Início / Romansa / Mendadak Miskin / 39. Saudara kandung

Compartilhar

39. Saudara kandung

Autor: Gilva Afnida
last update Data de publicação: 2026-09-22 12:21:34

"Kita ini saudara, Dika. Kamu adalah adik kandungku."

​Usai kalimat itu terucap, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Dika terpaku di atas sofa. Matanya menatap Rafa tanpa berkedip, sementara jemarinya yang memegang ponsel tampak membeku. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.

​Rafa mengamati perubahan raut wajah adiknya dengan dada berdebar cemas. Penyesalan mendadak menyusup ke benak Rafa. Ia tahu betul luka masa lalu yang ditinggalkan ayah mereka. Ayahnya telah menorehkan luka dala
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mendadak Miskin   40. Kembalinya Rafa

    Dika menatap Xavier lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tenang. "Saya di sini bukan untuk mengacau, Pak Xavier. Saya cuma membukakan pintu untuk pimpinan tertinggi yang sebenarnya."​Sebelum Xavier sempat memaki lagi, Rafa melangkah masuk ke dalam ruangan.​Keheningan seketika mencengkeram seluruh isi ruangan. Beberapa komisaris spontan berdiri dari kursi mereka dengan mata membelalak tak percaya.​Xavier membeku di tempatnya, wajahnya memucat saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam nan mengintimidasi milik Rafa.​Rafa?!" gagap Xavier, suaranya bergetar. "Kenapa... kenapa kamu—"​"Kenapa saya ada di sini dengan jas ini, Xavier?" potong Rafa dengan suara dingin. Ia berjalan santai menuju ujung meja, tepat bertatap muka dengan Xavier.​Rafa melempar map kulit di tangannya hingga mendarat keras di hadapan Xavier.​"Permainan penyamaranku sudah selesai," bisik Rafa tajam, membuat napas Xavier tercekat seketika. "Dan hari ini, riwayatmu di perusahaan ini resmi berakhir."

  • Mendadak Miskin   39. Saudara kandung

    "Kita ini saudara, Dika. Kamu adalah adik kandungku."​Usai kalimat itu terucap, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Dika terpaku di atas sofa. Matanya menatap Rafa tanpa berkedip, sementara jemarinya yang memegang ponsel tampak membeku. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya.​Rafa mengamati perubahan raut wajah adiknya dengan dada berdebar cemas. Penyesalan mendadak menyusup ke benak Rafa. Ia tahu betul luka masa lalu yang ditinggalkan ayah mereka. Ayahnya telah menorehkan luka dalam, mengkhianati dan menelantarkan Dika serta ibunya selama bertahun-tahun. Rafa takut... jika rasa benci Dika pada sosok ayah mereka kini berimbas pada dirinya.​"Dika... aku tahu... Papa kita udah bikin luka yang terlalu besar buat kamu dan ibu kamu. Aku paham kalau kamu marah besar sama aku. Kalau kamu benci sama aku karena garis keturunan ini, aku terima, Dika. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas nama Papa—"​Tiba-tiba, sudut bibir Dika terangkat. Keheningan seketika pecah saat Dika terkekeh

  • Mendadak Miskin   38. Pernyataan jujur dengan Dika

    Sore kembali datang, Rafa Mengamati wajah lelap Rafi di pangkuan Dewi, lalu mendekatkan tubuhnya dan mengusap pipi mungil anak itu dengan penuh rasa kasih.​"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Dewi," bisiknya, tatapannya beralih menatap Dewi. "Aku tahu perjuangan kamu sendirian membesarkan Rafi nggak mudah. Mulai hari ini, kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi."​Dewi menyunggingkan senyum tipis. "Aku juga gak nyangka kalau aku bisa bertahan sejauh ini. Aku pernah berpikir untuk memberi Rafi pada orang lain, untung saja Budhe melarang."Rafa tertegun mendengarnya. Ia semakin menyesal karena tak berada di sisi Dewi lebih awal. Ia malah sibuk mengatasi pernikahannya pada Pevita yang tak tahu diuntung itu.Dewi kemudian menatal Rafa dengan mata berkaca-kaca. "Sejujurnya, saat kamu datang, aku sangat marah karena kamu datang terlambat.""Dewi... aku... aku minta maaf..."Dewi tersenyum tipis. "Sekarang aku udah memaafkanmu, Rafa. Bagaimanapun, aku harus menekan egoku demi

  • Mendadak Miskin   37. Pernyatan Dewi

    Dua hari berlalu dengan cepat. Sabtu pagi yang menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Rafi akhirnya datang. Sejak subuh, bocah empat tahun itu sudah sibuk menyiapkan tas ransel kecilnya, tak sabar untuk pergi bersama ayahnya.​Rafa datang menjemput tepat pukul tujuh pagi menggunakan motornya. Saat pintu rumah dibuka, Rafi langsung menghambur keluar dan memeluk kaki Rafa erat-erat.​"Om Rafa! Ayo berangkat sekarang! Rafi udah siap!" seru Rafi bersemangat dengan topi kecil yang ia pakai.​Dewi keluar menyusul sambil menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Ia mengenakan pakaian sederhana, berupa blus kasual dan celana bahan panjang, namun senyum manis yang terukir di wajahnya membuat Rafa sempat terpana sejenak.​"Rafi dari tadi subuh udah bangunin aku. Katanya takut ditinggal," ujar Dewi terkekeh pelan.​"Nggak mungkin Om tinggalkan Pangeran Kecil," sahut Rafa seraya mengacak rambut Rafi. Ia lalu menatap Dewi dengan lembut. "

  • Mendadak Miskin   36. Kepingan puzzle yang lengkap

    Tak lama dari itu, terdengar ketukan pelan di pintu kontrakan Rafa yang setengah terbuka.​"Om Rafa...!"​Rafa dan Dika serentak menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Rafi yang mengenakan piyama bergambar dinosaurus, memegang ujung kaos yang dikenakan Dewi, yang berdiri tepat di belakangnya. Di tangan kiri Dewi, ada sebuah wadah plastik berisi kue balok.​"Lho, Rafi? Dewi?" Rafa terkejut, bergegas berdiri melangkah ke pintu. "Kok malam-malam ke sini?"​Dewi tersenyum tipis. "Tadi Budhe bikin kue balok keju, Rafi ngerengek mau kasih ke kamu sekalian antar kue. Katanya takut kamu belum makan malam."​"Iya, Om Rafa! Rafi mau antar kue!" seru Rafi dengan semangat. Namun, tatapan mata bulat anak empat tahun itu mendadak beralih melintasi tubuh Rafa, tertuju pada Dika yang sedang duduk di sofa.​Rafi mengerutkan keningnya, melangkah maju seraya menunjuk Dika dengan polos.​"Om Rafa... itu siapa?" Mata Rafi mengedar ke sekeliling ruangan. "Kok ada kardus banya

  • Mendadak Miskin   35. Dika pindah

    Keesokan harinya, Rafa kembali bekerja. Ia harus menyelesaikan tugasnya sebelum kembali ke kursi CEO miliknya nanti.​Saat berjalan menyusuri koridor menuju ruangan cleanin, matanya menangkap Dika yang sudah siap dengan membawa alat tempurnya. Rafa tersenyum tipis. Ia merasa senang saat melihat adiknya itu sudah kembali bekerja dan terlihat sehat.​Namun, senyum Rafa perlahan memudar saat ia melangkah semakin dekat. Dika tampak melamun, berjalan melewatinya. Wajah anak muda itu terlihat sangat lesu, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya.​Rafa langsung berbalik dan menepuk pelan bahunya. "Dika. Kok melamun? Gimana keadaanmu? Udah mendingan?"​Dika sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah Rafa. "Eh... Mas Rafa. Udah... udah lumayan kok," jawabnya pelan, mengulas senyum tipis.​Rafa memicingkan mata. Ia bisa merasakan ada raut kecemasan dan kebingungan di wajah Dika.​"Kamu kelihatan banyak pikiran, Dika," ujar Rafa. "Ada masalah? Coba cerita ke aku ada

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

  • Mendadak Miskin   Lina si Tubuh Gempal

    Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status