Mag-log in“Lagipula pria itu sudah mencintai wanita lain. Jadi tidak mungkin dia menyukaiku,” ucapnya lirih.Marielle mendengus pelan, menarik tangannya dari genggaman Diana. Tatapannya menatap kosong ke dasar cangkir teh yang mengepulkan asap tipis. Keheningan malam di Paviliun Barat terasa makin menekan, membawa kembali ingatan pahit yang tak pernah benar-benar pulih. Diana yang menyadari beban emosional yang menyelimuti majikannya tidak berniat memanjangkan pembicaraan lagi. Pelayan setia itu hanya membungkuk dalam-dalam lalu undur diri secara perlahan, membiarkan Marielle tenggelam dalam keheningan kamarnya sendiri.Dua hari berlalu dalam senyap. Bagi Marielle, dua hari itu adalah rentang waktu yang sangat ia syukuri. Ia sengaja meminimalisir interaksi dengan Aldric dan memanfaatkan alasan pengerjaan berkas teknis untuk menghindari setiap jengkal area yang berpotensi mempertemukannya dengan sang Grand Duke.”Dua hari ini aku berhasil menghindarinya,” batin Marielle saat melangkah menyus
”Mana mungkin aku mengusir bawahanku sendiri hanya untuk berduaan denganmu,” ucap Aldric sambil membenarkan kerah bajunya.Marielle menatap Aldric lurus-lurus, tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun meski aura pria di hadapannya terasa menekan. Wanita itu hanya menghela nafas lalu kembali berfokus dengan apa yang sedang ia kerjakan sekarang."Saya hanya ingin menyelesaikan laporan pasokan hari ini, Yang Mulia," ujar Marielle dingin, suaranya memotong keheningan canggung di antara mereka. "Jika tidak ada hal mendesak mengenai dokumen rekonstruksi, saya rasa kita tidak perlu memperpanjang pembicaraan di sini."Marielle segera membalikkan badan, melangkah tegas berniat keluar dari ruang draf."Marielle, tunggu!" Aldric mencoba membuka suara. Suaranya terdengar tidak sebas biasanya, ada sedikit keraguan yang tertahan di sana.Namun, Marielle mempercepat langkah kakinya tanpa menoleh sedikitpun. Kehadiran Aldric yang tiba-tiba, ditambah dengan sikapnya yang mengusir Tristan tanpa al
“Aku harus tenang. Wanita itu tidak ada apa-apanya dibanding Elira.”Aldric memejamkan matanya rapat-rapat, mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Nama Elira yang baru saja ia gaungkan dalam hati terasa seperti perisai rapuh yang berusaha ia gunakan untuk menahan laju perasaan asing yang makin liar.Namun, semakin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin jelas ingatan tentang kehangatan jemari Marielle dan aroma lavender yang tertinggal di udara mengusik pikirannya."Sial," umpatnya rendah pada keheningan ruang kerja. Aldric menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit pualam dengan nafas memburu. Ia benci bagaimana fokusnya bisa terganggu hanya karena satu senyuman formal dan tarikan tangan yang terkesan biasa saja dari wanita itu.Sementara di luar ruangan, Marielle melangkah menyusuri koridor dengan tumpukan berkas di pelukannya. Langkah kakinya terdengar teratur dan mantap, beradu halus dengan lantai batu yang dingin. Bagi Marielle, fokus utamanya saat i
”Baiklah… meskipun saya menolak, Anda pasti tetap akan melakukannya.”Akhirnya Marielle mengalah demi kedamaiannya sendiri. Karena sejak pertama kali masuk dalam ruangan mewah ini, dia sudah bertekad untuk tidak terpancing emosi.“Bagus. Mulai besok kau akan bekerja di ruanganku. Aku sudah menyiapkan meja kerja untukmu.”“Apa?!”“Ingat, ini demi Valerante.” Aldric seketika tersenyum tipis seusai menyelesaikan kalimatnya. Pria itu langsung memotong kembali steak daging rusa yang sudah tersaji, sedangkan Marielle hanya bisa menggeram rendah karena merasa dipermainkan oleh lelaki tersebut.Penetapan perintah mutlak dari Aldric malam itu menyisakan atmosfer kaku yang bertahan hingga keesokan harinya. Sesuai dengan ucapannya, sang Grand Duke benar-benar mengosongkan sebagian besar jadwal formalnya di istana demi menyertai Marielle.Pagi ini, di ruang kerja utama bangunan selatan Kastil Valtore, ruangan luas bercat putih dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pegununga
“Makan malam bersama Anda?” Marielle menatap Aldric dengan alis terpaut tipis. Di bawah temaram cahaya senja, raut wajah sang Grand Duke tampak begitu serius meski semburat merah tipis di ujung telinganya masih enggan menghilang sepenuhnya.Marielle mendengus pelan, mengeratkan pegangannya pada tumpukan berkas di pelukannya agar tidak merosot. "Membahas logistik saat makan malam? Anda sungguh tidak mengenal kata istirahat, Yang Mulia.""Ini demi efisiensi waktu, Marielle," sahut Aldric cepat, berusaha memoles nada suaranya agar kembali terdengar dingin, berwibawa, dan profesional. "Count Vance akan mulai menyusun angka pastinya nanti malam. Semakin cepat kita mematangkan alur distribusi logistik, semakin cepat proyek ini bisa berjalan tanpa hambatan birokrasi."Marielle memperhatikan gestur tubuh Aldric dengan saksama. Pria tegap itu berdiri agak kaku di depannya, menatapnya lurus-lurus seolah-olah jawaban 'tidak' dari Marielle akan merusak seluruh skema besar rekonstruksi wilay
"Siapa juga yang minta ditolong oleh Anda, Grand Duke?" balas Marielle dengan nada tak kalah sengit, walau jarinya masih sedikit gemetar saat melempar bola kain itu pelan ke arah anak-anak pengungsi.Anak-anak itu dengan cepat memungut bolanya dan berlari menjauh seraya membungkuk takut. Marielle lalu membalikkan badan, berjalan mendahului Aldric tanpa memandangnya sedikit pun. Ia segera menyusul Count Vance dan perwira militer yang berpura-pura sibuk memeriksa peta tanah demi mencairkan atmosfer yang sempat membeku."Mari kita lanjutkan surveinya," cetus Marielle, berusaha tampil seprofesional mungkin.Selama dua jam berikutnya, mereka bertiga membedah seluruh area pengungsian secara menyeluruh. Hasil survei langsung di lapangan membuka banyak fakta penting yang tak tercatat di dalam lembaran audit lama milik Vane. Marielle mencatat dengan cermat bahwa dari total lima puluh tenda darurat di Sektor Tiga, masih ada tiga puluh dua kepala keluarga yang menanti kepastian hunian perma
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m







