Home / Romansa / Mendadak Miskin / 36. Kepingan puzzle yang lengkap

Share

36. Kepingan puzzle yang lengkap

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2026-09-17 21:01:08

Tak lama dari itu, terdengar ketukan pelan di pintu kontrakan Rafa yang setengah terbuka.

​"Om Rafa...!"

​Rafa dan Dika serentak menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Rafi yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus, memegang ujung kaos yang dikenakan Dewi, yang berdiri tepat di belakangnya. Di tangan kiri Dewi, ada sebuah wadah plastik berisi kue balok.

​"Lho, Rafi? Dewi?" Rafa terkejut, bergegas berdiri melangkah ke pintu. "Kok malam-malam ke sini?"

​Dewi tersenyum tipis.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Miskin   37. Pernyatan Dewi

    Dua hari berlalu dengan cepat. Sabtu pagi yang menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Rafi akhirnya datang. Sejak subuh, bocah empat tahun itu sudah sibuk menyiapkan tas ransel kecilnya, tak sabar untuk pergi bersama ayahnya.​Rafa datang menjemput tepat pukul tujuh pagi menggunakan motornya. Saat pintu rumah dibuka, Rafi langsung menghambur keluar dan memeluk kaki Rafa erat-erat.​"Om Rafa! Ayo berangkat sekarang! Rafi udah siap!" seru Rafi bersemangat dengan topi kecil yang ia pakai.​Dewi keluar menyusul sambil menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Ia mengenakan pakaian sederhana, berupa blus kasual dan celana bahan panjang, namun senyum manis yang terukir di wajahnya membuat Rafa sempat terpana sejenak.​"Rafi dari tadi subuh udah bangunin aku. Katanya takut ditinggal," ujar Dewi terkekeh pelan.​"Nggak mungkin Om tinggalkan Pangeran Kecil," sahut Rafa seraya mengacak rambut Rafi. Ia lalu menatap Dewi dengan lembut. "

  • Mendadak Miskin   36. Kepingan puzzle yang lengkap

    Tak lama dari itu, terdengar ketukan pelan di pintu kontrakan Rafa yang setengah terbuka.​"Om Rafa...!"​Rafa dan Dika serentak menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Rafi yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus, memegang ujung kaos yang dikenakan Dewi, yang berdiri tepat di belakangnya. Di tangan kiri Dewi, ada sebuah wadah plastik berisi kue balok.​"Lho, Rafi? Dewi?" Rafa terkejut, bergegas berdiri melangkah ke pintu. "Kok malam-malam ke sini?"​Dewi tersenyum tipis. "Tadi Budhe bikin kue balok keju, Rafi ngerengek mau kasih ke kamu sekalian antar kue. Katanya takut kamu belum makan malam."​"Iya, Om Rafa! Rafi mau antar kue!" seru Rafi dengan semangat. Namun, tatapan mata bulat anak empat tahun itu mendadak beralih melintasi tubuh Rafa, tertuju pada Dika yang sedang duduk di sofa.​Rafi mengerutkan keningnya, melangkah maju seraya menunjuk Dika dengan polos.​"Om Rafa... itu siapa?" Mata Rafi mengedar ke sekeliling ruangan. "Kok ada kardus banya

  • Mendadak Miskin   35. Dika pindah

    Keesokan harinya, Rafa kembali bekerja. Ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum kembali ke kursi CEO miliknya nanti.​Saat berjalan menyusuri koridor menuju ruangan cleanin, matanya menangkap Dika yang sudah siap dengan membawa alat tempurnya. Rafa tersenyum tipis. Ia merasa senang saat melihat adiknya itu sudah kembali bekerja dan terlihat sehat.​Namun, senyum Rafa perlahan memudar saat ia melangkah semakin dekat. Dika tampak melamun, berjalan melewatinya. Wajah anak muda itu terlihat sangat lesu, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya.​Rafa langsung berbalik dan menepuk pelan bahunya. "Dika. Kok melamun? Gimana keadaanmu? Udah mendingan?"​Dika sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah Rafa. "Eh... Mas Rafa. Udah... udah lumayan kok," jawabnya pelan, mengulas senyum tipis.​Rafa memicingkan mata. Ia bisa merasakan ada raut kecemasan dan kebingungan di wajah Dika.​"Kamu kelihatan banyak pikiran, Dika," ujar Rafa. "Ada masalah? Coba cerita ke aku ada

  • Mendadak Miskin   34. Perjuangan Rafa

    Rafa berdiri perlahan, menyejajarkan tinggi badannya dengan Dewi. Ia tersenyum tipis, matanya menatap dalam-dalam ke manik mata Dewi.​"Itu udah menjadi kewajibanku, Dewi," bisiknya. "Aku adalah ayahnya, dan itu udah seharusnya kulakukan dari dulu."​Kalimat itu meluncur begitu jujur. Tatapan lekat Rafa seolah menembus langsung ke dalam hati Dewi, membuat napas wanita itu tertahan sejenak​"Om Rafa!" seru Rafi membuyarkan momen intens itu. ​"Om Rafa... tadi kata Om Rafa, Om Rafa mau masak makan malam buat aku sama mama? Aku udah lapar banget nih mau makan masakan Om Rafa!" rengek bocah empat tahun itu sambil menarik-narik ujung kemeja Rafa.​Rafa terkekeh pelan. Ia segera merengkuh bahu Rafi dan mengusap kepalanya.​"Pasti dong, Pangeran Kecil. Janji harus ditepati," sahutnya seraya melirik Dewi yang tersenyum simpul. "Sesuai janji, malam ini Om Rafa yang bakal jadi koki buat Rafi dan Mama."​"Horeee! Makan masakan Om Rafa!" jerit Rafi gembira seraya melompat-lompat kecil di atas karp

  • Mendadak Miskin   34. Momen hangat

    Sore harinya, Rafa memanfaatkan kesempatan untuk datang lagi ke rumah Dewi.​Rafa mengetuk pintu seraya membawa kantong plastik berisi mainan dan cemilan kesukaan Rafi. Dan beberapa makanan khusus untuk sogokan Joko dan Lina.Saat Dewi membukakan pintu, ia sempat terpaku, melihat Rafa dengan canggung.​"Rafa? Ada apa sore-sore ke sini?" tanya Dewi pelan, nadanya tak lagi dingin seperti biasanya.​"Aku mau antar makanan buat Rafi," jawab Rafa seraya tersenyum hangat. "Sekalian... kalau kamu izinkan, aku mau masak makan malam buat kalian bertiga. Kamu pasti capek seharian karena khawatir sama Rafi tadi."​Belum sempat Dewi menjawab, Rafi sudah berlari dari dalam dan langsung memeluk kaki Rafa. "Om Rafa! Eh... Om Rafa mau masak di rumah?" serunya riang.Dewi yang melihat binar bahagia di mata putranya akhirnya tak tega menolak. "Ya sudah, masuk aja, Rafa. Tapi... emang kamu bisa masak?"Rafa terkekeh pelan. "Itulah yang belum kamu tahu, aku dulu sempat ikut kursus masak selama tiga bulan

  • Mendadak Miskin   Bab 32

    Rafa menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah Dewi. Dari balik pagar, suasana di dalam tampak kacau. Dewi terlihat menangis di teras, sementara Lina dan Joko tampak panik sembari menggenggam ponsel dengan raut wajah tegang.​"Rafi!" jerit Dewi begitu melihat sosok anaknya yang baru saja turun dari motor Rafa.​Dewi langsung berlari menghambur keluar pagar, meraih Rafi ke dalam pelukannya. Ia menciumi wajah anaknya berulang kali, memastikan tak ada luka sedikit pun di tubuh mungil itu.​Lina dan Joko seketika menyadari siapa yang membawa Rafi pulang. Lina melangkah maju sembari menunjuk Rafa yang baru saja melepas helmnya.​"Rafa! Kamu kan yang bawa kabur Rafi?!" tuduh Lina dengan suara melengking. "Ngapain kamu bawa-bawa cucuku tanpa izin?! Kamu mau nyulik Rafi, hah?!"​Joko pun ikut berdiri di samping istrinya. "Rafa, jangan main-main kamu! Kalau mau ketemu Rafi bicara baik-baik, jangan pakai cara licik begini!"​Rafa yang bermaksud membuka suara mendadak terdiam, menerima tu

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

  • Mendadak Miskin   Ide Gila

    Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status