หน้าหลัก / Romansa / Mendadak Miskin / Bab 29. Tanggung Jawab Rafa

แชร์

Bab 29. Tanggung Jawab Rafa

ผู้เขียน: Gilva Afnida
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-08 16:25:39

Rafa melangkah keluar dari rumah Bu Irah bagaikan raga tanpa jiwa. Sepanjang perjalanan di malam yang makin larut, ia mengendarai motornya dengan pikiran yang berkecamul. Pikirannya dipenuhi bayangan Dika yang terbaring sakit di kontrakan, raut ketus Dika saat menunjuk foto ayahnya, serta kenyataan pahit tentang dosa kedua orang tuanya.

​Ia tak sanggup untuk pulang ke rumah mewahnya, apalagi kembali ke kontrakannya sendiri. Satu-satunya tujuan Rafa saat ini adalah tempat tinggal sahabat teperca
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mendadak Miskin   Bab 29. Tanggung Jawab Rafa

    Rafa melangkah keluar dari rumah Bu Irah bagaikan raga tanpa jiwa. Sepanjang perjalanan di malam yang makin larut, ia mengendarai motornya dengan pikiran yang berkecamul. Pikirannya dipenuhi bayangan Dika yang terbaring sakit di kontrakan, raut ketus Dika saat menunjuk foto ayahnya, serta kenyataan pahit tentang dosa kedua orang tuanya.​Ia tak sanggup untuk pulang ke rumah mewahnya, apalagi kembali ke kontrakannya sendiri. Satu-satunya tujuan Rafa saat ini adalah tempat tinggal sahabat tepercayanya.​Beberapa saat kemudian, Rafa sudah berdiri di depan pintu salah satu unit apartemen milik Liam. Dengan tangan gemetar, ia menekan bel berulang kali.​Pintu terbuka, memperlihatkan Liam yang mengenakan kaus santai. "Rafa? Untuk apa kamu malam-malam—"​Liam menghentikan kalimatnya saat melihat penampilan Rafa. Wajah Rafa nampak pucat, matanya merah sembap, dan sorot matanya tampak begitu hampa.​"Rafa, kamu kenapa? Ada masalah sama Dewi lagi?" tanya Liam panik, langsung membawa Rafa masuk

  • Mendadak Miskin   28. Kenyataan pahit keluarga

    "Ayo masuk, Tuan Rafa, Diba... Nggak enak bicaranya di luar malam-malam begini," panggil Bu Irah seraya menggeser pintu lebih lebar.​Rafa dan Diba melangkah masuk ke dalam ruang tamu kecil yang tertata rapi. Rafa mendudukkan dirinya di atas kursi, sementara Bu Irah duduk memposisikan diri tepat di hadapannya dengan raut wajah penuh tanya.​"Ada apa ini sebenarnya, Tuan Rafa?" tanya Bu Irah pelan, menatap majikan mudanya itu lekat-lekat. "Tumben sekali malam-malam begini mencari saya... Apa ada masalah penting?"​Rafa menarik napas dalam-dalam, berusaha menata detak jantungnya yang kembali bergemuruh. Tangannya menangkup di atas paha, memandangi sosok wanita tua yang dulunya telah mengabdi puluhan tahun untuk keluarganya itu.​"Bu Irah..." Suara Rafa terdengar parau. "Saya ke sini cuma mau menanyakan satu hal. Ini soal almarhum Papa... dan rahasia besar yang selama ini disembunyikan dari saya."​Bu Irah tersentak kecil. "Rahasia besar apa, Tuan?"Rafa merogoh saku dalam jaketnya, lalu

  • Mendadak Miskin   27. Mencari Fakta

    Demi memastikan kebenaran, Rafa tak kembali ke kontrakannya yang sempit. Ia membelokkan motornya menuju ke arah jalanan perumahan mewah miliknya.Motor Rafa terparkir di pelataran sebuah hunian megah. Rumah mewah berpagar tinggi itu sudah cukup lama tidak ia tinggali sejak ia memutuskan menyamar sebagai rakyat biasa demi menuntaskan janjinya pada Liam.​Langkahnya yang tergesa-gesa memicu derap sepatu yang bergema di atas lantai.​"Tuan Rafa?!"​Diba terperanjat kaget dari balik pintu utama. Matanya berbinar gembira melihat kepulangan sang majikan. "Tuan akhirnya pulang! Saya kaget banget. Tuan sudah mau tinggal di rumah lagi? Saya siapkan kamar dan makan malam, ya?"​Namun, Rafa tidak menggubris sama sekali sambutan itu. Pandangannya lurus, memancarkan raut emosi yang campur aduk. Tanpa mengeluarakan sepatah kata pun, ia melewati Diba begitu saja dan melangkah cepat menuju tangga lantai dua, meninggalkan Diba yang berdiri mematung penuh tanda tanya.​Rafa berhenti di depan sebuah pin

  • Mendadak Miskin   26. Kenyataan pahit

    "Anggap aja aku sebagai kakakmu, Dika. Kebetulan, aku nggak punya saudara karena aku anak tunggal."Dika terkekeh pelan seraya mengacungkan jempolnya. "Siap."Kemudian Dika ingat jika belum menyuguhkan apapun pada Rafa. "Bentar ya, Mas Rafa. Aku buatkan teh manis dulu buat Mas Rafa. Nggak enak banget tamu jauh-jauh datang cuma disuguhin angin."​"Eh, nggak usah! Duduk aja, kamu kan masih lemas," tolak Rafa. "Aku ke sini mau jenguk kamu, bukan mau bertamu. Lagian aku juga nggak haus-haus amat."​"Jangan gitu," tolak Dika terkekeh pelan. Ia memaksakan diri berdiri dan melangkah pelan menuju dapur kecil di sudut ruangan. "Mama dulu selalu ngajarin, sesederhana apa pun rumah kita, tamu yang datang dengan niat baik harus dilayani dengan baik. Apalagi Mas Rafa udah bela-belain bawain bubur sama obat."​Mendengar Dika membawa-bawa ajaran almarhumah ibunya, Rafa tak tega untuk menolak lagi. Ia menghela napas pasrah seraya tersenyum tipis, membiarkan Dika membuatkan minuman.Sambil menunggu, R

  • Mendadak Miskin   24. Menjenguk Dika

    Selesai jam kerja, Rafa langsung memacu motornya menyusuri jalanan yang mulai padat oleh kendaraan pulang kantor. Mengikuti petunjuk alamat dari Pak Agus, ia mengarahkan kendaraannya menuju area pemukiman padat penduduk di pinggiran kota.​Begitu sampai di gang yang dituju, jalanan berubah menjadi lorong-lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Kanan dan kirinya diapit oleh dinding-dinding rumah yang saling berdempetan, serta jemuran warga yang melintang di atas kepala.​Rafa memelankan laju motornya, matanya bergerak teliti memperhatikan nomor-nomor rumah yang tak berurutan. Karena kebingungan melewati gang yang berbelok-belok, ia akhirnya memutuskan berhenti di depan sebuah warung kelontong kecil.​"Permisi, Ibu," sapanya ramah dari atas motornya. "Mau tanya, kalau rumah Mas Dika Arfian sebelah mana, ya?"​Seorang ibu bertubuh gempal yang sedang menata barang dagangan mendongak. "Oh, Dika anak almarhumah Mbak Rini? Mas terus aja sampai ketemu pertigaan pohon mangga,

  • Mendadak Miskin   24. Dika sakit

    "Aku nggak sedang bikin kekacauan, Dewi. Aku cuma ingin menunjukkan ketulusanku," sahut Rafa.​"Ketulusan macam apa sampai harus bawa-bawa barang mahal begini?!" tegur Dewi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia merasa tertekan oleh situasi ini, terlebih di hadapan Budhe dan Pakdhenya yang kini menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu dan kecurigaan. "Kamu itu cuma bikin rumit semuanya, Rafa! Aku sudah bilang kemarin, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi!"​Joko yang sejak tadi diam memperhatikan fisik ayam jantan di keranjang, akhirnya berdehem untuk menengahi perdebatan.​"Sudah, sudah! Jangan ribut di depan rumah, nggak enak dilihat tetangga!" bentaknya seraya melambaikan tangan. Sorot matanya berpaling ke arah Rafa, lalu ke arah keranjang ayam di atas meja. "Rafa, kalau kamu emang bukan maling dan punya niat baik, buktikan lewat kelakuanmu, bukan cuma bawa barang-barang begini."​Lina dengan cepat menyambar kotak merah berisikan gelang emas itu sebelum ada yang sempat me

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

  • Mendadak Miskin   Lina si Tubuh Gempal

    Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status