MasukSejak kecil Bella diperlakukan semena-mena oleh keluarganya. Suatu hari Bella tak sengaja memergoki tunangannya berselingkuh dengan adiknya sendiri di dalam apartemen. Merasa dikhianati, ia berniat membalas dendam pada keluarganya dengan menawarkan pernikahan kontrak pada Sean, seorang CEO Tiran yang akan dijodohkan dengan adiknya. Mampukah Bella melancarkan aksi balas dendamnya? Apakah alasan Sean sehingga ia menyetujui pernikahan kontrak itu?
Lihat lebih banyak"Raka, Tante Maya bunuh diri."
"Sejak kecelakaan Tiara, dia tidak pernah bahagia. Suaminya juga mengkhianatinya. Akhir-akhir ini, dia sangat merindukan putrinya." "Dia tidak tahan lagi..." Mendengar ucapan dari orang lain, di rumah sewaannya, gelas anggur di tangan Raka jatuh ke tanah dan pecah berkeping-keping. Berita itu seperti sambaran petir, dan rasa sakit dengan cepat menyebar di hatinya. Tante Maya juga sudah pergi. "Raka..." "Raka..." Raka tak lagi bisa mendengar suara dari telepon. Satu-satunya orang yang baik padaku di dunia ini sudah meninggal. Apa arti hidup ini bagiku sekarang? Kesadarannya perlahan hancur, dan kenangan hidupnya melintas di benak Raka seperti kilatan lampu. Di usia 32 tahun, aku belum mencapai apa pun dalam masyarakat ini. Kakek nenekku sudah lama meninggal, dan aku tak pernah melihat ayahku sejak kecil. Ibuku meninggal dalam kecelakaan ketika aku berusia 19 tahun. Seolah kemalangan terus menerpa mereka yang sudah cukup menderita. Sekarang, aku sendirian, berjuang sendirian di masyarakat ini. Bahkan saat aku sakit, aku hanya bisa menderita sendiri di rumah sakit. Setiap kali aku melihat orang lain dipedulikan atau diberi perhatian, aku merasakan rasa iri yang tak tertahankan dalam hatiku. Tinggiku biasa saja, dan penampilanku hanya bisa dibilang lumayan. Sepertinya, selama bertahun-tahun, tak ada satu orang pun yang benar-benar tulus padaku. Kecuali Tiara, gadis lumpuh yang kutemui setelah lulus dan selalu suka menguncir kuda rambutnya. Tiara sangat cantik, tetapi karena rasa rendah diri, dia jarang mau berkomunikasi dengan orang lain. Ke mana pun dia pergi, dia selalu menundukkan kepala, malu dengan penampilannya yang terpincang-pincang. Namun, beberapa kali secara kebetulan, dia membuka hatinya padaku. Dia menjadi pacarku. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar jatuh cinta, meskipun banyak kritik datang ke mana pun kami pergi. Tetapi bagi seseorang sepertiku, rasanya sangat luar biasa. Bagiku, menemukan wanita secantik Tiara adalah sebuah berkah. Tiara memberikan seluruh ketulusan dan kasih sayangnya padaku. Dan ibunya, Tante Maya, wanita yang cantik dan penuh perhatian, merawatku seperti anaknya sendiri. Saat itu, aku berpikir betapa indahnya jika aku bisa menikahi Tiara dan hidup bersamanya selamanya. Namun, tekanan hidup terus menimpaku. Setelah kehilangan pekerjaan, aku diusir oleh tuan tanah. Saat itulah aku sadar bahwa di masyarakat ini, tanpa uang, kau tidak akan pernah bertahan. Untungnya, ada gadis yang selalu bersamaku dan membuatku merasa tidak sendirian. Namun, bukan pernikahan dengan Tiara yang akhirnya kutunggu, melainkan berita buruk tentangnya, sepuluh tahun lalu, saat aku sedang bekerja. Tiara kehilangan nyawanya dalam sebuah kecelakaan, seperti ibunya. Dia pergi selamanya, meninggalkanku dalam keputusasaan. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan selama ini. Bertahun-tahun, aku tenggelam dalam kesakitan, berjuang melawan takdir yang tak berpihak padaku. Aku ingin menghasilkan uang lebih banyak, agar Tante Maya bisa hidup lebih baik di masa tuanya. Namun, beban hidup di Jakarta terlalu berat. Aku bekerja keras, namun hanya cukup untuk bertahan hidup. Malam-malamku diisi dengan minuman, mencoba melupakan segalanya. Lalu, kabar buruk itu datang. Tante Maya bunuh diri. Kesadaranku hancur, dan hatiku dipenuhi rasa sakit yang tak terlukiskan. Apakah semuanya sudah berakhir...? Kalau ada kehidupan setelah mati, aku ingin menjadi orang kaya, sangat kaya! Dengan begitu, aku bisa melupakan semua masalah dan tidak pernah menyesal. ... Saat aku membuka mata lagi, aku melihat mawar di tanganku. Ada sebuah kartu di atasnya, dengan kata-kata cinta yang pernah kutulis dengan malu-malu. "Stefani." Aku terus memikirkannya, tapi terlalu malu untuk mengatakannya lagi. "Apakah ini hanya halusinasi?" Aku mencubit diriku sendiri dengan keras, dan merasakan rasa sakit. Aku terbangun, melihat lingkungan sekolah yang familier di sekitarku, dan mengeluarkan ponsel flip dari sakuku. Aku melihat waktu di layarnya. "21 Juli 2010!" "2010!" Suara sahabatku, Andi, di sebelahku menarik pikiranku kembali ke masa itu! "Bro! Kamu berani sekali! Kamu benar-benar mengaku kepada Stefani di depan umum!" Kenangan memalukan terlintas di benakku. Selama masa remajaku, ada dua hal yang membuatku malu. Yang pertama adalah impianku untuk menjadi jutawan. Yang kedua adalah dewi sekolah sepanjang masa mudaku, Stefani. Aku mengejarnya selama dua tahun, tetapi dia hanya menerima hadiah dan kebaikanku tanpa pernah setuju untuk menjadi pacarku. Meskipun keluarganya sangat kaya, aku menghabiskan seluruh uang sakuku untuk memberinya hadiah, dan dia menerimanya semua. Namun, ada seorang Ahli yang mengatakan secara profesional. Menerima hadiah ≠ Setuju. Dan dia selalu mendorongku untuk bekerja lebih keras, katanya, jika aku cukup tulus, dia mungkin akan mempertimbangkan. Tetapi aku terus-menerus ditolak, dan keberanianku memuncak pada hari itu. Aku memberi tahu seluruh kelas bahwa aku akan mengaku kepada Stefani di reuni kelas. Setelah pernyataan cintaku di depan umum, aku ditolak mentah-mentah oleh Stefani. Aku juga diejek oleh anak-anak kaya di kelas yang juga menyukai Stefani. Bertahun-tahun kemudian, kejadian itu menjadi bahan tertawaan di antara teman-temanku. Aku tidak akan pernah melupakan betapa malunya aku di reuni kelas saat usiaku 18 tahun. "Bungamu cantik sekali." "Aku yakin primadona sekolah pasti akan menyukainya." Saat kami mengobrol, kami sudah sampai di depan hotel. Melihat bunga di tanganku, Stefani mengangkat kepalanya dengan angkuh. Usia 18 tahun memang penuh dengan kebanggaan. Meskipun dia tidak menganggapku serius, ada kepuasan dalam memiliki seseorang yang menyatakan cinta di depan umum. Namun, melihat Stefani, aku tidak merasakan apa pun. Perhatianku justru tertuju sepenuhnya pada ibunya, Tante Winda. Untuk melahirkan gadis secantik Stefani, jelas Tante Winda juga sangat menawan, meskipun usianya sudah bertambah. Hari ini, dia mengenakan kemeja berkancing hitam, rok pensil hitam, stoking warna kulit, dan sepasang sepatu hak tinggi. Pesona wanita dewasa terpancar sempurna darinya. Hanya wanita dewasa yang bisa mengenakan kombinasi itu dengan begitu elegan. Ada sesuatu yang tak tertahankan tentang dirinya. Mungkin karena usiaku sekarang, aku mulai lebih menghargai kecantikan wanita dewasa. Saat aku terus memandangnya, hormonku mulai bergerak liar. Istri guruku dulu juga sangat cantik! Apakah wanita dewasa memiliki daya tarik unik bagi anak muda? Saat itulah sebuah suara terdengar. "Sistem aktif." "Misi acak dirilis." "Stefani akan mempermalukanmu dalam pengakuan berikutnya." "Akuilah cintamu kepada ibu Stefani, Tante Winda." "Hadiah misi: uang tunai 100 Juta Rupiah." Suara itu membuatku tercengang. Ha? Sistem?Malam hari sebelumnya Sean termenung di dalam kamar tidurnya, setelah menghabiskan makan malam yang tak menyenangkan bersama Viona, ia masih terngiang-ngiang atas ucapan wanita itu.“Sebetulnya, seberapa dalam rahasia yang wanita itu ketahui? Siapa dia?!” rutuk Sean kesal. Ia dihadapkan pada situasi kebingungan, masalah yang bertubi-tubi ditambah pekerjaan yang menumpuk dan project-project dalam waktu dekat membuat kepalanya terasa akan pecah. Di dalam keheningan malam, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Sean terperanjat, dengan cepat ia mencari ponselnya yang ia buang ke sembarang arah di atas kasur tadi. Sean berharap bahwa itu adalah panggilan dari Bella, namun nihil, ternyata itu adalah panggilan telepon dari kakeknya, Thomas.“Sean! Bagaimana persiapan hari jadi perusahaan? Jangan sampai gagal! Karena kakek akan mengundang media-media ternama dan juga para pejabat pemerintahan,” ucap Thomas dari balik telepon.Sean memijat pelipisnya yang nampak pe
Tanpa terasa hari pun berlalu, Bella belum memutuskan untuk kembali ke mansion, ia masih bermalam di apartemennya. Disamping itu, ia juga sibuk menyelidiki Viona bersama Ronald setelah selesai bekerja. Mulanya Bella merasa khawatir ia takut Sean akan curiga padanya dan menyusul atau bahkan mengancamnya. Namun setelah Sean mencoba melakukan panggilan padanya kemarin, tak ada lagi kabar darinya. Bahkan Sean tak masuk hari ini, Bella yang masuk kerja seperti biasanya merasa terkejut dengan ketidakhadiran Sean yang sudah tersohor Tiran dalam pekerjaan.Bella beberapa kali memberikan report pekerjaan, mengirim jadwal dan sebagainya kepada email Sean namun suaminya itu tak membalas pesannya sama sekali. “Ada apa dengannya? Dia sungguh aneh sekali. Bahkan dia tidak menanyaiku lagi tentang alasan mengapa aku tidak kembali ke mansion, apakah karena sosok Viona itu?”“Ah sudahlah! Aku harus fokus pada acara besok yaitu perayaan hari jadi Wiratama. Persiapan sudah 90%, tinggal aku memantau ke lo
Ronald membuka buku catatan usang itu, di dalamnya terlihat goresan tinta yang sudah setengah memudar. Ia memicingkan matanya kala mengeja sebuah nama yang sudah ia hafal betul, Mardie Setya. Di pojok kanan bawah terdapat goresan garis yang menampilkan sebuah tanda tangan. “Tunggu, bukankah ini tanda tangan Ayah?! Mengapa?!”Ronald membaca satu demi satu halaman pada buku itu, terlihat lokasi, tanggal dan tahun tertera di ujung kanan atas. Sementara di bawahnya terlihat catatan-catatan kecil mengenai kegiatan yang dilakukan. Mulanya Ronald hanya membacanya sekilas, namun tepat pada halaman ke sepuluh tertulis tanggal 11 Agustus tahun 2008, isi dari catatan itu mulai terasa aneh. Terlihat tulisan tangan yang sedikit berantakan seperti ditulis secara terburu-buru dan juga isi catatan yang memuat kata-kata keji, penuh umpatan dan juga dendam. Mardie menulis bahwa ia merasa sakit hati pada Chandra dan berniat memberi majikannya itu pelajaran. Kemudian satu minggu selanjutnya dalam catata
Irwan menengadah, tak terlihat raut cemas dalam wajahnya. “Kau tak tahu apa-apa, bocah! Kau tak akan pernah tahu! Hahaha!”“Kau!” Ronald menendang kursi tersebut, membuat Irwan terjengkang. “Jangan pernah macam-macam dengan Wiratama! Atau kau akan menanggung akibatnya!”“Aku tak peduli! Hahaha!” Irwan membelalakkan matanya, raut wajahnya berubah menakutkan. Urat-urat wajahnya menegang dan tawanya menggelegar ke seluruh penjuru rumah yang kosong tanpa perabotan apapun di dalamnya. “Kau! Mau membunuhku? Aku tak takut! Wiratama? Aku tak takut pada mereka! Aku tak punya apapun yang tersisa! Ambillah! Kau ambil saja nyawaku sekalian!” pekik Irwan.Ronald mengeram, ia mengepalkan tangannya hingga buku kukunya memutih. “Baiklah, jika kau tak mau membuka suara, apa aku harus menaruhkan anak dan istrimu juga?!”“Anak istriku?” ucap Irwan, “Kau sepertinya hanya orang bodoh yang tak tahu apa-apa! Istri dan anakku yang telah meninggalkanku, mereka sudah mati tiga hari yang lalu, bodoh! Hahaha! Ka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.