แชร์

Bab 34

ผู้เขียน: Lyla Veil
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-15 15:05:34

Setelah selesai mandi, aku berganti pakaian dan membuka pintu. Ternyata Bara masih duduk di sana, menungguku keluar.

“Sudah selesai?”

Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung berjalan menghampiriku dan meraih tubuhku yang memang masih kesulitan menjaga keseimbangan. Ia membawaku kembali ke kamar dan meletakkanku di ranjang dengan sangat hati-hati. Tak lama, ia kembali membawa botol minyak zaitun dan duduk di sisi ranjang.

Aku masih menatapnya dengan penuh prasangka. “Mas, mau apa?” tanyaku tegang
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 97

    Malamnya aku tertidur karena terlalu lelah, kali ini lelahku bukan hanya fisik tapi juga batin. Entah sampai kapan hukumanku ini berlanjut. Ya, aku mulai terbiasa dengan perlakuan penghuni mansion dan suami kontrakku itu. Mulai memupuskan harapan untuk kembali berumahtangga bersama Mas Bara.Aku memejamkan mataku, di sana, aku melihat sosok Mas Bara. Mas Bara yang sedang basah dengan keringat karena bekerja di ladang. Aku memanggilnya, “Mas Bara!” Pria itu menoleh, diam, dan menghampiriku. Tatapannya begitu dingin. Begitu tiba di hadapanku, ia langsung meraih wajahku dan mencium bibirku. Aku nggak siap tapi detik berikutnya aku hanyut dalam gairahnya.Mas Bara meraba tubuhku, tangannya semakin ke bawah ke bagian intimku. Ia mengusapnya tanpa menjeda ciuman kami. Satu desahan lolos dari mulutku. Pria itu mencium leherku, menjilatinya seolah ingin menyesap rasa di tubuhku. Dengan cepat tangannya menarik rokku, ia turun ke bawah san

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 96

    Langkah kakiku terasa begitu berat saat mengekor di belakang pelayan Nyonya Rika. Kayla sempat menatapku cemas dari tepi taman, melambaikan tangan pelan seolah memberiku dorongan keberanian.Mansion utama terasa begitu megah sekaligus menekan, sangat berbeda dengan suasana Paviliun Lavender yang damai. Melintasi pintu ukir besar yang menjulang tinggi, aroma wewangian melati yang lembut dan menenangkan menyergap indra penciumanku.Di ruang keluarga yang luas dan dipayungi lampu kristal raksasa, Nyonya Rika, selir utama Tuan Ananta duduk dengan postur tubuh yang begitu tegak dan anggun di atas sofa kulit. Penampilannya sangat terawat, menggunakan busana sutra yang elegan, memancarkan pesona seorang wanita bangsawan yang berkelas tinggi.Di sudut lain ruangan, tampak Yudistira berdiri bersedekap dada dengan senyum miring yang menyimpan niat terselubung saat melihatku melangkah masuk."Selamat siang, Nyonya Rika..." bisikku pelan, menunduk kaku di tengah ruangan.Nyonya Rika menyunggingka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 95

    Seharian ini, langkah kakiku terasa begitu ringan. Bunga-bunga asmara seolah bermekaran di dalam dadaku, menyapu bersih rasa nyeri di lutut dan telapak tanganku yang terbalut kasa. Setiap kali jemariku bergerak, kilau batu blue sapphire yang melingkar sempurna di jari manisku selalu berhasil memancing senyum tipis di bibirku.Cincin pemberian Tuan Muda Sinyo ini bukan sekadar perhiasan mewah. Bagi diriku yang hanyalah seorang pelayan sekaligus istri dalam ikatan kontrak, benda ini memberi sebersit harapan baru. Sebuah harapan manis bahwa perlahan namun pasti, aku mulai memiliki arti khusus dan tempat tersendiri di dalam hati pria bertopeng yang mirip Mas Bara.Saat menyapu koridor lantai bawah, beberapa pelayan menyapaku dengan senyum yang jauh lebih ramah dari biasanya. Perhatian Sinyo yang menggendongku kemarin rupanya sudah menjadi pembicaraan hangat di seluruh mansion, dan cincin di jariku seolah mempertegas batas tegas yang tak boleh diganggu siapa pun.Namun aku harus menyembunyi

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 94

    Melihat luka lecet yang memerah dan darah yang mulai mengalir di telapak tangan serta lututku, Tuan Sinyo tidak membiarkanku berdiri lebih lama. Tanpa sepatah kata pun, ia menyelipkan satu tangannya di belakang punggungku dan satu tangan lainnya di bawah lipatan lututku, merengkuh tubuhku secara bridal style. “T-Tuan... saya bisa jalan sendiri,” cicitku pelan, memegangi pundak bidangnya karena takut jatuh. Sinyo tidak menjawab. Ia tetap menggendongku menyeberangi jembatan batu dengan langkah lebar dan kokoh, membawaku kembali menuju Paviliun Lavender. Seluruh pelayan yang kami lewati menunduk dalam-dalam, tak ada satu pun yang berani bersuara melihat Tuan Muda mereka menggendong seorang gadis pelayan yang bersimbah luka. Saat kami memasuki Paviliun Lavender, Bu Diana dan Yumna yang sedang duduk di teras mendadak berdiri. Wajah mereka membeku kaget melihat Tuan Muda Sinyo berjalan santai sembari menggendongku dalam dekapan rapatnya. Pipi dan telingaku seketika terasa terbakar oleh

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 93

    Pagi harinya, rasa pegal di pinggang dan lemas di seluruh persendianku masih begitu terasa. Namun sebagai pelayan Paviliun Lavender, aku tidak punya alasan untuk berbaring lama. Setelah merapikan diri, aku bergegas pergi menuju area dapur belakang mansion untuk mengambil bahan makanan segar yang baru saja dikirim oleh pemasok.Aku memilih jalur jembatan batu di atas kali kecil dengan pemandangan yang indah. Jalan ini memang jalur terjauh untuk menuju dapur, tapi selalu terasa lebih tenang di jam-jam seperti ini. Namun, saat langkahku baru sampai di tengah jembatan batu yang membentang luas itu, sebuah bayangan melangkah tiba-tiba muncul memotong jalanku.Yudistira berdiri di sana. Ia menungguku tepat di tengah jembatan.“My Lavender,” panggilnya dengan suara yang teramat kukenal.Jantungku serasa melompat. Aku menghentikan langkah mendadak, mendongak, dan melihat tatapan intens Yudistira yang membuat bulu kudukku meremang. Dia sengaja berada di sini, dia tahu betul aku selalu lewat si

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 92

    Malam berikutnya, luka fisik dan lebam emosional di tubuhku belum sepenuhnya reda. Rasa nyeri di area intim akibat hukuman Sinyo semalam masih menyisakan rasa ketat setiap kali aku melangkah.Sekitar pukul satu malam, keheningan Paviliun Lavender menyelimuti seluruh sudut bangunan. Perutku yang perih akibat belum sempat makan malam memaksa langkahku mengayun pelan menuju dapur di lantai bawah. Suasana dapur amat hening dan remang, hanya diterangi lampu kecil di atas meja konter.Aku berharap, malam ini Tuan Sinyo memberiku hari libur dulu dari aktivitas panas di ranjang. Aku merasa sangat lelah, bukan fisik saja tapi juga jiwaku.Saat aku sedang mengunyah segigit semangka, sebuah bayangan tinggi besar mendadak melingkupi belakang tubuhku.Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan tegap mencengkeram pinggangku dari belakang, memutar tubuhku dengan kasar hingga punggungku terbentur tepian konter dapur yang dingin. Aroma parfum mahal itu langsung menyergap indraku.“T-Tuan Sinyo...” c

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 5

    Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status