เข้าสู่ระบบDenting jam dinding samar-samar menandakan malam sudah melewati pukul dua dini hari. Cengkeraman tanganku pada gagang tongkat baseball kayu itu awalnya terasa amat erat, tetapi perlahan-lahan kelelahan yang menumpuk seharian mulai menggerogoti pertahananku. Kelopak mataku terasa makin berat, hingga akhirnya rasa kantuk hebat melumpuhkan kesadaranku total. Aku tertidur pulas di atas sofa dingin itu.Silau cahaya matahari yang menerobos dari jendela mendadak menusuk mataku. Aku tersentak bangun dengan napas memburu, panik karena menyadari posisi tubuhku. Rasa aneh langsung menyergapku begitu kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Sofa yang semalam kutarik rapat menutupi depan pintu kamar kini sudah bergeser rapi kembali ke posisi semula. Lebih mengejutkannya lagi, tubuhku terbungkus rapat oleh sebuah selimut tebal yang amat hangat. Tongkat baseball yang semalam kupeluk erat kini tergeletak manis di lantai samping sofa.Aku menelan saliva. Kehangatan selimut ini... siapa yang meletakkannya?“
Tidak ada pergerakan seketika, tetapi beberapa saat kemudian terdengar suara beratnya dari balik pintu rapat itu.“Back to your room, I need a rest. We talk tomorrow,” (Kembali ke kamarmu, saya butuh istirahat. Kita bicara besok) ujarnya dingin, mencoba mengusirku tanpa perlu bertatap muka.Namun, aku yang sudah terlanjur emosi dan bingung mulai merasa kesal karena ia terus mengabaikanku. Aku tidak beranjak secenti pun dari depan pintu.Mungkin menyadari keberadaanku yang tak kunjung pergi dan pijakan kakiku yang masih tertahan di luar, terdengar helaan napas panjang dari dalam. Gagang pintu berputar, dan pintu itu terbuka sedikit menampilkan sosoknya yang masih mengenakan topeng hitam, bersandar santai di ambang pintu.“You want to join with me to sleep?” (Apa kamu mau masuk ke kamarku, kita bisa tidur bersama?) godanya dengan nada suara yang sengaja dibikin tengil, menyadari aku masih berdiri kaku di sana.Mendengar gurauan tak sopan itu, alisku terangkat tajam. “Kamu siapa?!” tega
Pria bertopeng itu merapikan kerah kemeja hitamnya. Ia menatapku sekali lagi dari balik topengnya, lalu menjawab pelan dengan nada dingin dalam bahasa Inggris.“Go back to your room.” (Kembali ke kamarmu)Tanpa menunggu balasan dariku, pria itu berbalik membelakangiku. Ia melangkah lebar meninggalkanku yang berdiri kaku sendirian di sana, terpaku dalam keraguan besar.Melihat pria itu melangkah menaiki tangga menuju lantai atas, naluriku ingin berteriak. Tanpa memedulikan rasa takut, aku langsung berlari kecil menyusulnya, memangkas jarak hingga akhirnya berhasil memotong jalannya tepat di depan pintu kayu besar kamar utama.Aku berdiri merentangkan tangan, memasang tubuhku rapat-rapat di depan pintu kamar itu.“Tunggu!” panggilku dengan napas terengah-engah dan mata menatapnya tajam.Pria bertopeng itu menghentikan langkahnya. Posisinya kini teramat dekat, menyisakan jarak tak sampai satu jengkal di antara kami. Auranya mengintimidasiku.“Kamu siapa dan mau apa di sini?!” cecarku ber
Malam makin merambat jauh, sudah pukul sembilan. Suasana di Paviliun Lavender berubah menjadi sangat hening, hanya diselingi oleh derik jangkrik dan tiupan angin malam yang menggesek dedaunan. Yumna setelah membantuku mencuci piring, ia segera ke kamarnya untuk tidur lebih awal.Bu Diana baru saja tertidur pulas setelah meminum obatnya, napas beliau terdengar teratur dan tenang di atas ranjang.Aku membetulkan letak selimut Bu Diana hingga ke dada, lalu berbalik dan mundur perlahan. Saat tanganku menarik pintu kayu itu hingga rapat tanpa suara, aku memutar tubuhku. Namun, detik itu juga seluruh persendianku mendadak kaku.Tepat di hadapanku hanya berjarak dua langkah di depan pintu kamar Bu Diana, seorang pria tinggi tegap berdiri membisu. Ia mengenakan kemeja hitam yang membalut dada bidangnya serta celana kain hitam senada, memberi kesan misterius sekaligus dominan. Namun, yang paling membuat dadaku berdesir hebat adalah topeng hitam yang menutupi sebagian wajahnya.Kami berdua sam
Yudistira melangkah makin mendekat. Hawa percintaannya yang belum sepenuhnya menguap menyengat hidungku. Ia mengulurkan tangan, ujung jemarinya yang lancang berniat menyentuh daguku.“Jual mahal juga, ya? Tatapan matamu sewaktu mengintipku di kamar tadi... tidak bisa bohong,” bisiknya serak dengan nada melecehkan yang begitu menjijikkan. “Harus kuakui, wajah manis dan tubuhmu ini jauh lebih menarik dari pelayan –”PLAK!Suara tamparan keras menggelegar, memecah keheningan koridor marmer itu.Kepala Yudistira terteleng ke kanan. Bekas telapak tanganku yang panas memerah seketika tercetak jelas di pipi mulusnya. Kesabaranku sudah habis total. Rasa rindu pada Mas Bara yang suci, dikotori oleh pelecehan murah dari pria liar ini, membuat dadaku meledak oleh amarah.Yudistira membeku. Matanya membelalak lebar, memegang pipinya dengan raut wajah penuh keterkejutan luar biasa seolah tak percaya ada seorang perempuan, apalagi yang dikiranya pelayan, berani mendaratkan tamparan di wajah tampann
Aku segera mengambil kantong belanjaan yang jatuh tadi dan langsung gegas keluar dari kamar jahanam itu.Jantungku berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Wajahku membara panas bukan main, campuran antara syok, jijik, dan malu yang membakar habis seluruh kesadaranku. Tanpa memedulikan arah lagi, aku menghentakkan kaki secepat mungkin menyusuri lorong marmer yang dingin.“Kak Silvia! Tunggu!”Suara panggilan dari arah belokan membuat langkahku terhenti mendadak. Yumna muncul dari balik lorong sambil membawa dua botol sirup kaca. Raut wajahnya yang tadinya santai mendadak berubah panik begitu melihat napasku yang terengah-engah dan wajahku yang memerah padam.“Ya ampun, Kak Silvia! Kakak dari mana aja? Yumna cariin di dapur tadi,” cecarnya khawatir seraya mendekati diriku. “Terus... kenapa mukanya merah gitu? Ada apa?”“K-kita harus keluar dari sini sekarang, Yumna. Sekarang!” bisikku setengah gemetar, menarik pelan lengannya.“Eh, iya, iya, Kak. Ayo lewat sana...”Sebelum Yumna
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d







