LOGINRafa mengusap punggung Rafi, menggendongnya dan berusaha menenangkannya. "Sshh, tenang ya, Sayang. Ada Om di sini. Jangan takut lagi. Coba cerita sama Om, kenapa Rafi bisa ada di pinggir jalan begini? Mama di mana?"Rafi sesenggukan, tangan kecilnya mencengkeram kaus ayahnya. "T-tadi... aku mau ikut Mas Bimo jalan-jalan... hiks... beli es krim...""Trus Mas Bimo-nya mana?" tanya Rafa."Nggak tahu... hiks... tadi aku ketinggalan pas lihat kucing," ujar Rafi dengan suara parau. "Pas aku lihat belakang... Mas Bimo udah hilang. Aku bingung... jalanannya rame banget, aku nggak tahu jalan pulang..."Rafa menghela napas lega sekaligus prihatin, memeluk tubuh mungil itu lebih erat. "Terus kenapa Rafi duduk di sini?""Kakiku capek... aku bingung mau ke mana," bisik Rafi polos, matanya kembali berkaca-kaca. "Jadi aku duduk di sini aja... nunggu Mama... tapi Mama nggak muncul-muncul..."Dada Rafa terasa sesak mendengar kepolosan putranya. Ia mencium kening Rafi dengan penuh kasih sayang. "
"Oh ya. Ada satu hal lagi yang harus kamu tau. Di tengah kerumitan masalahmu ini, aku punya berita bagus."Rafa menoleh perlahan, menyipitkan mata. "Berita bagus apa?""Soal Xavier," jawab Liam seraya tersenyum miring. Ia beranjak ke meja kerjanya, mengambil sebuah map dokumen dan sebuah flashdisk, lalu meletakkannya tepat di hadapan Rafa. "Si b*jing*n yang selama ini selalu injak-injak kamu di kantor."Dahi Rafa mengerut. "Xavier? Kenapa dia?""Aku udah curiga sama pergerakan dia dari beberapa bulan lalu," jelas Liam seraya menyandarkan tubuhnya ke tepi meja. "Dan tebakanku tidak salah. Aku berhasil mengumpulkan bukti-bukti kalau Xavier selama ini main belakang. Dia melakukan penyelewengan dana operasional divisi dan manipulasi laporan keuangan proyek."Rafa menyambar map tersebut, membeberkan lembaran demi lembaran bukti transaksi, faktur fiktif, hingga alur aliran dana yang ditandai dengan stabilo merah."Aku dapet akses data ini dari tim audit internal yang secara rahasia
Rafa melangkah keluar dari rumah Bu Irah bagaikan raga tanpa jiwa. Sepanjang perjalanan di malam yang makin larut, ia mengendarai motornya dengan pikiran yang berkecamul. Pikirannya dipenuhi bayangan Dika yang terbaring sakit di kontrakan, raut ketus Dika saat menunjuk foto ayahnya, serta kenyataan pahit tentang dosa kedua orang tuanya.Ia tak sanggup untuk pulang ke rumah mewahnya, apalagi kembali ke kontrakannya sendiri. Satu-satunya tujuan Rafa saat ini adalah tempat tinggal sahabat tepercayanya.Beberapa saat kemudian, Rafa sudah berdiri di depan pintu salah satu unit apartemen milik Liam. Dengan tangan gemetar, ia menekan bel berulang kali.Pintu terbuka, memperlihatkan Liam yang mengenakan kaus santai. "Rafa? Untuk apa kamu malam-malam—"Liam menghentikan kalimatnya saat melihat penampilan Rafa. Wajah Rafa nampak pucat, matanya merah sembap, dan sorot matanya tampak begitu hampa."Rafa, kamu kenapa? Ada masalah sama Dewi lagi?" tanya Liam panik, langsung membawa Rafa masuk
"Ayo masuk, Tuan Rafa, Diba... Nggak enak bicaranya di luar malam-malam begini," panggil Bu Irah seraya menggeser pintu lebih lebar.Rafa dan Diba melangkah masuk ke dalam ruang tamu kecil yang tertata rapi. Rafa mendudukkan dirinya di atas kursi, sementara Bu Irah duduk memposisikan diri tepat di hadapannya dengan raut wajah penuh tanya."Ada apa ini sebenarnya, Tuan Rafa?" tanya Bu Irah pelan, menatap majikan mudanya itu lekat-lekat. "Tumben sekali malam-malam begini mencari saya... Apa ada masalah penting?"Rafa menarik napas dalam-dalam, berusaha menata detak jantungnya yang kembali bergemuruh. Tangannya menangkup di atas paha, memandangi sosok wanita tua yang dulunya telah mengabdi puluhan tahun untuk keluarganya itu."Bu Irah..." Suara Rafa terdengar parau. "Saya ke sini cuma mau menanyakan satu hal. Ini soal almarhum Papa... dan rahasia besar yang selama ini disembunyikan dari saya."Bu Irah tersentak kecil. "Rahasia besar apa, Tuan?"Rafa merogoh saku dalam jaketnya, lalu
Demi memastikan kebenaran, Rafa tak kembali ke kontrakannya yang sempit. Ia membelokkan motornya menuju ke arah jalanan perumahan mewah miliknya.Motor Rafa terparkir di pelataran sebuah hunian megah. Rumah mewah berpagar tinggi itu sudah cukup lama tidak ia tinggali sejak ia memutuskan menyamar sebagai rakyat biasa demi menuntaskan janjinya pada Liam.Langkahnya yang tergesa-gesa memicu derap sepatu yang bergema di atas lantai."Tuan Rafa?!"Diba terperanjat kaget dari balik pintu utama. Matanya berbinar gembira melihat kepulangan sang majikan. "Tuan akhirnya pulang! Saya kaget banget. Tuan sudah mau tinggal di rumah lagi? Saya siapkan kamar dan makan malam, ya?"Namun, Rafa tidak menggubris sama sekali sambutan itu. Pandangannya lurus, memancarkan raut emosi yang campur aduk. Tanpa mengeluarakan sepatah kata pun, ia melewati Diba begitu saja dan melangkah cepat menuju tangga lantai dua, meninggalkan Diba yang berdiri mematung penuh tanda tanya.Rafa berhenti di depan sebuah pin
"Anggap aja aku sebagai kakakmu, Dika. Kebetulan, aku nggak punya saudara karena aku anak tunggal."Dika terkekeh pelan seraya mengacungkan jempolnya. "Siap."Kemudian Dika ingat jika belum menyuguhkan apapun pada Rafa. "Bentar ya, Mas Rafa. Aku buatkan teh manis dulu buat Mas Rafa. Nggak enak banget tamu jauh-jauh datang cuma disuguhin angin.""Eh, nggak usah! Duduk aja, kamu kan masih lemas," tolak Rafa. "Aku ke sini mau jenguk kamu, bukan mau bertamu. Lagian aku juga nggak haus-haus amat.""Jangan gitu," tolak Dika terkekeh pelan. Ia memaksakan diri berdiri dan melangkah pelan menuju dapur kecil di sudut ruangan. "Mama dulu selalu ngajarin, sesederhana apa pun rumah kita, tamu yang datang dengan niat baik harus dilayani dengan baik. Apalagi Mas Rafa udah bela-belain bawain bubur sama obat."Mendengar Dika membawa-bawa ajaran almarhumah ibunya, Rafa tak tega untuk menolak lagi. Ia menghela napas pasrah seraya tersenyum tipis, membiarkan Dika membuatkan minuman.Sambil menunggu, R
Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil
Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.
Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke
Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak







