Share

Siapa Dia...

Author: Aisyah Ahmad
last update Huling Na-update: 2025-11-22 22:23:48

Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.

“Ibu…”

Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.

Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang. Ia menelan semua tangis yang masih tersisa, lalu mengepalkan tangan. Dengan kaki gemetar, ia mengejar sosok pria yang sudah menaiki satu anak tangga.

“Mas Rizan! Mas Rizan! Tunggu!”

Rizan berhenti. Menoleh. Tatapannya dingin, tak peduli.

Alin menahannya dengan berdiri tepat di depan.

"Mas, kenapa sih, Mas Rizan perlakukan orang tua Alin kayak gitu? Kenapa Mas Rizan kasar dengan orang tua Alin ? Bukankah kalau memang besok kita jadi menikah, mereka juga jadi orang tua mas Rizan? Kenapa mas Rizan perlakukan mereka seolah-olah, orang tua Alin itu sampah! Oh, apa karena orang tua Alin dari kampung, begitu mas? Dengan seenaknya Mas Rizan perlakukan orang tua Alin seperti itu?! Kenapa juga orang tua Alin, cuma di jemput, setelah itu di antar pulang lagi? Kalau emang besok kita menikah, memangnya bisa, menikah tanpa wali? Hem?" tanya Alin beruntun.

"Sudah? Sudah nyerocosnya?"

"Kenapa? Jawab, Mas!"

Rizan tampak menghela nafas, "Kamu yakin. Mereka orang tua kandungmu "

"HAH ? Mas Rizan... a-apa maksudmu ngomong seperti itu ? Jelas lah. Mereka orang tua Alin. Mereka yang merawat Alin sejak kecil. Atas dasar apa kamu bilang seperti itu ?"

Rizan menatap Alin lalu tersenyum miring "Yakin?"

"Ya- y yakin." jawab Alin terbata.

"Apaan sih mas ! Ini nggak masuk akal tau ! Coba jelaskan. Kenapa Mas Rizan bisa ngomong begitu, hm ??? Kita saja baru kenal. Bis-"

Belum sempat Alin melanjutkan ucapannya, Rizan segera membekap mulut Alin agar terdiam. Dan kini tatapan mereka saling bertemu. Beberapa saat,

Ting nong !!!

Mereka di kagetkan dengan bunyi bel rumah. Seketika Rizan pun menarik diri dan menjauh daei tubih Alin dengan sedikit gugup.

"Kami masuk, sana !"

"Kenapa ? Siapa yang datang ?"

"Sejak kapan. Tamu saya jadi urusanmu ?" tanya Rizan sembari menatap wajah Alin dengan tajam.

Alin pun langsung menciut dan nurut. "Oke, baiklah..."

Alin mengembuskan napas panjang, kesal tapi tak berani menunjukkan lebih banyak perlawanan. Ia menoleh sekilas ke arah pintu yang masih tertutup, penasaran siapa yang datang. Tapi tatapan tajam Rizan barusan cukup membuatnya diam. Dan akhirnya ia nurut untuk ke kamar atas.

Alin mendongak ke arah tangga berlapis marmer yang menjulang tinggi. Sekilas, ia melihat pintu lift di sudut.

"Lift ? Hmm... aku lebih baik capek menaiki tangga dari pada harus terjebak didalam kotak itu sendirian!"

Dengan napas berat, ia mulai melangkah.

Setiap pijakan terasa menambah beban di dadanya. Bukan hanya karena jaraknya yang jauh, tapi karena kenyataan hidup yang baru saja berubah drastis.

Begitu tiba di lantai atas, Alin langsung mengembuskan napas panjang dan membuka pintu kamar yang telah disiapkan untuknya. Kamar luas, mewah, dan asing. Bau wangi yang mahal memenuhi hidungnya.

Ia melempar tubuhnya ke atas kasur empuk. Tatapannya kosong ke langit-langit.

“Tiga hari lalu… aku masih menunggu pengumuman penerimaan Mahasiswa,” gumamnya lirih. “Sekarang? Aku harus menikah dengan pria yang bahkan aku tidak kenal. Tapi... ya... aku juga harus berterimakasih padanya. Kalau bukan karenanya mungkin sekarang nasibku berujung tragis di tempat terkutuk itu!"

Ia bangkit pelan, membuka lemari besar yang berdiri angkuh di sudut ruangan. Tas lusuhnya seolah tampak sangat murahan di dalam sana. Ia mengambilnya, merogoh hingga menemukan selembar foto keluarga.

Alin duduk di tepi ranjang. Jemarinya mengusap wajah kedua orang tuanya di foto itu.

“Ibu…”

Suara itu hampir tak terdengar.

Namun, Saat melihat wajah ayahnya di foto itu, ucapan Rizan tadi kembali terngiang.

“Kamu yakin. Mereka orang tua kandungmu?”

Sekujur tubuh Alin menegang. Rasa nyeri menghantam dadanya begitu saja.

“Apa maksudnya mengatakan hal seperti itu?”

Napasnya mulai tak teratur.

“Mereka merawatku sejak aku lahir. Ya, Mereka orang tuaku.”

Suaranya bergetar.

“Dia tidak tahu apa-apa tentang aku.”

Lalu dia diam sesaat... hingga memori-memori kecil itu kembali terputar. Mengingatkan momen-momen saat bersama orang tuanya. Terutama Ayahnya.

Alin memejamkan mata, berharap pikirannya bisa tenang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kenangan-kenangan lama itu menyeruak, satu per satu menyeretnya kembali pada masa kecil yang selalu ingin ia lupakan.

Ia ingat saat usianya lima tahun. Ketika ia pulang dari PAUD dengan bangga membawa gambar rumah sederhana yang telah ia warnai sendiri. Ia berlari kecil menuju ayahnya yang baru saja pulang kerja.

“Ayah! Ini gambar Alin buat Ayah!”

Ia tersenyum, matanya berbinar penuh harapan.

Ayah hanya menatap sekilas, alih-alih tersenyum bangga, ia malah mengerutkan kening.

“Rumah kok warnanya pink begini? Tidak bagus. Kamu tidak rapi.”

Kertas itu direbut dari tangan kecilnya, diremas, lalu dibuang ke atas meja begitu saja. Sementara ketika Adit pulang dengan ranking tiga di kelasnya, ayah menyambut dengan tepukan di bahu dan pujian berderet-deret.

“Anak lelaki harus jadi kebanggaan keluarga,” katanya.

Seolah-olah Alin tidak pernah bisa menjadi kebanggaan siapa pun.

Ia juga ingat ketika sedang sakit demam tinggi. Tubuhnya menggigil. Ia memanggil-manggil ayah yang sedang menonton televisi.

“Ayah… kepala Alin sakit…”

Ayah tak menoleh.

“Tidur saja sana. Jangan manja.”

Tapi ketika Adit bersin dua kali saja, ayah langsung panik, membopongnya ke dokter, seolah dunia akan runtuh bila putra kesayangannya terserang penyakit.

Dan momen yang paling membekas itu—yang bahkan hingga kini masih membuat Alin merasa dadanya dihantam palu setiap mengingatnya.

Hari ketika ia mendapat juara pertama lomba menyanyi antar-sekolah. Ia membawa piala emas, berlari pulang dengan semangat luar biasa. Ibunya memeluknya keras, bangga dan terharu. Tapi ayah… ayah justru menatapnya tanpa perasaan.

“Juara menyanyi? Untuk apa? Perempuan tidak perlu banyak gaya. Lebih baik kamu belajar masak dan bantu Ibu di rumah.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun yang pernah ia rasakan.

Dan saat itu pula ia melihat Adit berdiri di belakang ayah, menggenggam sertifikat juara harapan lomba olahraga. Ayah mengelus kepala Adit sambil berkata,

“Ini baru hebat. Laki-laki sejati.”

Sementara Alin… berdiri di sana dengan piala mencolok di tangan yang rasanya kini lebih mirip sampah.

Kenangan itu seperti belati yang terus mengiris.

Matanya panas. Tenggorokannya tercekat.

Karena… mungkin untuk pertama kalinya… ia mulai meragukan sesuatu yang selama ini ia bela mati-matian.

"Apakah benar mereka orang tuaku?"

"Arghh !!! Ayolah Alin. Apa sih yang kamu pikirkan. Ini terlalu konyol !!!"

"Nggak mungkin lah !!! Memangnya aku ini anak siapa kalau bukan anak mereka ?! Ada-ada saja !"

"Harusnya aku percaya saja sama ibu, Ayah... sebenarnya sayang kok sama aku. Hanya saja... memang begitu cara ayah menyayangiku" ucap Alin. Lantas ia kembali memasukkan foto orangtuanya ke dalam tas. Sembari mengusir perasaan yang tak enak itu.

Alin mengusap wajahnya kasar, seolah bisa menghilangkan seluruh pikiran aneh yang melintas.

“Sudahlah, Lin… kamu cuma terlalu lelah,” gumamnya lagi.

Ia menarik napas panjang, lalu bangkit dari ranjang. Langkahnya pelan, menuju jendela kaca besar di kamarnya. Tirai tipis itu ia singkap sedikit, sekadar ingin menghirup udara segar malam.

Namun yang terlihat justru membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Pria-pria berbadan kekar berdiri berjajar di halaman bawah. Ada banyak. Dua belas… atau lebih. Semua mengenakan pakaian serba hitam. Tatapan mereka tajam, penuh kewaspadaan. Beberapa membawa sesuatu di pinggang, yang Alin yakini bukan benda baik-baik.

Pemandangannya seperti adegan film mafia yang selama ini hanya ia lihat di layar kaca.

Alin menelan ludah, tengkuknya meremang.

Siapa mereka…?

Semua orang itu seolah menunggu perintah. Tegang. Hening. Dan kemudian—seorang pria tinggi dengan postur yang sangat ia kenali muncul di antara mereka.

Rizan.

Wajahnya gelap, tanpa sedikit pun gurat santai seperti tadi siang. Sorot matanya… dingin. Berbahaya. Aura yang ia pancarkan membuat siapapun pasti memilih menunduk dan tidak menantang.

Alin terperangah. Dunia yang ia lihat di bawah sana… sangat berbeda dari dunia yang selama ini Rizan perlihatkan di hadapannya.

Ia ingin menjauh dari jendela, tapi justru tubuhnya tak bisa bergerak.

Penasaran dan takut menubruk tanpa ampun dalam dirinya.

"Rizan… sebenarnya siapa kamu?"

Alin memegang tepian tirai lebih erat. Napasnya tercekat, tapi matanya tak bisa lepas.

Rizan mengangkat tangan pelan dan seketika para pria itu serempak membungkuk, memberikan hormat.

Degh...

Alin merasa perutnya seperti dikocok dari dalam.

Sisi sarkas, nyebelin, dan dingin Rizan selama ini… ternyata baru kulit luarnya.

Yang berdiri di bawah sana… adalah pria yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan.

"Jangan-jangan... Hah, apakah dia orang jahat ?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Gadis Malam   Kartu Hitam untuk Alin

    Beberapa menit berlalu. Hening kembali turun. Alin masih menatap piringnya yang sudah mendingin, tanpa selera. Sendok di tangannya berhenti bergerak sejak tadi.Langkah kaki terdengar lagi.Alin mendongak pelan. Rizan kembali muncul di ambang pintu. Ia berjalan mendekat, namun tidak mengambil tempat duduknya. Ia hanya berhenti di sisi meja, berdiri tegap sambil mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya.Hitam. Polos. Berkilau.Tanpa kata-kata pembuka, kartu itu diletakkan tepat di depan Alin.“Untukmu,” ucap Rizan dingin.Alin menatap kartu itu, lalu menatap Rizan. “I-Ini… apa?”“Kamu bisa pakai itu untuk keperluanmu,” jawabnya singkat. “Apa pun yang kamu mau.”Alin terkesiap kecil. Tangannya ragu saat menyentuh kartu itu. Sebuah kartu berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Rizan melanjutkan tanpa jeda, nada suaranya tetap tenang. Tapi tak memberi ruang untuk membantah.“Kalau kamu bosan di rumah, kamu boleh keluar.”Alin mengangkat wajahnya cepat. Ada kilatan harapan

  • Menikahi Gadis Malam   Penjara Sunyi

    "Astaga ! Apa aku kesiangan ?!"Pagi datang tanpa suara.Tak ada alarm. Tak ada ketukan pintu. Hanya cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai tebal, jatuh perlahan di wajah Alin. Matanya terbuka, tapi tubuhnya masih kaku. Beberapa detik ia tak bergerak, seolah takut kenyataan akan menyergap begitu ia benar-benar sadar.Lalu ingatannya kembali utuh.Akad. Tangis. Ibu yang pergi.Dan kamar ini.Alin bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Dan..."Hah ??? Tunggu !!!" Gaun pengantinnya sudah diganti. Kini ia mengenakan daster lembut berwarna pucat. "Bukannya semalam aku... Siapa yang mengganti pakaianku ? Jangan-jangan... nggak. Nggak. Nggak mungkin lah !" Ia segera membuang pikirannya jauh-jauh.Semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu sunyi.Ia menoleh ke arah sofa.Kosong.Tak ada Rizan.Entah mengapa, perasaan yang muncul bukan lega, melainkan… asing. Seperti bangun di rumah orang lain, tanpa tahu batas mana yang boleh ia lewati.Alin berdiri, melangkah pelan ke jendela. Tirai b

  • Menikahi Gadis Malam   Pernikahan Sang Pewaris

    "Mas, Kamu yakin mau jadi Wali nikah Alin ?" Setelah oerdebatan yang lumayan panjang dan alot. Akhirnya Pak Rustam dan Bu Hanum kembali ke dalam gedung itu. Semua hadirin kembali menatap dua manusia yang kini berjalan mendekat ke meja akad. Sementara Alin, matanya masih berkaca-kaca sembari menatap sang ibu, seolah meminta pertolongan. “Maaf telah menunggu. Saya selaku ayah Alin, dengan ini mewakilkan hak perwalian nikah kepada Bapak Hakim.” "AYAH ???!!" Alin shok. Dia kaget Ayahnya mengatakan itu. "Ayah ? Ada apa ini ? Kenapa ? Saking tidak sayangnya kah Ayah kepada Alin, sampai Nikah pun, Ayah tidak mau jadi wali Alin ?" tanya Alin dengan suara bergetar. Awalnya, ia sedih karena espektasi Alin, ibunya membatalkan pernikahan itu, tapi lebih sedih dan kecewa lagi, Dalam pernikahan yang bukan kemauannya itu Ayahnya juga tak mau jadi wali. "Kenapa, Ayah ?" Bu Hanum segera berjalan mendekati Alin dan berusaha menenangkan Alin. "Bu, Ayah kenaoa sih bu, kalau memang kalian tidak m

  • Menikahi Gadis Malam   akad yang tertunda

    "Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat."Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat."Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang.""Hah ? T-tapi...""Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di beberapa sudut ruangan. Kesannya modern, rapi, tapi tetap punya aura dingin yang elegan. Lampu-lampu putih kebiruan dipasang redup, membuat ruangan terasa tenang dan tidak menyilaukan. Tidak ada bunga berlebihan.Hanya jajaran anggrek putih, hydrangea biru gelap, dan beberapa rangkaian mawar abu keperakan di sepanjang lorong utama. Aromanya lembut, mahal, dan tidak menusuk hidung. Musik violin mengalun pelan, seperti soundtrack film classy. Para tamu. sekitar lima puluh orang saja, berdiri rapi

  • Menikahi Gadis Malam   Persiapan pernikahan

    Pagi merayap masuk perlahan, menembus tirai tipis berwarna gading. Cahaya keemasan itu jatuh di pipi Alin, membuatnya meringis kecil sebelum akhirnya membuka mata. Pandangannya masih buram, tapi detik berikutnya tubuhnya menegang. Ini… bukan kamarnya tadi malam. Alin terduduk cepat. Rambutnya berantakan, napasnya terengah karena panik yang tiba-tiba menghantam. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan inderanya tidak berkhianat. Kamar itu… terlalu luas. Terlalu bersih. Terlalu mewah. Dinding krem dengan ukiran elegan, karpet tebal yang tampak baru, dan aroma bunga segar yang memenuhi udara. semua mengisyaratkan satu hal, Hotel berbintang lima. Ia buru-buru menyingkap selimut tebalnya. Matanya membesar sesaat, lalu bahunya mengendur lega. Baju yang ia kenakan masih utuh. Tidak ada yang tersentuh. Tidak ada yang berubah. Syukurlah… Namun rasa lega itu hanya bertahan sekejap. Ketika menoleh ke kiri, ia melihat rangkaian dekorasi lembut di atas meja rias. mawar putih, pita

  • Menikahi Gadis Malam   Hentikan ingin tahumu

    “Mas, kamu tahu… besok Rizan mau menikah!!!” Faruq mengernyit sekilas, kemudian duduk santai di sofa, menyilangkan kaki seolah berita itu bukan apa-apa.“Oh… ya bagus dong. Semakin cepat dia menikahi Raisa, semakin gampang kita kuasai Atmajaya Group. Tanpa perlu kita kotori tangan kita ini.” Valerian mendesis, “Aduuuh mas! Masalahnya Rizan menikahnya bukan sama Raisa, Mas!” Faruq spontan bangkit.“Apa?! Terus sama siapa? Anak siapa? Dari perusahaan mana?” Valerian mengusap wajahnya frustasi.“Ck! Sama wanita kampung, Mas. Yang dia bawa dari klub malam!” Rahang Faruq terhenti di tengah gerak. Ia perlahan menatap istrinya, tatapan yang turun beberapa derajat lebih dingin dari sebelumnya.“Katakan sekali lagi.” suaranya rendah, terkontrol, tapi bahaya bergetar halus di baliknya. Valerian mengangkat dagu, menahan geram.“Wanita. Kampung. Dari klub malam. Yang entah dapat keberanian dari mana sampai bisa dibawa masuk ke lingkaran Atmajaya.” Kini ruangan modern itu terasa seperti men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status