradisi seperti kunjungan keluarga dan lain sebagainya.
Namun, tubuh ini adalah milik putri bungsu keluarga Sinclair yang kini telah menjadi putri mahkota.
Apa pun yang ia lakukan sekarang, akan ditanggung juga oleh suaminya. Yang meski namanya sudah buruk dan orangnya menyebalkan–pria itulah yang akan mendampingi hidup Diana kelak.
Ia menarik napas panjang untuk menguasai emosinya sebelum akhirnya kembali berjalan mengejar Arthur.
Pria itu rupanya menuju ruang kerjanya. Di sana, Arthur tengah duduk tenang di balik meja kerjanya. Punggungnya tegak, kedua tangannya menyatu di atas meja, dan tatapannya langsung terarah padanya ketika Diana muncul di ambang pintu.
Diana membungkuk singkat. “Maaf, Yang Mulia. Saya tadi terkesan memaksa. Jika Anda–”
“Duduk.”
Satu kata. Singkat. Tegas. Pemotongan yang entah keberapa kalinya.
Diana ingin sekali mendesah keras, tapi ia menahannya dan memilih duduk dengan patuh.
Kursi di hadapannya terasa jauh lebih dingin dari biasanya, mungkin karena atmosfer yang diciptakan Arthur.
Baru saja ia ingin meluruskan punggungnya, Arthur menggerakkan matanya—hanya matanya—ke arah sisi meja. “Kau menginginkan ini?”
Diana mengerutkan kening, mengikuti arah tatapan itu. Di sana, di atas meja, tergeletak sebuah buku tebal dengan sampul kulit gelap.
Ia menyentuhnya pelan, membaca judul yang tertera dengan huruf emas.
‘Catatan Kekayaan Istana Putra Mahkota’
Di sebelahnya terletak sebuah kunci emas besar, simbol akses untuk membuka ruangan penyimpanan khusus, bahkan mungkin memeriksa alur kekayaan keluarga kerajaan.
Diana menatap Arthur bingung. “Apa?”
Arthur menatapnya tanpa perubahan ekspresi. “Bukankah ini tujuanmu bersikap sok baik padaku? Keluarga Sinclair menginginkan uang, bukan?”
Diana terdiam satu detik—lalu dua. Perlahan, udara di dadanya terasa sesak, bukan karena takut, tetapi karena rasa kesal yang memuncak.
Jadi… pria itu berpikir semua sikap baiknya adalah demi mengeruk harta kerajaan untuk diberikan pada keluarga busuk itu?
“Yang mulia,” Diana menarik napas dalam, matanya menatap Arthur tanpa gentar. “Bukan ini yang saya butuhkan.”
Arthur tetap menatapnya datar. “Lalu apa?”
Diana menjawab cepat, tanpa pikir panjang. “Dirimu, Yang Mulia! Saya membutuhkan Anda.”
Sekali lagi, hening.
Kalimat itu seketika membentur dinding dingin di antara mereka, menggema tanpa arah.
Kerutan di dahi Arthur tampak dalam, dan Diana sendiri merasakan wajahnya hangat karena sadar telah mengatakan sesuatu yang 'membingungkan' .
Namun ia tidak menarik kembali ucapannya.
“Saya telah menikah dengan Anda,” ucap Diana, kali ini lebih lembut dan tenang. “Sebagai istri, saya ingin yang terbaik untuk Yang Mulia. Hati saya tidak nyaman membayangkan Yang Mulia harus menanggung penderitaan setiap hari.”
Tidak ada gunanya berpura-pura di hadapan pria yang intuisi dan kecurigaannya setajam pedang.
Keheningan di ruang kerja Arthur terasa begitu padat, seolah udara di dalamnya mengental dan menahan napas siapa pun yang berada di dalamnya.
Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar jelas.
“Yang Mulia,” suara seorang pria dari luar ruangan terdengar tegas, formal, tanpa gemetar. “Ada pesan dari Perdana Menteri.”
Arthur tidak langsung merespons. Ia bahkan tidak menoleh. Hanya udara di sekitarnya yang terasa berubah, sedikit menegang.
Kemudian suaranya terdengar, dingin dan pendek.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Seorang pria berambut hitam rapi, mengenakan pakaian pelayan tingkat tinggi, melangkah masuk sambil membungkuk dalam.
Sikapnya menunjukkan bahwa ia bukan pelayan biasa—gerakannya terlalu terlatih, terlalu halus, dan terlalu hening.
Diana segera bangkit dari kursinya. Nalurinya mengatakan ia tidak memiliki hak untuk mendengarkan pembicaraan resmi kerajaan.
Ia menarik kembali rok gaunnya pelan dan berbalik.
Namun baru satu langkah ia ambil–
“Ke mana?” suara Arthur memotong tajam.
Diana berhenti. Berbalik perlahan, menunduk sopan. “Karena Yang Mulia hendak berbincang, jadi aku rasa—”
“Kembali,” Arthur memotong tanpa menunggu penjelasan. “Giling tinta ini.”
Seketika alis Diana berkedut. Dalam hati ia mengumpat sejadi-jadinya.
Astaga... pria ini. Barusan mengusirku, sekarang memerintah seenaknya! Dia pikir aku ini apa, kucing liar yang bisa diseret maju mundur?
Tapi bibirnya tersenyum manis. “Baik.”
Ia melangkah kembali mendekati meja, mengambil posisi di samping Arthur.
Pria yang baru masuk tadi menunduk sopan kepadanya ketika ia melewati, dan Diana membalas dengan anggukan kecil sebelum fokus pada batu tinta yang disodorkan Arthur.
Wangi tinta hitam mulai memenuhi udara.
Diana menggilingnya perlahan, gerakan tangannya mantap meski isi hatinya bergolak.
Sesekali ia melirik pria yang tadi masuk—orang yang ternyata berdiri sedikit di belakang Arthur.
Gerakannya hening, posturnya tegak, dan aura kewaspadaannya begitu kuat. Diana bisa menebak, Ini pasti tangan kanan pribadi Arthur.
Pria itu membungkuk, menyodorkan amplop cokelat pada Arthur. “Ini adalah surat yang dititipkan Perdana Menteri. Beliau juga berkata…”
Ucapannya menggantung. Pria itu menoleh sedikit, melirik Diana ragu-ragu.
Tentu saja. Informasi sensitif. Dan kehadiran Diana masih dianggap asing bagi istana.
Namun sebelum pria itu memutuskan apakah ia harus diam atau bicara, Arthur mengangkat satu tangannya sedikit—sebuah isyarat kecil, tapi kuat.
“Lanjutkan, Sai.”
Sai kembali menunduk sopan. “Perdana Menteri berkata bahwa pergerakan dari kelompok misterius itu mulai semakin dekat dengan ibu kota. Dua korban baru ditemukan tidak jauh dari hutan. Ciri-cirinya sama persis seperti korban-korban sebelumnya.”
Ia berhenti sejenak, kemudian menambahkan dengan nada lebih pelan.
“Tanpa organ dalam.”
Suara itu membuat bulu kuduk Diana berdiri.
Gerakan tangannya menggiling tinta terhenti sepersekian detik. Ia menatap batu tinta, namun pikirannya melayang jauh.
Ia ingat bagian ini.
Ingatan dari dunia sebelumnya—ingatan sebagai pembaca—muncul begitu jelas.
Temannya pernah bercerita panjang lebar mengenai novel ini, terutama bagian tentang kelompok misterius itu.
Kelompok yang dipimpin tokoh utama pria tersembunyi, Alon.
Mereka adalah kelompok bayangan. Seperti kriminal… namun pada saat bersamaan, seperti eksekutor keadilan kelam.
Mereka memburu bangsawan-bangsawan yang terkenal rakus, korup, dan menyembunyikan berbagai kejahatan kelam. Dan organ tubuh korban…
Dijual ke pasar gelap.
Diana menelan ludah. Ia tidak pernah menyukai bagian cerita itu—terlalu gelap, terlalu mengenaskan.
Tapi ia tidak mengatakan apa pun. Informasi seperti itu sebaiknya memang tidak keluar dari mulut orang yang tidak sepenuhnya dipercaya.
Arthur menerima amplop itu, namun belum membukanya. Tatapannya dingin tapi jelas tengah menimbang. “Baik. Kau boleh pergi.”
Sai menunduk dalam sebelum berbalik langkah. Gerakannya hening dan cepat hingga pintu tertutup tanpa suara.
Hening kembali menguasai ruangan.
Arthur berdiri diam tanpa kata, sementara Diana kembali fokus pada tinta hitam yang perlahan menjadi pekat di dalam mangkuk kecil.
Suara halus gesekan batu tinta menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Hingga tiba-tiba—
“Apa yang kau butuhkan dariku?”
Diana membeku.
Tangan yang tengah menggiling tinta terhenti, lalu ia mengangkat wajah.
Arthur masih menatap lurus ke depan, bukan ke arahnya. Namun kata-kata itu jelas ditujukan kepadanya.
Diana memutar tubuh sedikit agar bisa menatapnya lebih jelas. “Aku… hanya membutuhkan pengakuan secara lisan di muka umum,” jawabnya perlahan. “Khususnya di hadapan keluargaku.”
Ia menghirup napas dalam sebelum lanjut, “Tidak masalah jika itu pengakuan palsu.”
Arthur akhirnya memalingkan wajah padanya.
“Di depan keluargamu?”
Nada suaranya pelan namun terdapat ketidakpuasan samar, seolah ia tengah mencoba memahami sesuatu.
Kemudian ia bertanya lagi, datar, “Apa yang aku dapatkan jika membantumu? Selain kesembuhan.”
Diana hampir memutar bola matanya. Pria ini masih meminta imbalan lebih?!
Ia terdiam beberapa detik, berpikir cepat. Ia tidak punya uang. Tidak punya harta. Tidak punya kedudukan berharga. Satu-satunya yang ia miliki—
“Pengabdian seumur hidupku,” jawabnya mantap. “Bagaimana?”
“Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena difitnah telah lancang pada Putri.”Nada suaranya terdengar tulus, namun juga penuh penyesalan.Diana tertawa di dalam hati.Inilah ‘pukulan’ yang ia maksud kepada Embun di dalam kereta kuda tadi.Bukan pukulan dengan kemarahan.Bukan dengan teriakan.Melainkan dengan membiarkan kebenaran berdiri di tengah keramaian dan berbicara sendiri.Ia tidak menjawab permohonan maaf Tuan Damar. Tidak perlu.Sebaliknya, ia menoleh pada tangan yang masih mencengkeram lengannya.“Menepi.”Suaranya datar.Tiara membatu di tempatnya. Jari-jarinya perlahan terlepas dari lengan Diana, seolah baru menyadari apa yang telah ia lakukan.Semua orang melihatnya.Untuk sesaat, Tiara berdiri tanpa suara, lalu lututnya
Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat. Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam mengamati setiap detail.Wanita itu masih terduduk di tanah, kedua tangannya mencengkeram pipinya sendiri.“Panas… sakit… ahh!”Jeritannya membuat beberapa tamu mundur ngeri.Diana membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas—“Ah!”Ia mendadak mundur satu langkah, menutup setengah wajahnya dengan lengan hanfu, seolah terkejut oleh pemandangan di depannya.Reaksi itu membuat Tiara ikut terdorong rasa penasaran dan ketakutan. Ia menerobos kerumunan, jantungnya berdegup kencang.Begitu melihat kondisi wanita itu, napasnya tercekat.Wajah wanita tersebut kini memerah seluruhnya, bukan sekadar ruam biasa. Kulitnya tampak mengilap aneh, beberapa bagi
Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk rambut phoenix yang menjadi lambang kedudukannya sebagai Putri Mahkota.Kereta kuda telah menunggu di depan.Embun berdiri di sampingnya, memegang ujung rok sang Putri agar tidak terseret tanah.Diana menaiki kereta tanpa banyak kata. Tirai ditutup, roda mulai berputar, dan kereta bergerak meninggalkan halaman istana menuju Kediaman keluarga Mahen.Di dalam kereta, suasana hening beberapa saat. Cahaya matahari siang menembus celah tirai, membentuk garis-garis tipis di wajah Diana yang tetap tenang.Embun menatap majikannya dengan raut heran yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya ia tidak sanggup lagi.“Putri,” ujarnya pelan namun penuh rasa ingi
Isabella duduk tegak di hadapan cermin peraknya.Pantulan wajahnya terlihat sempurna—kulit pucat tanpa cela, bibir merah muda yang terlukis rapi, dan mata yang dingin bagai danau beku di musim dingin. Tidak ada siapa pun yang akan mengira bahwa di balik ketenangan itu, pikirannya berputar tanpa henti.Di belakangnya, seorang pelayan perempuan berdiri dengan tangan terampil, menyisir rambut panjang Isabella yang hitam berkilau. Setiap helai jatuh lembut di punggung gaunnya, menciptakan kontras indah dengan kain sutra berwarna gading yang ia kenakan.Hari ini ia harus menghadiri undangan Tiara Mahen.Undangan yang tampaknya sederhana—jamuan teh dan perbincangan ringan—tetapi Isabella tahu, tidak ada pertemuan di lingkungan bangsawan yang benar-benar tanpa maksud.Apalagi jika Diana juga akan hadir.Isabella menatap pantulannya tanpa berkedip.Ia tidak boleh kalah.Tidak dalam hal sikap.
Diana terbangun perlahan saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya.Sentuhan itu lembut, bergerak perlahan dari pelipis ke pipinya, seolah seseorang sedang memastikan ia benar-benar nyata. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata biru gelap yang begitu dekat.Arthur.Pria itu berbaring miring menghadapnya, satu tangan terangkat, jemarinya masih berada di sisi wajah Diana. Tatapannya dalam, tidak berkedip, seolah sedang mengamati sesuatu yang sangat berharga.Jantung Diana berdebar tanpa aba-aba.Pagi itu cahaya matahari yang menyelinap melalui tirai tipis jatuh tepat di wajah Arthur, membuat warna matanya terlihat lebih tajam, lebih hidup.Ia tampak… sangat menawan.Tanpa sadar, sudut bibir Diana terangkat.“Tampan sekali…” gumamnya pelan, suara seraknya masih bercampur sisa kantuk.Hening sejenak.Arthur mengangkat alisnya tipis.“Benarkah?” tanyanya ringan.Biasanya, jika Diana menggoda seper
“Yang Mulia, Anda yakin akan menemui Pangeran Keempat? Saya ragu beliau akan menyambut Anda dengan baik meskipun memang ibunya yang bersalah.”Suara itu datang dari Mila, pelayan pribadi Karin yang baru. Gadis itu berjalan setengah langkah di belakang tuannya, menjaga jarak yang sopan, tetapi nada khawatirnya terdengar jelas.Karin tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap tenang menyusuri koridor panjang menuju kediaman Deon. Hanfu kebesarannya yang bersulam phoenix emas bergeser lembut mengikuti gerakan tubuhnya. Stempel Harem yang kini menjadi simbol kekuasaannya terselip rapi di lengan dalamnya.“Aku yakin,” jawab Karin akhirnya, suaranya datar namun mantap.Mila masih tampak ragu. “Pangeran Keempat baru saja kehilangan ibunya. Istana pun tidak memberinya ruang untuk berduka. Jika Yang Mulia datang sekarang… saya takut beliau salah paham.”Karin berhenti sejenak.Ia menoleh tipis, tatapannya lembut tetapi tegas.“Justru karena itu aku harus datang.”Mila terdiam.Karin memang ti







