Share

Negosiasi

Author: Aisyah Ahmad
last update Huling Na-update: 2025-11-20 23:33:19

"Ibuuuu, ya Allah Ibu, Ayah, kok bisa ada di sini?"

"Terus... Ini apa-apaan, kenapa kalian pegangin ibu saya seperti ini! Ada apa ya? Kalian ini siapa?" tanya Alin panik.

Para lelaki berbadan kekar, berseragam hitam-hitam itu masih memegangi erat Ayah dan ibu Alin, sampai akhirnya Rizan mengeluarkan suara baritonnya, dan memerintahkan orang-orang itu untuk melepaskan Ayah dan Ibu Alin

"LEPASKAN!"

"baik, Tuan!" jawab mereka serempak.

"Dasar, Bodoh! Saya menyuruh kalian untuk menjemput mereka, bukan menculik mereka!"

"M m maaf tuan, kami pikir, mereka ini musuh dan tawanan Tuan!" jawab salah satu dari mereka, mewakili semuanya.

"Mas, jadi... Mereka ini suruhan kamu, Mas?" Alin melirik ke arah Rizan yang masih tampak datar ekspresinya.

"Alin, mereka ini siapa sih? Apa kamu membuat masalah di kota? Dasar bodoh! Kamu di suruh kerja malah bikin masalah!" umpat Ayah Alin.

"Eng... Eng.. nggak yah!"

"Terus apa? Ngapain kamu ada disini? Bukannya kamu kerja sama Hesti! Jangan bikin masalah kamu, nyusahin aja bisanya!"

"Iya, Nak. Kamu ngapain ada disini? Dan mereka ini siapa? Apa yang kamu lakukan terhadap orang -orang kota ini?" sambung Ibu Alin

"Eum.. Bu... "

"Saya calon suami Alin!" ucap Rizan menyela, sembari mengulurkan tangan ke Ibunya Alin.

"Hah? Calon suami?! Enak aja! Anak saya ini baru lulus sekolah! Dia baru saja bekerja, belum juga menghasilkan, sudah maen nikah nikah aja! " ucap Ayah Alin tak terima.

"Nggak bisa! Dia harus bekerja! Saya... Banting tulang menyekolahkan dia, nggak sedikit biaya yang sudah saya keluarkan!"

"Ayah!!!" ibu Alin menyela. Tapi tangannya langsung di tepis oleh Ayah Alin.

"Tidak. pokoknya, Alin harus bekerja! Dia belum balas budi kepada kami yang telah merawatnya! Ayo Alin! Pulang balik kerja lagi!" ucap Ayah Alin sembari menarik tangan Alin.

Beberapa langkah dari tempatnya, suara bariton Rizan menghentikan langkah Ayah Alin.

"Baik, kalau anda membawa pulang Alin, Anda harus ganti rugi, dua kali lipat dari uang yang saya keluarkan. sebesar 4 M! Karena saya sudah membelinya dari tempatnya sebesar 2 M!"

Ayah Alin pun berhenti seketika. Di depannya, beberapan orang suruhan Rizan juga sudah bersiaga untuk menghalangi mereka.

"A a a apa apaan ini?" tanya Ayah Alin kaget. Rizan pun mendekat ke Ayah Alin.

"Ya, saya sudah membeli anak anda! Kalau Anda mau mengambilnya balik ya ganti rugi uang saya.

" M M M mari, kita bicarakan di dalam," ucap Ayah Alin langsung berubah haluan.

"Ayah... Tapi... "

"Sudahlah Al... Ini semua juga gara-gara kamu, kan! Mana punya Ayah uang segitu buat nebus kamu ! Lagian, ngapain kamu cari perkara sama orang kaya! Resiko!" ucap Ayah Alin.

"Eh Al... Tapi... Ayah pikir-pikir, sepertinya boleh juga kamu menikah kalau sama orang sekaya ini! Ini kesempatan buat kamu Al, buat hidup enak! Dia saja mampu membayarmu 2 M! Waaaah, nggak kebayang. Jatah bulananmu pasti ada 100 juta! Jangan lupa bagi ayah ya! Yaaa, minimal setengahnya lah!"

"Mas, kamu ini apaan sih!" ucap Ibu Alin

"Ya biarin to... Orang kita juga merawat Alin dari...

" Mas!"

"Argh! Sudahlah, pokoknya begitu!"

Mereka pun berjalan di giring memasuki rumah yang mungkin puluhan kali lipat besarnya dari rumah keluarga Alin di kampung. Ayah Alin memandanginya dengan takjub. Beberapa kali ia memuji interior, dan furnitur-furnitur yang terlihat mahal itu.

Di pojok sana, terdapat sebuah sofa besar, dan disana, Rizan duduk dengan santainya. Lalu menyuruh orang-orangnya untuk membawa keluarga Alin ke hadapannya.

"I i ini rumah kamu?"

"Ya, rumah saya." jawab Rizan dingin.

"Besar sekali. Oh ya, baiklah... Jadi... Kapan kamu akan menikahi anak saya? Tapi saya mau... Kamu memberi mahar 5 M!"

"Ayah...!!"

"Ssst! Biarlah! Kamu tuh masih gadis, pantas lah kalau harganya mahal!"

"Gimana? Kamu sanggup?" tanya Ayah Alin lagi pada Rizan.

Sejenak suasana hening, lalu Rizan tampak menepuk tangan, dan keluarlah beberapa orang dengan membawa sebuah koper. Menyerahkannya kepada Rizan dan Rizan membukanya di hadapan ayah Alin.

Di dalam koper itu, terdapat tumpukan uang merah, yang membuat mata Ayah Alin langsung terbelalak. Baru pertama kali ini, Pak Rustam melihat uang sebanyak itu.

Matanya berbinar, tangannya terulur untuk mengambil uang itu, tapi segera di tarik lagi oleh Rizan, membuat Ayah Alin terkejut.

"Uang ini hak Alin bukan? Dia kan yang menikah, bukankah mahar itu untuk mempelai wanita?"

"Ck. I I iya... Saya kan cuma mau lihat saja. Saya mau memastikan bahwa itu uang asli! Bukan palsu!" ucap Ayah Alin tampak kesal. Sementara wajah Rizan, seolah menunjukkan ekspresi muak dengan sikap Lelaki tua itu.

"Kalau... Kalau untuk bulanannya, bagaimana? Alin ini kan masih punya orang tua. Otomatis, dia masih ada tanggungan kepada kami, yang...

Belum sempat Ayah Alin melanjutkan ucapannya, Rizan sudah mengeluarkan sebuah koper satunya lagi yang di bawa orangnya Rizan. dari dalam situ, juga ada beberapa tumpuk uang, walau tidak sebanyak koper satunya,

"10 juta cukup kan?"

"Eum... Tambahin, dong... yakali... Rumah segede ini, mobil berjejer, ngasih orang tua cuma... "

"20 juta saya rasa cukup!?" ucap Rizan memotong ucapan Pak Rustam. Dan meletakkan beberapa tumpuk di hadapan Ayah Alin.

"Ya udah deh, 20 juta. Tapi kalau... "

"Mas!!! Udahlah... Apa-apaan sih kamu itu!"

"Apa? Kira-kira kamu juga ikut nikmatin kan, udahlah jangan banyak protes!"

"Ayaaah... !!!"

"Apalagi kamu!!! Diam! Nurut sama Ayah! Sama calon suami kamu!"

"Tapi Mas, Alin masih terlalu kecil... Apa nggak sebaiknya di tunda dulu pernikahannya, sampai beberapa tahun ke...".

"Saya rasa pembahasan kita sudah selesai! Baron! Teddy!!! Antar mereka pulang!" ucap Rizan pada dua orang suruhannya.

"Baik, Tuan!"

"Loh... Loh... Tapi... Tapi... Ibu... Ibu... Mas, Mas Rizan! Kok ibu di bawa pualng?!"

"Alin... Alin...!" ucap Bu Hanum , seolah masih belum ingin berpisah dengan anaknya.

" Ya mereka memang harus pulang. Sudah selesai kan, mereka sudah tahu kan, kalau kamu akan menikah besok?"

"Iya justru itu, karena besok saya menikah, kenapa ibu saya harus pulang?"

"Orang tuamu cukup tahu, tidak perlu hadir!" ucap Rizan, lalu ia bangkit dan berjalan begitu saja menaiki tangga menuju lantai atas. sementara Alin tidak mengerti jalan cerita orang satu itu. Bagaimana bisa orang tuanya tidak hadir. Lalu walinya siapa? Pikir Alin. Alin pun ingin, ibunya ada di sampingnya saat akad.

Alin tak berpikir panjang, ia langsung berlari keluar mengejar ibunya yang tadi di paksa keluar oleh orang-orang suruhan Rizan. Tapi sayang, Tiba di pintu rumah itu, Alin di hadang sehingga tak bisa keluar. Sementara ia hanya bisa memandang dari kejauhan, ibunya di bawa ke mobil kembali untuk di antar pulang.

"Ibuuuuu!!!!"

"Aliin...!!!"

Kedua wanita itu tampak saling pandang. Kedua matanya berkaca-kaca. Kemudian Alin mencari akal, bagaimana caranya dia bisa keluar.

"Pak... Tolong... Tolong banget. Saya cuma ingin memeluk ibu saya." ucap Alin pada dua orang yang menghadangnya di pintu.

"Tidak bisa, Nona. Tuan Rizan menyuruh kami untuk menjaga Nona agar tidak kabur."

"Demi Allah, saya tidak akan kabur kok. Saya cuma mau memeluk ibu saya. Sebentaaaar saja!"

"Tidak bisa!"

Alin diam sejenak. Lalu tiba-tiba....

'Aaaaaaaa!!!!' Alin menginjak kaki mereka dengan heels nya, saat mereka merintih kesakitan, Alin pun berlari keluar mengejar ibunya.

"Ibuuuuu!!!!"

Ibunya menoleh, lalu Alin langsung menghambur ke pelukan ibunya.

"Hik hik... Ibu... Ibu jangan pergi, Alin takut... "

"Sayang... Ibu tidak kemana-mana. Ibu ingin disini. Tapi kamu tahu sendiri kan. Ibu janji besok akan datang kesini lagi, ya? Kamu jangan nangis. Cantiknya ibu kalau nangis nanti cantiknya hilang lho..." ucap ibu Alin sembari mengusap wajah Alin yang penuh air mata.

"Agrh!!! Sudahlah kalian jangan banyak drama! Ayo bu! Kita pulang! Jangan bikin masalah sama Tuan Rizan!" ucap Ayah Ali sembari menarik tangan ibu Alin hingga ibu Alin pun langsung masuk ke mobil.

Orang suruhan Rizan langsung menutup pintu mobil itu, dan menyalakan mesinnya.

Hati Alin semakin sesak, apalagi ketika mobil itu menjauh meninggalkannya.

"Ibuuuuuuuuuu"

"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Ibu akan datang lagi !!!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Gadis Malam   Kartu Hitam untuk Alin

    Beberapa menit berlalu. Hening kembali turun. Alin masih menatap piringnya yang sudah mendingin, tanpa selera. Sendok di tangannya berhenti bergerak sejak tadi.Langkah kaki terdengar lagi.Alin mendongak pelan. Rizan kembali muncul di ambang pintu. Ia berjalan mendekat, namun tidak mengambil tempat duduknya. Ia hanya berhenti di sisi meja, berdiri tegap sambil mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya.Hitam. Polos. Berkilau.Tanpa kata-kata pembuka, kartu itu diletakkan tepat di depan Alin.“Untukmu,” ucap Rizan dingin.Alin menatap kartu itu, lalu menatap Rizan. “I-Ini… apa?”“Kamu bisa pakai itu untuk keperluanmu,” jawabnya singkat. “Apa pun yang kamu mau.”Alin terkesiap kecil. Tangannya ragu saat menyentuh kartu itu. Sebuah kartu berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Rizan melanjutkan tanpa jeda, nada suaranya tetap tenang. Tapi tak memberi ruang untuk membantah.“Kalau kamu bosan di rumah, kamu boleh keluar.”Alin mengangkat wajahnya cepat. Ada kilatan harapan

  • Menikahi Gadis Malam   Penjara Sunyi

    "Astaga ! Apa aku kesiangan ?!"Pagi datang tanpa suara.Tak ada alarm. Tak ada ketukan pintu. Hanya cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai tebal, jatuh perlahan di wajah Alin. Matanya terbuka, tapi tubuhnya masih kaku. Beberapa detik ia tak bergerak, seolah takut kenyataan akan menyergap begitu ia benar-benar sadar.Lalu ingatannya kembali utuh.Akad. Tangis. Ibu yang pergi.Dan kamar ini.Alin bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Dan..."Hah ??? Tunggu !!!" Gaun pengantinnya sudah diganti. Kini ia mengenakan daster lembut berwarna pucat. "Bukannya semalam aku... Siapa yang mengganti pakaianku ? Jangan-jangan... nggak. Nggak. Nggak mungkin lah !" Ia segera membuang pikirannya jauh-jauh.Semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu sunyi.Ia menoleh ke arah sofa.Kosong.Tak ada Rizan.Entah mengapa, perasaan yang muncul bukan lega, melainkan… asing. Seperti bangun di rumah orang lain, tanpa tahu batas mana yang boleh ia lewati.Alin berdiri, melangkah pelan ke jendela. Tirai b

  • Menikahi Gadis Malam   Pernikahan Sang Pewaris

    "Mas, Kamu yakin mau jadi Wali nikah Alin ?" Setelah oerdebatan yang lumayan panjang dan alot. Akhirnya Pak Rustam dan Bu Hanum kembali ke dalam gedung itu. Semua hadirin kembali menatap dua manusia yang kini berjalan mendekat ke meja akad. Sementara Alin, matanya masih berkaca-kaca sembari menatap sang ibu, seolah meminta pertolongan. “Maaf telah menunggu. Saya selaku ayah Alin, dengan ini mewakilkan hak perwalian nikah kepada Bapak Hakim.” "AYAH ???!!" Alin shok. Dia kaget Ayahnya mengatakan itu. "Ayah ? Ada apa ini ? Kenapa ? Saking tidak sayangnya kah Ayah kepada Alin, sampai Nikah pun, Ayah tidak mau jadi wali Alin ?" tanya Alin dengan suara bergetar. Awalnya, ia sedih karena espektasi Alin, ibunya membatalkan pernikahan itu, tapi lebih sedih dan kecewa lagi, Dalam pernikahan yang bukan kemauannya itu Ayahnya juga tak mau jadi wali. "Kenapa, Ayah ?" Bu Hanum segera berjalan mendekati Alin dan berusaha menenangkan Alin. "Bu, Ayah kenaoa sih bu, kalau memang kalian tidak m

  • Menikahi Gadis Malam   akad yang tertunda

    "Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat."Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat."Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang.""Hah ? T-tapi...""Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di beberapa sudut ruangan. Kesannya modern, rapi, tapi tetap punya aura dingin yang elegan. Lampu-lampu putih kebiruan dipasang redup, membuat ruangan terasa tenang dan tidak menyilaukan. Tidak ada bunga berlebihan.Hanya jajaran anggrek putih, hydrangea biru gelap, dan beberapa rangkaian mawar abu keperakan di sepanjang lorong utama. Aromanya lembut, mahal, dan tidak menusuk hidung. Musik violin mengalun pelan, seperti soundtrack film classy. Para tamu. sekitar lima puluh orang saja, berdiri rapi

  • Menikahi Gadis Malam   Persiapan pernikahan

    Pagi merayap masuk perlahan, menembus tirai tipis berwarna gading. Cahaya keemasan itu jatuh di pipi Alin, membuatnya meringis kecil sebelum akhirnya membuka mata. Pandangannya masih buram, tapi detik berikutnya tubuhnya menegang. Ini… bukan kamarnya tadi malam. Alin terduduk cepat. Rambutnya berantakan, napasnya terengah karena panik yang tiba-tiba menghantam. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan inderanya tidak berkhianat. Kamar itu… terlalu luas. Terlalu bersih. Terlalu mewah. Dinding krem dengan ukiran elegan, karpet tebal yang tampak baru, dan aroma bunga segar yang memenuhi udara. semua mengisyaratkan satu hal, Hotel berbintang lima. Ia buru-buru menyingkap selimut tebalnya. Matanya membesar sesaat, lalu bahunya mengendur lega. Baju yang ia kenakan masih utuh. Tidak ada yang tersentuh. Tidak ada yang berubah. Syukurlah… Namun rasa lega itu hanya bertahan sekejap. Ketika menoleh ke kiri, ia melihat rangkaian dekorasi lembut di atas meja rias. mawar putih, pita

  • Menikahi Gadis Malam   Hentikan ingin tahumu

    “Mas, kamu tahu… besok Rizan mau menikah!!!” Faruq mengernyit sekilas, kemudian duduk santai di sofa, menyilangkan kaki seolah berita itu bukan apa-apa.“Oh… ya bagus dong. Semakin cepat dia menikahi Raisa, semakin gampang kita kuasai Atmajaya Group. Tanpa perlu kita kotori tangan kita ini.” Valerian mendesis, “Aduuuh mas! Masalahnya Rizan menikahnya bukan sama Raisa, Mas!” Faruq spontan bangkit.“Apa?! Terus sama siapa? Anak siapa? Dari perusahaan mana?” Valerian mengusap wajahnya frustasi.“Ck! Sama wanita kampung, Mas. Yang dia bawa dari klub malam!” Rahang Faruq terhenti di tengah gerak. Ia perlahan menatap istrinya, tatapan yang turun beberapa derajat lebih dingin dari sebelumnya.“Katakan sekali lagi.” suaranya rendah, terkontrol, tapi bahaya bergetar halus di baliknya. Valerian mengangkat dagu, menahan geram.“Wanita. Kampung. Dari klub malam. Yang entah dapat keberanian dari mana sampai bisa dibawa masuk ke lingkaran Atmajaya.” Kini ruangan modern itu terasa seperti men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status