Mag-log in“Ternyata benar dugaanku, kamu yang nyuruh Rayyi.”
“Lantas, aku harus bagaimana lagi, Luna? Kamu memblokir semua kontakku.”
Luna mengecek situasi di sekitar mereka. Saat Rayyi pamit meninggalkannya, Galuh serta-merta membawa perempuan itu ke area yang lebih sepi. Meski begitu, tak menutup kemungkinan ada telinga-telinga yang mencuri dengar. Apalagi isi pembicaraan mereka berpotensi memicu gosip besar.
“Soalnya kamu nyebelin, Mas!” Luna menekankan telunjuknya pada lengan atas Galuh. “Tiba-tiba kasih promosi dengan dalih performaku bagus—”
“Harus berapa kali aku bilang, kenyataannya memang kinerjamu di atas rata-rata.”
“Tapi, kamu sadar jabatan itu bakal lebih sering mempertemukan kita, kan?” balas Luna semakin sengit. “Mas, aku—aku mungkin bakal suka cita menerimanya kalau statusku sekarang bukan istri Rayyi. Pernah enggak kamu bayangkan bakal seheboh apa pembicaraan di hotel seandainya mereka menangkap basah kita lagi berduaan?”
Giliran Galuh yang celingak-celinguk mengamati keadaan di antara dua rak berisi peralatan makan. Sementara itu, Luna berharap ada karyawan supermarket atau pengunjung lain yang masuk ke lorong tempat mereka bertemu. Dengan kondisi mental yang belum stabil selepas kepergian Dikta, menghadapi Galuh jadi terasa jauh lebih sulit baginya.
Namun, Galuh belum mau menyerah. Pria itu malah menggeser troli yang menghalangi keduanya untuk mendekati Luna.
“Aku tak pernah bermaksud menyinggung perasaanmu, sungguh,” bisik Galuh dengan kepala tertunduk. “Apa saja akan kulakukan demi menebus rasa bersalahku padamu dan ayahmu.”
“Abah enggak akan hidup lagi hanya karena kamu kasih aku gaji besar.” Mata Luna memanas. Bisa-bisanya pria itu mengiba atas nama Dikta. “Sekarang, aku cuma pengin menenangkan diri, Mas. Jadi tolong setelah pernikahan dan promosi kemarin, jangan ambil keputusan besar lain secara sepihak.”
Bibir Galuh terbuka, hendak menyuarakan pendapat. Akan tetapi, denting dari ponselnya menyelamatkan Luna.
Pria itu mengatupkan rahang kala membaca pesan yang tertera. Kemudian, dia menarik kembali troli milik Luna.
“Pergilah. Cari Rayyi di dekat tempat roti,” katanya, tampak dongkol. Sebelum Galuh berubah pikiran, Luna menyambar troli dan bergerak cepat menuju lokasi yang disebutkan.
*
Tempat roti yang dimaksud adalah area kafe kecil yang berada di dekat kasir. Sembari menerka-nerka maksud perintah Galuh, mengambil barang-barang yang dibutuhkannya di sepanjang rak yang dilewati. ‘Sekalian langung bayar,’ batinnya.
Di belokan terakhir, Luna mengecek satu per satu pengunjung yang berseliweran dekat kafe. Cukup mudah menemukan Rayyi berkat tinggi badannya yang setara Galuh. Lega seketika mengaliri tubuh… sampai dia mendapati seorang perempuan cantik berambut panjang yang tengah berbincang bersama suaminya.
Luna hampir mundur, tetapi Rayyi lebih cepat menyadari kehadirannya. Pria itu tersenyum singkat, lalu mengangguk pelan sebagai isyarat untuk menghampirinya.
Sayangnya, perempuan cantik tadi berlalu terlebih dulu. Luna lalu mempercepat langkah menuju tempat Rayyi bersama trolinya.
“Kenalanmu?” Luna melayangkan basa-basi. Kalaupun ternyata sosok itu adalah kekasih Rayyi, dia juga tak mempermasalahkan.
Rayyi menggeleng cepat dan mengambilalih troli Luna. “Biar saya yang bayar. Kamu tunggu saja sambil ngopi atau makan roti.”
Antrean yang mengular di sebagian besar kasir serta-merta menahan protes Luna. Diliriknya deretan roti baru matang serta macam-macam minuman yang dijual di kafe. Secangkir kopi mungkin bisa menenangkan pikirannya sampai belanjaannya selesai dihitung.
*
Perjalanan menuju apartemen terasa lebih canggung ketimbang pagi tadi. Diamnya Rayyi mengirimkan ketegangan. Terlihat dari cengkeraman tangannya yang kuat serta jemarinya yang sesekali meremas kuat kemudi hingga menampakkan urat nadi.
‘Apa dia kesal agenda akhir pakannya diganggu?’ Luna bertanya-tanya. ‘Atau sama-sama dongkol dijebak Mas Galuh?’
Di lampu merah terakhir, barulah Rayyi melepas tangan dari kemudi. Kedua pundaknya perlahan turun bersama napan panjang yang dia embuskan.
“Kamu enggak apa-apa?” Rasa penasaran akhirnya mengalahkan Luna. “Butuh bantuan?”
Rayyi buru-buru menegakkan punggungnya. “Tidak, terima kasih. Hanya saja, saya harus segera pergi ke tempat lain. Jadi, saya hanya bisa mengantar kamu sampai depan apartemen.”
“That’s okay,” ujar Luna walau ragu hal itu yang sedang suaminya pikirkan. “Aku juga enggak masalah turun di sini, lagian belanjaanku enggak terlalu banyak.”
“Jangan, tetap bakal berat, karena kamu harus naik jembatan penyeberangan,” Rayyi menyanggah, lalu membawa mobilnya menuju apartemen. “Saya tak akan lama, mungkin sekitar satu atau dua jam di luar.”
Sebenarnya, Rayyi mau pulang besok pagi pun tak masalah bagi Luna. Status suami-istri yang mereka sandang mereka saja berdasarkan kontrak. Untuk apa pula saling mengabari kalau mereka tinggal di satu unit apartemen saja pakai sekat.
*
<uang yang kamu kasih kemarin hampir abis>
<dimas lagi banyak kebutuhan, istrinya mau lahiran lagi>
<kamu punya pegangan buat ambu pinjam?>
“Ambu,” Luna memutuskan menelepon Puspa demi mencegah kesalahpahaman. “Uang berduka dari pelayat udah habis?”
“Habislah, kurang bisa diandelin juga, yang nyumbang cuma seadanya,” sungut Puspa. “Dimas sempat kasih, tapi enggak sampai setengah dari punya kamu.”
“Uangnya mau dipakai apa lagi? Dibilangin kemarin simpen sebagian buat modal dagang bubur ayam.”
Sang ibu menggeram pelan. “Buat tahlilan 40 hari bapakmu, Luna! Kalau kamu enggak punya pegangan, biar Ambu yang telepon suamimu.”
“Ambu, jangan bikin repot R—Mas Rayyi.” Luna berhenti memotong wortel, lalu menaruh pisau di samping talenan. “Tunggu aku gajian minggu depan, nanti kutransfer biayanya.”
Galuh pasti tak bakal pikir panjang bila Puspa meminta bantuan dana. Sang ibu bahkan tak perlu melakukannya, sebab pria itu pasti bakal menyediakan rekening khusus untuk mengirim uang setiap bulan. Dia sudah menjanjikannya pada Luna kalau mereka suatu hari menikah.
Namun, takdir membawa Luna pada pria lain.
Tentu, Luna sungkan meminta pada Rayyi. Dengan pernikahan rasa kontrak bisnis, kurang etis meminta jatah bulanan kepada pria itu. Penghasilan dari pekerjananya mampu mencukupi kehidupannya dengan Puspa.
Pada saat itu pula, Luna menyadari sesuatu.
“Ck, benar-benar licik kamu, Mas.” Diraihnya pisau untuk lanjut memotong wortel. “Kamu juga pasti memperhitungkan hal ini. Menaikkan gajiku supaya bisa bantu-bantu Ambu.”
Tak dinyana, Galuh adalah jembatan yang Luna perlukan untuk memperbaiki hubungan dengan Puspa. Saat Dikta melayangkan berbagai keraguan, hanya sang ibu yang membela pria itu kala Luna membawanya ke Parongpong.
“Abah waktu lamar Ambu juga belum jadi apa-apa!” seru Puspa saat itu. “Aki*nya Luna tetep kasih izin dan restu nikah karena percaya Abah bakal kerja keras sampai mampu hidupin keluarga. Galuh pasti bisa kayak gitu.”
“Zamannya udah beda, Ambu,” Dikta bersikeras. “Cari kerjaan sekarang susah, ngandelin nafkah dari kepala keluarga juga belum tentu cukup. Tunggu sampai Luna sama Galuh sama-sama pegang penghasilan stabil, baru Abah kasih restu yang mereka minta!”
Walau tak pernah menunjukannya langsung, harga diri Galuh pasti hancur menerima penolakan dari Dikta. Sampai-sampai dia bersedia dinikahkan dengan jodoh yang diatur orangtuanya supaya cepat dianggap mapan. Luna pun perlu ikut berkorban dengan menunggunya selama bertahun-tahun.
“Kenapa takdir kita serumit ini, Mas,” ucap Luna, lirih. Dibiarkannya tetes-tetes air mata menderas menjadi tangis. Potongan sayur yang disiapkannya untuk membuat sup pun turut tergenang dalam kesedihannya. “Kenapa kita harus memutari banyak jalan untuk bersatu?”
***
Abah udah janji buat kasih tasbih ini buat pria yang Abah rasa pantas mendampingi dan jadi imam Luna…Setiap kali memandangi tasbih pemberian Dikta, memori Rayyi selalu kembali ke pertemuan tersebut. Momen saat mendiang ayah Luna secara tak langsung merestui pernikahan mereka. Selama berminggu-minggu, Rayyi tak terlalu memikirkan ucapan pria tersebut sampai kejadian beberapa hari lalu—Rayyi memejamkan mata, lalu mengembuskan napas panjang. Disimpannya tasbih tersebut dalam lipatan sajadah, lalu beranjak keluar kamar untuk menyiapkan makan malam.Saat itulah Rayyi menangkap obrolan dari balik tembok pemisah. Perlahan, dia mendekat dan mencuri dengar dari dinding. Telinganya sukar menangkap pembicaraan yang berlangsung, tetapi hanya perlu sekian detik baginya mengetahui sosok yang sedang bersama Luna adalah Galuh.Langsung saja Rayyi mundur dan masuk ke kamar. Diambilnya ponsel yang tergeletak di nakas. Rupanya Luna sempat mengirimkan beberapa pesan saat dia salat asar.
Selama beberapa detik, Luna memandangi balasan dari Rayyi. Pesan simpel yang kadang diterimanya juga dari Brenda maupun Dini. Ini berarti, Luna juga bisa menghemat pengeluaran bukan?Namun, entah kenapa hatinya mencelus. Rasanya seperti… ditolak.‘Astaga, Luna, kenapa sih?’ Cepat-cepat, Luna memasukkan ponsel ke tas selempang. Barangkali faktor lapar atau hormon yang membuatnya baperan. Sebelum suasana hatinya makin tak menentu, dia bergegas keluar mal dan mencari restoran cepat saji terdekat.*Rayyi belum pulang sesampainya Luna di apartemen. Ditaruhnya kantung belanja di samping kulkas. Kemudian saat akan menata stok bahan makanan, matanya tertuju pada anggrek bulan pemberian Galuh yang perlahan layu.Sekujur tubuhnya terkunci. Kejadian tempo hari, saat Galuh bersikap agresif padanya, masih bercokol kuat dalam ingatan. Bertahun-tahun menjalin hubungan, belum pernah Luna disentuh dengan paksaan seperti pada hari itu.Sejak saat i
“Di mana Luna?”“Saya kurang tahu, Pak. Saya keluar apartemen sebelum dia bangun.”“Kamu tahu hari ini jadwalnya belanja bulanan?”“Ya, saya pasang reminder-nya dan berencana mengantar Luna setelah—”“Tidak perlu. Tadi aku telepon Luna dan dia sudah berangkat ke mal.”“Maaf, Pak. Lain kali—”“Mulai bulan depan, aku yang akan menemani Luna belanja. Next time, tahan dia di apartemen sampai aku datang.”Rayyi memandangi layar ponsel sejenak begitu Galuh mengakhiri percakapan. Syukurnya, dia mengikuti saran Luna. Di sisi lain, sikap Galuh membuatnya gusar meninggalkan Luna sendirian.‘Sebaiknya saya berjaga-jaga di sekitar mal.’ Karena belum bisa mengakses jalan utama yang masih dijejali ratusan pelari. Mengikuti arahan peta digital, dia membawa mobil menuju belokan yang akan menembus bagian belakang gedung pusat perbelanjaan.Rupanya, bukan hanya Rayyi yang mengakses jalur alternatif tersebut. Namun, kadung masuk, pria itu cuma bisa sabar dan menunggu antrean mengurai. Sesekali, matanya
Untuk kali pertama setelah sekian minggu, Luna dapat menarik napas lega di akhir pekan.Jam menunjukkan pukul delapan pagi saat Luna bangun. Disingkapnya tirai untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Sambil meneguk air mineral, dia membuka kulkas untuk mengecek stok bahan makanan dan—“Huh, udah hampir habis?” Kemudian, Luna mengecek kalender dinding. “Pantesan, udah jadwalnya aku belanja bulanan.”Selepas mandi dan berganti pakaian, Luna bergegas mengambil sepotong roti buat mengganjal lapar. ‘Brunch di luar aja nanti,’ batinnya.Langkahnya terhenti kala melewati pintu sekat. Rayyi pasti sudah bangun sejak sebelum waktu Subuh. Namun, untuk memastikan, Luna memilih memeriksa dan bisa sekalian pamit kalau pria itu belum pergi.“Eh, pagi,” sapa Luna kikuk kala beradu pandang dengan Rayyi yang tengah sarapan. Menilai dari pakaiannya, dia juga seperti akan pergi. “Aku cuma mau pamit belanja bulanan. Mungkin pulang sekitar jam makan siang.”“Sebentar.” Rayyi beranjak, lalu masuk ke kamar u
Rayyi baru masuk mobil kala menerima pesan tersebut. Dari foto yang Galuh lampirkan, dia melihat Luna dan Naura yang duduk di restoran hotel. Jaraknya agak jauh; menyulitkannya mengecek raut wajah mereka.Namun, kalau Galuh sampai curiga, bisa dipastikan Naura membahas sesuatu yang tak mau didengar suaminya.“Rayyi!” Panjang umur, Luna muncul dari pintu keluar. Perempuan itu mempercepat larinya hingga berhasil masuk mobil. “Syukurlah kamu belum pulang.”“Apa semua pekerjaanmu sudah selesai?”Luna menyeringai kikuk. “Aku izin pulang lebih cepat. Untungnya ada Brenda yang mau beresin sisa kerjaanku.”Dari ekor mata, Rayyi menangkap bakmie pemberiannya dalam tas Luna. Itu berarti, Luna sengaja izin supaya bisa pulang bersamanya. Sensasi hangat seketika menjalari pipi Rayyi, tetapi cepat-cepat pria itu membawa mobilnya keluar basement.Ada misi lain yang harus segera dia jalankan.*Tak ada percakapan yang mengisi perj
Luna akhirnya dapat mengembuskan napas lega kala masuk ke lift. Mengutus pengunjung dari luar negeri kerap menguras energi, apalagi saat bahasa menjadi salah satu kendala. Syukurnya salah satu dari wisatawan Belanda yang bermalam fasih berbahasa Inggris meski sama-sama terbata.Barangkali hanya kelelahan, tetapi pesan Brenda membuat matanya berkaca-kaca. Belakangan Luna makin kesulitan bertemu kedua sahabatnya, bahkan buat sekadar tegur sapa. Perhatian simpel ini bak pengingat bila mereka belum melupakannya.Tak sampai semenit, Brenda membalas.Ding!Luna termenung sesaat kala pintu lift terbuka. Sepanjang hari nyaris tak berpapasan, Rayyi malah sempat mampir buat membelikan camilan. Bukan perkara yang perlu dia pusingkan, tetapi mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan…“Eh, Luna?” Suara perempuan itu mengejutkannya. “Benar, kan, Luna? Istrinya Rayyi.”‘Aduh, kenapa juga aku harus melamun?’Di hadapannya, Naura melambai sembari mengembangkan senyum. Namun, sosok di belak
Rayyi perlu mengingatkan diri bahwa kunjungannya ke Bali hanya untuk menghargai pemberian Naura. Bulan madu pun jadi sekadar label pemanis mengingat statusnya adalah suami (sementara) untuk Luna. Tak ada yang perlu dia cemaskan, bukan?Pertanyaan itu terngiang dalam benak Rayyi saat mengikuti karyawa
“Bisa kita belok dulu ke drive thru? Aku mau beli makanan.”Rayyi membelokkan mobilnya menuju restoran cepat saji dekat apartemen. Dibiarkannya Luna memesan hingga membayar makanannya. Pria itu menahan dirinya agar tak membuka obrolan menilai dari suasana hati Luna yang belum membaik.Pertahanan itu s
Bunga tidur yang mampir ke dalam tidur Rayyi malam ini berbeda dari sebelumnya.Langit yang biasanya muram kini tampak biru cerah tanpa awan. Semilir angin membelai wajah Rayyi perlahan. Seluas matanya memandang, dia hanya melihat bentangan rumput yang menari-nari; menggelitik kakinya yang tanpa sepa
Luna tak menduga bakal menghabiskan sisa masa ‘bulan madu’ di Bali dengan hal-hal sederhana. Jalan-jalan naik sepeda motor jadul. Makan olahan bebek di pinggir pantai. Lalu di penghujung malam, dia dan Rayyi malah menyaksikan pesta kembang api gratis yang terletak tak jauh dari warung makan Wayan.‘K







