ANMELDEN"Mas Adrian... tolong lepaskan sebentar. Aku tidak bisa bernapas dengan benar kalau dipeluk sekencang ini," bisik Hazel dengan suara yang bergetar karena panik.Di atas tempat tidur mereka, Adrian justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Hazel. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hazel, seolah sedang mencari kenyamanan ekstra.Hazel benar-benar dibuat bingung dengan tingkah laku suaminya malam ini. Wajah Adrian terasa sangat panas menyentuh kulitnya, menandakan bahwa demam pria itu belum juga turun sejak siang tadi.Hazel bisa merasakan hembusan napas hangat Adrian yang menerpa lehernya. Sentuhan fisik yang begitu dekat ini biasanya akan memicu alarm kewaspadaan di kepala Hazel akibat trauma masa lalu.Namun anehnya, malam ini Hazel tidak merasakan ketakutan yang sama. Ada rasa asing yang perlahan merayap di dadanya, sebuah perasaan ingin melindungi pria yang biasanya selalu melindunginya."Dingin, Hazel... jangan pergi," gumam Adrian dengan suara rendah yang ter
Hazel menatap layar ponselnya dengan napas yang tertahan. Kalimat bernada ancaman dari nomor tidak dikenal itu benar-benar membuat seluruh tubuhnya seketika menjadi dingin karena ketakutan.Dadanya kembali terasa sangat sesak, dan telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya langsung kacau, dipenuhi rasa bingung dan takut yang mendalam."Siapa lagi orang ini? Bukankah Damian sudah ditahan di kantor polisi?" batin Hazel dengan sangat cemas, merasa heran mengapa teror dalam hidupnya belum juga berakhir.Dia mencengkeram ponselnya dengan erat, merasa bingung harus berbuat apa. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu depan yang diputar dari luar.Hazel tersentak dari lamunannya, lalu segera menoleh ke arah pintu masuk rumah minimalis mereka. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok suaminya.Adrian melangkah masuk dengan gerakan yang terlihat sangat lambat dan tidak sekuat biasanya. Jas kerjanya masih melekat di tubuh, namun dasinya sudah tampak
"Jika suatu hari aku membuangmu, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang mau menampung wanita rusak sepertimu, Hazel."Bisikan beracun dari masa lalu itu tiba-tiba terngiang kembali dengan sangat jelas, membuat Hazel tersentak dari duduknya dengan napas yang memburu.Hazel buru-buru menyentuh dadanya yang berdetak kencang, mencoba menyadarkan diri bahwa itu hanyalah bayangan buruk masa lalu yang sudah selesai.Pagi itu, suasana di dalam rumah minimalisnya bersama Adrian sebenarnya terasa sangat tenang dan damai tanpa ada gangguan apa pun.Hazel kembali duduk di sofa ruang tengah, mencoba mengalihkan pikirannya dengan menatap layar ponsel yang menampilkan berita terbaru.Berita tentang penangkapan Damian dan kehancuran karir Sherly sudah menyebar ke mana-mana dan menjadi perbincangan hangat di internet.Banyak orang yang sekarang berbalik mendukung Hazel dan menuliskan komentar yang sangat baik serta menenangkan untuk dirinya.Hazel mengembuskan napas panjang, merasakan rasa le
Sherly berjalan mondar-mandir di dalam apartemennya yang berantakan dengan perasaan yang sangat panik. Ponsel di genggamannya sudah terasa panas karena sejak tadi dia terus-menerus mencoba menelepon nomor Damian.Namun, nomor tersebut tetap tidak aktif. Suara operator telepon yang memberi tahu bahwa nomor itu tidak dapat dihubungi membuat ketakutan Sherly semakin menjadi-jadi.Dia menggigit kuku jarinya sampai terasa sakit karena merasa sangat bingung dan takut.Ketika dia tidak sengaja melihat ke arah cermin di kamarnya, dia langsung teringat kembali pada semua perbuatannya di masa lalu kepada Hazel. Ingatan itu sekarang terasa sangat menakutkan bagi dirinya.Dulu, Sherly adalah orang terdekat Hazel. Dia adalah sahabat dekat yang seharusnya mendukung dan melindungi Hazel saat menghadapi masalah.Namun, di balik sikap ramahnya selama bertahun-tahun, Sherly sebenarnya menyimpan rasa iri dan cemburu yang sangat besar kepada Hazel.Sherly selalu merasa cemburu karena Hazel memiliki sifat
Aroma manis mentega dan kayu manis yang terpanggang hangat memenuhi seisi dapur rumah minimalis modern itu. Hazel berdiri di depan oven, sesekali merapikan anak rambutnya yang lolos dari jepitan demi melihat hasil panggangan harinya.Di atas meja dapur yang bersih tanpa dekorasi rumit, beberapa buah cinnamon roll berhias cream cheese meleleh tampak tersaji cantik.Untuk pertama kalinya, Hazel belajar memasak resep baru di rumah yang ia tinggali bersama Adrian. Selama ini, trauma masa lalunya bersama Damian membuat Hazel selalu merasa tidak percaya diri, termasuk dalam hal menyenangkan pasangan.Namun hari ini, dorongan di hatinya begitu kuat untuk memberikan perhatian lebih kepada Adrian yang selalu peduli dan melindungi Hazel sejak awal pernikahan mereka.“Apakah Mas Adrian akan suka? Bagaimana kalau rasanya terlalu manis? Kata Bunda, dia kan tidak begitu menyukai rasa manis,” batin Hazel cemas.Jemarinya saling bertautan erat, menatap hasil eksperimen pertamanya sore ini dengan pera
Langkah kaki Damian tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan sama sekali saat ia berjalan di koridor lantai paling atas gedung Winz Group.Meskipun dikawal ketat oleh Rendy dan dua pria berbadan tegap, kepalanya tetap mendongak angkuh. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang didominasi dinding kaca tebal, marmer hitam, dan ornamen baja modern dengan tatapan meremehkan.Bagi Damian, kemegahan korporat ini hanyalah panggung kuno yang tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan dunia digital yang ia kuasai.Dengan jutaan pengikut yang memujanya di Instagram dan TikTok, Damian merasa dirinya adalah entitas yang tak tersentuh. Netizen adalah pion-pion bodoh yang siap bergerak sesuai narasi yang ia buat. Hal itulah yang membuatnya merasa berada di puncak rantai makanan.Begitu pintu ruang kerja CEO Winz Group terbuka, ia melangkah masuk dengan santai, bahkan sengaja memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.Di balik meja kerja mahoni yang besar, Adrian Winata sedang duduk tenang. Aura din







