Partager

Bab 34

Auteur: Lyla Veil
last update Date de publication: 2026-05-15 15:05:34

Setelah selesai mandi, aku berganti pakaian dan membuka pintu. Ternyata Bara masih duduk di sana, menungguku keluar.

“Sudah selesai?”

Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung berjalan menghampiriku dan meraih tubuhku yang memang masih kesulitan menjaga keseimbangan. Ia membawaku kembali ke kamar dan meletakkanku di ranjang dengan sangat hati-hati. Tak lama, ia kembali membawa botol minyak zaitun dan duduk di sisi ranjang.

Aku masih menatapnya dengan penuh prasangka. “Mas, mau apa?” tanyaku tegang
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 192

    Suara berirama dari monitor pemantau jantung menjadi satu-satunya irama yang mengisi kesunyian. Hari ini agendaku hanya untuk merawat suamiku saja. Semua aku pantau dari kamar rawat ini. Laptop terbuka di meja kerja, beberapa dokumen dan secangkir coklat hangat yang sudah mulai dingin.Aku melangkah mendekati jendela besar di sudut ruangan. Dengan perlahan, aku menarik tali gorden kain linen tebal, membiarkan tirai terbuka lebar. Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk, menerpa lantai dan menyinari ranjang tempat Mas Bara terbaring. Hangatnya sinar mentari pagi seketika menghapus kesan dingin yang sempat hinggap di ruangan ini.Aku berbalik menuju meja samping, menyalakan diffuser aromaterapi kecil. Minyak esensial beraroma kayu cendana dan bergamot, aroma khas menenangkan yang selalu dipakai Mas Bara di ruang kerjanya perlahan menyeruak, memenuhi udara dengan kehangatan yang begitu familiar.Di atas meja dorong medis, sebuah baskom stainless steel berisi air hangat dan handu

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 191

    Perjalanan kembali dari Rutan Polda menuju Rumah Sakit Medika Utama terasa hening. Di balik jendela mobil yang gelap, aku menyandarkan punggungku di sofa kulit. Membiarkan jemariku membelai lembut perut lima bulanku. Rasa puas setelah membungkam keangkuhan Yudhistira tidak serta-merta mengikis rasa lelah yang menumpuk di dalam diriku.Satu-satunya tempat yang ingin kutinggali saat ini hanyalah ruang perawatan VVIP, di samping pria yang menjadi alasan dari seluruh perjuangan keras ini.Namun, ketenangan yang kuharapkan seketika pecah begitu aku dan Hans melangkah keluar dari lift Lantai Tiga area VVIP.Dari ujung lorong bernuansa kayu hangat itu, suara teriakan penuh amarah bergaung keras, merusak ketenangan area khusus tersebut."Ini gila! Ini tindakan sewenang-wenang!" teriak seorang pria dengan nada tinggi penuh penolakan. "Saya ini dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit ini! Mana Silvia! Berani-beraninya menandatangani surat pemecatan dan mencabut rekomendasi izin prakti

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 190

    Begitu mendengar aku mengagendakan kunjungan ke Rutan Polda, Ibu Diana bersuara.“Silvia, untuk apa ke sana?”“Ada beberapa hal yang ingin saya perbincangkan dengan Yudhistira, Ma...” jawabku.“Tidak usah, Silvia. Dia hanya akan memberikan efek negatif untukmu... kasian cucu Mama,” cegah Ibu Diana.“Mama jangan khawatir. Toh Hans ikut dengan saya...” ujarku menenangkannya.“Iya Nyonya, saya akan menjaga Nyonya Silvia seperti saya menjaga nyawa saya sendiri.” Sergah Hans meyakinkan.Esok harinya aku dan Hans menuju Rutan Polda untuk bertemu Yudhistira, adik tiri suamiku.Ruang kunjungan khusus di Rumah Tahanan Polda kota terasa pengap dan temaram. Bau disinfektan murah bercampur kelembapan dinding beton yang kusam membuat suasana semakin menekan. Di balik meja kayu tebal yang membatasi area kun

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 189

    Tepat seperti dugaan Hans, Pak Aris sangat senang sekali dengan keinginanku untuk mengakuisisi Rumah Sakit Medika Utama. Pak Aris dan rekan segera bergerak dengan cepat untuk mewujudkan keinginanku yang pertama di kepemimpinanku di Ananta Group. Lebih mudah lagi karena Ananta Group punya saham di rumah sakit itu.Sementara aku kembali ke rumah sakit, kini rumah sakit itu sudah rumah utama untukku. Di mana Mas Bara berada, di situlah rumahku.Sore harinya, momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah Dr. Pram memberikan autorisasi penuh pasca-pemeriksaan akhir, tim bedah bergerak melakukan prosedur pelepasan ventilator untuk Mas Bara di ruang ICU.Begitu selang endotrakeal dilepas dan masker oksigen terpasang, refleks napas mandiri Mas Bara berjalan sangat lancar. Saturasi oksigennya bertahan stabil di angka sembilan puluh delapan persen. Setelah melalui masa observasi ketat dan terbukti kondisinya benar-benar stabil

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 188

    Hans menghentikan langkahnya.“Hah?! Nyonya mau membeli rumah sakit ini?” tanyanya meragukanku.Aku berhenti dan menoleh pada Hans.“Setelah aku pikir-pikir... dari pada aku jadi dokter residen lagi, mulai dari awal lagi dan bagaimana aku dengan mudah mengatur siapa dokter yang bisa masuk ke sini... juga memastikan kondisi Mas Bara dengan yang terbaik... kenapa tidak aku beli saja rumah sakit ini?”“Menurutmu... bagaimana, Hans?”Hans mengernyit lalu mengangguk berkali-kali.“Ide yang bagus, Nyonya. Anda bisa mendepak dokter tadi dari sini...”Aku tersenyum dan mengangguk.“Hans, jadwalkan ulang pemeriksaan dengan dokter lain. Kalau bisa dokter perempuan.”Hans mengangguk. “Baik, Nyonya...”Lalu kami melanjutkan melangkah menuju ICU.Langka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 187

    Perut lima bulanku yang kian membuncit kembali berdenyut pelan, menagih perhatian yang kerap terabaikan. Hari ini jadwal pertamaku adalah bertemu dengan dokter kandungan dengan perjanjian. Hans sudah mengatur semuanya kemarin jadi pagi ini, aku bersama Hans akan menemuinya."Nyonya, saya sudah menjadwalkan pemeriksaan kandungan Anda dengan dokter spesialis yang direkomendasikan pihak rumah sakit," ujar Hans dengan suara baritonnya yang sopan. "Jadwal beliau sangat padat, tapi untuk Anda, beliau mengosongkan jam pertama."Aku mengangguk tipis, mengulas senyum lelah."Terima kasih banyak, Hans. Kamu memang selalu bisa diandalkan."Kami berhenti di depan pintu kayu berpelitur gelap dengan papan nama kuningan yang masih tampak sangat baru. Hans membukakan pintu untukku dengan penuh hormat."Saya tunggu di luar ruangan, Nyonya. Jika ada apa-apa, panggil saya," ucap Hans seraya berdiri tegap di depan pintu.Aku melangkah masuk ke dalam ruangan serba putih yang beraroma lavender lembut. Seor

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 5

    Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status