LOGIN"Apa maksudmu Selir Agung Yao Xian sekarat?!" seru Menteri Hukum dengan wajah pucat pasi, melangkah maju di tengah halaman Paviliun Utara yang mendadak riuh oleh kedatangan puluhan pejabat tinggi dan penjaga istana. Jenderal Han yang berdiri tegap di depan pintu kediaman Selir Yao Xian menatap para menteri dengan raut wajah sangat tegang. "Hamba hanya menyampaikan titah Yang Mulia Kaisar. Tadi pagi Selir Yao Xian mendadak kejang hebat, memuntahkan darah hitam, dan kini tak sadarkan diri! Tabib Kerajaan menduga ada racun mematikan yang terserap ke dalam racikan obatnya!" Tak jauh dari sana, Tabib Kepala Kang yang baru saja tiba bersama tas obatnya mendadak menghentikan langkah. Peluh dingin langsung membasahi pelipis dan tengkuknya. Tangannya yang gemetar meremas tali tas kayu di bahunya, sementara matanya bergerak liar memancarkan kepanikan yang luar biasa. Bagaimana mungkin?! Obat yang kuracik kemarin hanya berisi dosis penenang ringan! Kenapa bisa menjadi racun mematikan?! jerit
"Tabib Kepala Kang?!" seru Zhao Jun, mata hitamnya melebar penuh ketakutan bercampur amarah yang mendidih. "Kau yakin dialah orangnya, Zi Han?" "Tadi pagi aku berkunjung ke Paviliun Pengobatan," jawab Zi Han seraya bersedekap, matanya memancarkan kilat kecerdasan yang tajam. "Kibasan kain jubahku hanya menyenggol lengan kanannya secara tidak sengaja, tapi dia meringis kesakitan luar biasa hingga peluh dingin membasahi dahinya. Dia beralih alasan bahwa tangannya keseleo karena mengangkat peti obat." Zhao Jun mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih dan berbunyi keras. "Lelaki tua berengsek itu... Keseleo? Mana ada keseleo yang memberikan reaksi sesakit itu pada orang sekelas tabib senior! Dialah yang membakar Kedai Merah malam tadi untuk memusnahkan bukti!" "Sangat masuk akal, bukan?" pangkas Zi Han. "Sebagai Kepala Tabib Kerajaan, dia memiliki akses tanpa batas ke seluruh jenis racun, bahan obat terlarang, dan kediaman istana dalam. Dialah yang meracik Rac
"Aku tidak melakukan hal semacam itu padanya, Zi Han!" tegas Zhao Jun cepat, menahan kedua bahu Zi Han sebelum wanita itu semakin menjauh darinya. Zi Han menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan kekesalan yang membakar. "Tidak melakukan apa-apa? Kau masuk ke dalam kamar selir muda yang molek di tengah malam, berpura-pura simpati, lalu kau bilang tidak melakukan apa-apa? Siapa yang bisa percaya pada ucapan kaisar mesum sepertimu?!" Pikiran Zi Han mendadak melayang jauh membayangkan suasana di dalam kamar Paviliun Utara malam itu. Bagaimana Zhao Jun duduk di tepi ranjang, menyentuh tangan Yao Xian, atau bahkan mendengarkan manja wanita ular itu. Sensasi panas dan sesak yang aneh mendadak menghantam dadanya, perasaan asing yang teramat mengganggu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia benci rasa tidak nyaman ini. "Kau pasti sangat menikmati manja-manja wanita ular itu, kan?!" omel Zi Han tanpa henti, menepis tangan Zhao Jun yang ada di bahunya. "Sana kembali saja ke kediamanny
"Tuduhan konyol apa lagi ini, Zhao Jun?!" pekik Zi Han berbisik, berusaha memutar tubuhnya meski remasan di pinggangnya kian mengikat ketat. "Lepaskan aku! Aku tidak sedang menikmati tubuh siapa pun! Aku hanya sedang memperhatikan teknik latihan para prajurit!" Zhao Jun tidak melonggarkan cengkeramannya sedikit pun. Wajahnya terangkat sedikit, menyunggingkan senyum miring yang sarat akan dominasi dan rasa cemburu yang membakar. "Teknik latihan?" desis Zhao Jun rendah tepat di depan telinga Zi Han, menghembuskan napas hangat yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Teknik latihan mana yang membuatmu berdehem dan menggumamkan nama Jenderal Han, Permaisuriku? Jadi... ini alasan kau selalu menolakku dan bersikap dingin padaku? Karena kau sudah memiliki pria idaman lain di hatimu?" "Jangan asal bicara!" bentak Zi Han dengan wajah memerah tahan malu. "Aku tidak pernah mengidamkan siapa pun! Otakmu itu memang selalu dipenuhi prasangka aneh!" Zhao Jun makin mengikis jarak di antara m
"Apakah ada di antara mereka yang menunjukkan gelagat aneh, Jenderal?" bisik Zhao Jun dengan suara amat rendah dari balik celah tirai Paviliun Pertemuan. Mata tajam kaisar muda itu tak henti-hentinya menyapu barisan para pejabat yang sedang melintas di halaman depan. Di sampingnya, Jenderal Han berdiri tegap dengan pandangan lurus ke arah para menteri yang saling menyapa sebelum memasuki aula utama. "Hamba sudah memperhatikan sejak fajar, Yang Mulia," sahut Jenderal Han berbisik. "Menteri Hukum, Menteri Keuangan, hingga sekutu terdekat Long Feng... tidak ada satu pun dari mereka yang memegangi bahu kanannya atau tampak meringis kesakitan. Semua melangkah dengan normal." Zhao Jun mengepalkan tangannya di balik jubah naga kebesarannya. "Anak panahku malam tadi menancap sangat dalam di bahu kanan penunggang kuda itu. Tidak mungkin luka sebesar itu bisa sembuh hanya dalam beberapa jam. Mungkinkah salah satu dari mereka sedang berpura-pura tahan sakit untuk menutupi jejaknya?" "Kemungk
"Kembalikan peti itu ke tempatnya semula, Yang Mulia... sebelum Selir Yao Xian terbangun," bisik Jenderal Han yang mendadak muncul dari balik tirai jendela tanpa suara, membuat Zhao Jun hampir menyambar hulu pedangnya. Zhao Jun menghentikan jemarinya yang mengepal keras di atas botol porselen. Matanya memicing tajam pada sang jenderal yang kini merapat di kegelapan sudut kamar Yao Xian. "Jenderal Han?" desis Zhao Jun seraya menyumbat kembali botol beracun itu dengan rapi. "Bagaimana bisa kau ada di tempat ini?" "Hamba terus mengikuti pergerakan Yang Mulia sejak keluar dari Paviliun Utama," jawab Jenderal Han seraya mengamati wajah Selir Yao Xian yang masih tertidur lelah di atas ranjang. "Hamba tahu Yang Mulia tidak akan pernah menyerah begitu saja pada kebohongan para menteri di Aula Agung tadi pagi." Zhao Jun menarik napas panjang, menahan gelombang amarah yang hampir meledak di dadanya. Dengan gerakan amat pelan, ia memasukkan dua botol kosong yang paling kuat aroma racunnya ke







