Home / Romansa / Mendadak Miskin / 34. Perjuangan Rafa

Share

34. Perjuangan Rafa

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2026-09-15 16:19:35

Rafa berdiri perlahan, menyejajarkan tinggi badannya dengan Dewi. Ia tersenyum tipis, matanya menatap dalam-dalam ke manik mata Dewi.

​"Itu udah menjadi kewajibanku, Dewi," bisiknya. "Aku adalah ayahnya, dan itu udah seharusnya kulakukan dari dulu."

​Kalimat itu meluncur begitu jujur. Tatapan lekat Rafa seolah menembus langsung ke dalam hati Dewi, membuat napas wanita itu tertahan sejenak

​"Om Rafa!" seru Rafi membuyarkan momen intens itu. ​"Om Rafa... tadi kata Om Rafa, Om Rafa mau masak makan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Miskin   34. Perjuangan Rafa

    Rafa berdiri perlahan, menyejajarkan tinggi badannya dengan Dewi. Ia tersenyum tipis, matanya menatap dalam-dalam ke manik mata Dewi.​"Itu udah menjadi kewajibanku, Dewi," bisiknya. "Aku adalah ayahnya, dan itu udah seharusnya kulakukan dari dulu."​Kalimat itu meluncur begitu jujur. Tatapan lekat Rafa seolah menembus langsung ke dalam hati Dewi, membuat napas wanita itu tertahan sejenak​"Om Rafa!" seru Rafi membuyarkan momen intens itu. ​"Om Rafa... tadi kata Om Rafa, Om Rafa mau masak makan malam buat aku sama mama? Aku udah lapar banget nih mau makan masakan Om Rafa!" rengek bocah empat tahun itu sambil menarik-narik ujung kemeja Rafa.​Rafa terkekeh pelan. Ia segera merengkuh bahu Rafi dan mengusap kepalanya.​"Pasti dong, Pangeran Kecil. Janji harus ditepati," sahutnya seraya melirik Dewi yang tersenyum simpul. "Sesuai janji, malam ini Om Rafa yang bakal jadi koki buat Rafi dan Mama."​"Horeee! Makan masakan Om Rafa!" jerit Rafi gembira seraya melompat-lompat kecil di atas karp

  • Mendadak Miskin   34. Momen hangat

    Sore harinya, Rafa memanfaatkan kesempatan untuk datang lagi ke rumah Dewi.​Rafa mengetuk pintu seraya membawa kantong plastik berisi mainan dan cemilan kesukaan Rafi. Dan beberapa makanan khusus untuk sogokan Joko dan Lina.Saat Dewi membukakan pintu, ia sempat terpaku, melihat Rafa dengan canggung.​"Rafa? Ada apa sore-sore ke sini?" tanya Dewi pelan, nadanya tak lagi dingin seperti biasanya.​"Aku mau antar makanan buat Rafi," jawab Rafa seraya tersenyum hangat. "Sekalian... kalau kamu izinkan, aku mau masak makan malam buat kalian bertiga. Kamu pasti capek seharian karena khawatir sama Rafi tadi."​Belum sempat Dewi menjawab, Rafi sudah berlari dari dalam dan langsung memeluk kaki Rafa. "Om Rafa! Eh... Om Rafa mau masak di rumah?" serunya riang.Dewi yang melihat binar bahagia di mata putranya akhirnya tak tega menolak. "Ya sudah, masuk aja, Rafa. Tapi... emang kamu bisa masak?"Rafa terkekeh pelan. "Itulah yang belum kamu tahu, aku dulu sempat ikut kursus masak selama tiga bulan

  • Mendadak Miskin   Bab 32

    Rafa menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah Dewi. Dari balik pagar, suasana di dalam tampak kacau. Dewi terlihat menangis di teras, sementara Lina dan Joko tampak panik sembari menggenggam ponsel dengan raut wajah tegang.​"Rafi!" jerit Dewi begitu melihat sosok anaknya yang baru saja turun dari motor Rafa.​Dewi langsung berlari menghambur keluar pagar, meraih Rafi ke dalam pelukannya. Ia menciumi wajah anaknya berulang kali, memastikan tak ada luka sedikit pun di tubuh mungil itu.​Lina dan Joko seketika menyadari siapa yang membawa Rafi pulang. Lina melangkah maju sembari menunjuk Rafa yang baru saja melepas helmnya.​"Rafa! Kamu kan yang bawa kabur Rafi?!" tuduh Lina dengan suara melengking. "Ngapain kamu bawa-bawa cucuku tanpa izin?! Kamu mau nyulik Rafi, hah?!"​Joko pun ikut berdiri di samping istrinya. "Rafa, jangan main-main kamu! Kalau mau ketemu Rafi bicara baik-baik, jangan pakai cara licik begini!"​Rafa yang bermaksud membuka suara mendadak terdiam, menerima tu

  • Mendadak Miskin   31. Janji Kelingking

    Rafa mengusap punggung Rafi, menggendongnya dan berusaha menenangkannya. "Sshh, tenang ya, Sayang. Ada Om di sini. Jangan takut lagi. Coba cerita sama Om, kenapa Rafi bisa ada di pinggir jalan begini? Mama di mana?"​Rafi sesenggukan, tangan kecilnya mencengkeram kaus ayahnya. "T-tadi... aku mau ikut Mas Bimo jalan-jalan... hiks... beli es krim..."​"Trus Mas Bimo-nya mana?" tanya Rafa.​"Nggak tahu... hiks... tadi aku ketinggalan pas lihat kucing," ujar Rafi dengan suara parau. "Pas aku lihat belakang... Mas Bimo udah hilang. Aku bingung... jalanannya rame banget, aku nggak tahu jalan pulang..."​Rafa menghela napas lega sekaligus prihatin, memeluk tubuh mungil itu lebih erat. "Terus kenapa Rafi duduk di sini?"​"Kakiku capek... aku bingung mau ke mana," bisik Rafi polos, matanya kembali berkaca-kaca. "Jadi aku duduk di sini aja... nunggu Mama... tapi Mama nggak muncul-muncul..."​Dada Rafa terasa sesak mendengar kepolosan putranya. Ia mencium kening Rafi dengan penuh kasih sayang. "

  • Mendadak Miskin   30. Kelakuan buruk Xavier

    ​"Oh ya. Ada satu hal lagi yang harus kamu tau. Di tengah kerumitan masalahmu ini, aku punya berita bagus."​Rafa menoleh perlahan, menyipitkan mata. "Berita bagus apa?"​"Soal Xavier," jawab Liam seraya tersenyum miring. Ia beranjak ke meja kerjanya, mengambil sebuah map dokumen dan sebuah flashdisk, lalu meletakkannya tepat di hadapan Rafa. "Si b*jing*n yang selama ini selalu injak-injak kamu di kantor."​Dahi Rafa mengerut. ​"Xavier? Kenapa dia?"​"Aku udah curiga sama pergerakan dia dari beberapa bulan lalu," jelas Liam seraya menyandarkan tubuhnya ke tepi meja. "Dan tebakanku tidak salah. Aku berhasil mengumpulkan bukti-bukti kalau Xavier selama ini main belakang. Dia melakukan penyelewengan dana operasional divisi dan manipulasi laporan keuangan proyek."​Rafa menyambar map tersebut, membeberkan lembaran demi lembaran bukti transaksi, faktur fiktif, hingga alur aliran dana yang ditandai dengan stabilo merah.​"Aku dapet akses data ini dari tim audit internal yang secara rahasia

  • Mendadak Miskin   Bab 29. Tanggung Jawab Rafa

    Rafa melangkah keluar dari rumah Bu Irah bagaikan raga tanpa jiwa. Sepanjang perjalanan di malam yang makin larut, ia mengendarai motornya dengan pikiran yang berkecamul. Pikirannya dipenuhi bayangan Dika yang terbaring sakit di kontrakan, raut ketus Dika saat menunjuk foto ayahnya, serta kenyataan pahit tentang dosa kedua orang tuanya.​Ia tak sanggup untuk pulang ke rumah mewahnya, apalagi kembali ke kontrakannya sendiri. Satu-satunya tujuan Rafa saat ini adalah tempat tinggal sahabat tepercayanya.​Beberapa saat kemudian, Rafa sudah berdiri di depan pintu salah satu unit apartemen milik Liam. Dengan tangan gemetar, ia menekan bel berulang kali.​Pintu terbuka, memperlihatkan Liam yang mengenakan kaus santai. "Rafa? Untuk apa kamu malam-malam—"​Liam menghentikan kalimatnya saat melihat penampilan Rafa. Wajah Rafa nampak pucat, matanya merah sembap, dan sorot matanya tampak begitu hampa.​"Rafa, kamu kenapa? Ada masalah sama Dewi lagi?" tanya Liam panik, langsung membawa Rafa masuk

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

  • Mendadak Miskin   Lina si Tubuh Gempal

    Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status