Share

Bab 188

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-09-30 02:00:02

Hans menghentikan langkahnya.

“Hah?! Nyonya mau membeli rumah sakit ini?” tanyanya meragukanku.

Aku berhenti dan menoleh pada Hans.

“Setelah aku pikir-pikir... dari pada aku jadi dokter residen lagi, mulai dari awal lagi dan bagaimana aku dengan mudah mengatur siapa dokter yang bisa masuk ke sini... juga memastikan kondisi Mas Bara dengan yang terbaik... kenapa tidak aku beli saja rumah sakit ini?”

“Menurutm

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 190

    Begitu mendengar aku mengagendakan kunjungan ke Rutan Polda, Ibu Diana bersuara.“Silvia, untuk apa ke sana?”“Ada beberapa hal yang ingin saya perbincangkan dengan Yudhistira, Ma...” jawabku.“Tidak usah, Silvia. Dia hanya akan memberikan efek negatif untukmu... kasian cucu Mama,” cegah Ibu Diana.“Mama jangan khawatir. Toh Hans ikut dengan saya...” ujarku menenangkannya.“Iya Nyonya, saya akan menjaga Nyonya Silvia seperti saya menjaga nyawa saya sendiri.” Sergah Hans meyakinkan.Esok harinya aku dan Hans menuju Rutan Polda untuk bertemu Yudhistira, adik tiri suamiku.Ruang kunjungan khusus di Rumah Tahanan Polda kota terasa pengap dan temaram. Bau disinfektan murah bercampur kelembapan dinding beton yang kusam membuat suasana semakin menekan. Di balik meja kayu tebal yang membatasi area kun

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 189

    Tepat seperti dugaan Hans, Pak Aris sangat senang sekali dengan keinginanku untuk mengakuisisi Rumah Sakit Medika Utama. Pak Aris dan rekan segera bergerak dengan cepat untuk mewujudkan keinginanku yang pertama di kepemimpinanku di Ananta Group. Lebih mudah lagi karena Ananta Group punya saham di rumah sakit itu.Sementara aku kembali ke rumah sakit, kini rumah sakit itu sudah rumah utama untukku. Di mana Mas Bara berada, di situlah rumahku.Sore harinya, momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah Dr. Pram memberikan autorisasi penuh pasca-pemeriksaan akhir, tim bedah bergerak melakukan prosedur pelepasan ventilator untuk Mas Bara di ruang ICU.Begitu selang endotrakeal dilepas dan masker oksigen terpasang, refleks napas mandiri Mas Bara berjalan sangat lancar. Saturasi oksigennya bertahan stabil di angka sembilan puluh delapan persen. Setelah melalui masa observasi ketat dan terbukti kondisinya benar-benar stabil

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 188

    Hans menghentikan langkahnya.“Hah?! Nyonya mau membeli rumah sakit ini?” tanyanya meragukanku.Aku berhenti dan menoleh pada Hans.“Setelah aku pikir-pikir... dari pada aku jadi dokter residen lagi, mulai dari awal lagi dan bagaimana aku dengan mudah mengatur siapa dokter yang bisa masuk ke sini... juga memastikan kondisi Mas Bara dengan yang terbaik... kenapa tidak aku beli saja rumah sakit ini?”“Menurutmu... bagaimana, Hans?”Hans mengernyit lalu mengangguk berkali-kali.“Ide yang bagus, Nyonya. Anda bisa mendepak dokter tadi dari sini...”Aku tersenyum dan mengangguk.“Hans, jadwalkan ulang pemeriksaan dengan dokter lain. Kalau bisa dokter perempuan.”Hans mengangguk. “Baik, Nyonya...”Lalu kami melanjutkan melangkah menuju ICU.Langka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 187

    Perut lima bulanku yang kian membuncit kembali berdenyut pelan, menagih perhatian yang kerap terabaikan. Hari ini jadwal pertamaku adalah bertemu dengan dokter kandungan dengan perjanjian. Hans sudah mengatur semuanya kemarin jadi pagi ini, aku bersama Hans akan menemuinya."Nyonya, saya sudah menjadwalkan pemeriksaan kandungan Anda dengan dokter spesialis yang direkomendasikan pihak rumah sakit," ujar Hans dengan suara baritonnya yang sopan. "Jadwal beliau sangat padat, tapi untuk Anda, beliau mengosongkan jam pertama."Aku mengangguk tipis, mengulas senyum lelah."Terima kasih banyak, Hans. Kamu memang selalu bisa diandalkan."Kami berhenti di depan pintu kayu berpelitur gelap dengan papan nama kuningan yang masih tampak sangat baru. Hans membukakan pintu untukku dengan penuh hormat."Saya tunggu di luar ruangan, Nyonya. Jika ada apa-apa, panggil saya," ucap Hans seraya berdiri tegap di depan pintu.Aku melangkah masuk ke dalam ruangan serba putih yang beraroma lavender lembut. Seor

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 186

    "Tenang, Sil, tenang... jangan panik dulu," potong Tara seraya memegang kedua bahuku, menenangkan napasku yang mendadak memburu. "Bukan memburuk. Justru sebaliknya. Kemari, lihat sendiri... coba ajak bicara suamimu."Tara menuntun langkahku mendekati kaca pengawas. Aku segera mencuci tangan di wastafel untuk sterilisasi, mengenakan jubah hijau medis, masker dan melangkah masuk ke dalam kamar isolasi yang selalu bersuhu dingin itu. Suara berirama dari mesin ventilator dan pemantau tanda-tanda vital mengisi keheningan ruangan yang sudah terasa biasa bagiku selama satu minggu terakhir ini.Aku melangkah mendekati ranjang, meraih tangan kanan Mas Bara yang terbebas dari infus, lalu menggenggam jemarinya yang hangat dengan kedua tanganku."Mas... aku datang," bisikku lirih di samping telinganya. "Rapatnya sudah selesai. Tidak ada yang bisa mengganggu milikmu lagi. Aku sudah menjaga rumah dan perusahaanmu seperti amanahmu..."

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 185

    Hari pertamaku bekerja di ruangan Mas Bara, gedung Ananta Group.Aku duduk di kursi yang biasa Mas Bara pakai, dari sini... aku bisa membayangkan dirinya. Duduk di sini, berdiri di depan kaca jendela menatap ke jalanan kota atau rebahan di sofa panjang berbahan kulit di tengah ruangan itu. Semua beraksen minimalis modern, berwarna hitam putih sesuai selera Tuan Sinyo. Dari meja ini, ia mengecek semua laporan, menandatangani berkas dan memberikan perintah. Ada kamar khusus di samping untuk ia beristirahat jika lelah atau harus lembur.Hari ini juga aku baru berkenalan dengan para sekretarisnya di depan pintu keluar ruangan ini. Semua laki-laki, ia sangat mengurangi bersinggungan dengan wanita jadi aku sangat yakin jika ia tidak menyentuh Salma sebelum menikah maupun setelah menikah.Hans yang duduk di sofa, begitu setia pada Tuannya. Rasanya saat ini saat yang pas membicarakan pernikahanku dengan Hans saat lalu.“Hans...”Pria itu menoleh dan mengabaikan ponselnya.“Ya, Nyonya...”“Aku

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 2

    Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status