Share

Bab 7. Kunjungan Penghormatan

Penulis: nanadvelyns
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-26 16:56:13

Keesokan paginya, surat kembali datang. Diana tidak bisa menunda kunjungan ke keluarga Sinclair lebih lama.

Namun, saat ia bertanya mengenai pangeran–

“Saat ini Yang Mulia tidak ada di ruang kerjanya. Saya kurang tahu, Putri.”

Diana mengangguk perlahan.

Ah. Jadi begitu.

Tidak ingin menemani perjalanan tradisi penting ini, rupanya.

Diana menghela napas tipis. Sungguh, ia sudah menduga. Arthur bukan tipe pria yang suka memperlihatkan kepedulian secara terbuka.

Bahkan sangat mungkin… ia hanya menganggap Diana sebagai kewajiban negara yang kebetulan masih hidup.

Mata Diana berkilat dingin saat kembali menatap bayangan wajahnya di cermin.

Baik.

Kalau begitu… dia akan menghadapi keluarganya sendiri.

Dengan atau tanpa suaminya.

“Ayo segera pergi,” ucap Diana sambil bangkit dari kursi.

Embun dan Bibi Erna segera mengikuti dari belakang.

Kereta kuda keluarga kerajaan yang dilapisi hiasan emas berhenti tepat di depan gerbang utama kediaman Sinclair.

Para prajurit kerajaan membuka jalur, dan Diana turun dengan dibantu Embun serta Bibi Erna.

Udara pagi terasa menusuk, namun Diana tidak menggigil, hanya menatap kediaman itu dengan mata yang perlahan mendingin.

Gerbang besar keluarga Sinclair tertutup rapat.

Tidak ada pelayan yang menunggu di depan.

Tidak ada keluarga yang menyambut.

Tidak ada tanda penghormatan apa pun kepada putri mereka yang kini telah menjadi Putri Mahkota Norvenia.

Bibi Erna tampak langsung kesal. “Yang Mulia… bagaimana bisa mereka menutup pintu rapat-rapat seperti ini?” gumamnya dengan nada marah.

Diana tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah pintu itu. Kemudian, saat ia hendak mendorongnya, gerbang terbuka tiba-tiba.

Di sana berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian mahal dan kipas sutra di tangannya.

Renata Sinclair.

Ibu tiri Diana. Istri pertama dari Tuan Sinclair.

Renata tampak—entah benar-benar terkejut atau hanya bersandiwara—menutup mulutnya sedikit dengan kipas. “Astaga… kau di sini?”

Kalimatnya sama sekali tidak sopan.

Namun Diana tetap membungkuk rendah.

“Salam, Ibu.”

Renata mengibaskan kipasnya, menyembunyikan sebagian wajahnya. “Ah… sekarang kau Putri Mahkota, ya?”

Nada itu terdengar seperti penghinaan terselubung.

Bibi Erna hampir bersuara, namun Diana menghentikannya hanya dengan lirikan sekilas.

Lalu ia tersenyum.

“Meskipun begitu, Diana tetaplah putri keluarga Sinclair. Diana kemari untuk memberikan penghormatan sesuai tradisi.”

Renata tertawa kecil, tawa anggun yang palsu.

“Penghormatan, ya?” gumamnya, sebelum akhirnya berbalik dengan gaya acuh. “Kalau begitu, aku tidak bisa membuat seorang Putri berdiri terlalu lama. Ayo masuk.”

Diana melangkah masuk.

Hatinya perlahan membeku, seperti salju tipis yang menutupi permukaan kaca.

Bagaimana mungkin ‘Diana’ yang sebelumnya bertahan begitu lama di rumah ini?

Tapi… Diana tidak bisa menyalahkan wanita itu.

Karena dirinya—di kehidupan lain—pernah melakukan hal yang sama.

Oleh karena itu, ia tidak akan mengulang kesalahan itu lagi.

Di koridor panjang menuju aula utama, suara manis terdengar.

“Diana? Itu kau?”

Diana berhenti.

Suaranya saja sudah cukup untuk membuat ia tahu siapa orangnya.

Isabella Sinclair.

Diana menoleh.

Isabella melangkah cepat mendekat, lalu langsung memeluknya erat. “Aku sangat merindukanmu!” ucapnya sambil mengeluarkan air mata.

Diana merasa dada serasa kosong. Bukan karena rindu—bukan. Melainkan karena dingin dalam dirinya semakin tebal.

Namun ia membalas pelukan itu perlahan, tersenyum lembut seolah tersentuh.

“Aku juga sangat merindukanmu, Kak,” jawab Diana.

Ia akan mengikuti permainan wanita itu.

Diana belum melepaskan pelukannya saat sebuah suara lembut muncul dari belakang Isabella.

“Diana?”

Diana melepaskan pelukan Isabella.

Seorang pria berdiri tidak jauh.

Rambut hitam panjang yang diikat sederhana dengan giok putih, wajah lembut, mata cokelat hangat, hidung mancung halus, dan sedikit kemerahan alami di pipinya.

Alon.

Musim semi dalam bentuk manusia.

Diana tersenyum kecil dan mengangguk sopan.

Namun ia kemudian mengalihkan pandangan ke Isabella, seolah Alon tidak lebih dari hiasan dinding.

Dan Alon… menyadarinya.

Kening pria itu mengerut sedikit.

Ada sesuatu yang berbeda dengan Diana. Terlalu berbeda.

Dulu, setiap kali melihatnya, Diana selalu menatapnya hangat dan ragu-ragu.

Sekarang?

Tatapan itu… dingin dan jauh.

Isabella kembali memeluknya erat dan berbisik lirih, “Kenapa semalam kamu tiba-tiba memutuskan sesuatu? Pelayan itu pasti salah menyampaikan pesan, kan?”

Diana membalas pelukannya dengan suara lembut namun penuh arti.

“Pelayan itu tidak salah, Kak. Aku… memang ingin berkorban untuk keluarga dan Kakak. Bukankah itu memang tujuan awalku menggantikanmu?”

Pelukan itu pun dilepaskan.

Diana tersenyum hangat pada Isabella.

Namun senyum yang diterima Isabella membuat wanita itu mengepalkan tangan kecil di balik jubahnya. Sorot matanya mendingin, meski bibirnya masih tersenyum anggun.

Diana tersenyum sekali lagi lalu mengikuti Renata.

Ketika tiba di aula utama, Diana langsung melihat Tuan Sinclair duduk di kursi kehormatan, menatapnya dengan ekspresi yang sama seperti dulu—dingin dan meremehkan.

Diana bergerak maju.

Sebuah bantal diletakkan di lantai.

Ia akan memberikan salam penghormatan terakhirnya. Setelah hari ini, ia tidak akan pernah lagi membungkuk kepada siapa pun kecuali kepada Kaisar, Permaisuri, dan suaminya.

Diana berlutut.

Namun saat lututnya mengenai bantal itu—

Diana menahan napas.

Ada sesuatu yang menusuknya dari balik permukaan kain.

Jarum.

Jarum-jarum kecil, banyak, ditusukkan di bawah kain bantal.

Lutut Diana langsung terasa panas dan perih, namun wajahnya tetap tenang.

“Diana memberi salam pada Ayah,” ucapnya datar.

Tuan Sinclair hanya mengangguk acuh. Tidak membalas. Tidak mengucapkan doa. Tidak memberi pengakuan.

Ketika Diana hendak berdiri—

rasanya nyaris mustahil.

Jarum-jarum itu menusuk kulitnya lebih dalam.

Namun ia tetap mencoba bangkit.

Ia tidak akan memperlihatkan kelemahan.

Isabella tiba-tiba mendekat. “Adik, mari kubantu.”

Diana terkejut, tapi tidak sempat menolak.

Isabella langsung menggenggam lengannya dengan paksa.

Dan saat Diana sedikit menggeser tubuhnya—

Isabella menjatuhkan diri sendiri ke lantai sambil berteriak keras.

“AH!”

Semua orang kaget.

Isabella memandang Diana dengan mata penuh keterkejutan dan rasa sakit palsu.

“Adik… apa yang kau lakukan? Aku hanya membantumu berdiri. Apa ini karena aku sudah tidak pantas lagi menjadi kakakmu karena kau sekarang adalah Putri Mahkota?”

Air mata Isabella jatuh.

Tuan Sinclair langsung menggebrak meja.

BRAK!!

“DIANA!!”

Diana menatap Isabella dingin.

Lalu ia mengalihkan pandangan ke Tuan Sinclair.

Ah…

Wanita itu benar-benar langsung memulai 'permainan' untuknya.

Terburu-buru sekali.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 65. Dua Ego

    “Salam, Putri Mahkota.”Sai yang pertama kali menyadari kedatangan Diana segera membungkuk hormat seperti biasa. Gerakannya tetap rapi dan terlatih, namun kali ini sepasang matanya tak bisa menyembunyikan kebingungan. Tatapannya sekilas terangkat, mencuri pandang ke wajah Diana—raut yang jelas tidak biasa. Terlalu pucat. Terlalu dingin. Terlalu… menekan.Diana berhenti beberapa langkah dari kereta kuda. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari sosok Arthur dan kereta di belakangnya. Tanpa basa-basi, tanpa intonasi bercanda, ia bertanya lugas, “Itu Selir baru Yang Mulia?”Pertanyaan itu jatuh seperti pedang.Sai terbatuk pelan, refleks. Wajahnya langsung berubah. Terkejut, panik, dan seolah rohnya melayang sesaat meninggalkan raga.“Bu—bukan, Putri,” jawabnya tergagap. “Wanita itu adalah—”Belum sempat Sai menyelesaikan kalimatnya, suara wanita yang asing namun nyaring terdengar dari dalam kereta kuda.“Sai! Apa kau mau aku mati di tangan Putra Mahkota? Cepat bantu aku!”Diana terp

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 64. Putra Mahkota Membawa Pulang Wanita!

    Diana membuka dua surat itu satu per satu dengan tenang, meskipun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang kediamannya, cahaya sore menyusup masuk melalui jendela berukir, membuat kertas di tangannya tampak berkilau lembut.Ia membuka surat pertama.Meskipun tidak ada nama pengirim yang tertulis di sana, Diana tahu betul dari mana asalnya. Aroma tinta dan gaya bahasa yang terlalu berhati-hati itu sangat khas.Istana Selir Shofia.Pandangan Diana menyusuri barisan kalimat pendek yang tertulis rapi.“Saya harap setelah hari bakti berakhir, Putri bersedia memenuhi undangan Selir ini untuk meminum teh bersama di Istana.”Hanya satu kalimat. Tidak lebih. Tidak kurang.Namun Diana justru tersenyum tipis, senyum yang perlahan mengembang di bibirnya. Jari-jarinya mengepal lembut di atas kertas itu.“Begitu rupanya…” gumamnya pelan.Undangan itu bukan sekadar ajakan minum teh biasa. Itu adalah sebuah pernyataan sikap. Artinya Selir Shofia telah mengamb

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 63. Daftar Nama dan Jarak yang Mengganggu

    “Apa yang kau lakukan di sini?”Suara Arthur terdengar datar, dingin, dengan kening yang terlipat sedikit. Nada itu cukup untuk membuat para pelayan yang berada di sekitar halaman menunduk lebih dalam, sementara udara pagi yang semula terasa ringan mendadak menegang tanpa alasan yang jelas.Diana yang baru saja menata ekspresi manisnya seketika menoleh ke arah Arthur. Tatapan matanya sempat melirik sekilas ke arah rombongan peti-peti besar yang masih terus diangkut masuk ke dalam istana, lalu kembali menatap pria di hadapannya dengan senyum sopan yang dipaksakan.“Ah… ini…” Diana menunjuk samar ke arah peti-peti itu. “Aku sedang mengawasi bahan herbal serta alat pembuatan obat baru.”Nada suaranya terdengar santai, seolah ia hanya sedang mengawasi pengiriman kain atau perhiasan biasa. Namun sebelum Arthur sempat bereaksi atau melontarkan komentar pedas seperti biasanya, Diana dengan sigap menambahkan kalimat lanjutan,

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 62. Ada Apa Dengan Putra Mahkota?

    Pagi itu, halaman depan Istana Putra Mahkota tampak jauh lebih ramai dibanding hari-hari biasanya. Sejak matahari baru saja naik dan sinarnya menimpa atap-atap bangunan istana, para pelayan sudah lalu-lalang dengan langkah cepat dan wajah penuh konsentrasi. Beberapa di antara mereka memanggul peti-peti besar dari kayu tebal, sementara yang lain membantu membuka jalan atau memberi aba-aba agar barang-barang itu tidak saling berbenturan.Deretan peti besar itu disusun rapi, satu per satu diangkat melewati gerbang utama menuju bagian dalam istana. Dari luar saja sudah terlihat bahwa isinya bukan barang biasa. Kayunya kokoh, diikat kuat dengan tali tebal, dan beberapa peti bahkan diberi tanda khusus berupa kain merah kecil di sudutnya—penanda barang penting yang harus diperlakukan ekstra hati-hati.Diana duduk santai di kursi yang sudah disiapkan pelayan di sisi halaman. Kakinya menyilang anggun, tangannya menopang dagu

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 61. Ambang Selir Shofia

    PRANG!!Suara nyaring gelas yang terjatuh memecah keheningan malam, menggema keras di dalam kamar istirahat Pangeran Keempat. Bunyi itu begitu mendadak, begitu kasar, hingga membangunkan Selir Shofia yang semula terlelap dengan tubuh setengah bersandar di tepi ranjang putranya.Selir Shofia tersentak bangun. Matanya langsung membelalak kaget, napasnya tertahan ketika melihat pemandangan di hadapannya.Deon—putranya—meringis kesakitan. Tubuh pemuda itu menegang, jemarinya gemetar hebat. Air dari cangkir yang terjatuh barusan membasahi lengan dan bagian kulit di sisi tubuhnya. Kulit yang sudah rusak karena penyakit panas beracun itu langsung memerah lebih parah, bahkan terlihat mengilap seolah terbakar.“A—ah… ibu…” Deon mengerang lemah.“Deon!” Selir Shofia bangkit seketika. Jantungnya terasa seolah diremas. “Pelayan! Pelayan!!”Teriakannya menggema panik.Pintu kamar segera terbuka lebar. Be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 60. Tunas, Racun, dan Strategi yang Bertumbuh

    Kereta kuda baru saja berhenti sempurna di halaman Istana Putra Mahkota ketika seorang pelayan berlari tergesa dari arah dalam istana. Napasnya tampak sedikit terengah, namun ia tetap menjaga sikapnya dengan membungkuk dalam di hadapan kereta.“Yang Mulia Putri Mahkota,” ucapnya cepat namun jelas, “tanaman Anda sudah bertunas pagi ini!”Kalimat itu membuat Diana yang tengah bersandar malas di dalam kereta seketika membelalakkan mata. Wajahnya yang sejak tadi tampak lelah langsung berubah cerah.“Sungguh?” balas Diana spontan, bahkan sebelum Embun sempat membantunya turun.Arthur yang duduk berhadapan dengannya ikut terangkat alisnya.“Tanaman apa?” tanyanya datar, meski jelas terdengar sedikit heran.Namun Diana tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum lebar, lalu tanpa menunggu bantuan siapa pun, ia turun dari kereta dan berlari kecil menuju arah kediaman pribadinya. Hanfunya berkibar tertiup angin sore, la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status