Masuk"Pegang sabuk pengamanmu erat-erat sekarang, Hazel!"Suara bariton Adrian terdengar sangat lantang dan tegas, berusaha mengalahkan suara bising dari guncangan keras ban mobil mereka.Secara spontan, satu tangan Adrian terulur ke arah depan dada Hazel, menahan tubuh istrinya agar tidak terlempar ke arah depan kaca mobil.Sementara tangan kanannya mencengkeram kuat kemudi mobil, mengendalikan arah kendaraan agar tidak menabrak pohon besar di pinggir jalan raya.Mobil hitam itu akhirnya berhasil berhenti dengan selamat di bahu jalan yang sangat sepi, menyisakan kepulan asap tipis dari arah roda belakang.Hazel mengatur napasnya yang memburu dengan tangan yang memegang dadanya yang berdetak sangat kencang karena terkejut."Kamu tidak apa-apa? Ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat khawatir.Pria itu langsung memutar tubuhnya, memeriksa seluruh bagian tubuh Hazel dari kepala hingga ujung kaki untuk memastikan istrinya tidak terluka.Hazel menggele
"Mas tidak perlu merasa terpaksa melakukan liburan ini hanya karena kejadian kemarin, Mas Adrian."Kalimat itu keluar begitu saja karena Hazel khawatir jika Adrian mengajak pergi keluar kota hanya karena merasa bersalah setelah tidak melibatkan dirinya dalam urusan penahanan Damian beberapa hari lalu.Adrian yang mendengar kalimat lirih itu hanya diam sesaat, memperhatikan gerak-gerik istrinya yang tampak sangat cemas."Saya tidak pernah melakukan sesuatu karena terpaksa, Hazel," jawab Adrian dengan suara baritonnya yang tenang."Terlebih lagi kita sudah sepakat sebelumnya untuk melakukan perjalanan ini," lanjut Adrian sambil berjalan mendekat ke arah kasur.Hazel menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat baju, lalu mendongak perlahan untuk menatap wajah tampan suaminya yang kini sudah berdiri di dekatnya."Jadi, tolong katakan kepada saya sekarang. Kamu lebih menyukai suasana pegunungan yang berudara dingin, atau resort di dekat pantai yang hangat?" tanya Adrian.Hazel terte
"Lupakan saja kejadian di atas kasur malam itu, Hazel. Anggap saja saya tidak pernah melakukan hal memalukan seperti itu padamu."Kalimat yang keluar dari mulut Adrian saat Hazel baru saja menginjakkan kaki di dapur pagi itu langsung membuat langkahnya terhenti seketika.Hazel menatap punggung suaminya yang sedang berdiri membelakanginya sambil memegang cangkir kopi. Suasana dapur yang tenang mendadak berubah menjadi sangat canggung.Beberapa hari setelah demamnya sembuh, ini adalah kali pertama Adrian berbicara dengan kalimat yang cukup panjang, meski isinya berupa permintaan maaf yang terdengar sangat kaku.Pria itu berbalik perlahan, menghindari kontak mata langsung dengan Hazel. Ujung telinganya terlihat sangat merah, menunjukkan betapa ia merasa tidak enak hati karena sempat bersikap manja."Maksud saya, saya minta maaf karena sudah lancang memelukmu dengan sangat erat waktu saya tidak sadar karena demam," lanjut Adrian dengan suara baritonnya yang datar.Hazel sempat terdiam beb
"Mas Adrian... tolong lepaskan sebentar. Aku tidak bisa bernapas dengan benar kalau dipeluk sekencang ini," bisik Hazel dengan suara yang bergetar karena panik.Di atas tempat tidur mereka, Adrian justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Hazel. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hazel, seolah sedang mencari kenyamanan ekstra.Hazel benar-benar dibuat bingung dengan tingkah laku suaminya malam ini. Wajah Adrian terasa sangat panas menyentuh kulitnya, menandakan bahwa demam pria itu belum juga turun sejak siang tadi.Hazel bisa merasakan hembusan napas hangat Adrian yang menerpa lehernya. Sentuhan fisik yang begitu dekat ini biasanya akan memicu alarm kewaspadaan di kepala Hazel akibat trauma masa lalu.Namun anehnya, malam ini Hazel tidak merasakan ketakutan yang sama. Ada rasa asing yang perlahan merayap di dadanya, sebuah perasaan ingin melindungi pria yang biasanya selalu melindunginya."Dingin, Hazel... jangan pergi," gumam Adrian dengan suara rendah yang ter
Hazel menatap layar ponselnya dengan napas yang tertahan. Kalimat bernada ancaman dari nomor tidak dikenal itu benar-benar membuat seluruh tubuhnya seketika menjadi dingin karena ketakutan.Dadanya kembali terasa sangat sesak, dan telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya langsung kacau, dipenuhi rasa bingung dan takut yang mendalam."Siapa lagi orang ini? Bukankah Damian sudah ditahan di kantor polisi?" batin Hazel dengan sangat cemas, merasa heran mengapa teror dalam hidupnya belum juga berakhir.Dia mencengkeram ponselnya dengan erat, merasa bingung harus berbuat apa. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu depan yang diputar dari luar.Hazel tersentak dari lamunannya, lalu segera menoleh ke arah pintu masuk rumah minimalis mereka. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok suaminya.Adrian melangkah masuk dengan gerakan yang terlihat sangat lambat dan tidak sekuat biasanya. Jas kerjanya masih melekat di tubuh, namun dasinya sudah tampak
"Jika suatu hari aku membuangmu, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang mau menampung wanita rusak sepertimu, Hazel."Bisikan beracun dari masa lalu itu tiba-tiba terngiang kembali dengan sangat jelas, membuat Hazel tersentak dari duduknya dengan napas yang memburu.Hazel buru-buru menyentuh dadanya yang berdetak kencang, mencoba menyadarkan diri bahwa itu hanyalah bayangan buruk masa lalu yang sudah selesai.Pagi itu, suasana di dalam rumah minimalisnya bersama Adrian sebenarnya terasa sangat tenang dan damai tanpa ada gangguan apa pun.Hazel kembali duduk di sofa ruang tengah, mencoba mengalihkan pikirannya dengan menatap layar ponsel yang menampilkan berita terbaru.Berita tentang penangkapan Damian dan kehancuran karir Sherly sudah menyebar ke mana-mana dan menjadi perbincangan hangat di internet.Banyak orang yang sekarang berbalik mendukung Hazel dan menuliskan komentar yang sangat baik serta menenangkan untuk dirinya.Hazel mengembuskan napas panjang, merasakan rasa le







